Eggi Sudjana : Iman dan Akal Sehat

/ April 11, 2020 / 5:05 AM
Bagikan:
Dr. Eggi Sudjana, SH., M.Si

JITU (Kajian Islam Sabtu - 11 April 2020)

“IMAN DAN AKAL SEHAT"

Oleh : Dr. H. Eggi Sudjana, SH., M.Si

Bahwa JITU kali ini tanggal 11/4/2020 merupakan lanjutan dari JIMAT(Kajian Islam Jumat) 10/4/2020 yang dalam pemaparan akhirnya penjelasan mengenai Iman dan akal sehat. Dalam penjelasan kali ini mengenai Iman dan Akal Sehat tersebut, akan difokuskan bagi orang-orang yang mengaku beragama Islam. Tentu memiliki iman dan insya Allah akal sehat.

Terutama bagi mereka individu-individu dari orang yang beragama Islam tersebut memiliki posisi strategis baik di pemerintahan (eksekutif), legislatif, yudikatif, pimpinan partai politik, LSM, maupun berbagai profesi strategis lainnya. Bahwa secara umum  pemahaman tentang iman adalah suatu keyakinan yang diyakininya, diucapkan, dan dilaksanakan dalam kehidupan sehari-harinya. Lebih jauh untuk mengidentifikasi orang-orang yang dimaksud beriman tersebut, mesti melihat kepada Al Qur'an sebagai rujukan yang telah ditetapkan oleh Allah Swt yaitu:

1. Apa yang diidentifikasikan oleh QS 23 : 1-11 yang artinya :

_1) Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman, 2) (yaitu) orang-orang yang khusyu' dalam sembahyangnya, 3) dan orang-orang yang menjauhkan diri dari (perbuatan dan perkataan) yang tiada berguna, 4) dan orang-orang yang menunaikan zakat, 5) dan orang-orang yang menjaga kemaluannya, 6) kecuali terhadap isteri-isteri mereka atau budak yang mereka miliki; maka sesungguhnya mereka dalam hal ini tiada tercela. 7) Barangsiapa mencari yang di balik itu maka mereka itulah orang-orang yang melampaui batas. 8) Dan orang-orang yang memelihara amanat-amanat (yang dipikulnya) dan janjinya. 9) dan orang-orang yang memelihara sembahyangnya. 10) Mereka itulah orang-orang yang akan mewarisi, 11) (yakni) yang akan mewarisi surga Firdaus. Mereka kekal di dalamnya.

2. QS 8 : 2-3, 12 yang artinya :

_2) Sesungguhnya orang-orang yang beriman ialah mereka yang bila disebut nama Allah gemetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan ayat-ayat-Nya bertambahlah iman mereka (karenanya), dan hanya kepada Tuhanlah mereka bertawakkal. 3) (yaitu) orang-orang yang mendirikan shalat dan yang menafkahkan sebagian dari rezeki yang Kami berikan kepada mereka.”

_12) (Ingatlah), ketika Tuhanmu mewahyukan kepada para malaikat:

"Sesungguhnya Aku bersama kamu, maka teguhkan (pendirian) orang-orang yang telah beriman". Kelak akan Aku jatuhkan rasa ketakutan ke dalam hati orang-orang kafir, maka penggallah kepala mereka dan pancunglah tiap-tiap ujung jari mereka.”

3. Berdasarkan surat Al Baqarah ayat 177-178 yang artinya :

_177) ”Bukanlah menghadapkan wajahmu ke arah timur dan barat itu suatu kebajikan, akan tetapi sesungguhnya kebajikan itu ialah beriman kepada Allah, hari kemudian, malaikat-malaikat, kitab-kitab, nabi-nabi dan memberikan harta yang dicintainya kepada kerabatnya, anak-anak yatim, orang-orang miskin, musafir (yang memerlukan pertolongan) dan orang-orang yang meminta-minta; dan (memerdekakan) hamba sahaya, mendirikan shalat, dan menunaikan zakat; dan orang-orang yang menepati janjinya apabila ia berjanji, dan orang-orang yang sabar dalam kesempitan, penderitaan dan dalam peperangan. Mereka itulah orang-orang yang benar (imannya); dan mereka itulah orang-orang yang bertakwa".

Diantara ciri orang beriman lainnnya yang dijelaskan dalam Al Quran ialah; Siap melakukan Qisas (QS 2:178), Berwasiat untuk kedua orang tua dan karib kerabatnya dengan cara-cara yang baik (QS 2 : 180), Berpuasa (QS 2 : 83), mengikuti perintah Allah dan doanya maqbul (QS 2 : 186), melaksanakan rukun Islam (QS 2 : 195-196), Tidak boleh ragu dan jangan berprediksi/berprasangka kemudian memastikan benar atau tidaknya / tabayyun (QS 2 : 216), lanjutan dari beriman yaitu berhijrah dan berjihad (QS 2 : 218) dan JO QS 3 : 142 & 146 yang menyampaikan bila sudah beriman namun tidak berjihad/BERPERANG maka tidak akan masuk Surga. Karenanya para nabi mencontohkan untuk berJuang/BERPERANG di jalan ALLAH dengan kesabaran yaitu tidak lemah, tidak lesu dan tidak menyerah.

4. Bahwa keimanan seseorang amat sangat penting untuk menjadi ukuran atau landasan demi tegaknya hukum Islam atau dengan kata lain berjalannya syariat Islam sehingga ibadahnya dalam arti luas seperti penegakan hukum pidana dan tata negara yang berdasarkan keimanannya kepada Allah pasti diupayakan tegaknya apalagi Ibadah dalam arti sempit seperti syahadat sholat puasa zakat haji, dengan sendirinya sudah tegak atau berjalan.

5.Bahwa, jalannya rukun Islam dan Ibadah dalam arti luas tersebut terkondisi lah suatu keadaan yang disebut Ihsan yaitu satu keadaan yang mana kehidupannya sangat terlihat/terasa akhlakul karimah yang dimunculkannya. bahkan dengan kondisional objektif tegakya iman, islam dan ihsan tersebut, maka akan mendatangkan keberkahan dari langit dan bumi(QS Al A’raf(7) : 96).

PENJELASAN TENTANG AKAL SEHAT

Bahwa, penjelesan mengenai akal sehat itu ialah sarana/media yang sebagai penghubung/berkomunikasi dengan berbagai objektivitas  dengan cara berpikir ilmiahnya objektif sistematis dan toleran (OST-JUBEDIL) serta mampu membandingkan, mempertimbangkan dan menyimpulkan sesuatu. QS 17:36 JO QS 2 : 91, 113, 117, 118, & 119.

Bahwa selanjutnya untuk mengerti hubungan iman dan akal sehat, akal sehat itu adalah hubungan fungsional yang dinamis antara iman dan akal sehat yaitu fungsi iman dengan penuh keyakinannya dan melaksanakan yang diyakininya tersebut, sementara fungsi akal sehat membandingkan, mempertimbangkan dan menyimpulkan

Bahwa dengan adanya proses hubungan fungsional yang dinamis antara iman dan akal sehat tersebut membuat suatu kepastian yaitu semangkin orang tersebut memiliki kapasitas dari cara berpikirnya dengan menggunakan akal sehatnya maka semakin tinggi dan berkualitas berpikirnya, sejalan dengan itu semakin kenal dan dekat/makrifat  kepada ALLAH melalui media imannya tersebut, sehingga orang-orang yang beriman itu pastilah orang-orang yang memiliki akal sehat  dengan kata lain akal sehat yang merupakan cara berpikir ilmiah OST-JUBEDIL adalah sangat mempengaruhi terkondisi nya keimanan yang kuat dan pelaksanaan ibadah agamanya yang optimal.

Bahwa dalam hal hubungan fungsional ini antara iman dan akal sehat dikaitkan dengan adanya agama-agama yang ada dapat dipastikan agama yang dimaksud adalah agama Islam yang telah dibuktikan secara OST-JUBEDIL bahwa agama Islam adalah agama yang sempurna melalui 3 kategori:

1. Konsep tuhan yang memiki kriteria ADU ; Absolute, Distinct, Uniqu.
2. Konsep dan sistem dari ajaran agamanya.
3. Pribadi pembawa ajaran agamanya yang dapat dijadikan contoh teladan dalam kehidupan.

Bahwa untuk penjelasan ayat-ayat Quran terhadap 3 kategori itu dapat dilihat dari QS 57:3-4, QS 6:59, QS 2 : 107, 115,116,117,119 dan 131-132, QS 20 : 14, QS 112 : 1-4 JO QS 5 : 3 JO QS 33 : 21 & 56.

Bahwa dengan telah jelasnya hubungan fungsional antara iman dan akal sehat tersebut maka pelaksanaan tegaknya syariat Islam dimanapun berada dan dalam kondisi apapun akan bisa terasa rahmatan lil alamin yang terjadi, kecuali ada gangguan bahkan ada yang syirik dan dengki untuk memerangi orang-orang beriman dan akal sehat itu yaitu orang-orang kafir, dzalim, fasiq, dan murtad. Adapun penjelasan mengenai orang-orang tersebut Insya Allah akan dibahas dalam JIHAD (Kajian Islam Ahad besok tanggal12 April 2020)

Salam Takzim,

BES = Eggi Sudjana
Komentar Anda

Terkini: