Jalih Pitoeng Pejuang Rakyat

/ January 30, 2020 / 10:27 AM
Bagikan:
Jakarta - Sejarah Perjuangan rakyat di awal abad 19 pada penghujung masa penjajahan Belanda seakan terasa terukir kembali.

Sosok pahlawan betawi si Pitoeng yang berjuang demi rakyat kecil dari kekejaman colonial Belanda menjadi pusat perhatian gubernur batavia Scot Hyne untuk menangkap sang pahlawan betawi dalam predikat sebagai pemberontak bahkan perampok.

Namun sebaliknya. Pitoeng dalam pandangan masyarakat betawi khususnya rakyat miskin justru memandang Pitoeng adalah seorang pahlawan dalam mengusir penjajahan dan membela kebenaran.

Nampaknya kisah sertus tahun silam terasa seakan terulang kembali.

Aktivis asli betawi Jalih Pitoeng pun ditangkap dengan sangkaan turut serta berbuat makar. Pemilik nama asli Muhidin Jalih ini memang lantang berjuang menyuarakan kebenaran dan keadilan.
Berbagai media telah memberitakannya beberapa kali melakukan aksi damai dan melakukan gugatan terhadap adanya beberapa dugaan kecurangan pemilu bahkan bersama Pengacara kondang Eggi Sudjana melakukan gugatan ke BAWASLU pada 19 Februari 2019 pasca debat capres cawapres pasangan Jokowi Ma'ruf dan Prabowo Sandi.

Tidak berhenti disitu, dirinya juga melakukan gugatan ke DKPP (Dewan Kehormatan Penyelenggara Pemilu) walaupun hasilnya sangat tidak memuaskan.

Paska putusan MK (Mahkamah Konstitusi) tanggal 27 Juni 2019 dibawah pimpinan Anwar Usman dan Keputusan KPU RI pada tanggal 30 Juni 2019 dimana Arief Budiman selaku ketua KPU RI yang menetapkan bahwa presiden terpilih adalah kontestan no urut 01 yaitu pasangan Joko Widodo dan KH. Ma'ruf Amin rupanya menimbulkan kekecewaan besar dimasyarakat.

Sehingga aksi-aksi damai menolak dugaan pemilu curangpun terus dilakukan dihalaman kantor BAWASLU (Badan Pengawas Pemilu) Jl. MH. Thamrin Jakarta Pusat yang berakhir pada pristiwa berdarah tragedi kemanusiaan yang mendunia dan dikenal dengan pristiwa 21-22 Mei 2019.


Ditengah kefakuman pasca kerusuhan 21-22 Mei tersebut Jalih Pitoeng mengambil langkah strategis dengan menginisiasi membangun organ taktis yang diberi nama DPR RI (Dewan Persaudaraan Relawan dan Rakyat Indonesia) dalam rangka menggelar "Aksi Akbar Super Damai" yang rencananya akan digelar pada Jum'at 14 Juni 2019. Namun sangat disayangkan agenda yang sudah matang dan didukung oleh berbagai elemen masyarakat, rakyat dan umat batal dilaksanakan atas permintaan salah seorang petinggi partai GERINDRA. Padahal sudah mendapatkan restu dari pihak Polda Metro Jaya dalam bentuk STTP (Surat TandaTerima Pemberitahuan) aksi sesuai dengan UU No. 9 tentang penyampaian pendapat dimuka umum.

Sosok pemikir keras dan tak pernah putus asa inipun terus berusaha keras berusaha dan berupaya dalam mewujudkan niatnya untuk berani hadir menggelar karpet merah untuk terus dilanjutkan walau tanpa restu dan dukungan para petinggi partai GERINDRA.
Karena menurut nya perjuangan ini tidak terletak pada siapa pemimpinnya dan kapan memimpinnya. Tapi lebih kepada Apa dan bagaimana kejadian dan pristiwa dalam masa kepemimpinan negara indonesia yang kita cintai bersama sebagai warisan sekaligus tanggung jawab kita sebagai anak bangsa atas negeri ini yang telah diraih dengan pekik Allahu Akbar dan tumpahan darah dan air mata para pahlawan.

Dengan kegigihannya dalam memperjuangkan kebenaran, akhirnya niat itupun terlaksana untuk melakukan unjuk rasa dengan mengemban tema "GERAKAN 30 SEPTEMBER" Rakyat Menuntut Keadilan.
Ditengah isyu akan ditangkap, ketua umum DPR RI Jalih Pitoeng tetap hadir memimpin aksi damai didepan gedung DPR MPR Jl. Gatot Soebroto Jakarta Pusat.
Tuntutan utama Aksi Damai tersebut diantaranya adalah Meminta Jokowi selaku presiden sekaligus kepala negara dan kepala pemerintahan bertanggung jawab atas pristiwa berdarah tragedi kemanusiaan 21-22 Mei, Pulangkan Habib Rizieq Syihab sebagai kewajiban negara melindungi rakyatnya termasuk menolak Revisi UU No. 30 tentang KPK (Komisi Pemberantasan Korupsi) yang disinyalir akan melemahkan KPK.

Unjuk rasa yang digelar tiap ba'da Jum'at pun berlangsung damai, tertib dan aman. Bahkan Kapolres Jakarta Pusat Harry Kurniawan memberi apresiasi secara istimewa dengan mengijinkan sholat magrib berjamaah usai aksi pada Jum'at 20 September 2019 dengan penuh hikmat dan kekeluargaan serta membubarkan diri dengan tertib.

Sehingga rakyat dan umat serta para emak-emak milenial terheran heran saat mendengar bahwa Jalih Pitoeng ditangkap oleh pihak kepolisian dalam hal ini Polda Metro Jaya yang akhirnya diketahui dirinya ditangkap pada tanggal 10 Oktober 2019 yang kemudian ditahan di Polda Metro Jaya yang kehadirannya disambut oleh Sekjen PA 212 Ustadz Bernard yang juga telah lebih dahulu di tahan dengan kasus yang berbeda.

Jalih Pitoeng pun sepi dari pemberitaan pasca penangkapan dan penahanan. Ternyata dirinya tidak sendirian. Karena sudah ditahan Dr. Abdul Basith, Ir. Mulyono, Okto, Yudi dkk serta Januar Akbar dan M. Damar yang lebih dikenal 3 Serangkai.

Tepatnya pagi hari Kamis 23 Januari 2020 para tahanan politik dilimpahkan ke Kejaksaan Negeri Kota Tangerang Selatan dengan menggunakan 2 unit Baracuda dan beberapa kendaraan Patwal serta diiringi beberapa kendaraan para pejabat kepolisian termasuk iringan kendaraan keluarga tersangka yang mengikutinya.

Hujan deraspun mengguyur perjalanan menuju Kejaksaan Negeri Kota Tangerang Selatan seakan ibu pertiwi menangis menyaksikan para anak-anak bangsa yang sedang berjuang meminta keadilan.

Kamis malam Jum'at 23 Januari 2020, Ruang Pengap berterali asli buatan Colonial Belanda menjadi saksi bisu menyambut kehadiran Jalih Pitoeng dan 15 para Tapol lainnya. Termasuk Dr. Insanial Burhamzah, SE, MBA yang di tangkap di Kuala Lumpur Malaysia saat akan memimpin pertemuan para ketua koperasi se Asean.

Konon katanya kurang lebih 100 tahun yang lalu si Pitoeng pernah masuk di penjara Tangerang yang kini dijadikan cagar budaya peninggalan penjajahan Belanda yang saat ini lebih dikenal dengan sebutan LAPAS PEMUDA Kelas II A Kota Tangerang.

Perjuangan rakyat dalam rangka membela dan menegakan kebenaran sesungguhnya tidak pernah akan berakhir hingga punahnya manusia. Sejarah pasti berulang pada ruang dan waktu. Hanya pelaku sejarah lah yang berubah.

Penahanan di LAPAS kali ini bukanlah akhir dari sandiwara Allah SWT. Karena 2-3 minggu kedepan akan masuk fase persidangan. Sebuah forum untuk menguji semua dakwaan. (EZ)




Jalih Pitoeng dkk

Komentar Anda

Terkini: