Di Isyukan Ditangkap, Jalih Pitoeng Ketua Umum DPR RI Justru Hadir Memimpin Aksi Didepan Gedung DPR MPR

/ August 31, 2019 / 6:42 PM
Bagikan:

Ketua Umum DPR RI (Dewan Persaudaraan Relawan Dan Rakyat Indonesia) Saat Menyampaikan Pidato Politiknya
SUARABERKARYACOM, JAKARTA - Momentum Kemerdekaan ternyata tidak dibiarkan berjalan dengan sia-sia pergi begitu saja. Aktivis kelahiran tanah betawi Jalih Pitoeng memanfaatkan akhir bulan Agustus sebagai sebuah momentum pergerakan dan perjuangan rakyat melalui suatu wadah yang digagasnya  Dewan Persaudaraan Relawan Rakyat Indonesia (DPR RI). Unnjuk rasa yang mengusung tema #GERAKAN 30 AGUSTUS dibawah pimpinan Jalih Pitoeng digelar didepan gedung DPR MPR pada Jum"at, (30/08/2019)

Penanggung jawab aksi Jalih Pitoeng, saat ditemui awak media menyampaikan bahwa unjuk rasa ini adalah hak konstitusional masyarakat yang siapapun tak boleh ada yang menghalanginya. Bahkan negara sekalipun tak boleh melarang justru negara harus melindunginya.


"Ini kan aspirasi dari masyarakat. Tuntutan ini adalah tuntutan rakyat tentang keadilan. Maka tak ada seorangpun dinegeri ini yang boleh mencegah, menghalang-halangi apalagi melarang. Karena unjuk rasa atau menyampaikan pendapat dimuka umum adalah hak rakyat yang dilindungi oleh undang-undang bahkan Undang-Undang Dasar 1945 sebagai sumber dari segala sumber hukum di indonesia" kata Jalih Pitoeng

"Aksi hari ini adalah menyampaikan beberapa tuntutan diantaranya adalah ; Yang pertama, Kita meminta Kedaulatan dikembalikan ketangan Rakyat. Yang kedua Kami meminta pertanggung jawaban presiden selaku kepala negara dan sekaligus kepala pemerintahan terhadap RESIDU PEMILU yaitu Pristiwa Berdarah Tragedi Kemanusiaan pada tanggal 21-22 Mei di BAWASLU. Yang ketiga kami meminta segera memulangkan Habib Rizieq Syihab ketanah air sebagai tugas negara untuk melindungi warganya. Baik didalam negeri maupun yang berada diluar negeri. Yang keempat adalah tentang Papua. Masalah Papua kami meminta agar segera diselesaikan dengan bijaksana dalam upaya menyelamatkan Papua sebagai bagian yang integral dari NKRI. Yang terakhir yaitu tentang perpindahan ibukota. Kami tidak menolak. Tapi kami minta untuk ditunda. Karena kondisi bangsa ini sedang menjerit. baik soal neraca keuang yang sedang minus, maupun persoalan ancaman disintegrasi bangsa yang sedang berkembang saat ini. Aneh rasanya, negara dalam kedaan seperti ini justru merencanakan pemindahan ibukota" sambung aktivis betawi menjelaskan secara rinci tuntutan aksinya.


Ditanya apakah benar ada isyu bahwa dirinya akan ditangkap, Jalih Pitoeng yang dikenal sangat lantang dalam menyuarakan kebenaran ini justru balik bertanya.

"Kata siapa saya akan ditangkap. Tadi pagi saya memang mendengar isyu bahwa Jalih Pitoeng ditangkap. Pertanyaan saya, atas dasar apa orang akan melakukan unjuk rasa itu ditangkap. ini sudah bukan zaman Colonial Belanda lagi. ini sudah zaman kemerdekaan. Justru karena penindasan, pembungkaman, yang kita kenal dengan istilah penjajahan itulah bangsa ini diperjuangkan kemerdekaannya" jawab Jalih Pitoeng seraya mengajak kita mengenang kembali tujuan dan makna kemerdekaan. Jum'at, (30/08/2019)


"Jadi, mohon jangan dibolak-balik lah makna kemerdekaan yang telah diperjuangkan oleh para pahlawan kita. Jika semua aturan hanya berpihak pada penguasa, lalu apa bedanya penjajahan tempo dulu yang istilah orang kampung menyebutnya Kumpeni dengan saat ini Company dan Konglomerasi atau jangan-jangan kita sedang berada pada kondisi yang sama namun waktu saja yang berbeda" Tanya Jalih membingungkan

Tentang unjuk rasa yang diberi tema GERAKAN 30 AGUSTUS tersebut, menurutnya juga telah dikomunikasikan dengan beberapa pihak termasuk para tokoh alim ulama.


"Kemaren malam saya sudah mengkomunikasikan rencana ini kepada KH. Shobri Lubis selaku ketua umum FPI. Dalam percakapan telepon tersebut saya hanya minta doa dan meminta agar belia tidak hadir. Demikian pula terhadap KH. Slamet Maarif selaku ketua PA 212. Mengapa saya melakukan hal tersebut. Karena saya sangat mencintai para habaib dan alim ulama. Sebagaimana kita ketahui. setiap adanya gerakan ulama cenderung selalu dicurigai bahkan dalam istilah yang tren saat ini di kriminalisasi" jelas Jalih Pitoeng

"Akan tetapi pada aksi-aksi besar lainnya, insya allah kita akan bersama-sama bersinergi seluruh rakyat, ulama dan umat yang memiliki kesamaan tuntutan atau aspirasi akan menggabungkan diri secara totalitas guna menggalang kekuatan dan kebersamaan dalam sebuah gerakan aksi yang mulia sesuai pancasila sebagaimana tujuan proklamasi dalam berbangsa dan bernegara" pungkas Jalih Pitoeng (Red)      
 

  
Komentar Anda

Terkini: