Rentannya Kedaulatan Negara, Bukan Karena Kuatnya Musuh, Tapi Karena Diam nya Orang Baik Di Negeri Ini

/ March 28, 2020 / 1:07 PM
Bagikan:
Indonesia Negeriku

"RENTANNYA KEDAULATAN NEGARA, BUKAN KARENA KUATNYA MUSUH, TETAPI DIAM NYA ORANG BAIK NEGERI INI"

SUARABERKARYA.COM, JAKARTA - Krisis kepercayaan di negeri ini rupanya terus diuji dalam keberlangsungan berbangsa dan bernegara. Berikut kami sajikan rangkuman dari goresan seorang anak bangsa yang memiliki kepedulian terhadap negeri Indonesia tercinta.

Populasi Indonesia yang mendekati 300 juta orang, memiliki puluhan juta intelektual di berbagai disiplin ilmu, seharusnya SDM (sumberdaya manusia) itu  menjadi kapasitas dan kapabilitas bangsa untuk menyelesaikan setiap masalah yang ada. Namun, stereotype setiap kebijakan yang ada justru semakin menempatkan Indonesia ketepi kepunahannya.

Fenomena kejanggalan prosedur terhadap kehadiran TKA China  dalam satu dekade ini semakin meningkatkan distrust anak bangsa negeri ini terhadap kebijakan yang cenderung lebih menguntungkan pihak asing itu.

Namun, suara yang mengoreksi kejanggalan prosedur itu justru nyaris tidak didengar dan di abaikan oleh penguasa negeri ini. Dan dukungan suara para intelektual negeri ini terpecah dan mayoritas lainnya mengambil posisi diam membisu.

Seharusnya semua elemen masyarakat tidak mengambil posisi diam dan menjadi pengecut menghadapi para pengkhianat yang menjual kedaulatan NKRI demi
uang dan kekuasaan sempit. Akhirnya existensi NKRI dalam ancaman seriouse dari kepunahannya.

Kita semua sudah melihat dan merasakan adanya fenomena bahwa negara ini berada dalam ancaman perpecahan dan terancam Punah. Padahal, sesungguhnya masih banyak orang yang baik di negeri ini, tetapi sayangnya mereka terkena syndrom pengecut. Karena "Diam" membisu  membiarkan abuse if power yang meyebabkan kejahatan terstruktur sistemetus dan massive terus menggerogoti existensi kedaulatan NKRI.

Pandemic COVID-19 memang telah menjadi malapetaka global. Dan  hanya negara-negara yang memiliki daya tahan ekonomi yang lebih kuat, yang bisa selamat dan tetap exist pasca gelombang tsunami ekonomi global + Pandemic Covid-19, karena dampak krisis ekonomi kali ini akan lebih parah dari kasus Depresi ekonomi tahun 1929-1941 lalu.

Jika kita melihat rentanya daya tahan ekonomi  Indonesia dalam beberapa dekade sejak 1998 lalu. Maka banyak prediksi yang memasukkan Indonesia kedalam kelompok negara yang rentan untuk punah pasca krisis hebat ini.

Indonesia, mungkin masih bisa di selamatkan, hanya  jika kita memiliki kepemimpinan nasional yang ber-integritas tinggi dan memiliki kapabilitas cukup mengelola pemerintahan negara. Tentu konsekwensinya,  pemerintah harus memiliki  kepercayaan dan mendapatkan dukungan dari mayoritas rakyat bangsa ini. Guna, setiap kebijakan yang di ambil dapat menjadi gerakan nasional yang didukung oleh mayoritas bangsa ini pula.

Namun, sangat sulit bagi pemerintahan yang telah  kehilangan kepercayaan rakyat, untuk mewujudkan kebersamaan nasional. Dan lebih parah lagi jika, mengambil langkah represif, kriminalisasi dan cara-cara pemaksaan sepihak lainnya. Yang justru akan mendorong proses dialektika antipatif yang semakin memecah belah persatuan bangsa ini.

Oleh karenanya, kita butuh kepeminpinan nasional  yang dipercaya, artinya, bukan kepemimpinan yang naik dari penuh dengan skandal kecurangan dan dilatarbelakangi oleh sejarah dusta. Hal itu kita butuhkan guna kita bisa membangun kebersamaan bangsa yang saat ini kita butuhkan, agar kita tetap exist sebagai bangsa. (SB)
Komentar Anda

Terkini: