Muhidin Jalih: 'Berkarya dengan Cinta'

/ February 10, 2018 / 2:32 PM
Bagikan:
Muhidin Jalih Berkarya dengan Cinta


SUARABERKARYA.COM - 17 Oktober 2017 tepatnya adalah momentum yang sangat bersejarah bagi partai yang berlambang beringin berotak hijau dengan icon Tomy Soeharto. Dari sosok yang lembut, santun dan bersahaya seakan kaku lidahnya untuk menyampaikan sebuah kalimat pendek yang sangat ekpektatif bagi seluruh insan berkarya di Indonesia.

Khususnya bagi para pengurus baik ditingkat pusat, wilayah, daerah serta cabang. “Ada yang punya sisir ga...?!” tanya sekjen DPP Partai Berkarya Dr. Badarudin Andi Picunang, MM. MAP. MT. Sontak semua terdiam terutama Tim IT yang diutus untuk melakukan perbaikan kekurangan administrasi dalam proses pendaftaran Partai BERKARYA pada jum’at 13 Oktober 2017 yang baru berlalu. Indra Duwila, Ulfa Afra, Mas Ban dan Pak Hilman Budi Serta TB. Dedi Lesmana juga terdiam.

Dengan suara lirih spontan saya menjawab “Saya mah ga pernah nyisir pak sekjen”. Dan rekan-rekan juga pasti faham. Bangaimana saya menyisir wong rambutnya aja “Jabreaks”. Rupanya kalimat yang masih tertahan itu adalah kalimat pendek yang sangat diharapkan oleh seluruh partai yang telah mendaftar di kantor KPU RI.

“Alhamdulillah...kita sudah diterima oleh KPU RI. Tinggal menyelesaikan sedikit kekurangan administrasi dan menandatangani Tanda Terima. Saya mau ke lantai dua”.

Sangat nampak keharuan sekjen menyampaikan berita itu pada kami yang sedang berkumpul di ruang “Correction Centre” dimana KPU RI memfasilitasi ruangan tersebut untuk tim IT Partai Politik yang akan melakukan perbaikan.

Rintik hujan malam itupun seakan mewakili air mata haru bagi seluruh insan Berkaya diseluruh nusantara. Kalimat pendek yang terucap dari sosok yang santun, bijak dan berwibawa itu sangat ditunggu-tunggu dan menjadi obat kegalauan dalam penantian yang harap harap cemas.

Terlebih kami Berkarya sebagai partai baru. Namun dengan keyakinan diri dalam mengorganisir partai Berkarya yang kita sangat cintai telah membangkitkan semangat juang yang tinggi dan tidak pernah berhenti. *"Maju, Maju dan Terus Maju...!!!" sebagaimana yang disampaikan oleh Ketua Umum Neneng A. Tutty, SH pada saat Konferensi Pers usai pendaftaran Jum’at 13 Oktober 2017.

Partai yang dibidani oleh Putra Mahkota Presiden kedua RI. Almarhum H. Muhamad Suharto ini memang terus melesat dan menjadi bahan perbincangan dimasyarakat. Mulai dari para politisi hingga masyarakat kecil di kedai kopi. Terlebih dalam media soasial yang kini terus berkembang dan cepat dalam penyebaran berbagai informasi yang berkembang. Bak bayi mungil yang menggemaskan partai berkarya juga hadir dalam kancah politik yang sangat diperhitungkan lawan.

Mungkin diluar sana banyak orang yang berasumsi dan berspekulasi bahwa partai ini tumbuh pesat, besar dan berkembang karena suplay pembiayaan yang besar. Namun sangat disayangkan karena asumsi dan spekulasi tersebut sangatlah keliru.

Berkarya merupakan salah satu partai termuda yang memiliki tingkat perhatian masyarakat tertinggi saat ini. Responsibilitas masyarakat terhadap partai Berkaya sangatlah tinggi. Masyarakat mulai dari tingkat pusat hingga daerah serta kampung bahkan gunung semua sudah sangat merindukan “Kebangkitan Indonesia” seperti zaman Suharto dulu.

Perkembangan dan pristiwa itulah yang membuat saya terus berjuang untuk terus mengembangkan partai ini sebagai kewajiban moral dalam mengawal serta berperan aktif guna tercapainya cita-cita proklamasi demi kemakmuran dan keadilan bagi seluruh rakyat indonesia yang terkandung UUD 1945 yang hingga saat ini telah terjadi “Dis Orientasi Proklamasi”.

Panas terik, hujan kuyup serta  dinginnya angin malam bahkan terjangan ombak, badai topan gelombang dan rintangan tak membuat kami gentar untuk menghadapi semua persoalan. Satu keinginan yang tak terbendung adalah semangat heroik bagaimana partai ini lolos verifikasi dan menang dalam kontestasi akbar pemilu 2019 yang akan datang. Partai besutan Hutomo Mandala Putra atau yang lebih akrab disapa Mas Tomy kita ingin agar menjadi partai pembeda...!!!

Sungguh impian itu telah menjadi kenyataan. Partai terbentuk, tumbuh dan berkembang di 34 provinsi dalam kurun waktu kurang lebih satu tahun telah mampu merobek tumpukan uang yang penuh kesombongan. Partai tumbuh besar dan berkembang atas dasar cinta. Cinta telah mampu membangun segalanya.

Karena cinta itu pula kami semua rela berkorban baik, waktu, pemikiran, tenaga dan harta benda yang terkapitalisasi sebagai modal perjuangan yang penuh keikhlasan kembalinya kejayaan indonesia sebagaimana era kepemimpina Presiden Suharto yang menyandang "Macan Asia” dan sangat dihargai serta disegani oleh semua para pemimpin dunia.

Kerinduan itulah yang membuat seluruh kader berkarya khusus nya kami di Kota Tangerang terus berpacu menyesuaikan program dan tahapan yang disampaikan oleh DPP sebagai pesan instruktif dibawah UU pemilu tentunya. Jika saya boleh lancang mengatakan bahwa “Keikhlasan kader berkarya telah mampu menembus batas”.

Fenomena ini saya menyebutnya “Hadirnya sekolah politik baru atau sekolah baru politik”. Dimana partai Berkarya telah mampu merubah paradigma, pandangan serta entah apalagi istilahnya. Partai berkarya telah membuktikan kepada masyarakat khususnya para pengurus dan kader partai disemua jenjang atau tingkatan bahwa uang nyaris tidak laku.

“Uang adalah segala-galanya. Karena dengan uang kita bisa membeli apa saja”. Itulah penggalan kalimat yang lazim kita dengar dari para pecinta berhala yang bernama uang. Namun tidak dalam partai Berkarya. Partai berkarya dilahirkan dan dibangun dengan penuh cinta. Cita-cita yang luhur, semangat juang yang tinggi telah mampu melewati kisi demi kisi fase dan tahapan hingga akhirnya sampai pada hari ini.

Dibawah kepemimpinan, Neneng A. Tutty dan Badarudin Andi Picunang, gerbong ini melangkah pasti dan tidak terlalu mengedepankan seremoni belaka. Justru sebaliknya lebih menekankan pada esensi kepentingan organisasi dalam hal ini menuju verifikasi.

Dua sejoli pemimpin yang membumi ini seakan jika boleh beliau meminta kepada Tuhan untuk merubah tatanan galaxy dan edaran matahari agar lebih dari 24 jam dan 7 hari dalam semingu. Sebagai saksi mata yang ikut berperan serta walau hanya semampunya, saya tak tega menyaksikan beliau mengendalikan bahkan menangani langsung dalam memandu persiapan pemberkasan administrasi khususnya IT terkait *SIPOL* (System Informasi Partai Politik) yang dikeluarkan oleh KPU RI. Sehingga seluruh partai harus terintegrasi kedalam system ini.

Dibawah dua tokoh pimpinan nasional yg lembut dan sangat familiar ini Rupanya Tuhan juga memang tidak pernah tidur. Dia Maha tahu terhadap apa-apa yang telah terjadi, sedang terjadi maupun yang akan terjadi.

Dia tahu niat-niat yang tulus serta hati-hati yang ikhlas terus menyelimuti partai yang sidah sangat dinantikan kehadirannya oleh masyarakat. Tuhanpun mengirim orang-orang yang memiliki loyalitas dan integritas tinggi ke partai Berkarya.

Sinergitas pun terjadi di jalan pangeran Antasari. Satu tempat pusat pengendalian informasi, administrasi yang lumrah disebut Sekretariat Dewan Pimpinan Pusat Partai Berkarya tak pernah tidur apalagi bermimpi. *Pak Ahmad, Mas Rizki* yang saya sebut sebagai Panglima IT bersama tim dibawahnya Indra Duwila, Ulfa Afra serta yang lainnya merupakan organ yang sangat penting bahkan dominan saat ini dibutuhkan sebagai salah satu sektor pengendalian data antara partai dengan penyelenggara pemilu yaitu KPU.

Tidak berhenti disitu tokoh tokoh para punggawa DPP pun nyaris lupa dengan alamat rumah serta keluarganya. Sebut saja Hilman Budi, TB. Dedi Lesmana, Bunda Titin, bu Sekjen, Bunda Ourida, Bunda Lili, Bang Okto, Hasanudin serta adik-adik kita yang ganteng-ganteng dan cantik menyatu dalam impian dan harapan yang sama yaitu lolos verifikasi.

Sebagai salah satu yang diperbantukan untuk melakukan re-Chek dalam SIPOL sekaligus mengawal dokumen fisik dari provinsi Banten tentunya saya sangat sadar bahwa apa yang sedang terjadi kantor DPP tak kan sanggup untuk dijabarkan. Tak mau mau ketinggalan juga rupanya Pak Rahman dan Bung Aman dari tanah papua hadir untuk membantu sekaligus memantau perkembangan dan pergerakan baik di Sipol maupun di papua sana.

Tokoh tua yang berjiwa muda dan tampan Niles dari Ambon, Abdar Usman Jambi hingga om Paulus dari Manado rasa sudah betah tinggal di istana mereka. Mereka jauh terbang dan menyebrang dengan biaya yang tak terbantahkan tentunya. Mengapa mereka, beliau lebih betah berada di kantor DPP Berkarya...???!!!
Itulah Cinta. Cinta akan bangsanya yang saat ini sedang *menangis, menjerit dan meronta untuh sebuah perubahan...!!!*

Semua yang terlibat dalam proses ini bukan untuk dirinya. Namun lebih cenderung untuk bangsa dan negara indonesia yang kita cintai sekaligus pengamalan *AT-Tahrim* sebagai kewajiban iman untuk menjaga anak keturunan kita dalam hal ini saya lancang menjabarkan adalah rakyat indonesia harus selamat dari rongrongan dan ancaman komunisme, liberalisme dan colonialsme yang anak terkini menyebutnya Konglomeratisme yang berujung pada pemandulan undang-undang dasar hanya untuk kepentingan dan keuntungan bagi kelompok tertentu.

Atas dasar panggilan jiwa itulah seluruh pengurus, kader serta simpatisan partai Berkarya rela berkorban untu bangsanya. Besar harapan mereka menitipkan amanat pada partai berkarya yang mereka cinta. Semoga semua perjuangan dan pengorbanan yang telah terukir dalam sejarah akan senantiasa melekat dan terpatri dalam hati sanubari seluruh insan berkarya agar tetap kuat, tangguh, itiqomah dan amanah dalam mengemban suara rakyat.

Bagai gadis cantik, cerdas dan menarik partai berkarya juga diharapkan agar mampu mencetak generasi dan pemimpin-pemimpin besar yang amanah dan tegar terhadap godaan yang menggiurkan. Dengan selalu menggenang sejarah perjalan partai berkarya insya allah partai berkarya akan mampu dan harus mampu melahirkan legislator-legilator yang aspiratif, artikulatif dan bukan kalkulatif yang lebih cenderung kearah profit oriented.

Karena sesungguhnya jabatan itu adalah aman yang harus diemban secara refresentatif diparlemen untuk semua jenjang dan tingkatan.

Dengan konsepsi dasar yang dicanangkan oleh partai Berkarya sebagaimana yang juga telah diterapkan secara implementatif walaupun tanpa sengaja namun itu merupakan kehendak ilahi sehingga bisa mengukur dan menguji seberapa besar dan tingginya kecintaan kader tersebut mencintai partainya. Partai yang diawali dengan doa saat mengantar 34 container berisi dokumen 34 provinsi dan ditutup dengan sujud dilantai KPU dapat dimaknai bahwa partai ini adalah partai yang rendah diri dihadapan ilahi.

“Tuhan yang maha memegang kekuasaan. Engkau berikan kekuasaan kepada siapapu yang Engkau kehendaki, dan Engkau cabut kekuasaan dari siapapun yang Engkau kehendaki. Engkau muliakan siapapun yang Engkau kehendaki dan Engkau hinakan siapapun yang Engkau kehendaki. Ditangan Engkau ya Allah segala kebajikan. Sungguh Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu.”

Begitulah salah satu petikan doa yang kita panjatkan saat akan berangkat dari DPP ke KPU RI sebagai bukti penghambaan diri kepada ilahi agar kita dijauhkan dari kesombongan diri sebagai manusia biasa yang sesungguhnya hanya memiliki sehembus nafas, setes ilmu dan sedetik waktu jika kita akan di jemput NYA.


MUHIDIN JALIH/Bang Jally Pitoeng
Sekretaris DPD Kota Tangerang
Komentar Anda

Terkini: