Kejanggalan Penundaan Sidang Menguras Airmata Istri Terdakwa

/ March 28, 2020 / 9:58 AM
Bagikan:
Bu Mul saat menunggu yang tak tentu

SUARABERKARYA.COM, TANGERANG - Mendadaknya penundaan sidang di pengadilan negeri kota Tangerang atas perkara bom molotov dan bom rakitan (bom ikan) menjadi kesedihan dan duka bagi para emak-emak istri terdakwa para tahanan politik yang hampir 3 bulan ditahan di Lapas Pemuda kelas 2A kota Tangerang, Jum'at (27/03/2020)

Disamping karena persiapan mereka yang telah lelah sejak sehari sebelumnya, juga disebabkan karena ditundanya sidang secara mendadak.

Sidang yang seharusnya berlangsung sesuai jadwal Jum'at 27 Maret 2020, ditunda karena para terdakwa tidak diperkenankan keluar oleh pihak Lapas.

Informasi pembatalan sidang diawali dari pihak registrasi pada saat para terdakwa sudah siap dan berkumpul diruang tunggu registrasi dimana setiap akan berangkat bersidang. Namun pihak Lapas tidak bisa menunjukan surat resmi atas pembatalan tersebut.

Sementara di pengadilan negeri Tangerang sudah siap diruang sidang utama yaitu majlis hakim, para pengacara dan jaksa penuntut umum. Akan tetapi saksi dari pihak kepolisian selaku pelapor tidak nampak hadir. Demikian pula dengan para terdakwa yang masih tertahan di Lapas.

Sidang dilakukan tanpa kehadiran terdakwa dan saksi. Dalam persidangan yang singkat itupun akhirnya majlis hakim memutuskan bahwa sidang ditunda hingga Jum'at 17 April yang akan datang.

Para emak-emak yang dengan setia menghadiri persidangan di pengadilan akhirnya melanjutkan perjalannya ke Lapas Pemuda kelas 2A kota Tangerang.

Berharap suka ria justu duka yang mereka terima. Harapan mereka untuk bisa memberikan makanan yang sejak malam sudah mereka siapkan untuk para suami tercinta, malah menuai kekecewaan mendalam karena ditolak petugas dengan alasan Covid 19 yang ramai saat ini dibicarakan orang diseluruh dunia.

Sesuai dengan maklumat dari Kalapas kelas 2A kota Tangerang yang telah diketahui bahwa kunjungan ditiadakan hingga 1 April, membuat para emak-emak terdakwa tidak lagi bisa mengunjungi suaminya di Lapas sebagaimana biasanya.

Herman, Iva (bu Iwar) dkk

Saat ditemui, salah satu emak-emak istri dari terdakwa Ir. H. Mulyono Santoso mengungkapkan rasa sedih dan kekecewaannya atas kejadian yang sangat menggores dihatinya.

"Ya Allah, kami sedih sekali. Karena makanan yang kami bawa tidak bisa diterima. Padahal kami dan emak-emak lainnya sudah dengan susah payah mempersiapkan ini semua" kata  bu Mul dengan penuh kepiluan seraya menunjukan masakan yang dibawanya.

"Biasanya kami berikan pada usai persidangan di pengadilan sebagai sedikit bekal untuk mereka makan bersama disana" sambung bu Mul menjelaskan

Diketahui bahwa bu Mul adalah orang yang paling setia dan rutin membawa makanan pada hari-hari kunjungan sejak di Mapolda Metro Jaya. Bahkan saat bukan jadwal kunjunganpun dirinya selalu mengirim makanan yang dibuatnya untuk dimakan suaminya bersama dengan para tahanan lainnya.

Kesedihan mereka bertambah dalam ketika turun hujan deras didepan ruang antrean Lapas. Namun mereka tidak pernah kunjung putus asa bertahan dan terus berusaha serta berupaya untuk bernegoisasi kepada pihak petugas agar makanan yang mereka bawa bisa diterima.

Sayang niat baik bu Mul yang mulia itu berakhir nihil. Sementara dirinya melihat ada bawaan yang bisa masuk selain bawaan miliknya. Hingga pukul 21.30 WIB mereka menunggu keputusan apakah diterima atau tidak bawaan tersebut, hanya kata kecewa, sedih dan duka yang mereka bawa pulang dengan linangan airmata.

Semoga musibah dunia ini segera berakhir. Agar masyarakat bisa beraktivitas kembali secara normal tanpa dihantui oleh makhluk aneh yang menyeramkan dan mengancam keselamatan umat manusia didunia. Semoga!. (SB)
Komentar Anda

Terkini: