Diskusi Kebangsaan : Papua Airmata Kami

/ August 23, 2019 / 10:02 PM
Bagikan:
Bang Jalih Pitoeng, Capt (Purn) Rusly Ibrahim, Sri Bintang Pamungkas

SUARABERKARYA.COM, JAKARTA - Diskusi kebangsaan tentang Papua yang mengusung tema "Papua Airmata Kami" di gelar di bilangan Manggarai Jl. Guntur 49 yang dikenal sebagai wadah dan lokasi diskusi publik.

Diskusi yang dihadiri nara sumber yang dikenal sangat prontal sejak masa pemerintahan Soeharto, yaitu Dr. Ir. Sri Bintang Pamungkas, semakin sore semakin panas.

Salah satu pendeta asal Papua Simon menyampaikan bahwa jangan lagi menyinggung soal kemerdekaan Papua.


"Jangan lagi bahas tentang isyu Papua Merdeka. Papua bergabung dengan NKRI itu sudah final di PBB" kata pdt. Simon saat menyampaikan orasinya pada diskusi kebangsaan, Jum'at (23/08/2019)

Menurut pdt. Simon, hanya sekelompok orang-orang yang tidak mencintai NKRI yang ingin Papua Merdeka.

"Orang tua kami dahulu yang memperjuangkan Papua bergabung dengan NKRI. Dan itu sudah final di PBB (Perserikatan Bangsa Bangsa). Jadi hanya sekelompok orang-orang yang tidak mencintai NKRI lah yang ingin Papua Merdeka" sambung Simon dengan nada berapi-api sambil memukul dadanya.

Aktivis Betawi Bang Jalih Pitoeng

Sementara menurut aktivis betawi Bang Jalih Pitoeng bahwa Papua harus ditangani secara khusus. Karena Papua juga memang wilayah yang khusus.

"Penanganan masalah ditanah Papua harus secara khusus dan bijaksana. Karena Papua adalah daerah atau wilayah khusus" kata Jalih Pitoeng

"Kita adalah bangsa yang besar. Bangsa yang berdasarkan Ketuhanan, berfalsafah pancasila, merawat kebhinekaan, menjunjung tinggi UUD 1945 serta terbingkai dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia" imbuh Jalih Pitoeng menegaskan tenrang dasar negara.

"Masalah agama, suku di Papua tidak ada masalah. Masalah utamanya adalah tentang ketidak adilan. Betul apa betul...?!" tanya Jalih pada peserta diskusi disusul teriakan takbir

Pendeta Simon : Batik Merah

Jalih Pitoeng juga menyampaikan dalam orasinya bahwa kesalahan besar pemerintah adalah akibat salah urus dan tidak adanya keadilan.

"Persoalan Papua adalah persoalan klasik yang tidak pernah kunjung usai. Sejak pemerintahan Soekarno, Soeharto, kemudian pemerintahan transisi Habibie, Gusdur, Megawati hingga presiden pertama pemilihan secara langsung SBY bahkan hingga pemerintahan Jokowi saat ini" sambung Jalih Pitoeng

"Permasalahan utamanya adalah akibat salah urus dan tidak adanya rasa keadilan yang dirasakan oleh masyarakat Papua. Mohon koreksi jika pendapat saya ini salah" pinta Jalih Pitoeng disambut gemuruh teriakan betuuul...!!!

Suasana Diskusi Kebangsaan Tentang Papua

Diakhir penuturannya, Jalih  Pitoeng juga menyampaikan tentang hubungan baiknya pada sahabat-sahabatnya yang berasal dari Papua.

"Saya ini orang betawi. Betawi itu dikenal sangat permisif. Semua agama ada di betawi. Semua suku insya allah juga ada di betawi. Kita rukun-rukun saja hidup bersamaan dan berdampingan diantara berbagai perbedaan. Banyak sahabat-sahabat dan aktivis yang saya kenal sangat baik. Meraka ada yang dari Nasrani. Kita baik-baik saja" ungkap Jalih Pitoeng tentang keramahan dan toleransi orang betawi.


"Jakarta adalah miniatur Indonesia. Dan Indonesia akan menjadi miniatur dunia. Dimana hampir semua agama ada di Indonesia. Dunia akan belajar pada Indonesia tentang kerukunan hidup diantara 1.000 bahasa, 714 suku yang terbentang diantara belasan ribu pulau. Indonesia akan menjadi negara besar duni jika kita bisa mengelola nya dengan baik. Takbir...!!!" Teriak Jalih disambut Takbir

"Mudah-mudahan dengan diskusi ini kita bisa lebih simpati dan berempati terhadap apa yang dirasakan oleh saudara kita di tanah Papua yang begitu mencintai bangsanya yaitu Negara Kesatuan Republik Indonesia" Pungkas Jalih Pitoeng (Red)
Komentar Anda

Terkini: