Benarkah Sejarah Perjuangan Si Pitoeng Akan Tetulang

/ April 1, 2020 / 11:34 AM
Bagikan:
Bang Jalih Pitoeng (BJP) Memimpin Aksi di DPR MPR

SUARA BERKARYA.COM, TANGERANG - Bangsa yang besar adalah bangsa yang tidak melupakan sejarah dan menghargai para pahlawannya. Demikian kalimat bijak yang diwasiatkan oleh para pendahulu negeri ini.

Indonesia adalah negara yang memiliki sejarah penjalanan bangsa yang mengalami masa penjahan yang sangat panjang. Belanda masuk ke Indonesia melalui VOC dengan tujuan berdagang yang kemudian berkembang menjadi sebuah penjajahan.

Tiga ratus limapuluh tahun Colonial Belanda menjajah negeri ini banyak meninggalkan penderitaan rakyat Indonesia terutama rakyat kecil yang paling menderita.

Selain sejarah kelam tentang penderitaan rakyat, Belanda juga banyak meninggalkan bangunan, perkebunan, rel kereta api, jembatan hingga penjara yang kini menjadi cagar budaya.

Seperti halnya kota tua yang berjajar bangunan tua bersejarah di stasion kota yang dahulu dikenal dengan sebutan "Beos" Belanda juga meninggalkan sebuah penjara di kota Tangerang yang dahulu dikenal dengan sebutan kota Benteng sebelum menjadi Tangerang.

Dipenjara inilah salah satu pahlawan dari tanah betawi yang kala itu disebut batavia di tahan dan dipenjara dengan tuduhan sebagai pemberontak terhadap colonial Belanda.

Si Pitoeng namanya. Salah satu pahlawan dari batavia yang dalam perspektif colonial Belanda dibawah kekuasaan jenderal polisi Belanda Scot Hyne yang terkenal bengis menangkap dan memenjarakan si Pitoeng sebagai penjahat, perampok dan pemberontak.

Pemberitaan tentang penangkapan si Pitoeng kala itu juga diberitakan oleh surat kabar Belanda seratus tahun silam.

Entah apa dan bagaimana sebabnya penjara tua yang dibangun pada tahun 1924 itupun kini dihuni oleh aktivis yang kritis kelahiran tanah betawi Jalih Pitoeng.
Tak ada satupun kejadian yang luput dari pengetahuan dan ijin Allah SWT.

Pemilik nama asli Muhidin Jalih bin Rojalih Karim ini ditangkap dan ditahan sekaligus dipenjara bukan oleh Belanda. Tapi oleh pihak kepolisian Polda Metro Jaya dibawah kepemimpinan Gatot Eddy Pramono yang sudah barang tentu dibawah struktur kepemimpinan Tito Karnavian selaku Kapolri.

Jalih Pitoeng sesungguhnya bukanlah penjahat. Dia dikenal ramah, mudah bergaul, bijak dalam memimpin serta penuh kehati-hatian dalam berucap, berbuat dan bertindak terlebih yang terkait dengan kepentingan umum dan dimuka umum walaupun dirinya sangat daham bahwa menyampaikan pendapat dimuka umum adalah hak konstitusional masyarakat. Namun itu semua tergantung pada sudut pandang penguasa dalam hal ini pemerintah yang sedang berkuasa. Toh pendahulunya juga sempat disematkan predikat sebagai penjahat, perampok dan pemberintak oleh Colonial Belanda.

Jalih Pitoeng hanyalah anak rakyat biasa. Yang terlahir dari keluarga sederhana dibilangan Ciledug dan Kebayoran Lama. Namun almarhum ayah dan ibunya selalu mengajarkan untuk mengedepankan kejujuran, kebenaran dan keadilan berdasarkan agama.

Putra sulung Pasangan H. Rojalih Karim dan Hj. Muliah yang sempat beberapa saat menimba ilmu di Perguruan Assyafi'iyah di bawah pengasuh ulama besar betawi KH. Abdullah Syafi'i Bukit Duri, Matraman Jakarta Selatan ini, awalnya terpanggil untuk ikut berperan aktif mengawal dan mengisi kemerdekaan sesuai amanat Undang-Undang Dasar 1945 sebagai konsensus para alim ulama dan pendiri bangsa yang menjadikannya sebagai pijakan dan payung hukum dalam bervangsa dan bernegara sejalan dengan ijtima ulama.

Diawali dengan pergerakan umat islam pra pilkada DKI Jakarta yang mengecam tindakan penistaan agama oleh Basuki Tjahaya Purnama alias Ahok yang sangat fenomenal dikenal "kasus Al Maidah" dimana Pendiri dan Ketua Umum Front Pembela Islam (FPI) imam besar Habib Rizieq Shihab yang memimpin gelombang gerakan umat bersama para habaib, ulama dan kiayi serta pengacara kondang sekaligus aktivis senior Eggi Sudjana yang kita kenal dengan aksi unjuk rasa damai 4 Nopember 2016 yang akhirnya dikenal dengan sebutan "Aksi 411" yang kemudian mendorong dan berkembang menjadi "Aksi 212".

Pristiwa bersejarah tentang pergerakan dan peradaban islam dibelahan nusantara bahkan mampu mencengangkan dunia yang kemudian dikenal dengan "Aksi Bela Islam 212" dengan berbagai icon dan atributnya pecah di titik nol ibukota.

Tepatnya di silang Monas Jakarta Pusat. Belasan juta umat islam tumpah ruah di hari Jum'at 2 Desember 2016 dalam pristiwa bersejarah yang dikenal sebagai "Aksi 212".

Waktu berlalu musimpun berganti. Ahok pun akhirnya dipenjara karena terbukti bersalah melakukan tindakan penistaan agama.

Memasuki masa pemilihan presiden 2019 dengan hanya dua pasang kontestan yaitu Joko Widodo & KH. Ma'ruf Amin dan Prabowo Soebiayanto & Sandiaga Salahudin Uno yang kemudian menjadi ikon relawan Prabowo Sandi.

Eggi Sudjana, Rijal Kobar, Jimmy CK, Jalih Pitoeng, Januar Akbar dkk (Pembentukan RN PAS, 3 Agustus 2018)

Eggi Sudjana, Jimmy CK, Rijal Kobar, Jalih Pitoeng dan Januar Akbar sepakat menyatukan diri membentuk badan pemenangan Relawan Nasional Prabowo Sandi (RN PAS).

Sayang Rijal Kobar hanya hitungan bulan bergabung karena dirinya ikut kontestasi sebagai calon DPD (Dewan Perwakilan Daerah) DKI Jakarta. Demikian juga halnya Jimmy CK yang akhirnya fokus terhadap GL PRO yang dipimpinnya.

Selaku pemimpin pusat RN PAS, Eggi Sudjana, Jalih Pitoeng dan Januar Akbar terus berjuang dalam rangka pemenangan Prabowo-Sandi hingga masa kampanye berakhir.

Dibawah pengendalian managemen organisasi RN PAS, Jalih Pitoeng selaku sekretaris jenderal organisasi relawan, dirinya telah mampu membentuk dan mengorganisir hampir 34 provinsi diseluruh tanah air. Dengan dikukuhkannya kepengurusan Dewan Pimpinan Pusat sekaligus dideklarasikan secara nasional oleh ketua BPN (Badan Pemenangan Nasional) Prabowo Sandi Jenderal (Purn) Djoko Santoso di Duri, Bengkalis, Riau pada tanggal 30 September 2018 RN PAS semakin dikenal dan dicintai oleh rakyat. Khususnya para pendukung Prabowo-Sandi.

Sayang sedemikian besar dukungan terhadap Prabowo-Sandi yang terlihat dari setiap gelaran acara kampanye maupun diskusi-diskusi publik yang membludak peserta termasuk para emak-emak militan dan emak-emak milenial, tak berhasil mendudukan Prabowo-Sandi sebagai Presiden dan Wakil presiden priode 2019-2024

Sekali lagi bahwa tidak ada suatu kejadian yang terjadi tanpa ijin Allah SWT. Adapun penyebabnya bermacam-macam. Dugaan kecurangan yang menjadi ganjalan pasangan Prabowo-Sandi tidak menjadi presiden dan wakil presiden hanyalah bagian dari sekenario Tuhan. Pastinya Allah SWT belum mentakdirkan Prabowo menjadi presiden republik Indonesia.

Jalih Pitoeng saat Aksi Unjuk Rasa di BAWASLU

24 April 2019 pasca pemilu menjadi viral secara nasional karena hari itu menjadi hari pertama unjuk rasa damai menolak pemilu curang di depan kantor BAWASLU (Badan Pengawas Pemilu) yang baru saja usai dilakukan pencoblosan pada bilik suara.

Jalih Pitoeng bersama Ansuri Sambo atau yang dikenal ustadz Sambo bersama rekan-rekan relawan Prabowo Sandi berunjuk rasa menolak pemilu curang. Karena didaulat oleh ustadz Sambo yang dikenal dekat dengan Prabowo ini, Jalih Pitoeng menyampaikan beberapa permintaan kepada BAWASLU untuk bertindak tegas dan adil dalam melakukan pengawasan pemilu.

"Bawaslu adalah satu-satunya lembaga pengasan pemilu. Sehingga kita minta agar Bawaslu segera melakukan tindakan adanya dugaan pelanggaran dan kecurangan pemilu baik didaerah maupun diluar negeri" kata Jalih Pitoeng dihadapan para peserta dan awak media

"Kami atas nama rakyat menolak pemilu curang. Karena apa, karena bagaimana mungkin kita akan menghasilkan pemimpin yang bersih, jujur, amanah dan pro rakyat jika dalam proses pemilihannya dilakukan dengan cara-cara yang tidak bermartabat" tegas Jalih Pitoeng

"Khusus bagi rekan-rekan media, silahkan anda menikmati warisan Habibi undang-undang nomor 40 tahun 1999 tentang kebebasan pers. Namun harus diingat bahwa anda juga punya kewajiban dan tugas yang mulia sebagai jurnalis untuk menyampaikan informasi yang baik dan benar serta berimbang. Jadi jangan ada yang ditutup-tutupi" pinta Jalih Pitoeng kala itu

Jalannya aksi-aksi damai protes terhadap Bawaslu yang dilakukan oleh Jalih Pitoeng dan ratusan relawan dan emak-emak ini ternyata juga dilukai oleh pristiwa ditangkapnya orang yang menjadi inspiratornya.

Eggi Sudjana ditangkap dengan tuduhan akan melakukan makar. Sebagai salah satu aktivis dan relawan yang memilki nyali, Jalih Pitoeng terus melakukan aksi unjuk rasa di Bawaslu bahkan hingga mengambil langkah hukum yaitu melaporkan ketua KPU Arief Budiman dan Abhan selaku ketua BAWASLU ke DKPP (Dewan Kehormatan Penyelenggara Pemilu)

Aksi-aksi inipun semakin disambut oleh berbagai elemen dan kelompok masyarakat. Sebut saja salah ormas islam terbesar saat ini FPI yang dipimpin oleh KH. Shobri Lubis yang didalamnya juga ada  bayi Aksi 212 yaitu PA 212 (Persaudaraan Alumni 212) dibawah pimpinan Ustadz Selamet Ma'arif terus memperjuangkan keadilan dengan unjuk rasa damai bertemaka "Tolak Pemilu Curang".


Jalih Pitoeng dan Januar Akbar )aksi unjuk rasa damai di Bawaslu, 21 Mei 2019)

Puncak nya adalah aksi unjuk rasa damai yang dipimpin oleh KH. Shobri Lubis, dipandu oleh ustadz Bernard dibawah pengendalian massa oleh Munarman selaku sekjen sekaligus panglima FPI, ribuan massa tumpah diseputar gedung BAWASLU.

Massa aksi berjalan damai, kondusif dan aman terkendali. Ribuan umat dari berbagai tempat yang hadir tumpah ruah dibulan penuh rahman dan magfiroh Ramadhan.

Siapa yang akan menyangka jika dihari selanjutnya pecah menjadi sebuah pristiwa berdarah tragedi kemanusiaan pada tanggal 21-22 Mei 2019 yang mencoreng nama Indonesia dimata dunia.

Milyaran pasang mata menyaksikan pristiwa yang memilukan sekaligus memalukan sebagai Residu Pemilu menurut Jalih Pitoeng sontak kaget. Ratusan media nasional dan puluhan media internasional melakukan peliputan dan pemberitaan atas pristiwa tersebut di BAWASLU dan sekitarnya.

Ratusan orang bahkan mungkin ribuan orang ditangkap diberbagai tempat akibat adanya kerusuhan besar dibilangan tanah Abang, Jl. MH. Thamrin, Jl. Sabang dan sekitarnya hingga ke Petamburan dimana markas FPI berada.

Polda Metro Jaya menangkap ratusan orang. Termasuk dibeberapa Polres lainnya. Kapolri Tito Karnavian berstatment keras dimedia tentang ada perusuh dan kerusuhan. Namun dalam hitungan hari dirinya melakukan klarifikasi untuk membedakan antara peserta aksi damai dengan perusuh yang melakukan kerusuhan malam yang kelam itu di BAWASLU.

Tito Karnavian banyak menuai kritikan dari para pemerhati, ulama, politisi serta masyarakat termasuk Munarman yang diketahui telah membubarkan massa aksi damai bersama dengan Jalih Pitoeng disampingnya pada pra pristiwa mencekam yang membuat banyak nyawa melayang.

"Bubar...bubar...kita bubar...!!!" teriak Munarman malam itu

"Bubar...kita bubar...jangan sampai kita terjebak bang Pitoeng. Massa kita massa yang berakhlaq dan damai" Munarman berbisik pada Jalih Pitoeng seraya terus berteriak bubar.

Pasca kerusuhan 21-22 Mei di BAWASLU, Jakarta seakan mencekam dan aksi-aksi unjuk rasa pun sudah tak ada lagi dapat disaksikan. Bukan Jalih Pitoeng jika tidak melakukan ulahnya lewat kreasi dan inovasi dalam melakukan pergerakan.

Dirinya tahu dan sangat memahami bahwa apa yang dilakukan dan diperjuangkannya tidak didukung oleh orang yang diusungnya selama ini. Bersamaan dengan upayanya ke DKPP dan unjuk rasa kawal konstitusi di MK (Mahkamah Konstitusi) Prabowo mengambil sikap politik yang sangat memilukan pendukungnya.

Ditangkapnya Eggi Sudjana dan tidak diperhatikannya perjuangan yang diinisiasinya oleh orang yang dicintainya, Jalih Pitoeng melakukan inovasi dan terobosan dengan maksud menggelar "Aksi Akbar Super Damai" di DPR MPR dengan membentuk organ taktis Dewan Persaudaraan Relawan dan Rakyat Indonesia (DPR RI) yang akhirnya dikenal sebagai DPR tandingan yang peduli perjuangan rakyat.

Sayang disayang, unjuk rasa yang sudah diamini oleh sebagian besar simpul-simpul relawan dan aktivis serta mahasiswa secara konsolidatif dan sudah mendapatkan Surat Tanda Terima Pemberitahuan (STTP) tersebut kandas karena harus dibatalkan. Adanya ditelepon oleh salah satu petinggi partai Gerindra kepada sekjen DPR RI kala itu Yon Ebit bahwa diperintahkan untuk jangan lakukan aksi persis 25 menit setelah diterimanya STTP dari Kasi Intelkam Polda Metro Eka Basit.

Putus asakah Jalih Pitoeng menghadapi pristiwa ironi saat itu, jawabnya tidak. Kecewa pasti terjadi. Upaya seminggu bolak balik dengan berbagai argumentasi untuk mendapatkan STTP dari Polda Metro Jaya dengan susah payah, dilupakannya sejenak sambil menunggu keputusan MK di Patung Kuda.

Alhamdulillah ide dan gagasan yang inovatif oleh sosok pemberani yang diminta oleh imam besar Habib Rizieq Shihab untuk menggalang kekuatan perjuangan bersama Muhamad Rifki atau Eki Pitung dan pitung-pitung lainnya ini terus berupaya sekuat tenaga untuk membangkitkan kembali semangat perjuangan rakyat, umat dan mahasiswa dalam menyuarakan kebenaran, penegakan hukum dan keadilan serta HAM yang hampir runtuh kala itu. Terutama pasca "Pristiwa Berdarah Tragedi Kemanusiaan" 21-22 Mei di BAWASLU.

Dampak dari aksi unjuk rasa damai yang berubah menjadi sebuah kerusahan dan mengorbankan 9 tunas bangsa menjadi agenda utama dalam setiap aksi unjuk rasa yang dipimpinnya.

Aksi Unjuk Rasa Damai sebagsi "Karpet Merah" bagi para mahasiswa dan rakyat serta aktivis untuk memperjuangkan Keadilan, Hukum dan HAM

Gerakan 30 Agustus menjadi momentum bersejarah bagi Jalih Pitoeng dkk serta DPR RI yang dibangunnya. Aksi unjuk rasa damai yang mengemban tema "Gerakan 30 Agustus Rakyat Menuntut Keadilan" menjadi titik tolak sekaligus pembuka tabir kebekuan dan kefakuman aksi unjuk rasa pasca pristiwa berdarah tragedi kemanusiaan 21-22 Mei sekaligus membuka karpet merah bagi adik-adik mahasiswa, rakyat dan umat untuk melakukan unjuk rasa demi menyuarakan kebenaran.

Sukses aksi unjuk rasa di DPR MPR tersebut membuka mata rakyat dalam hal ini para aktivis dan mahasiswa, bermunculan pula diberbagai daerah mahasiswa melakukan unjuk rasa dengan mengangkat berbagai tema dan tuntutannya.

Konsep perjuangan rakyat melalui unjuk rasa damai berseri itupun harus berakhir dengan ditangkapnya Aktivis yang kritis Jalih Pitoeng pada tanggal 9 Oktober 2019 di Polda Metro Jaya.

Judul Pemberitaan Media Arus Utama yang Tendensius

Jalih Pitoeng ditangkap bersama Januar Akbar dan Damar dengan tuduhan diduga ikut perencanaan kerusuhan pada agenda besar pelantikan presiden 20 Oktober 2019. Pemberitaanpun begitu diblow up oleh media arus utama usai konferensi pers yang dilakukan oleh Kadiv Humas Polda Metro Jaya Argo Yuwono pada tanggal 18 Oktober 2019.

Sebelumnya Jalih Pitoeng juga sempat menghadiri dan berorasi pada aksi akbar umat islam "Parade Tauhid" yang damai dan aksi unjuk rasa ribuan mahasiswa bersama buruh pada tanggal 2 Oktober 2019 didepan DPR MPR.

Pasca pelimpahan setelah batas akhir 120 hari masa penahanan dirinya di Mapolda Metro Jaya, kini ditahan oleh pihak kejaksaan di Lapas Pemuda Kelas 2 A kota Tangerang dalam proses persidangan yang saat ini tertunda karena wabah virus yang mendunia "CORONA".

Semoga dengan ditangkapnya Jalih Pitoeng untuk tidak berhenti dan tetap terus menyuarakan kebenaran dan keadilan demi rakyat terus dikumandangkan dan dilanjutkan oleh pitung-pitung lainnya digenerasi mendatang. (SB)
Komentar Anda

Terkini: