“Mengurai Garis Lurus Pada Benang Merah Supersemar Dalam Upaya Membangun Kesadaran Bangsa Dari Bahaya Komunis”

/ March 11, 2018 / 12:11 AM
Bagikan:

Oleh : Tri Joko Susilo.SH

“Oleh karena disitu ternyata perintah saya 11 Maret itu adalah perintah yang tepat dan benar sehingga di benarkan oleh MPRS” (Pidato presiden Soekarno 28 juli 1966 di Istana Negara).

Dan Jenderal Besar Soeharto telah mengerjakan perintah itu dengan baik, dan saya mengucapkan terimakasih kepada Jenderal Besar Soeharto”. (Pidato Presiden Soekarno 17 Agustus 1966)

Tanggal 11 Maret 2018 ini kita memperingati 52 tahun dari satu peristiwa penting bagi sejarah perjalanan bangsa Indonesia yaitu keluarnya Surat Perintah 11 Maret 1966 SUPERSEMAR oleh Presiden Soekarno. Pada Akhir-akhir ini beredar buku yang menuliskan sejarah tentang Surat Perintah 11 Maret 1966 yang isinya memfitnah Pak Harto bahwa para pelaku sejarah menceritakan asal-usul Surat Perintah tersebut di sebut sebagai awal kudeta merangkak.

Tentu saja dengan kepentingan masing-masing. Berbagai Impropisasipun merebak. Hal itu disebabkan oleh raibnya naskah asli Surat perintah tersebut sebagai dokumen sejarah yang sangat penting Bagi Republik Indonesia.

Kontroversi dan teka-teki tentang Supersemar terutama menyangkut beberapa hal Pertama adalah masalah apa isi surat perintah itu untuk memulihkan keamanan atau melimpahkan kekuasaan, kemudian. Kedua, masalah bagaimana proses pembuatan dan munculnya Supersemar tersebut. Dan Ketiga, dimana Supersemar yang asli sekarang berada.

Tentang masalah yang pertama, sebagian saksi sejarah mengatakan bahwa itu hanya surat perintah, atau semacam surat tugas, untuk memulihkan keamanan dan gejolak politik dan ekonomi yang saat itu nyaris tak terkendalikan. Secara Ekonomi kondisi saat itu negara kolap, karena pemerintah secara otoriter mengendalikan sirkulasi uang yang berlebihan untuk mega proyek mercusuar, sementara Bank Indonesia saat itu hanya sebagai legalitas  dari rezim yang berkuasa tanpa mengindahkan kebutuhan dan kemampuan masyarakat. Ketika ekonomi kolap kekuatan komunis memanfaatkan momentum runtuhnya ekonomi tersebut untuk kepentingan politik mereka yaitu rencana Kudeta Komunis.

Pada saat itu inflasi mencapai 600% hanya dalam waktu setahun karena barang-barang kebutuhan pokok (sembako) menghilang secara tiba-tiba, sehingga memaksa bank Indonesia mensanering nilai rupiah dari Rp.1.000,- menjadi Rp.1 . Konstalasi tersebut mengakibatkan berbagai kekuatan politik untuk melakukan proses konsolidasi, antaralain kelompok mahasiswa sebagai presure group melakukan aksi moral dengan tuntutan TRI TURA (tiga tuntutan rakyat) : 
1. Bubarkan PKI beserta ormas-ormasnya 
2. Perombakan kabinet DWIKORA 
3. Turunkan harga dan perbaiki sandang-pangan.

Tetapi sejarah juga menunjukan bahwa dengan Supersemar itu, seperti yang dikatakan oleh pelaku sejarah Cosmas Batubara, Probo Sutedjo, situasi memungkinkan dilakukannya penyerahan kekuasaan. Ketika Supersemar itu di tetapkan oleh MPRS menjadi TAP IX, kekuasaan bukan lagi kepada Bung Karno, merupakan sudah menjadi keputusan MPRS. Ketika pertanggungjawaban Bung Karno dengan judul NAWAKSARA di tolak, maka ia diberhentikan dari jabatan presiden. Konsekuensi logisnya adalah Soeharto sebagai pengemban Supersemar diberi mandat untuk menjabat sebagai presiden.

Tentang masalah yang kedua, yakni proses pembuatan dan munculnya Supersemar, muncul perbedaan pendapat dalam berbagai versi. Perbedaan pendapat berkisar apakah Supersemar itu di peroleh dengan paksaan dan kekerasan atau diberikan secara sukarela oleh Bung Karno. Adapun kronologis munculnya surat yang sangat penting dalam sistem kenegaraan Republik Indonesia yaitu :

Secara kronologis, pada saat itu menurut sumber sejarah Jenderal Basuki Rahmat menceritakan kejadian di Bogor. Setibanya di Istana, mereka melaporkan maksud dan tujuan mereka datang. Mereka mendapatkan dampratan dari Bung Karno merasa kewibawaanya di rongrong oleh demonstran. Artinya ada pertanyaan dari Secara kronologis, pada saat itu menurut sumber sejarah Jenderal Basuki Rahmat menceritakan kejadian di Bogor. Setibanya di Istana, mereka melaporkan maksud dan tujuan mereka datang. Mereka mendapatkan dampratan dari Bung Karno merasa kewibawaanya di rongrong oleh demonstran. Artinya ada pertanyaan dari Bung Karno. Apa yang harus dilakukan sekarang ?

Diantara tiga Jenderal ada yang menyampaikan pesan dengan bahasanya sendiri-sendiri : “Percayakan saja kepada Pak Harto”. Bung Karno marah lagi, karena sudah memberikan kepercayaan kepada saya, tetapi tidak ada tindakan apa-apa. Disambung lagi oleh salah seorang dari ketiga jenderal itu. “Barang kali diperlukan surat perintah .” Baik, Siapkan Surat itu Perintah itu,” Jawab Bung Karno. Tiga Jenderal dibantu oleh ajudan Presiden , Brigjen Sobur, menyiapkan surat perintah . Dikoreksi oleh Bung Karno dengan bantuan tiga Waperdam yaitu Soebandrio, Chaerul Saleh, dan Pak Laimena. Akhirnya Surat Perintah 11 Maret di tandatangani oleh Presiden/Panglima tertinggi ABRI/Pemimpin Besar Revolusi Bung Karno.

Lalu bagaimana dengan keberadaan naskah Supersemar yang asli ? Pengambilan Supersemar dari Presiden Soekarno dilakukan oleh tiga orang perwira ABRI, dan menyerahkannya kepada pengemban Supersemar, Jenderal Soeharto, ketiga perwira itu adalah : Basuki Rahmat, M.Yusuf dan Amir Machmud. Mungkin Supersemar disimpan diantara ketiga Jenderal tersebut.

Apapun kontroversi yang terjadi. Yang pasti Supersemar merupakan “proses penting” bagi berlangsungnya peralihan kekuasaan dari Orde Lama ke Orde Baru, Mengantarkan Mayor Jenderal. Soeharto menjadi Presiden Republik Indonesia dan peristiwanya sangat bermakna bagi perjalanan sejarah Bangsa Indonesia.

Yang perlu digaris bawahi salah satu sejarah yang melatarbelakangi lahirnya Supersemar adalah keadaan keamanan dalam negeri yang pada saat itu tidak kondusip pada masa orde lama. Terlebih lagi karena adanya peristiwa pemberontakan G/30/S/PKI. Hal ini menyebabkan Presiden Soekarno memberikan mandat kepada Soeharto untuk melaksanakan kegiatan pengamanan di Indonesia melalui Surat Perintah Sebelas Maret atau Supersemar.

Pada saat itu kita sama-sama bisa melihat betapa terlihat kenegarawanannya seorang Soeharto akan kecintaanya kepada tanah air dan bangsanya dimana beliau berani mati mengambil sikap untuk menumpas dan membersihkan Komunis dari tanah NKRI yang dengan ikhlas dan kesatria atas pengabdian membela bangsa dan Negara.

Bahwa pembubaran PKI adalah antitesis Nasakom yang mewujudkan sintesis bernama pancasila. Pancasila adalah Pidato Bung Karno pada tanggal 1 Juni 1945 yang kemudian menjadi idiologi pemersatu Negara Kesatuan Republik Indonesia yang terdiri dari kebinekaan, adat istiadat, budaya, Agama, semua terkait pada kemanunggalan atau IKA. Menuju cita-cita bersama berdasarkan sesuai dengan semangat Proklamasi 17 Agustus , Yaitu mewujudkan masyarakat yang adil dan makmur berdasarkan Pancasila dan Undang-undang Dasar 1945.

Penulis adalah Ketua Umum Ormas Perisai Berkarya. (Tri Joko Susilo, SH)
Top of Form
Bottom of Form


Komentar Anda

Terkini: