Eggi Sudjana : Istiqomah Akan Melahirkan Jiwa-jiwa Yang Tenang

/ April 15, 2020 / 8:59 AM
Bagikan:
Dr. H. Eggi Sudjana, SH., M.Si


"Istiqomah Akan Melahirkan Jiwa-jiwa Yang Tenang"

BES-KALBU
(Kajian Islam Rabu, 15 April 2020)

Oleh : Dr. H. Eggi Sudjana, SH., M.Si

Kajian kali ini adalah merupakan lanjutan dari pembahasan mengenai ikhlas, kini secara objektif & sistematis, setelah ikhlas dibahas mengenai ISTIQOMAH.

Penjelasannya, bahwa Istiqomah secara umum dapat diartikan/dimengerti dengan istilah konsisten atau teguh pendiriannya, kuat dalam memegang prinsip. Lebih tepatnya orang-orang yang istiqomah itu kebalikannya dari orang-orang yang munafik sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya.

Secara Ost-jubedil, orang-orang yang ikhlas dapat dipastikan melahirkan orang-orang yang istoqomah. Dengan kata lain, tidak mungkin orang itu istiqomah jika tidak didasari keihklasan dalam bertauhid kepada Allah SWT.

Lebih rinci lagi, mengidentifikasikan orang-orang istiqomah tersebut dengan 3 faktor yaitu;

1. Optimismenya,
2. Keberaniannya,
3. Jiwanya yang tenang.

Ad. 1. Optimismenya, dapat dimaknai dengan tidak pernahnya merasa putus asa atau putus harapan dari rahmat Allah, sehingga dia selalu percaya &  yakin akan akan bantuan, pertolongan dan pembelaan dari Allah SWT dalam segala urusannya, karena orang istiqomah itu sudah ikhlas menjadikan Allah & Rasul-Nya yang mengatur cara/gaya hidupnya. Bahkan orang istiqomah itu berkomitmen, raditubillahirobba wabil islami diina, Nabi Muhammad Rasulullah SAW wanabiya (aku ikhlas, Tuhanku adalah ALLAH SUBHANAHU WATA'ALA, aku ikhlas ajaran islam yg mengatur hidupku dan aku ikhlas Nabi Muhammad SAW sebagai teladan & tuntunan hidupku).
(QS An Nisa: 174-175; QS Ali Imran 3 : 31 jo Al Baqarah 110 & 112. Dari sikapnya yang istiqomah itulah menjadikan dia orang-orang tawakal penuh kepada Allah SWT.

Ad. 2. Keberaniannya dari orang-orang istiqomah tersebut, suatu konsekuensi psikologisnya dengan dia secara sungguh-sungguh ikhlas & tawakal kepada Allah SWT, dia hanya takut kepada Allah dan dia harapannya dan ketergantungan hidupnya hanya kepada Allah dan menempatkan Allah di atas segalanya, juga sekaligus pada saat yang sama mengikuti contoh kegiatan hidup secara prinsip yang dijalankan oleh Rasulullah Nabi Muhammad SAW.

Bahkan keberaniannya tersebut sebagaimana orang-orang yang istiqomah, patuh kepada perintah Allah yang diperintahkan kepada nabinya, seperti perintah Allah menyatakan perang kepada siapapun yang melawan Allah dan rasulnya (QS Ali Imran 142  & 146).

Namun perlu disadari bahwa sikap keberaniannya tersebut tidaklah diikuti dengan pendekatan nekad, sebab nekat cenderung mengabaikan strategi taktik, melulu emosional, sedangkan keberanian satu sikap yang penuh daya juangnya untuk melawan dan atau memperjuangkan yang diyakininya tersebut untuk mendapatkan keridoan Allah SWT. (QS Al Baqarah : 207).

2.Al-Baqarah : 207

وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَشْرِي نَفْسَهُ ابْتِغَاءَ مَرْضَاتِ اللَّهِ ۗ وَاللَّهُ رَءُوفٌ بِالْعِبَادِ

Dan di antara manusia ada orang yang mengorbankan dirinya untuk mencari keridho'an Allah. Dan Allah Maha Penyantun kepada hamba-hamba-Nya.

Oleh karena itu, dalam pendekatan secara os-jubedil, keberanian tidak sama dengan nekat, apalagi menempuh dengan cara-cara terprisme, karena sudah dapat dipastikan cara-cara terorisne diharamkan dalam ajaran islam atau setidaknya tidak dibenarkan menempuh dengan cara nekat dan terorisme, karena hal itu bertentangan dengan Al Quran dan contoh sunah Nabi Muhamnad SAW.

Salah satu ayat Al Qurannya adalah QS Ali Imran: 159, yang intinya dari ayat tersebut adalah setiap urusan mestilah dimusyawarahkan terlebih dahulu, dengan sikap lemah lembut dan tidak berhati kasar. Sebab, jika berhati kasar mereka lari meninggalkannya. Hal itu merupakan bimbingan dari Allah melalui rahmat-Nya.

Jadi, bukan pendekatan nekat dan cara-cara terorisme. Yang benar adalah bertekad bukan nekat. Bahkan bersedia memaafkan kesalahan dan memohonkan ampunannya kepada Allah SWT.

Bahwa cara-cara yang diajarkan oleh Allah SWT melalui wahyunya tersehut, amat penting untuk dijadikan pegangan/pedoman/petunjuk dalam menghadapi persoalan kehidupan.

Terutama kehidupan ormas, lslam, partai politik dan hal-hal lainnya yang sering memvuktikan unat islam gampang sekali pecah belahnya, atau diprovokasi menjadi pecah belah dengan cara diadu domba oleh orang-orang yang pasti kafir, zhalim, fasik, musyrik, munafik dan murtad.

Bahkan lebih jauh dari itu, dapat kita saksikan secara internasional  maupun nasional yaitu adanya ISIS secara internasionalnya dengan cara-cara terorismenya dan komando jihad, stigma radikal, stigma ekstrem, stigma intoleran dan berbagai stigma lainnya yg bersifat negatif kepada ajaran islam dan umatnya.

BES yakin bahwa, gerakan-gerakan tersebut merupakan satu by design atau dirancang dengan sengaja atau direkayasa secara jahat oleh orang-orang yang berjiwa kotor sehingga otaknya pun menjadi kotor dan seburuk-buruknya makhluk (QS Al Anfal  : 22 , 55 & 56).

Tindakan terorisme ini merupakan tindakan kejahatan yang terorganisir, sostematis dan masif yang secara jahat memfitnah ajaran islam dan umatnya menjadikan tersudut dan terpojok, yang menjadikan ajaran islam dan umatnya tersebut anti kepada kemanusiaa, kesejahteraan dan anti kepada cara-cara hidup yang beradab.

Padahal sesungguhnya ajaran islam yang dipraktikan oleh Nabi Nuhamnad SAW, sebagaimana contoh teladan yang terbaik bahkan dapat julukan the walking quran (quran yang berjalan), yaitu memindahkan duri atau benda lainnya yang dianggap membahayakan ke pinggir atau ke tempat lainnya yang membuat orang aman dari jalan yang dilaluinya adalah perintah dan cobtoh yang dilakuan oleh Nabi Muhammad SAW, menyediakan hidangan dalam menyambut tamunya atau setidaknya bersikap ramah dengan senyum, semua itu dianggap ibadah dlm ajaran islam, bahkan Al Maidah : 32, menyatakan;

"Bahwa barang siapa membunuh seseorang, bukan karena orang itu membunuh orang lain, atau bukan karena berbuat kerusakan di bumi, maka seakan-akan dia telah membunuh semua manusia. Barangsiapa memelihara kehidupan seorang manusia, maka seakan-akan dia telah memelihara kehidupan semua manusia".

Bahkan petikan ayat tersebut, di negara Belanda dijadikan poster di berbagai halte bis.

Oleh karena itu, bagaimana mungkin secara objektif dan sistematis bahwa dalam ajaran islam dan contohnya dari Nabi Muhammad SAW, ajaran terorisme, radikalisme, ekstremisme dan lain sebagainya yang berstigma negatif kepada Islam dan umatnya. Sekali lagi patut ditekankan bahwa terorisme, radikalisme, ekstremisme, serta stigma buruk lainnya yang menghujat atau mendeskreditkan islam dan umatnya pastilah itu bukan ajaran islam.

Namun herannya, sudah seperti menjadi musuh bersama kepada ajaran islam dan umatnya yang membuat program atau agenda deradikalisasi dan pembantaian terhadap terorisme difokuskan kepada umat Islam, contoh terbaru dan masih aktual adalah di Papua, gerakan bersenjata oleh orang-orang Papua, bahkan jelas-jelas minta merdeka, atau setidaknya minta memisahkan diri dari NKRI, namun tak satupun gerakan tersebut distigmakan radikal, ekstrem dan terorisme.

Bahkan yg membakar masjid di sanapun diundang ke istana dan yang membantai umat Islam di Wamena, sampai hari tidak jelas tindakan dari pemerintah pusat kepada mereka.

Juga tdk ada serbuan balik, atas perintah TNI kepada mereka yang meminta merdeka, bahkan membunuh TNI POLRI sendiri oleh gerakan separatis.

Bahkan, bom-bim meledak di tempat lain seperti Surabaya, Poso, Ambon bahkan Jakarta adalah tuduhan dilakukan oleh umat Islam.

Inilah kejahatan yang amat keji, memfitnah ajaran Islam & umatnya.
Namun sedihnya, semuanya terjadi di negara RI tercinta, MENGAPA YA ?

Ad. 3 Jiwa yang tenang.
Penjelasannya, hal inipun merupakan turunan logis dari sikap hidup yang sebelumnya sudah diterangkan, yaitu optimisme dan keberaniannya yang sesuai dengan ajaran Islam. Maka, suasana hati dan pikiran dari orang-orang yang istiqomah itu pasti mendatangkan jiwa yang tenang dan tidak takut kepada apapun dan siapapun.

Contoh konkretnya dan terbaru, terjadi di seputar kita, yaitu dalam menghadapi virus corona yang terjadi di seluruh dunia termasuk di Indonesia khususnya Jabodetabek. Pertanyaannya, bagaimana sikap kita dan umat islam serta pemerintahannya dalam menghadapi musibah virus corona tersebut.

Dalam hal ini sikap masyarakat islam indonesia terbelah, yaitu ada yang setuju masjid ditutup dan ada pula yang tidak setuju.

Dalam menjawab pertanyaan ini, perlu didasari kepada sikap jatidiri orang-orang yang istiqomah, yaitu optimis, berani, kini dalam pembahasan jiwa yang tenang.

Berdasarkan BES theory, os-jubedil, sangat jelas & terlihat bagaimana menempatkan orang-orang yang setuju penutupan masjid & tempat-tempat ibadah lainnya, yaitu tentu mesti mendasari kepada ayat-ayat Al Quran & hadist yang memungkinkan menjawab hal itu atau pendapat jumhur ulama yang pernah ada dalam menghadapi masalah wabah seperti virus corona ini. Berdasarkan Al Quran ada disebutkan dlm QS Al Baqarah : 114, 125,126, & 130 jo QS At Taubah 18. & QS Al Jumu'ah : 9

Dari kelima ayat tersebut dapat dijelaskan;
Pertama, orang-orang yang melarang disebut nama Allah dalam masjid-masjid yang ada atau menutupnya adalah perbuatan zalim. Diibaratkan oleh Allah sama dgn merobohkan masjid itu.

Kedua, rumah Allah Ka' bah/masjid adalah tempat berkumpul, aman, tempat shalat, tempat ruku & sujud, itikaf & tawaf.

Ketiga, doa Nabi Ibrahim AS. yg telah dikabulkan oleh Allah SWT sampai detik ini, yaitu negeri Mekah yang aman & berlimpah rezekinya, antara lain banyaknya buah-mudahan, dimana dulunya daerah Mekah merupakan daerah tandus, kering dan tidak ada air".

Keempat, bagi orang-orang yang membenci ajaran Ibrahim yang lurus itu, Allah menyebutnya sebagai orang-orang yang bodoh alias o'on.

Kelima, berdasarkan QS At-Taubah : 18.

"Sesungguhnya yang memakmurkan masjid Allah hanyalah orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari kemudian, serta (tetap) melaksanakan salat, menunaikan zakat, dan tidak takut (kepada apa pun) kecuali kepada Allah. Maka mudah-mudahan mereka termasuk orang-orang yang mendapat petunjuk".

Berdasarkan kelima ayat tersebut, dari berbagai pandangan mazhab yang ada, tidaklah boleh bertentangan dengan ayat-ayat Al Qur'an tersebut.

Pertanyaan seriusnya, mengapa pemerintah pusat dan provinsi DKI, Jabar, Jateng, Jatim dan provinsi lainnya, termasuk MUI melakukan karantina daerah dengan fokusnya masjid ditutup, juga muhsola & tempat-tempat ibadah lainnya. Maka apa dalilnya, di ayat berapa Qur'annya, dimana hadistnya, yang tegas membolehkan masjid & muslola ditutup?

Bila TIDAK ADA dalil yang jelas di Qur'an & hadist, lalu pertimbangan apa yang menjadi dalil untuk menutup masjid & musola tersebut.

Mengapa tidak ditempuh satu kebijakan atau pendekatannya melalui iptek, khususnya di bidang kedokteran & ilmu medisnya untuk mengatasi virus corona tersebut, seperti cukup dengan memakai masker, cuci tangan, makan &  vitamin kemudian jaga jarak yg memungkinkan ditambah dengan doa kepada ALLAH SWT dengan dasar QS Al Baqarah : 186, apa lagi berdoa di Mekkah depan Ka'bah!.

Apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu (Muhammad) tentang Aku, maka sesungguhnya Aku dekat. Aku kabulkan permohonan orang yang berdoa apabila dia berdoa kepada-Ku. Hendaklah mereka itu memenuhi (perintah)-Ku dan beriman kepada-Ku agar mereka memperoleh kebenaran.

Amat sangat jelas, doa pasti dikabulkan oleh ALLAH dengan syarat beriman & bertaqwa, yaitu melaksanakan perintah ALLAH & menjauhi larangan-Nya (Surat Al Baqarah ayat 186). Pertanyaannya,  bagaimana dengan perintah ALLAH di keenam ayat yang telah disebutkan tadi. Mengapa tidak dijalankan perintah ALLAH tersebut?

Jika tidak dijalankan bagaimana kualitas iman kita dan bagaimana mungkin doa dikabulkan karena tidak melaksanakan perintah ALLAH tersebut.

Hal ini bertentangan dengan QS Al Fatihah ayat 5, hanya kepada Engkaulah kami menyembah dan hanya kepada Engkaulah kami meminta. Oleh karena itu, sudah jelas dalam perspektif ajaran islam yang berfokus pada tauhidillah (beriman betul-betul kepada Allah), kita mesti menjalankan perintah atau bertaqwa dulu kepada Allah baru meminta. Terkait dengan corona, perintah keenam ayat tersebut tidak dijalankan lalu bagaimana kita meminta pertolongan kepada Allah?

Jadi secara OST-JUBEDIL (Obyektif , Sistematis, Toleran - JUjur, BEnar, aDIL) orang-orang yang MENUTUP Masjid melalui kebijakannya, baik lewat pemerintah pusat, daerah, MUI serta tokoh-tokoh yang dianggap ulama, bagaimana pertanggungjawabannya di akhirat, apa yang mau dijawab, sementara pertanyaan di atas saja belum ada yang menjawab , dengan kata lain, apa dalil-dalil ayat Qur'an dan hadistnya.

Selanjutnya, pertanyaan seriusnya, mengapa tempat-tempat umum, dimana orang banyak berkumpul dan juga tidak mungkin menjaga jarak seperti di Stasion, Bandara, Terminal dan tempat lainnya yg masih berseliweran banyak  orang kok tidak ditutup?

Hal ini menambah pertanyaan, adanya kebijakan diskriminatif dan berimplikasi menjadi  kebijakan yang zhalim, karena di sisi lain masjid ditutup. Sisi lain, BES setuju dengan karantina daerah yang terbatas, ASALKAN JANGAN MASJID DITUTUP !!!.

Jadi, keyakinannya kita umat Islam yang benar-benar mau Istiqomah menjalankan ajaran islam untuk datang ke masjid, shalat jum'at beribadah TIDAK terganggu atau tdk dihalang-halangi. Hal ini berpotensi melanggar HAM dan pelanggaran hukum itu sendiri, terutama pasal 29 ayat 2.

Pertanyaan serius lainnya, apakah ada hidden agenda (agenda tersembunyi) dari situasi ini, bisa antara AS vs Cina, atau karena berpengaruh global kekuatan lainnya yang benar-benar secara ideologi mereka itu semua ANTI  ISLAM, sebagaimana kita tahu, salah satu pokok dasar ajaran islam menolak social distanching, justru ajaran islam mengajarkan dekat degan masyarakat, bersalaman bisa menghapus dosa di antara kedua orang tersebut.

Namun itu semua sirna, atau kalah total dengan gerakan ideologi global yang membenci Islam, seperti yang pernah diterangkan dalam kajian islam sebelumnya, yaitu liberalis-kapitalis, sosialis-komunis, sebagaimana QS Az Jatsyiah 45: 23-24.

Lebih fokus lagi Kita mengerti ajaran komunis, menolak adanya Tuhan, sebagaimna virus corona berasal dari Wuhan China yang berideologi komunis. Jagan hanya dilihat peristiwa medis semata.

Apalagi kita menyaksikan, berbondong-bondong orang Cina yg berlabel TKA  masuk je Indonesia di berbagai daerah, relatif mudah masuknya karena diizinkan oleh pemerintah pusat. Bahwa
untuk keperluan analisis secara Qurani terkait hidden agenda, sudi kiranya kita jalankan perintah ALLAH dalam Q.S. Al Baqarah ayat ; 120, 135, 140, 170, 171, 174, 175, 208, 209, 214, 216, & 218 jo QS Ali Imran : 65,66, 78, 149, 150, 152 jo QS 9 : 111.

Bahwa, sangat menyedihkan, di negeri RI tercinta banyak tokoh-tokoh dari kalangan muslimnya terkesan dan terlihat tidak atau sekurang-kurangya tidak peduli dengan dalil-dalil yang BES sampaikan tersebut.

Oleh karena itu, bagi orang-orang yang istiqomah, teguh memegang prinsip-prinsip yang diyakininya, tentu akan berupaya maksimal untuk menjalankan tegaknya syariat islam dan berharap kepada ALLAH melalui iman dan takwanya, dengan penuh ikhlas, tunduk, taat patuh hanya kpd ALLAH dan tawakal kepada-NYA , sebagaimana QS 2:  2-5 jo QS 9 : 105 , 111 . Jo QS 3 : 142 & 146 jo QS 59: 18-24.
Itulah sebabnya, jika ayat-ayat tersebut dijalankan, maka mendatangkan jiwa yang tenang atau muthma'innah. (SB)

Salam Ta'jim,

BES = Bang Eggi Sudjana
Komentar Anda

Terkini: