Jeritan Suara Rakyat Atas Pertemuan Prabowo dan Jokowi Dalam Pandangan Jalih Pitoeng

/ July 14, 2019 / 4:34 PM
Bagikan:

 
Romantika Digerbong Kereta
SUARABERKARYA.COM, JAKARTA (Minggu, 14-07-2019) - Pertemuan antara 2 kontestan pada pilpres 2019 yang begitu menyita perhatian masyarakat, para pendukung bahkan masyarakat dunia merupakan sebuah fenomena yang sungguh sangat menarik. Pertemuan tersebut memang sesungguhnya perlu dilakukan guna mencairkan suasana pasca pilpres. Namun mungkin soal waktunya saja yang bisa dianggap terlalu tepat.

Pasca putusan Mahkamah Konstitusi (MK), rakyat khususnya para pendukung Prabowo masih tetap setia berjuang untuk mendampingi Prabowo dalam kelompok oposisi jika pada akhirnya keputusan MK menjadi sandaran terakhir. Bahkan ratusan emak-emak yang berunjuk rasa di kediaman Prabowo Subianto di Jl. Kertanegara pada Jum'at 12 Juli 2019 merupakan sebuah bentuk dukungan sekaligus harapan agar Prabowo tidak merapat ke kubu Jokowi.

Ratusan Emak-emak Mendatangi Kediaman Prabowo Subianto Meminta Untuk Tetap Berada Pada Oposisi
Kekecewaan yang mendalam pasca pemilu yang diduga banyak terjadi kecurangan, keputusan KPU hingga keputusan MK tak bisa dipungkiri bahwa sangat melukai kebathinan para pendukung Prabowo Sandi.

Sementara dilain pihak, yaitu kubu petahana terus berusaha melakukan rekonsiliasi guna penyatuan rakyat yang selama ini seakan terbelah sekaligus sebagai mencari legitimasi baik secara nasional maupun internasional. Petahana sangat menyadari pentingnya pengakuan dari Prabowo Subianto sebagai agar pemerintahan kedepan bisa berjalan secara maksimal. Karena tanpa penyatuan rakyat dapat dipastikan bahwa pemerintahan Jokowi kedepan akan banyak mengalami hambatan.


Kenyataan yang hingga saat ini belum adanya ucapan resmi dari beberapa kepala negara kepada Jokowi tentang penetapan Jokowi Makruf sebagai presiden dan wakil presiden priode 2019-2024, juga menjadi alasan bagi kubu petahana untuk terus berusaha guna mempertemukan Joko Widodo dengan Prabowo Subianto.

Prabowo dan Jokowi akhirnya bertemu di gerbong kereta yang beranjak dari stasion Lebak Bulus Jakarta Selatan pada Sabtu, 13 Juli 2019. Sontak memanen berbagai tanggapan dari semua kalangan. Baik pemerintah, elit politik, pengamat bahkan yang paling kental adalah dari para pendukung. Terutama pendukung paslon 02 Prabowo Sandi.

Sementara dari para pendukung petahana Jokowi Makruf nampaknya biasa-biasa saja sambil berharap agar pertemuan tersebut menjadi simbol kembalinya semangat persatuan guna bersama-sama membangun bangsa kedepan.

Apel Siaga 313 Pada 1 Maret 2019 Di KPU RI
Beda dengan pendukung petahana, pendukung Prabowo Sandi justru banyak yang kecewa bahkan mengecam dengan sumpah serapah atas diberlangsungkannya pertemuan yang menurut pandangan mereka sangat melukai perasaan rakyat ditengah kekecewaan atas putusan MK yang baru saja mereka saksikan. Sebuah pristiwa yang lumrah, wajar bahkan wajib mereka rasakan sebagai manusia biasa. Mereka sejak awal sosialisasi, membangun jaringan relawan, mengkampanyekan, menyumbangkan suara melalui bilik TPS serta berkorban segalanya untuk pemenangan sang pemimpin idolanya.

Begitu banyak pikiran yang terkuras, waktu terbuang, tenaga, biaya serta harta yang mereka korbankan untuk berjuang demi kemenangan Prabowo Sandi pada pilpres 2019 yang diketahui banyak menyimpan misteri. Sebuah rangkaian pemilu yang telah dipertontonkan baik secara nasional maupun internasional. Bahkan pemilu 2019 merupakan rangkaian pemilu yang sangat memilukan sekaligus memalukan.


Ratusan nyawa melayang pada saat proses pemungutan suara berlangsung hingga belasan tunas-tunas muda bangsa gugur dalam pristiwa berdara "Tragedi Kemanusiaan" pada aksi unjuk rasa menolak kecurangan pemilu pada 21-22 Mei di BAWASLU yang menjadi catatan kelam perjalanan bangsa ini.

Demikian juga ditangkap nya beberapa aktivis dan tokoh nasional dalam rangkaian proses pemilihan umum 2019 seperti Dr. Eggi Sudjana, Mayjen (purn) Kivlan Zen, Mayjen (purn) Soenarko serta banyak lagi para peserta aksi yang hingga saat ini masih ditahan.


Rangkaian pristiwa heroik yang berujung memilukan itulah menjadi alasan kekecewaan bagi para pendukung Prabowo Sandi. Namun tak bisa kita pungkiri bahwa setiap orang, setiap kelompok dapat dipastikan punya kepentingan yang berbeda.

Tiga kelompok besar pendukung Prabowo Sandi sudah menunaikan kewajibannya. Baik dari kelompok partai koalisi, kelompok pencinta ulama karena Prabowo didukung Ijtima serta kelompok masyarakan non partisan yang tidak mendukung Jokowi.


Sehingga sangat wajar jika mereka mengklaim bahwa mereka menang namun dicurangi. Karena 3 kelompok ini sungguh sangat besar secara kuantitatif. Hal tersebut tergambar pula pada setiap pristiwa tablig akbar dan pada masa-masa kampanye.

Akan tetapi inilah dunia politik. Ada panggung depan. Ada panggung belakang bahkan ada panggung sandiwara. Semoga saja yang dipresntasikan dalam pertemuan tersebut adalah panggung depan. Dan kita masih berharap adanya sekenario panggung langit oleh sang Mudabir maha pengatur segalanya. Karena kita hanya tahu setetes darisamudera yang tak bertepi.


Prabowo beratus bahkan mungkin ribuan kali mengatakan bahwa dirinya akan terus bersama rakyat. Timbul dan tenggelam bahkan mati bersama rakyat. Ini terlontar dari seorang yang berjiwa prajurit. Seorang tokoh nasional bahkan internasional. Tentunya tak diragukan lagi tentang integritas dan kecintaannya kepada bangsa dan negara sekaligus pada pendukungnya yang telah berjuang dan berkorban jiwa raga untuk dirinya. Mereka sudah berjuang mati matian bahkan ada yang sudah mati beneran. Sebagai capres yang sangat digandrungi rakyatnya, Prabowo juga tidak menutup mata atas upaya upaya hukum secara konstitusional yang dilakukan para pendukungnya bahkan hingga saat ini masih terus berlangsung upaya pembelaan terhadap sebuah kebenaran dan keadilan.

Salah satu upaya yang gigih dilakukan adalah melaporkan beberapa dugaan kecurangan ke BAWASLU hingga ke DKPP. Salah satu aktivis betawi Jalih Pitoeng saat ini masih terus berjuang di sidang etik DKPP (Dewan Kehormatan Penyelenggara Pemilu) yang sudah memasuki babak pembacaan kesimpulan.

Jalih Pitoeng yang diketahui kerap kali mendampingi Eggi Sudjana bahkan hingga ke pintu penjara dan dikenal sangat lantang karena dirinya pernah menyatakan siap ditembak ditempat jika melakukan kerusuhan pada awal-awal Aksi Damai Tolak Pemilu Curang di BAWASLU sebagai sikap yang diungkapkan atas statmen Kapolri di media massa.

Pemilik nama Muhidin Jalih inipun sudah memulai dukungannya sejak mendirikan Relawan Nasional Prabowo Sandi (RNPAS) Jum'at 3 Agustus 2018 bersama-sama dengan Dr. Eggi Sudjana, Rijal Kobar, Jimmy GL PRO 08 dan Akbar Hussein Firdaus yang hingga kini masih bersamanya dalam wadah perjuangan rakyat Dewan Persaudaraan Rakyat Republik Indonesia (DPR RI) yang pada 14 Juni membatalkan "Aksi Akbar Super Damai" di gedung DPR MPR karena diminta untuk tidak dilaksanakan atas perintah Prabowo.


Ditengah suasana yang bisa dibilang sangat menegangkan pasca pristiwa 21-22 Mei yang banyak menghilangkan korban jiwa, merupakan sebuah langkah yang bisa sisebut sangat berani. Dan itu terbukti bahwa tidak ada satupun pemberitahuan tentang aksi akbar yang tercatat di Dirintelkam Polda Metro kala itu.

Aksi Akbar Super Damai yang diinisiasi oleh Jalih Pitoeng ini memang ditargetkan akan membakar semangat perjuangan rakyat secara eksplosif dan sporadis diberbagai daerah untuk melakukan unjuk rasa secara konstitusional.

Kecewa pasti. Bahkan sangat kecewa. Karena gelaran tersebut sudah hampir tuntas pada H-1 serta sudah sangat koordinatif sekaligus konsolidatif dengan beberapa elemen masyarakat termasuk beberapa kelompok mahasiswa yang akan bergabung dari beberapa kampus.

Atas pertimbangan yang cukup tentunya Prabowo melarang aksi tersebut sehingga dengan berat hati tetap wajib diterima. Namun tidak berhenti disitu, sosok yang gigih dan memegang teguh sebuah komitmen perjuangan dan tak mengenal putus asa sekaligus hanya bergantung kepada Allah SWT sebagai pemegang segala kekuasaan, Jalih Pitoeng tetap istiqomah mencari terobosan pada chanal-chanal konstitusional yaitu DKPP. Harapannya adalah agar semua dalil aduan tentang adanya kecurangan pemilu dapat dikabulkan.

Jika pada sidang etik dinyatakan bahwa para penyelenggara dan Pengawas dalam hal ini ketua KPU Arief Budiman dan ketua BAWASLU Abhan melanggar etik bahkan melanggar aturan maka produk-produk dan keputusannya pun bisa dianggap cacat hukum. Inilah salah satu peluang yang tetap diburu untuk menutup seluruh narasi perjuangan dalam sebuah rangkaian pemilu 2019 dalam menentukan perjalanan bangsa indonesia kedepan.

Pertunjukan menarik ini tentunya akan menjadi sebuah pelajaran penting bagi generasi pemimpin bangsa ini kedepan untuk bisa dipetik hikmahnya dalam melanjutkan kehidupan berbangsa dan berbegara sesuai dengan tujuan proklamasi dan cita-cita luhur para pendiri bangsa yang tertuang dalam palsafah pancasila sekaligus dituliskan dalam kitab suci negara indonesia yaitu UUD 1945 sebagai pedoman berbangsa dan bernegara.

#BJP_Bang Jalih Pitoeng

Ketua Umum DPR RI 

Komentar Anda

Terkini: