Menakar Peluang Prabowo Mengukur Kebangkitan Umat

/ August 4, 2018 / 3:07 PM
Bagikan:

Pasangan Pemimpin Nasionalis & Religius Hasil Ijtima Ulama
SUARABERKARYA.COM, JAKARTA - Dinginnya suhu eksrim yang terjadi dibeberapa belahan dunia akhir-akhir ini justru berbading terbalik dengan panasnya suhu politik tanah air yang kita cintai. Dua gelombang besar terus bergerak. Bergerak dan menggelinding bagai bola salju yang kian membesar. Setelah membahana hastag #2019Gantipresiden, kini terus bergelora wacana yang telah berkembang menjadi rencana melalui ijtima bahwa ulama harus turun gunung membantu umaro untuk menyelamatkan bangsa ini.

Mengapa Prabowo 2014 tidak dimenangkan...?! Tuhanlah yang tahu jawabannya...!!!

Perolehan suara kala itu sungguh luar biasa. Walaupun masih ada yang bersilang pendapat, namun katakanlah hasil keputusan MK mengalahkan dan menunda Prabowo menjadi Presiden republik Indonesia. Waktu berlalu, musim berganti, sejarah pun tergores.

Bak percikan api ditengah kering kerontang padang ilalang. Ahok telah berjasa besar membakar semangat jihad kaum muslimin diseluruh tanah air. Tanah tercinta yang bernama indonesia, yang merdeka karena tumpah nya darah para pahlawan dan mujahid fisabilillah. Peluh dan air mata serta jutaan nyawa sirna menyatu bersama ibu pertiwi sebagai persembahannya. Umat islam marah. Rakyatpun kecewa dengan ucapan seorang gubernur pengganti Jokowi karena mangkat menjadi presiden republik indonesia.

Lautan Manusia Pada Pristiwa 212
Sosok sang pemberani dari Petamburan Tanah Abang berteriak lantang terhadap sebuah penistaan. Jutaan manusia tumpah ruah dan memutihkan titik nol ibukota pada Jum’at 2 Desember 2016 yang kemudian sejarah mencatat sebagai “Aksi Bela Islam” di Monas yang akhirnya dikenal dengan sebutan “Pristiwa 212”. Tidak hanya umat muslim indonesia, namun duniapun berdecak kagum. Bahkan hampir milyaran pasang mata diseluruh belahan dunia tertuju pada pristiwa yang tercatat bahkan terus akan menginspirasi para generasi islam dimasa mendatang.

Sebuah pristiwa yang begitu damai, sejuk, tertib dan bersih sebagai uswah sikap dan pribadi muslim sejati dalam menyampaikan aspirasi dan tuntutannya terhadap seorang penista agama yang dianutnya. Bersamaan dengan pristiwa bersejarah tersebut, pilgub DKI Jakarta tak lama berselang dilangsungkan. Banyak cibiran, kecaman, bully bahkan tuduhan-tuduhan SARA terhadap gerakan-gerakan dakwah yang mengajak umat islam untuk memilih pemimpin sesuai dengan ajaran agama yang dianutnya.

Fakta Sejarah Yang Mendunia
Indonesia bukan negara islam itu kita sepakat. Namun indonesia juga mutlak negara yang berketuhanan. Dalam pandangan ini saya ingin mengatakan bahwa indonesia adalah penganut faham demokrasi Pancasila. Maka, salahkah jika umat islam mengambil haknya dalam menentukan nasib bangsa kedepan dan mengambil hak pilihnya sesuai syariat agama yang dianutnya. Bukankah para pengagum demokrasi akan percaya, yakin dan setuju bahwa falsafah demokrasi memihak kepada suara terbanyak.

Indonesia adalah negara yang berpenduduk muslim terbesar dunia, Jakarta sebagai ibukota negara adalah etalase sebuah bangsa. Teriakan Takbir yang keluar dari kerongkongan seorang ulama pemberani yang tak takut mati, Habib Rizieq Shihab bersama Gerakan Nasional Pengawal Fatwa MUI yang kemudian saat ini dikenal dengan nama Gerakan Nasional Pengawal Fatwa Ulama, HRS sebutan lain dari imam besar umat islam menjadi Komando Jihad Konstitusional bersama para alim ulama serta politisi yang peduli umat.
 
Seruan Terhadap Koalisi Keumatan 
Seruannya membuahkan hasil yang nyata. Pilkada DKI Jakarta dimenangkan oleh pasangan Cagub dan Cawagub yang diusung oleh partai-partai yang peduli terhadap umat serta mengindahkan pesan-pesan Habib Rizieq Shihab. Pendiri sekaligus ketua Dewan Pembina Front Pembela Islam (FPI) ini sesungguhnya telah lama bahkan sejak berdirinya FPI untuk terus menerikan denggan lantang “Amar Makruf Nahi Munkar”. Dalam perjuangan politik, FPI keras berteriak lantang pada pemilu 2009 dan 2014 untuk mengajak umat muslim agar memilih pemimpin sesuai ajaran Al Qur’an. Namun disayangkan saat itu masih banyak umat yang masih tertidur bahkan yang terjagapun mengambil sikap “Golput” atau tidak memilih.

Rasiskah dan SARA kah seruan dan ajakan itu...?! tentu jawabnya tidak. Undang-Undang Dasar Negara kita melindungi hak-hak warga negaranya dalam menjalankan syariat agama serta hak memilih dan dipilihnya dalam alam demokrasi. Perhelatan Pilkada DKI Jakarta telah menjawab bahwa betapa besar kekuatan kapitalis tak mampu membendung kecintaan umat.

Money Politik tidak laku. Sembako terbuang berserakan dengan cara yang sangat menjijikan. Tumpukan uang terbakar bersama dengan kesombongannya. Prediksi para lembaga survey luntur berserakan. Suara ulama jauh terdengar hingga ke lubuk hati. Pasangan Anies Sandi berhasil meraih simpati sebagai hasil dari upaya perjuangan para ulama yang tak bisa dipungkiri.

Demikian pula pilkada yang digelar secara serentak pada Juni 2108 yang baru saja beralu. Partai partai yang tergabung dalam Koalisi 212 hasil arahan imam besar Habib Rizieq Shihab yang kemudian dikenal dengan sebutan Koalisi Keumatan, boleh dikatakan hampir menang secara keseluruhan. Kemenangan pasangan gubernur DKI Jakarta Anies Sandi serta beberapa pilkada wajib dikapitalisasi sebagai modal yang kuat untuk memenangkan Prabowo Subianto sebagai calon presiden 2019 yang telah direstui oleh para habaib dan ulama.


Gelombang besar gerakan #2019Gantipresiden menebar kemana-mana. Membakar semangat umat memupuk spirit rakyat untuk mengganti presiden 2019 yang akan datang menjadi hantu gentayangan bagaikan gelombang pasang yang siap menghempas kapal hingga kedaratan. Dua gelombang besar Persaudaraan 212 atas nama umat dan gerakan #2019Gantipresiden atas nama rakyat menyatu menjadi sebuah piramida kekuatan umat dan rakyat yang berdaulat.

Pristiwa fenomenal 212 yang melahirkan sebuah gerbong besar “Persaudaraan 212” terus berkonsolidasi demi penyelamatan negeri ini hingga menoreh sejarah kumpulnya para habaib, ulama dan para politisi serta para cendikiawan dan ekonom muslim dalam gelaran Ijtima Ulama yang berlangsung pada tanggal 27-29 Juli 2018 di Hotel Menara Peninsula Slipi Jakarta Barat. Seluruh ketua umum dan para petinggi partai yang tergabung dalam koalisi keumatan hadir menyampaikan pidato politiknya ditengah-tengah para ulama.

Gelombang Gerakan 2019 Ganti Presiden Terus Menggelora
Terbersitlah 2 nama besar yaitu Dr. Salim Segaf Al Jufri dan Ustadz Abdul Somad atau yang lebih dikenal dengan panggilan UAS sebagai calon waki presiden yang akan mendampingi Prabowo Subianto pada Pilpre 2019 yang akan datang. Inilah rupanya jawaban Tuhan tenga mengapa 2014 Prabowo tidak dimenangkan.

Beginilah cara Tuhan mendidik umatNya. Dengan proses mengujian serta perjalanan waktu yang mencerdaskan umat muslim indonesia, maka mereka dan kita bisa menilai secara lebih objektif, rasional berdasarkan rekam jejak yang dapat dijadikan sebagai bahan evaluasi.

Ingin jadi presidenkan HRS...?! Haus jabatankah Prabowo dan para petinggi partai pengusung...?!
HRS nan jauh ditanah suci makkah sana hanya menginginkan bahwa harus hadir seorang pemimpin dalam hal ini presiden republik indonesia yang cinta pada rakyat dan setia pada umat. Demikian juga Prabowo Subianto. Dia seorang prajurit sejati yang cinta negeri. Sudah selesai dengan urusan pribadinya. Bahkan pernah terlontar kabar bahwa Prabowo Subianto akan mendukung siapapun yang lebih baik dari dirinya untuk menjadi calon presiden jika rakyat mendukungnya. 

Artinya dia bukan orang yang haus jabatan atau rakus terhadap sebuah kedudukan. Namun hanya sebagai panggilan jiwa dan kecintaannya kepada bangsa dan negara untuk menggabdikan dirinya demi umat dan rakyat indonesia agar dapat hidup sejahtera. Tak berhenti disitu, partai-partai yang tergabung dalam koalisi keumatan pun sama rupanya. Mereka tidak mementingkan kepentingan partai atau golongan. Tapi lebih kepada penyelamatan bangsa dan negara dari keterpurukan yang sedang berlangsung saat ini.

Adakah pertanda bahwa semua pristiwa dan kejadian ini sebagai “Kebangkitan Umat Islam Indonesia” yang selama ini tertidur...?!

Waktulah yang akan menjawabnya.


    MUHIDIN JALIH
Bang Jalih Pitoeng_BJP



Komentar Anda

Terkini: