Eggi Sudjana : Berjihad Dalam Perspektif Agama, Hukum dan Politik Berdasarkan Pancasila

/ April 21, 2020 / 8:11 PM
Bagikan:
Dr. H. Eggi Sudjana, SH., M.Si

JISEL = Kajian Islam Selasa (21 April 2020)

"Berjihad Dalam Perspektif Agama, Hukum dan Politik"

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَٰنِ الرَّحِيمِ

Berjihad merupakan konsekuensi logis dari kita sebagai orang beriman dan telah berupaya untuk hijrah atau setelah beriman untuk bisa hijrah mesti berjihad, sebagaiamana QS Al Baqarah ayat 218 yang telah dibahas kemarin.

Adapun pengertian jihad di sini sebenarnya secara personal sudah dibahas sebelumnya tetapi fokus pembahasannya kepada mujahidnya atau orang yang berjihad. Namun kali ini makna berjihad yang BES maksudkan adalah kajian terhadap istilah jihadnya bukan orang yang berjihad itu.

Dalam pandangan BES, Jihad adalah upaya kerja cerdas dan kerja keras,  berjuang secara optimal melalui keilmuannya, kebendaannya, martabatnya, gengsi sosialnya, dan jiwa raganya untuk menggapai ridho ALLAH SUBHANNAHU WA TA’ ALA bahkan sampai mati dalam keadaan syahid.

Bahwa mendefinisikan Jihad sebagaimana tersebut merupakan rangkuman dari pemahaman Al Quran dengan ayat-ayatnya sebagai berikut, yaitu QS 9 : 105, 111 JO QS 3 : 142, 146 JO QS 18 : 28, 29, 39, 46 JO QS 61 : 2,3,4 JO QS 22 : 3,8, 52, 53,54, 77, dan 78.

Berdasarkan definisi berjihad tersebut, maka dapatlah diambil intisarinya yaitu berjuang secara keilmuannya kemudian bekerja secara cerdas dan keras untuk menggapai ridho Allah dengan menemui-NYA dalam keadaan mati syahid. Definisi ini sangat penting untuk membuat batasan tentang makna Jihad secara intelektual dan terukur berdasarkan kemampuan diri sebagai manusia yang memang diperintahkan oleh ALLAH SUBHANNAHU WA TA’ ALA sebagaimana telah disebutkan setelah beriman, berhijrah, dan perintah berikutnya mesti berjihad.

Dalam perspektif esensi ajaran Islam ini, beriman saja tidaklah cukup bahkan dipertanyakan oleh Allah secara cerdas yaitu, apakah kamu mengira akan masuk surga sebelum nyata orang-orang yang berjihad dan sabar ? (QS 3 : 142)
Dengan demikian, menjadi sangat penting posisi Jihad ini bila mengacu kepada pertanyaan ALLAH tersebut.  Jadi, tidak ada alasan dengan sudah beriman tapi tidak berjihad dapat memasukkan dirinya dan keluarganya dan komunitas kelompoknya untuk sama-sama masuk surga  tanpa melalui hijrah dan jihad, sebagaimana BES terangkan dalam kajian sebelumnya mengenai iman dan akal sehatnya serta posisi dirinya sebagai mujahid dan juga berupaya optimal melakukan hijrah untuk menjaga diri dan keluarganya dari siksa api neraka yang disampaikan oleh ALLAH dalam QS 66 : 6.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا وَقُودُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ عَلَيْهَا مَلَائِكَةٌ غِلَاظٌ شِدَادٌ لَا يَعْصُونَ اللَّهَ مَا أَمَرَهُمْ وَيَفْعَلُونَ مَا يُؤْمَرُونَ

"Wahai orang-orang yang beriman! Peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, dan keras, yang tidak durhaka kepada ALLAH terhadap apa yang Dia perintahkan kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan".

Dengan pemahaman sederhana tersebut, kaitannya dengan Jihad yang sedang dibahas merupakan satu persepsi yang dimengerti  untuk kalangan umat Islam khususnya dan rakyat Indonesia pada umumnya sebagai pengetahuan. Kecenderungan selama ini, jika bicara tentang Jihad lebih terkesan atau bahkan sudah terbentuk persepsi, bahwa Jihad itu adalah kekerasan, perang, tembak menembak, atau bunuh membunuh antar sesama manusia yang menjadi lawannya, apakah dalam politik, ekonomi, hukum, dan lain sebagainya yang secara objektif merupakan terjadi kekeliruan dan atau kesesatan dari makna jihad itu sendiri.

Sebagai contoh konkret di tingkat internasional adanya gerakan jihad dengan nama ISIS (Islamic State of Iraq and Syiria) dan di Indonesia pernah ada gerakan Jihad dengan nama Komando Jihad. Begitu pula ada gerakan terorismenya dengan membom, yaitu Bali 1 dan Bali 2. Juga ada gerakan jihad di Poso, Ambon, Tanjung Priok Jakarta, di Lampung, Bima NTB , dan di Papua yang seolah-olah semua itu merupakan wujud dari kekerasan yang diajarkan oleh ajaran Islam. Perlu ditegaskan di sini bahwa ajaran Islam tidak mengenal bentuk-bentuk terorisme seperti yang dikesankan atau digambarkan tersebut, sehingga membuat kesan Islam ini menjadi ajaran yang tidak bersahabat dan  menentang peradaban.

Bahkan dalam konteks tertentu Islam ini disudutkan menjadi ajaran yang barbar dan mengerikan. Bahwa bagi kita yang punya kecerdasan, hal tersebut merupakan  framing media untuk menggambarkan kesannya ajaran Islam ini buruk dan mesti ditinggalkan. Sama halnya mereka ini gerakannya seperti gerakan Yahudi dan Nasrani yang memang sangat anti kepada Islam. Jadi, bisa kita identifikasi di seluruh dunia, apabila ada umat Islamnya di tempat itu yang minoritas dapat dipastikan umat Islam minoritas di daerah tersebut ditindas, dibunuh, bahkan dibantai dengan sekejam-kejamnya. Hal itu sudah kita saksikan di Bosnia Herzegovina, India, Myanmar, Uyghur Cina, dan terbaru, pembantaian umat Islam di dalam masjid sebagaimana terjadi di Selandia Baru, Bahkan tidak ketinggalan terjadi di beberapa tempat di Indonesia, sehingga Indonesia perlu ada BNPT (Badan Nasional Penanggulangan Terorisme).

Makna jihad dalam perspektif ajaran Islam, bila ditinjau secara BES Theory OST-JUBEDIL dapatlah dimengerti dengan sebaik-baiknya, yaitu tidak ada kesan buruk sebagaimana telah diterangkan di atas, karena ALLAH SUBHANNAHU WA TA’ ALA menghendaki kepada hambanya untuk menjadi hamba yang mengabdi dan berbakti serta beraktivitas dalam kehidupan ini dengan memakai istilah Jihad dengan pendekatan ilmu pendekatan dan teknologi (iptek).

Artinya, pendekatan ajaran Islam dalam upaya memperjuangkan agama Islam yang sempurna itu bukanlah dengan kekerasan atau peperangan atau dengan segala gaya radikalisme-terorisme tersebut.  Akan tetapi pendekatan yang Allah ajarkan, mengabdi kepada-NYA melalui pendekatan ilmu pengetahauan, bukan melalui pendekatan kekerasan dan kekuasaan yang dipegangnya atau yang menjadi amanatnya.

Sebagai contoh konkret berdasarkan Al Quran QS 2 : 30 yang pada intinya Allah menceritakan kepada para malaikat untuk menciptakan khalifah di muka bumi, kemudian dari para malaikat mempertanyakan, untuk apa menciptakan manusia yang pada akhirnya membuat kekacauan, kerusakan, dan membunuh?

ALLAH menjelaskan bahwa kalian tidak mengetahui. “Sungguh, Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui.”

Keterangan itu menunjukkan bahwa ALLAH tidak menggunakan kekuasaannya yang absolut, distinct dan unik, tetapi ALLAH  menggunakan pendekatan ilmu pengetahuan yang belum diketahui oleh para malaikatnya. Oleh karena itu, di dalam konteks gerakan jihad yang secara keilmuan mestilah lebih dahulu diutamakan karena untuk memperjuangkan ajaran Islam yang mulia ini harus berdasarkan iptek yang bisa dijadikan dasar untuk tumbuh berkembangnya, bahkan tegaknya syariat Islam di Indonesia. Oleh karena itu, menjadi tidak relevan untuk mengkondidisikan satu program yang ada dengan deradikalisasi dengan budget yang banyak hingga trilyunan rupiah demi menghantam ajaran Islam dan umatnya. Hal itu menjadi proyek dengan “menternak terorisme”.

Dengan kata lain, para teroris diternak, dididik, didesain, dikondisikan untuk menghantam ajaran Islam dan umatnya. Tidak bermaksud menuduh atau menyalahi pihak manapun, tetapi ALLAH SUBHANNAHU WA TA’ ALLAH telah menyatakan dalam QS 2 : 120.

وَلَنْ تَرْضَىٰ عَنْكَ الْيَهُودُ وَلَا النَّصَارَىٰ حَتَّىٰ تَتَّبِعَ مِلَّتَهُمْ ۗ قُلْ إِنَّ هُدَى اللَّهِ هُوَ الْهُدَىٰ ۗ وَلَئِنِ اتَّبَعْتَ أَهْوَاءَهُمْ بَعْدَ الَّذِي جَاءَكَ مِنَ الْعِلْمِ ۙ مَا لَكَ مِنَ اللَّهِ مِنْ وَلِيٍّ وَلَا نَصِيرٍ

Dan orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan rela kepadamu (Muhammad) sebelum engkau mengikuti agama mereka. Katakanlah, "Sesungguhnya petunjuk Allah itulah petunjuk (yang sebenarnya)." Dan jika engkau mengikuti keinginan mereka setelah ilmu (kebenaran) sampai kepadamu, tidak akan ada bagimu pelindung dan penolong dari Allah.


Di sisi lain, secara normatif dan fakta sejarah dijelaskan, yaitu kisah dua anak Nabi Adam Habil dan Khobil, dimana kita semuanya sudah paham akan cerita itu. Khobilah yang membunuh Habil karena iri hati dan dengki kepada Khabil. Kemudian setelah Khobil membunuh Habil, saudara Khobil kebingungan bagaimana menutupi atau mengubur supaya tidak diketahui adanya pembunuhan tersebut.

Kemudian ALLAH SUBHANNAHU WA TA’ ALA mengajarkan Khobil melalui burung gagak yang mengorek-ngorek tanah sebagai tanda untuk bagaimana caranya mengubur mayat dari Habil. (QS 5 : 31-36)

Hal tersebut  menunjukkan pekerjaan intelektual bukan pekerjaan penguasa,  terlebih penguasa yang zalim kepada rakyatnya. Sebagaimana kita ketahui Allah itu penguasa mutlak jagad raya alam semesta ini, tetapi pendekatannya bukan kekuasaannya namun pendekatan intelektual ilmiah yaitu melalui iptek.

Bahwa kaitannya dengan ajaran Islam yang dibahas, mendatangkan satu pemahaman secara cerdas bagi kita semua untuk belajar dan belajar mendapatkan ilmu pengetahaun yang memadai juga teknologi yang memungkinkan untuk menyelesaikan berbagai persoalannya. Bahkan sejak awal ALLAH SUBHANNAHU WA TA’ ALA menurunkan wahyunya / Al Quran-NYA dengan perintah Iqra, iqra, iqra atau bacalah, bacalah, dan bacalah.

Tentunya dengan perkembangan zaman hingga hari ini, bagaimana kita membaca dan mengkaji ayat-ayat Al Quran itu sendiri dan ilmu-ilmu lainnya yang dianggap penting kemudian membina diri untuk menjaga dengan salatnya, serta kemudian berinfak baik terang-terangan maupun tersembunyi, sebagaiamana firman ALLAH Ta’ala dalam QS Fatir : 29.

Melalui pendekatan QS Fatir : 29 tersebut tentunya ALLAH menghendaki hambanya menjadi hamba-hamba yang beriman, berilmu, dan beramal saleh.  Tentunya yang  dikehendaki oleh Allah adalah mukmin yang kuat atau dengan kata lain mukmin yang berkualitas dan membanggakan sebagai umat yang terbaik dibandingkan umat lainnya. (QS 3: 110).

Bahkan lebih spesifik dalam konteks keilmuan ini yang dikaitkan dengan perjuangan, Allah sangat menekankan melalui pengajaran Al Qur’an-NYA untuk benar-benar mendapatkan suatu pengetahuan itu dengan serius. Selanjutnya melalui riset atau penelitian, karena kita sebagai umat Islam dilarang oleh Allah untuk mengikuti sesuatu yang tidak kita ketahui atau tidak ada ilmunya. Di samping itu, sebagai orang yang beriman ALLAH menekankan janganlah mengatakan sesuatu yang tidak dikerjakannya, karena hal itu amat dibencinya ( QS. 61 : 2 dan 3 ).

Selanjutnya pengajaran keilmuan ALLAH lebih banyak mengajarkan dalam bentuk perumpamaan sebagaimana diterangkan dari rangkaian ayat-ayat Quran yang disampaikan di sini, yaitu QS 17 : 36; QS 61 : 2 dan 3; QS 3 : 44,45, 47, 48, 49, 52 JO QS 19 : 20-22 JO QS 43 : 63. JO QS 22:73 mengenai LALAT ! .

Semua penjelasan ayat-ayat tersebut Allah mengatakan bisa menjadi hikmah bagi kita  orang-orang yang berakal. Sebagai satu contoh Allah mencontohkan tentang kejadian Nabi Isa as. putra Maryam bisa lahir tanpa suaminya. Bunda Maryam tanpa ayahnya Nabi Isya. Sampai Bunda Maryam bertanya kepada Allah, bagaimana mungkin aku bisa hamil, manakala tidak ada laki-laki menyentuhku. Kemudian Allah menjawab, kun fayakun, jadi, jadilah.

Bahwa hal ini, dalam kurun waktu di zaman modern tahun 2020 ini sudah kita kenal ada kemajuan iptek khususnya di bidang kedokteran mengenai adanya bayi tabung dan juga adanya kloning, serta berbagai riset lainnya yang menghasilkan keajaiban-keajaiban yang tidak terbayangkan sebelumnya. Kesemua itu diajarkan oleh ALLAH SUBHANNAHU WA TA’ ALA.
Begitu pula mengenai peristiwa Habil dan Khobil, dalam bagaimana mengubur mayat Habil (QS 5 : 27-31).

Oleh karena itu, dalam dimensi hari ini mestilah kita mewajibkan diri atau setidaknya mau belajar menuntut ilmu sebaik-baiknya, setidaknya  berkaitan dengan ilmu filsafat, matematika, ilmu mantik, ilmu tauhid, ilmu sejarah, sosiologi, psikologi, kedokteran, dan semua jurusan MIPA  serta segala jurusan ilmu teknik dan ilmu lainnya yang dimungkinkan atau dianggap perlu. Namun penekanan BES dalam kesempatan ini, setidaknya kita memahami persoalan ilmu politik, ilmu ekeonomi, dan ilmu hukum.

Hal ini disebabkan ketiga ilmu tersebut sangat berpengaruh terhadap kestabilan satu negara dimanapun, karena ini bersifat objektif bukan subjektif yaitu misalnya di suatu negara pertumbuhan ekonominya rendah dan bahkan terus banyak utang negaranya maka dapat dipastikan bisa terjadi kerusuhan.

Dalam konteks ilmu politik bila terjadi kecurangan-kecurangan dalam pemilunya dan perkembangan yang tidak kondusif untuk kehdupan berbangsa dan bernegara karena dipimpin dengan cara-cara diktator dan tidak intelektual, maka juga dapat dimungkinkan pergolakan sampai dengan proses kudeta. Di sisi lain, bila hukum tidak ditegakkan dengan keadilan tetapi diskriminatif di semua sektor maka dapat dipastikan cepat atau lambat akan ada gerakan people power untuk menuntut keadilan tersebut. Apalagi mehurut UUD 1945, tugas pokok presiden adalah :

1. Mencerdaskan kehidupan bangsa
2. Mensejahterakan seluruh rakyat Indonesia
3. Menjaga tumpah darah rakyat Indonesia dimanapun berada.

Kiranya tugas pokok presiden RI tersebut dapat berjalan dengan baik, manakala Presiden RI tersebut presiden yang benar-benar beriman, takwa kepada Allah dan cerdas serta pem berani, tidak mencla mencle apalagi OON .

Bahwa kualitas pemimpin atau presiden sangat menentukan perjalanan bangsa yang maju, bermartabat, dan sejahtera bagi seluruh rakyatnya. Oleh karena tugas pokok presiden tersebut benar-benar dijalankan sebagai amant dari UUD 1945. Hal ini penting, diingatkan oleh Allah dalam QS Al An’am [6 ]: 123

وَكَذَٰلِكَ جَعَلْنَا فِي كُلِّ قَرْيَةٍ أَكَابِرَ مُجْرِمِيهَا لِيَمْكُرُوا فِيهَا ۖ وَمَا يَمْكُرُونَ إِلَّا بِأَنْفُسِهِمْ وَمَا يَشْعُرُونَ

Dan demikianlah pada setiap negeri Kami jadikan pembesar-pembesar yang jahat agar melakukan tipu daya di negeri itu. Tapi mereka hanya menipu diri sendiri tanpa menyadarinya.

Sangat jelas di dalam ayat tersebut banyak sekali di dunia ini PEMBESAR_PEMBESAR yang JAHAT , karena si Pembesar tersebut menipu rakyat atau dengan kata lain dengan mudah sering berdusta kepada rakyatnya. Lebih teknis lagi dalam kepemimpinan yang tidak mendatangkan maslahat bagi rakyatnya maka terjadilah kebodohan dan kemiskinan yang terus merajlela . Bahkan tingkat kriminalitas di negara tsb itu amat memprihantikan.

Seperti kasus Narkoba menurut keterangan BNN setiap hari ada 50 orang yang mati karena narkoba. Kemudian tingkat pencurian sangat masif di seluruh Indonesia, bahkan pernah beberapa tahun lain BES mengadakan penelitian, terjadi kurang lebih 2 menit sekali terjadi pencurian.

Adapun perkosaan terjadi kurang lebih dalam kurun waktu 4 jam sekali terjadi perkosaan pada wanita, yang berketepatan hari ini dalam memperingati hari Kartini, kita tidak bisa melihat dalam faktanya ada peningkatan kesejahetraan buat para wanita dan kebahagiannya karena tingkat perceraiannya sangat tinggi terutama di Kab. Bogor banyak sekali yang bercerai. Pertanyaan seriusnya , bagaimana kebahagiaan itu ??
Belum lagi perkembangan kriminalitas pembegalan yang terjadi beberapa waktu belakangan ini.

Bahwa kebodohan, kemiskinan, kriminalitas, dengan segala bentuknya mari kita analisi mengapa itu terjadi Juga dalam kontek politik, mengapa terjadi proses pendustaan pada rakyat dan juga sila demi sila dalam Pancasila tidak berjalan atau tidak tegak sebagaimana mestinya.

Yang ada justru, sila Pertama Ketuhanan Yang Maha Esa, namun faktanya tidak diberlakukan hukum-hukum Tuhan Yang Maha Esa, yaitu ALLAH SWT ,lengkapnya tidak diberlakukannya Syariat Islam.

Sila ke-4 Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan  perwakilan. Sila ke-4 ini sejak bergulirnya reformasi 1998 justru TIDAK berlaku. Yang berlaku adalah liberalis kapitalis dengan model  pemilu melalui suara terbanyak. Padahal perintah Pancasilanya dengan cara-cara musyawarah dan melalui hikmah kebijaksanaan dalam menentukan kebijakannya, sebagaimana yang diajarkan dalam ajaran Islam.

Oleh karena itu, hal tersebut semua menjadi tanggung jawab para intelektual dan atau mereka yang mempunyai akal sehat untuk memperbaiki keadaan bangsa dan negara RI menuju Indonesia Bertakwa kepada ALLAH SUBHANNAHU WA TA’ ALA.

Salam Ta’ziem


BES = Bang Eggi Sudjana
Komentar Anda

Terkini: