Kisah Duka Yang Membuat Trauma Seorang Anak Bangsa dari Bilangan Tanah Betawi Kemanggisan

/ March 15, 2020 / 12:46 PM
Bagikan:
Mahmudin dkk

SUARABERKARYA.COM, JAKARTA - Cerita duka yang mendalam dari seorang anak emak bernama Mahmudin yang biasa di panggil Mahmudin Pantun karena sering berpantun dihadapan teman-temannya, menambah khasanah cerita luka para anak bangsa.

Pria lajang berusia 37 tahun ini adalah salah satu dari ratusan korban "Salah Tangkap" saat Pristiwa Berdarah Tragedi Kemanusiaan pada 21 - 22 Mei 2019 silam yang kelam.

Kala itu tanggal 22 Mei 2019,  ditengah bulan Ramadhan, sepulangnya bekerja sebagai tukang sapu, Mahmudin langsung menemui Ibundanya yang sudah renta untuk tanyakan keinginan Ibundanya mau berbuka puasa dengan apa.

Selain bekerja sebagai tukang sapu, Mahmudin juga mempunyai keterampilan memijat.

"Mak....emak mau Mahmud beliin apa Mak..??" begitulah tanya anak pada ibunya.

Mahmud merupakan putra satu-satunya yang tinggal bersama Ibundanya sejak kakak-kakak dan adiknya berumah tangga.

"Emak kepengen es timun suri Mud" jawab Ibundanya.

Tanpa membuang waktu lama Mahmud pun membelikan pesanan ibundanya untuk mereka berdua berbuka puasa. Es ketimun suri merupakan salah satu menu berbuka yang dilakukan secara turun temurun di tanah betawi.

Selepas berbuka dan sholat maghrib, Mahmudin pun pamit kepada ibundanya untuk mencari tambahan penghasilan sebagai tukang urut keliling diseputar kawasan Kemanggisan dan Kemandoran Slipi Jakarta Barat.

Mahmudin tidak tahu jika pada hari itu tidak jauh dari tempat tinggalnya tengah terjadi sweeping dan penjagaan dari Brimob Nusantara.

Mahmudin keluar gang untuk menuju komplek-komplek dimana dia sering mengunjungi pelanggannya.

Mahmudin melihat puluhan Brimob dan orang-orang berpakaian preman berada dijalan yang akan dilaluinya.

Mahmudin pun tanpa rasa bersalah melewati para Brimob yang tengah berkumpul sambil sesekali ucapkan "Permisi".

Saat melewati kumpulan Brimob, tidak ada reaksi apapun dari Petugas Brimob. Tetapi saat Mahmudin sudah melewati jauh dari kumpulan itu, tiba-tiba dari arah belakang dan depan Mahmudin ditangkap dengan tuduhan bagian dari perusuh.

Astaghfirullah...!!!
Pria jujur, lugu dan amat sayang pada ibundanya, malam itu menjadi bulan-bulanan.

Mahmudin hanya mampu berteriak "Emaaaak... Emaaaak... Emaaak..!!!"
karena ibundanyalah satu-satunya yang Mahmudin jaga dan rawat selama ini semenjak kepergian ayahnya menghadap Allah SWT.

Mahmudin dibawa menuju Polres Jakbar bersama Puluhan orang lainnya. Rasa ketakutan yang amat dahsyat hinggap dibenak Mahmudin. Semua itu karena pria baik ini belum pernah pergi jauh apalagi berurusan dengan pihak berwajib.

Terbayang bagaimana pedih siksa dan kekejaman hidup didalam penjara. Belum lagi dia memikirkan bagaimana nasib ibunda tercintanya.

"Siapa yang akan rawat emak...???" Tanya nya dalam hati

Setelah 40 hari di Polres Jakarta Barat, Mahmudin dipindahkan ke Polsek Kembangan Jakbar. Dia dibawa bersama 5 temannya dan ditempatkan dalam satu kamar dengan kasus yang sama. Ditempat inilah mulai terbangun kekeluargaan sesama tahanan kasus yang sama. Saiful bin Abdul Gani menjadi sosok yang menjaga persatuan mereka saat mereka dititipkan di Polsek Kembangan. Mereka yang ditahan adalah :

1. Saiful Bin Abdul Gani
2. Muhammad Arfandi
3. Yudianto
4. Tonni
5. Aprilorio (sejak bebas tidak diketahui keberadaannya)
6. Mahmudin

Sidang mereka berlangsung satu bulan lamanya. Mahmudin dkk di Vonis 3 Bulan 15 hari oleh majls hakim Pengadilan Jakarta Barat dan dilepas bebas dari Lapas Salemba Jakarta Pusat pada tanggal 12 September 2019.

Vedeo Pembebasan Mahmudin dkk

Kini Mahmudin bisa menghirup udara segar dan berkumpul kembali bersama ibunda tercintanya. Namu dia masih trauma jika mengingat pristiwa duka yang sempat menggores catatan hidupnya.

Semoga pengalaman pahit dan cerita duka anak bangsa seperti Mahmudin ini tidak terulang dan terjadi pada anak-anak bangsa yang mencintai negerinya. Semoga...!!! (Babeh)
Komentar Anda

Terkini: