Menanti Strategi Bagi-bagi Sepeda Ala Jokowi Dalam Menuntaskan Krisis Tuntutan Referendum Papua

/ August 23, 2019 / 11:42 AM
Bagikan:
Akbar Hussein

Akbar Hussein :
Sekjen DPR RI (Dewan Persaudaraan Relawan & Rakyat Indonesia)

Kalau menonton videonya aksi rakyat Papua yang sedang berkumpul lalu mereka berorasi satu persatu di lapangan apel kantor Gubernur Papua yang Menuntut PAPUA MERDEKA...!!,
maka yang ada dalam benak saya saat itu adalah "Wahh... ini bisa benar-benar kelar juga neh Papua menjadi sebuah Negara Merdeka atau ini malah bisa-bisa bikin kelar juga ini jabatannya Presiden Jokowi gegara krisis Papua (MERDEKA...!!)"

Jika mengikuti perkembangan situasi dan kondisi domestik di Papua hingga detik ini belumlah menunjukkan kemajuan yang berarti setelah beberapa hari ini wilayah Papua diguncang aksi besar unjuk rasa anarkis dan membara karena banyak sekali obyek vital milik pemerintah dan negara semisal kantor DPRD Provinsi Papua Barat sampai Bandar Udara  Sorong yang dibakar dan dirusak oleh massa yang marah disana yang menuntut Papua (MERDEKA...!!!).

Tentunya apabila disimak pernyataan presiden Jokowi terakhir itu sangat tidak nyambung dengan realitasnya. Seharusnya pemerintah mencarikan solusi dalam menuntaskan krisis di Papua yang menginginkan referendum tersebut.

Namun yang terjadi justru Jokowi malah menyuruh untuk saling Maaf Memaafkan. Aduuh ini maksudnya "Opo toh" Pak Jokowi kok orang-orang Papua disuruh saling Maaf Memaafkan yaa...?? (sekali lagi ini tidak nyambung Broo....)

Pernyataan Jokowi terakhir itu tentunya tidaklah menyentuh pada substansi yang sebenarnya dan terkesan Jokowi juga ingin cuci tangan.

Anak-anak Papua Mencintai Merah Putih

Dan sebagai Kepala Negara dan Kepala Pemerintahan sejatinya pernyataan yang harus dikemukakan Jokowi dalam penyelesaian krisis Papua tersebut adalah suatu pandangan-pandangan berupa pendekatan sosiologis kultural serta langkah-langkah konstitusional dan strategis yang kongkrit yang bisa mengakomodasi dan mampu memuaskan keinginan bagi seluruh rakyat Papua yang selama ini kehidupannya  terpinggirkan serta kekayaan alamnya di keruk habis tanpa adanya kompensasi yang jelas.

Dus parahnya lagi terkesan seakan-akan negara itu "abai"dalam menolong dan membela rakyat  Papua sehingga bisa dibilang bahwa mereka selama ini  tidak pernah menikmati proses bagi hasil atas eksploitasi jangka panjang dan besar-besaran atas kekayaan alam, Bumi dan Air Papua tersebut.

Terakhir, yang jelas dalam krisis Papua yang terjadi ini Pemerintah Indonesia dituntut untuk dengan cepat menyelesaikannya dan jangan sampai membiarkannya  berlarut-larut tanpa adanya solusi dan kebijakan yang adil bagi rakyat Papua itu sendiri.

Kita pun sebagai rakyat Indonesia yang berada diluar wilayah Papua sangat menantikan, apakah langkah-langkah dan strategi yang sering kali Jokowi lakukan dalam meraih simpati pencitraannya selama ini katakan lah dengan  "Bagi-bagi sepeda kepada anak-anak sekolah" itu akan efektif serta mampu menuntaskan krisis Papua tersebut, atau jangan-jangan karena Jokowi yang kini keliatan "Galau" dampak dari tuntutan Referendum rakyat Papua itu, akhirnya memutuskan sendiri untuk membagi-bagikan daerah-daerah di Indonesia yang pertama tentunya adalah Papua menjadi negara berdaulat alias berdiri sendiri lalu disusul oleh daerah-daerah lainnya seperti Aceh, Riau, di Jogyakarta, Sumbar yang mana mereka pun juga sudah lama menantikan untuk menjelma sebagai negara yang berdiri sendiri pula. (ARD)
Komentar Anda

Terkini: