Ketua Umum DPR RI Jalih Pitoeng Laporkan Balik Pelapor Ustad Abdul Somad Ke Bareskrim Mabes Polri

/ August 20, 2019 / 5:30 PM
Bagikan:
 
Jalih Pitoeng, Syamsulrizal, Irwansyah, Pitra Romadoni

SUARABERKARYA.COM, JAKARTA - TPUA (Tim Pembela Ulama dan Aktivis) melaporkan balik pelapor terhadap Ustadz Abdul Somad atau UAS ke Bareskrim Mabes Polri setelah sebelumnya dilaporkan oleh Sudiarto, SH, MH pada Minggu tanggal 18 Agustus 2019 atas vedeo kajiannya di masjid An Nur Pekan baru beberapa tahun silam.

Pelapor dari kalangan aktivis dan pencinta ulama kali ini diwakili oleh Dewan Persaudaraan Relawan dan Rakyat Indonesia (DPR RI) dan Aliansi Anak Bangsa (ABB) serta beberapa emak-emak pencinta ulama. Bersama penasehat hukum Pitra Romadoni Nasution, SH, MH dan Azzam, SH, MH yang hadir siang tadi di Bareskrim Mabes Polri, Bang Jalih Pitoeng selaku pendiri sekaligus ketua umum Dewan Persadaraan Relawan dan Rakyat Indonesia (DPR RI) menyampaikan maksud dan tujuannya melaporkan balik pelapor Ustadz Abdul Somad.

"Kami hadir hari ini ke Mabes Polri dengan didampingi oleh penasehat hukum kami Bung Pitra Romadoni dan bang Azzam, bermaksud untuk melaporkan balik saudara Suidiarto, SH, MH, beliau adalah selaku pelapor terhadap Ustadz Abdul Somad" kata Jalih Pitoeng didepan awak media yang telah menunggu sejak siang tadi, Selasa (20/08/2019)

Bersama Emak-Emak Pancinta Ulama
 "Perlu saya jelaskan juga bahwa kita adalah bangsa yang besar, bangsa yang berketuhanan, berazaskan Pancasila, serta menjunjung tinggi nilai-nilai toleransi dan memelihara kebhinekaan sekaligus menjaga keutuhan bangsa dalam bingkai negara kesatuan republik indonesia" tambah Jalih pitoeng menegaskan.

Dalam kesempatan tersebut Jalih Pitoeng juga menyampaikan harapannya untuk saling menjaga dan menghormati nilai-nilai toleransi dalam menjaga kerukunan antar umat beragama.

"kami hadir kesini selain untuk melaporkan dugaan tindakan pencemaran nama baik terhadap UAS, juga kita ingin mengajak  masyarakan indonesia untuk menjaga nilai-nilai toleransi sesuai dengan falsafah bangsa kita yaitu Pancasila. Dan perlu diketahui bahwa islam adalah agama yang paling toleran. Hal itu sudah dijelaskan 14 abad yang lalu didalam Al-Qur'an surat Al-Kafirun ayat 6. Diterangkan secara jelas yang bunyinya Lakum diinukum wa liya din yang artinya Untukmu Agamamu dan Untukku Agamaku" Ungkap Jalih Pitoeng seraya membaca Surat Al-Kafirun ayat 6 ditengah kerumunan awak media

"Artinya, marilah kita junjung tinggi nilai-nilai toleransi sesama umat beragama dalam berbangsa dan bernegara. Jangan masalah perbedaan agama ini menjadi pemicu disintegrasi bangsa. Karena masalah agama, suku, ras ini sangat riskan dan sensitif. Terlebih saat ini sedang terjadi gejolak di tanah Papua yang salah satu pemicunya adalah seperti kita ketahui bersama. Maka marilah kita menjaga dan memelihara pluralisme yang menjadi ciri bangsa ini" harap Jalih Pitoeng

Pitra Romadoni, SH, MH, Bang Jalih Pitoeng, Azzam, SH, MH, Mahmudin, SH, MH

Pitra Romadoni nasution, SH, MH juga menyesalkan mengapa hal tersebut dilakukan saat ini. karena menurutnya itu kejadian beberapa tahun yang lalu.

"Kami minta pihak kepolisian mengusut apa motiv dibalik laporan Sudiarto tersebut. Karena yang disampaikan UAS itu adalah dalam bentuk kajian terttutup dalam satu komunitas pengajian di Masjid Annur pekan baru 3 tahun yang lalu" jelas Pitra Romadoni.

Sejalan dengan Pitra Romadoni, Azzam, SH, MH salah satu pengacara yang kerap kali tampil di layar kaca Indonesia Lawyers Club, selaku tim kuasa hukum yang hadir, juga menyampaikan keperihatinannya.

"Kalau kita mau mempermasalahkan hal-hal internal kajian dalam salah satu agama tidak akan selesai sampai kapanpun. Karena setiap agama pastimemiliki keyakinan nya masing-masing" kata Azzam.

Diakhir keterangan pers tersbut, Aktivis Betawi Jalih Pitoeng juga mengajak seluruh elemen bangsa untuk saling menjaga dan saling menghormati perbedaan tentang tata cara peribadatan umat beragama.

"kita ini negara yang besar. indonesia akan menjadi miniatur dan pusat peradaban dunia. dimana ribuan suku, bahasa, budaya dan agama yang tumbuh di negeri ini. menjalankan syraiat agama itu diatu dan dilindungi oleh undang-undang bahkan Undang-Undang Dasar 1945. Jadi janganlah karena kajian sebuah agama tertentu dijadikan sebuah perdebatan yang bisa menimbulkan terjadi kesalah fahaman yang dapat mengancam kerukunan umat beragama bahkan disintegrasi bangsa" Pungkas Jalih Pitoeng
Komentar Anda

Terkini: