Abdul Basith Mengajukan Keberatan Diakhir Persidangan

/ March 21, 2020 / 8:46 AM
Bagikan:
Abdul Basith Bersama Pengacara dan Jaksa Saat Menunjukan Hand Phone milik Abdul Basith

SUARA BERKARYA.COM, TANGERANG - Abdullah Alkatiri, SH., MH yang merupakan salah satu penasehat hukum Laksamana Pertama (Purn) Drs. Sony Santoso, SH., MH sekaligus penasehat hukum Dr. Ir. Abdul Basith, M.Sc mencecar berbagai pertanyaan terkait penangkapan pada sidang keenam atas perkara nomor 254 yang mendera Abdul Basith dan Laode CS di pengadilan negeri Tangerang, Jum'at (20/03/2020)

Pengacara senior berdarah arab ini mencecar beberapa pertanyaan seputar berkas pelimpahan dan prosedur penangkapan.

Brivan Esa Putra selaku saksi pelapor dari pihak kepolisian dihujani banyak pertanyaan dari penasehat hukum Sony Santoso dan Abdul Basith ini. Terutama tentang prosedur penangkapan, waktu pelaporan, alat bukti serta barang bukti atas perkara 252 dan 254 yang ternyata diketahui telah dimusnahkan.

Sehingga Alkatiri bertanya pada yang mulia majlis hakim tentang perkara tersebut dihentikan atau akan dilanjutkan. Alkatiri juga mengejar pertanyaan kepada jaksa penuntut umum tentang tidak diberikannya turunan pelimpahan berkas beserta dokumen penting lainnya termasuk barang bukti.

"Maaf yang mulia. Apakah perkara ini akan dihentikan atau dilanjutkan. Karena barang buktinya tidak ada. Bagaimana perkara ini bisa dilanjutkan" tanya Alkatiri kepada majlis hakim, Jum'at (20/03/2020)

Tanpa menunggu dijawab, Alkatiripun melanjutkan pertanyaan terhadap saksi Brivan.

"Saudara saksi. Dimana saudara menangkap saudara Abdul Basith dan saudara Laode Sugiono" tanya Alkatiri

"Di jalan Raya Cipondoh Tangerang" jawab Brivan

"Tangal berapa dan jam berapa serta bagaimana saudara melakukan penangkapan. Mohon jelaskan" desak Alkatiri

"Tanggal 28 September 2019. Saat itu kami sedang melakukan razia dan patroli menjelang pelantikan presiden" jawab Brivan

"Patroli atau razia" desak Alkatiri tegas

"Razia" jawab saksi Brivan

"Saudara saksi. Apakah ada kendaraan lain yang saudara berhentikan selain mobil saudara Basith" tanya Alkatiri lagi

"Saya tidak tahu. Karena saya datang belakangan" jawab Brivan

"Saudara saksi. Apakah ada kendaraan lain yang saudara ketahui diberhentikan setelah kendaraan saudara Abdul Basith" desak Alkatiri lagi

"Saya tidak tahu. Karena saya kembali duluan ke Polda Metro Jaya untuk membuat laporan" jawab Brivan

"Saudara saksi. Apa dasar saudara melaporkan dan menangkap saudara Abdul Basith" desak Alkatiri

"Pada saat kami razia, ditemukan selongsong gas airmata dimobil yang digunakan oleh saudara Abdul Basit" jawab saksi

"Saudara saksi. Saudara sebagai anggota kepolisian. Tentunya saudara tahu aturan bagaiman seseorang bisa dilaporkan melakukan tindak pidana. Pertanyaan saya, apakah membawa selongsong gas airmata termasuk tindakan pidana. Dan apakah saudara tanyakan selongsong tersebut didapat dari mana" tanya Alkatiri mengejar

Saksi tidak menjawab apakah membawa selongsong tersebut merupakan tindakan pidana. Tetapi malah menjelaskan tentang ditemukan percakapan dalam group WA yang ada di hand phone Abdul Basith.

"Apa yang saudara ketahui didalam percakapan atau chat-chat yang terdapat dalam hand phone Abdul Basith" tanya Alkatiri kembali

"Bagaimana cara saudara saksi mendapatkan dan membuka hand phone saudara Abdul Basith"

"Saya hanya diperlihatkan oleh rekan yang lain kurang lebih 5 menit. Dan saya melihat ada pembicaraan tentang bom" jawab saksi

"Bagaimana saudara tahu itu ada bom" desak Alkatiri

"Saya lihat ada photo atau gambar orang yang sedang memegang botol yang ada sumbunya" jawab Brivan

"Apakah saudara tahu itu jenis bom apa yang ada diphoto dalam hand phone saudara Abdul Basith" tanya Alkatiri lagi

"Yang saya tahu di hand phone itu ada photo orang memegang botol yang ada sumbunya. Tapi saya tidak tahu apakah itu bom molotov atau bom rakitan"

"Saudara saksi. Apakah saudara tahu bahwa perkara bom molotov tersebut sedang disidangkan di pengadilan Jakarta Pusat" tanya Alkatiri seraya menjelaskan

"Saya tidak tahu"
Jawab saksi singkat

"Baik. Terimakasih" kata Alkatiri

Pertanyaan-pertanyaan selanjutnya dilanjutkan oleh para penasehat hukum lainnya secara bergantian.

Brivan Esa Putra Saksi Pelapor dari Pihak Kepolisian

Saksi Brivan memang terlihat agak sulit menjawab pertanyaan-pertanyaan yang dilontarkan oleh hampir seluruh penasehat hukum terdakwa. Karena disamping barang bukti yang sudah dimusnahkan, juga terhadap beberapa kejanggalan

Diakhir persidangan dengan agenda mendengarkan keterangan saksi, Abdul Basith selaku terdakwa atas perkara nomor 254 menyampaikan keberatannya.

"Saudara Abdul Basith. Apakah saudara setuju atau keberatan dengan keterangan saksi" tanya ketua majlis hakim

"Maaf yang mulia. Apakah boleh saya menyampaikan beberapa pernyataan" kata Abdul Basith bertanya kembali

"Pernyataan tentang apa.  Silahkan" pinta majlis hakim

"Tadi kita dengar katanya saksi bertanya saya tidak menjawab" kata Abdul Basith mengawali pernyataannya

"Padahal saat saya ditanya dari mana saya dapat selongsong gas airmata itu, saya jawab saya temukan di jalan Cut Mutia Menteng Jakarta Pusat" jelas Abdul Basith

"Kemudian tentang hand phone. Hand phone saya diambil paksa diantara beberapa anggota polisi bersenjata lengkap. Bahkan saat saya minta lagi untuk menghubungi keluarga saja tidak boleh" sambung Abdul Basith

"Mengenai waktu penangkapan, saya subuh sudah sampai di Polda lalu dimasukan dalam sel yang sangat sempit dengan jumlah puluhan orang" pungkas Abdul Basith.

Demikian juga dengan terdakwa Laode Sugiono saat ditanya oleh majlis hakim apa pendapatnya tentang keterangan saksi.

"Apakah saudara Laode Sugiono juga keberatan" tanya ketua majlis hakim

"Ya. Yang mulia. Saya keberatan. Dan hand phone saya diambil paksa dan disuruh membuka akses oleh anggota polisi bersenjata lengkap.

Senada dengan Laode Sugiono, Laode Jaflan Raali juga menyampaikan keberatannya.

"Apakah ada lagi yang merasa keberatan" kata majlis hakim mengumbar pertanyaan

"Saya dipukuli hingga tidak sadarkan diri dirumah pak Basith" jawab Jaflan spontan

Sidang ditutup dan akan dilanjutkan Jum'at depan pada tanggal 27 Maret 2020 ditempat yang sama pengadilan negeri kota Tangerang. (SB)
Komentar Anda

Terkini: