Akankah Kisah Perjuangan Si Pitoeng 100 Tahun Silam Terulang Kembali

/ February 2, 2020 / 4:05 PM
Bagikan:


SUARABERKARYA.COM, Jakarta - Sejarah Perjuangan rakyat di awal abad 19 pada penghujung masa penjajahan Belanda seakan terasa terukir kembali di abad modern seperti ini.

Sosok pahlawan betawi si Pitoeng yang berjuang demi rakyat kecil dari kekejaman Colonial Belanda menjadi pusat perhatian gubernur Batavia Scot Hyne untuk menangkap sang pahlawan Betawi dalam predikat sebagai pemberontak bahkan perampok atau yang lebih populer dimasa itu dengan sebutan Inlander.

Namun sebaliknya. Pitoeng dalam pandangan masyarakat Betawi khususnya rakyat miskin justru memandang Pitoeng adalah seorang pahlawan dalam mengusir penjajahan dan membela kebenaran.

Nampaknya kisah seratus tahun silam terasa seakan terulang kembali diatas bumi pertiwi.

Aktivis asli betawi Jalih Pitoeng pun ditangkap dengan sangkaan turut serta berbuat makar sebagaimana diberitakan akan membuat kerusuhan pada agenda nasional pelantikan presiden tanggal 20 Oktober 2019 di DPR MPR lalu.

Pemilik nama asli Muhidin Jalih ini yang dikenal lantang berjuang menyuarakan kebenaran dan keadilan ini telah ramai diberitakan media

Beberapa kali melakukan aksi damai dalam menuntut kejujuran, kebenaran dan keadilan membuat dirinya menjadi inspirator bagi rakyat miskin kota.


Demikian pula langkah-langkah yuridis dan strategis dilakukannya dalam melakukan gugatan terhadap adanya beberapa dugaan kecurangan pemilu terhadap ketua KPU RI Arief Budiman dan Abhan selaku Ketua Bawaslu RI di DKPP (Dewan Kehormatan Penyelenggara Pemilu).

Bahkan bersama Pengacara kondang Eggi Sudjana melakukan gugatan ke Bawaslu pada 19 Februari 2019 pasca debat capres cawapres pasangan Jokowi Ma'ruf dan Prabowo Sandi.

Pasca putusan MK (Mahkamah Konstitusi) tanggal 27 Juni 2019 dibawah pimpinan Anwar Usman dan Keputusan KPU RI pada tanggal 30 Juni 2019 dimana Arief Budiman selaku ketua KPU RI yang menetapkan bahwa presiden terpilih adalah kontestan no urut 01 yaitu pasangan Joko Widodo dan KH. Ma'ruf Amin rupanya menimbulkan kekecewaan besar dimasyarakat.

Sehingga aksi-aksi damai menolak dugaan pemilu curangpun terus dilakukan dihalaman kantor BAWASLU (Badan Pengawas Pemilu) Jl. MH. Thamrin Jakarta Pusat yang berakhir pada pristiwa berdarah tragedi kemanusiaan yang mendunia dan dikenal dengan pristiwa 21-22 Mei 2019.

Ditengah kefakuman pasca kerusuhan 21-22 Mei tersebut Jalih Pitoeng mengambil langkah strategis dengan menginisiasi membangun organ taktis yang diberi nama DPR RI (Dewan Persaudaraan Relawan dan Rakyat Indonesia) dalam rangka menggelar "Aksi Akbar Super Damai" yang rencananya akan digelar pada Jum'at 14 Juni 2019.

Upaya ini diinisiasi sebagai salah satu langkah edukasi kepada seluruh masyarakat khususnya para aktivis yang kritis agar tetap terus memperjuangkan suara kebenaran. Karena unjuk rasa dan menyampaikan pendapat dimuka umum adalah hak konstitusional warga negara yang dilindungi oleh undang-undang bahkan Undang-Undang Dasar 1945.

Sehingga menurut dirinya jika ada pihak-pihak yang melarang aksi tersebut justru melanggar undang-undang dan anti Pancasila.

Namun sangat disayangkan agenda yang sudah matang dan didukung oleh berbagai elemen masyarakat, rakyat dan umat batal dilaksanakan atas permintaan salah seorang petinggi partai GERINDRA. Padahal sudah mendapatkan restu dari pihak Polda Metro Jaya dalam bentuk STTP (Surat TandaTerima Pemberitahuan) aksi sesuai dengan UU No. 9 tentang penyampaian pendapat dimuka umum.

Sosok pemikir keras dan tak pernah putus asa inipun terus berusaha dan berupaya dalam mewujudkan niatnya untuk berani hadir menggelar karpet merah untuk terus dilanjutkan walau tanpa restu dan dukungan para petinggi partai GERINDRA.

Karena menurut nya perjuangan ini tidak terletak pada siapa pemimpinnya dan kapan memimpinnya. Tapi lebih kepada apa dan bagaimana kejadian dan pristiwa dalam masa kepemimpinan negara indonesia yang kita cintai bersama sebagai warisan sekaligus tanggung jawab kita sebagai anak bangsa atas negeri ini yang telah diraih dengan pekik Allahu Akbar dan tumpahan darah serta air mata para pahlawan.

Dengan kegigihannya dalam memperjuangkan kebenaran, akhirnya niat itupun terlaksana untuk melakukan unjuk rasa dengan mengemban tema "GERAKAN 30 AGUSTUS" Rakyat Menuntut Keadilan.

Ditengah isyu akan ditangkap, ketua umum DPR RI Jalih Pitoeng tetap hadir memimpin aksi damai pada Jum'at 30 Agustus 2019 bersama dengan Januar Akbar dan Damar serta para aktivis pejuang keadilan dengan dihadiri ratusan emak-emak milenial didepan gedung DPR MPR Jl. Gatot Soebroto Jakarta Pusat.

Tuntutan utama Aksi Damai tersebut diantaranya adalah Meminta Jokowi selaku presiden sekaligus kepala negara dan kepala pemerintahan bertanggung jawab atas pristiwa berdarah tragedi kemanusiaan 21-22 Mei yang menyebabkan 9 tunas bangsa meregang nyawa, Pulangkan Habib Rizieq Syihab tanpa syarat sebagai kewajiban negara dalam melindungi rakyatnya termasuk menolak Revisi UU No. 30 tentang KPK (Komisi Pemberantasan Korupsi) yang disinyalir akan melemahkan KPK.

Unjuk rasa yang digelar tiap ba'da Jum'at pun berlangsung damai, tertib dan aman. Bahkan Kapolres Jakarta Pusat Harry Kurniawan memberi apresiasi secara istimewa dengan mengijinkan sholat magrib berjamaah usai aksi pada Jum'at 20 September 2019 dengan penuh hikmat dan kekeluargaan serta membubarkan diri dengan tertib.

Sehingga rakyat dan umat serta para emak-emak milenial terheran heran saat mendengar bahwa Jalih Pitoeng ditangkap oleh pihak kepolisian dalam hal ini Polda Metro Jaya yang akhirnya diketahui dirinya ditangkap pada tanggal 10 Oktober 2019 yang kemudian ditahan di Polda Metro Jaya.

Kehadirannyapun disambut oleh Sekjen PA 212 Ustadz Bernard yang juga telah lebih dahulu di tahan dengan kasus yang berbeda.

Jalih Pitoeng pun sepi dari pemberitaan pasca penangkapan dan 120 hari penahanan dirinya di Mapolda Metro Jaya. Ternyata diapun tidak sendirian. Karena sudah Januar Akbar dan kemudian disusul M. Damar menggenapkan 3 Serangkai. Sementara sebelumnya sudah ditangkap dan ditahan Dr. Abdul Basith, Ir. Mulyono, Okto, Yudi dkk.

Suasana tahananpun berubah dan berkembang bak pondok pesantren. Hari-hari yang seharusnya menjenuhkan diisi dengan diskusi agama dan kajian serta diselingi hiburan seadanya. Makan dan sholat bersama merupakan rutinitas yang nyaris tak terhindarkan sebagai perwujudan solidaritas dan kesetiakawanan sesama tahanan terlebih tergabung dalam satu perkara.

Menjelang akhir masa penahanan suasana mulai agak gaduh karena isyu kepulangan dan pelimpahan para aktivis. Karena diawal acara rutin pembacaan surat Yasin tiap malam Jum'at 16 Januari 2020 Jalih Pitoeng sudah menyampaikan permohonan maaf dan ucapan terimakasih kepada para tahanan yang menjadi peserta pengajian sebagai salam perpisahan.

Secara tegas Jalih Pitoeng menyampaikan bahwa pihak kepolisian tidak boleh lagi menahan dirinya dan seluruh tersangka yang terkait dalam satu perkara jika polisi tidak memiliki cukup bukti. Jika memungkinkan untuk ditingkatkan tentunya pihak kepolisian harus melakukan pelimpahan ke pihak Kejaksaan untuk selanjutnya menuju proses persidangan.

Tepatnya pagi hari Kamis 23 Januari 2020 para tahanan politik dilimpahkan ke Kejaksaan Negeri Kota Tangerang Selatan dengan menggunakan 2 unit Baracuda layaknya terduga TERORIS dan beberapa kendaraan Patwal serta diiringi beberapa kendaraan para pejabat kepolisian termasuk iringan kendaraan keluarga tersangka yang mengikutinya.

Hujan deras yang mengguyur perjalanan menuju Kejaksaan Negeri Kota Tangerang Selatan menggambarkan bahasa alam seakan ibu pertiwi menangis menyaksikan para anak-anak bangsa yang sedang berjuang meminta keadilan.

Kamis malam Jum'at 23 Januari 2020, Ruang Pengap dan Sesak berterali besi asli buatan Colonial Belanda menjadi saksi bisu menyambut kehadiran Jalih Pitoeng dan 15 para Tapol lainnya. Termasuk Dr. Insanial Burhamzah, SE, MBA yang di tangkap di Kuala Lumpur Malaysia saat akan memimpin pertemuan para ketua koperasi se Asean.

Cel tersebut konon katanya kurang lebih 100 tahun yang silam,  pahlawan betawi Si Pitoeng pernah masuk di penjara Tangerang yang kini dijadikan cagar budaya peninggalan penjajahan Belanda yang saat ini lebih dikenal dengan sebutan LAPAS PEMUDA Kelas II A Kota Tangerang.

Perjuangan rakyat dalam rangka membela dan menegakan kebenaran sesungguhnya tidak pernah akan berakhir hingga punahnya manusia. Sejarah pasti berulang pada ruang dan waktu. Hanya pelaku sejarah lah yang berubah dan berganti.

Penahanan di LAPAS kali ini bukanlah akhir dari sandiwara Allah SWT. Karena 2-3 minggu kedepan akan masuk fase persidangan. Sebuah forum untuk menguji semua dakwaan. (Admin)
Komentar Anda

Terkini: