Jalih Pitoeng : Jika hari ini menjadi Matahari Terakhirku

/ March 29, 2020 / 11:15 AM
Bagikan:
Muhidin Jalih alias Jalih Pitoeng

"Matahari Terakhirku"

Assalamu'alaikum wr wbr...

Alhamdulillah, hingga hari ini aku masih diberi kesempatan untuk menghirup udara dan melihat cahaya matahari.

Semoga saudara-saudariku diluar sana juga senantiasa selalu sehat, ceria dan bahagia bersama keluarga tercinta. Amin...!!!

Ditengah duka kami dalam penjara dan duka kalian semua mengahadapi makhluk aneh bernama Corona yang mewabah keseluruh dunia termasuk Indonesia, kiranya kita tetap harus bersyukur atas segala nikmat yang Allah berikan hingga hari ini. Kita harus ikhlas menerima cobaan dan takdir ini serta tetap bersabar dalam menghadapi semua ujian, teguran atau bahkan hukuman bagi kita sebagai umat yang berdosa.

Ya Allah...Ya Robb, ampunilah atas segala dosa dan salahku serta saudara-saudariku...!!!

Karena hanya kepada Engkaulah kami mohon pertolongan dan pengampunan. Hanya kepadaMU lah kami berlindung dan berserah diri sebagaimana lima kali sehari kami berikrar dalam setiap sholatku "sesungguhnya sholatku, ibadahku, hidupku bahkan matiku hanya karena Engkau Allah penguasa seluruh alam".

Maka sejak aku ditahan di Polda Metro Jaya, aku selalu bermohon kepadamu ya Allah "Jadikanlah penjara ini sebagai tempat penghapus dosa. Baik yang kusengaja maupun yang tidak ku sengaja".

Kepada para habaib, kiayai, guru dan alim ulama wabil khusus imam besar kita Habib Rizieq Shihab, KH. Shobri Lubis, Ustadz Selamet M'arif, Bang Munarman, Ustadz Deddy Mulyadi dan kang Maman panglima laskar serta seluruh jajaran FPI, PA 212 dan LPI berikut seluruh sayap juangnya kuucapkan Alhamdulillah dan terimakasih atas segala perhatian dan dukungan serta do'a yang anda panjatkan dalam mendukung konsep perjuangan kami yaitu menyuarakan kejujuran, kebenaran dan keadilan demi kepentingan rakyat semata dalam berbangsa dan bernegara.

Khusus bagi imam besar HRS yang menjadi ruh perjuanganku semoga Allah menjaga dan memelihara habibana karena kau adalah simbol perjuangan umat dan rakyat. Amin...!!!

Demikian pula Abangku tercinta Eggi Sudjana pengacara yang lantang dan berani serta memiliki konsep perjuangan religi yang sempat juga menikmati dinginnya tembok dan pengapnya jeruji besi Polda Metro Jaya, semoga sehat selalu dan Allah beri panjang umur karena rakyat sangat membutuhkan agar bisa melanjutkan perjuangan umat dan rakyat. Amin...!!!

Buat sahabat perjuangan ku, guruku ustadz Bernard yang sering sekali bersamaku diatas mobil komando bahkan ternyata kau telah lebih dahulu ditangkap sehingga sempat menyambut kehadiranku di TAHTI Polda Metro saat hari pertamaku ditangkap dan ditahan dengan tuduhan yang tidak jelas. Terlebih setelah kudengar pembacaan dakwaan di pengadilan negeri kota Tangerang Jum'at 14 Februari 2020 pada sidang perdana. Semoga Allah SWT senantiasa menjaga dan memelihara dari segala sesuatu yang tidak kita harapkan bersama. Amin...!!!

Saudara-saudariku, mujahid dan mujahidah, para aktivis, relawan, kaum intelektual dan seluruh adik-adiku mahasiswa serta kaum milenial yang sangat kucintai dan kubanggakan sekaligus kuharapkan, semoga anda semua tetap istiqomah dan konsisten berjuang demi rakyat bangsa dan negara atas nama kejujuran, kebenaran dan keadilan. Karena ditangan andalah negara ini dipertaruhkan sebagai pemegang tongkat kepemimpinan masa depan bangsa.

Kepada presiden Joko Widodo, anda telah banyak menumpuk dosa atas bangsa ini. Sejak pencitraan yang anda bangun melalui media yang anda kuasai, telah mengubah prinsip-prinsip jurnalistik yang semestinya menyampaikan informasi yang baik, benar serta berimbang telah kehilangan arah.

Nyata sekali saat kasus kami dengan tuduhan makar yang menuduh seakan-akan aku akan turut serta merencanakan kerusuhan pada agenda besar umat islam "Parade Tauhid" yang sangat irasional. Bagaimana mungkin aku yang sangat mencintai para ulama dan konsep perjuangannya justru aku kacaukan.

Aku menduga ada upaya dan agenda tersembunyi untuk membungkam suaraku yang diduga telah mampu membangkitkan semangat perjuangan umat, rakyat dan para mahasiswa yang mencintai negerinya pasca "Pristiwa Berdarah Tragedi Kemanusiaan 21-22 Mei" yang kala itu Indonesia khususnya Jakarta terkesan mencekam akibat peluru-peluru yang telah menembus dan menjemput ajal para tunas bangsa yang meregang nyawa.

Wahai bapak presiden, sesungguhnya bahwa pencitraan adalah kata lain dari sebuah kebohongan untuk menutupi yang sesungguhnya atau tepatnya aku menyebut sebuah kemunafikan.

Kepada Kapolri Tito Karnavian, Polda adalah bagian dari anda secara struktural dan hirarkis. Mereka yang menangkap dan menahanku hanyalah menjalankan tugas atas perintah pimpinan. Polri dibentuk dan dibangun serta dibiayai oleh negara atas uang rakyat. Yang secara fungsional adalah melayani, mengayomi dan melindungi yang dikenal dengan nilai-nilai luhur "Tribrata". Kesemuanya untuk dan atas nama negara bagi rakyatnya. Dan maaf bukan untuk kepentingan penguasa.

Dan harus diingat...!!!
Pemerintah dalam hal ini presiden Jokowi bisa berganti. Tapi Polri akan tetap harus ada untuk bangsa ini. Polisi sebagai aparat penegak hukum mestinya berdiri tegak atas nama kebenaran bukan atas nama kekuasaan.

Mungkin saat ini anda telah dan sedang menyesalinya. Karena aku adalah salah satu korban "Kriminalisasi" atas aksi-aksi unjuk rasa yang tak bisa dijerat atas nama Undang-Undang bahkan UUD 1945 yang melindungiku sebagai payung hukum tertinggi di negeri ini.

Jika anda sebagai bagian dari sebuah kekuasaan yang merasa gatal telinga karena suara rakyat yang menuntut keadilan, tidak adakah cara lain yang tidak represif namun dialogik untuk mencari jalan keluarnya dengan menjunjung tinggi nilai-nilai kejujuran.

Belum usai persoalan bangsa yang begitu rumit baik tentang penyelesaian masalah hukum dan HAM terkait pristiwa berdarah tragedi kemanusiaan yang aku menyebutnya sebagai "Residu Pemilu" yang memilukan sekaligus memalukan dan menjadi tuntutan utama dalam setiap aksi unjuk rasa damai yang ku gelar, kini hadir ditengah krisis kepercayaan masyarakat terhadap pemerintah dengan bertumpuknya persoalan, Makhluk aneh bernama "Corona" memporak porandakan seluruh belahan dunia termasuk Indonesia.

Yang awalnya aku bingung salah apa, kecewa bahkan marah saat masih di tahan di Polda Metro Jaya, namun sebulan setelah aku ditahan justru aku menjadi tertarik untuk melakukan sebuah examinasi atas perkara ini yang menurut pendapatku ini adalah merupakan pemaksaan pristiwa politis yang didorong menjadi sebuah pristiwa yuridis khusus bagiku dalam perkara yang melibat 17 orang terdakwa saat ini. Maka pernah aku mengatakan kepada salah seorang perwira polisi ketika mengawal kami pada proses pelimpahan dari Polda Metro Jaya ke Kejaksaan Negeri Kota Tangerang Selatan, Kamis 23 Januari 2020 dibalik jeruji besi kukatakan padanya "Mari kita uji dipersidangan nanti".

Aku tidak akan mengelak jika memang aku bersalah dan dihukum sesuai dengan tingkat kesalahan atas sesuatu yang kuperbuat. Namun hukum harus berdiri tegak sekaligus tak boleh memihak. Karena seluruh hukum dan aturan serta perundang-undangan yang dibuat harus berorientasi kepada kepentingan rakyat.

Sehingga aku butuh status hukum yang jelas atas perkara yang menyeret-nyeretku dengan tuduhan makar, bahan peledak, bom molotov dan bom ikan yang hingga saat ini nyaris menimbulkan perseteruan pada persidangan lanjutan yang sudah masuk pada tahap mendengarkan saksi pelapor dari pihak kepolisian pada Jum'at 20 Maret 2020 seminggu yang lalu.

Dalam perkaraku yang melibatkan 17 orang termasuk diriku, tak satupun yang ku kenal dalam perkara ini. Kecuali Januar Akbar dan Damar yang turut bersamaku dalam beberapa aksi damai yang konstitusional.

Kepada para anggota parlemen yang telah meminta dirinya untuk dipilih rakyat dan saat ini duduk digedung rakyat, kembalilah pada niat luhur mulia anda sebelum menjadi anggota dewan. Karena secara fungsional konstitusional anda adalah wakil rakyat yang harus berpihak kepada rakyat secara aspiratif dan artikulatif untuk menampung dan menyuarakan suara rakyat terhadap mitra anda yaitu pemerintah yang sedang berkuasa.

Akhirnya dengan berat hati kita harus mengatakan bahwa bangsa kita sedang berduka. Berduka bukan hanya karena wabah corona, tapi juga berduka karena krisis multidimensi.

Akan jadi apa dan bagaimana negeri tercinta ini jika tidak ada upaya-upaya dan tindakan korektif evaluatif demi tercapainya tujuan dan cita-cita proklamasi kemerdekaan yaitu menuju masyarakat yang adil dan makmur sebagai warisan para ulama, kiyai dan santri serta segenap rakyat bersama para pejuang dan para pahlawan bangsa yang telah menumpahkan darah dan airmata.

Teruntuk keluarga, sahabat dan handai taulan yang sangat kucintai, aku selalu teringat sepenggal kalimat wasiat dari almarhum ayahku H. Rojalih Karim dimasa kecilku. "Sebaik-baiknya orang atau teman yang pernah kau kenal, pasti ada sisi kekurangannya. Begitu juga sebaliknya. Maka kenanglah sekecil apapun kebaikannya dan lupakan serta maafkan seluruh kesalahannya".

Maka kumohon dengan segala kerendahan hati, maafkanlah seluruh dosa dan kesalahanku baik yang disengaja maupun yang tak disengaja. Baik berupa pemikiran, pendapat, perkataan, tulisan serta perbuatan yang kurang berkenan selama kita pernah bersama atau bersilaturahmi.

Khusus kepada pengacaku Pitra Romadoni Nasution dkk serta para pengacara lain dalam perkara ini Abdullah Alkatiri, Dedi Suhardadi serta penasehat hukum lainnys, aku sangat bangga pada anda semua yang telah mendampingi demi membela kami dalam persidangan.

Tetaplah istiqomah dan tegap serta tegar dan lantang membela kebenaran. Karena tanggung jawab kalian adalah sangat berat dihadapan ilahi nanti. Namamu akan dicatat hingga ke langit karena berjuang untuk menegakan kebenaran atas nama hukum dan keadilan demi keberlangsungan hidup umat manusia dalam berbangsa dan bernegara.

Khusus kepada istri, anak dan adik-adikku, ikhlaskan lah jika hari ini menjadi "Matahari Terakhir" bagiku. Maafkanlah atas segala hilaf dan dosa dalam bentuk apapun. Inilah akhir dari kebersamaan kita selama ini.

Ingin aku tetap hidup bersama kalian, tapi "Kapan, dimana dan bagaimana caranya" adalah rahasia ilahi yang tak satupun mampu menembus nya.

Khusus teruntuk Matahari Kecilku Habibah Ananda Jalih, kenanglah masa-masa indah kita bersepeda.

Tetap riang dengan kalimat kebanggaan mu "Aku Habibah Ananda Jalih. Aku Pitung Ceweee...!!!" sambil mengenakan peci papa kesayangan mu. Semoga kecerdasan dan ketangguhanmu mampu melebihi kakak-kakakmu yang juga sangat papa banggakan.

Wahai anak-anakku...
Jika hari ini menjadi matahari terakhir bagi papa, maka ingatlah pesan terakhir ini. Jaga dan pelihara serta junjunglah tinggi nilai-nilai kejujuran, kebenaran dan keadilan walau mungkin karena itu akan menjemputmu pada kematian. Lebih baik mati dalam kemuliaan daripada hidup dalam kehinaan akibat berselimut kemunafikan.

Jadilah kalian akuntan yang jujur, dokter yang memegang sumpah sejati serta guru yang mendidik dan membentuk akhlaq serta mencerdaskan umat dan rakyat atas nama Allah SWT sebagai ladang amal beribadah. Papa sudah sangat bangga atas prestasi yang telah kalian capai karena papa adalah orang yang tak mampu.

Jangan kalian tangisi apalagi menyesali kepergian ini. Karena tak ada satupun yang mampu mempercepat atau menghambat takdir ini kecuali ALLAH SWT maha pengatur segalanya.

Tapi tersenyumlah bangga karena kau adalah anak-anak yang hebat dan kuat dari seorang anak bangsa yang masih mau berjuang atas nama kebenaran hingga meninggalkan ruang dan waktu menuju keabadian yang hakiki bersama ilahi.

"Innaalillahi Wainnailaihi Rojiuuun"

Tangerang, Minggu 29 Maret 2020


MUHIDIN JALIH
#Bang Jalih Pitoeng
Komentar Anda

Terkini: