Eggi Sudjana, Kajian Islam Rabu : Kewenangan dan Tanggung Jawab

/ April 29, 2020 / 4:40 PM
Bagikan:

Dr. H. Eggi Sudjana, SH., M.Si


JIBU = Kajian Islam Rabu (29 April 2020)

Oleh : Dr. H. Eggi Sudjana, SH., M.Si


"Kewenangan/Otoritas dan Tanggung Jawab/Responsibility"

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَٰنِ الرَّحِيمِ

Bahwa perlu dibuat batasan yang jelas/ definisi apa yang dimaksudkan dengan kewenangan/otoritas dan apa yang dimaksudkan dengan tanggung jawab/responsibility. Kewenangan / otoritas adalah berupa kekuasaan yang menjadi haknya untuk membuat, mengatur, menindak, dan menentukan  dalam lingkar kekuasaannya demi memenuhi keinginan-keinginannya yang diutamakan.

Oleh karena itu, dapat mudah terjawab mengapa seringkali kita menyaksikan orang melakukan penyalahgunaan wewenangnya/otoritasnya yang berakibat menimbulkan kerugian buat orang lain, masyarakat, bangsa dan negara dimana dia berdomisili. Bahkan untuk masyarakat dunia.

Tanggung jawab adalah beban yang harus dipikulnya untuk menerima akibat dari dijalankannya kewenangannya tersebut sehingga sebagai konsekuensi logisnya menerima risiko yang harus beban tersebut dipikulnya. Oleh karena itu, hanya orang-orang yang memopunyai kewenanganlah yang pantas dimintai tanggung jawabnya atas penyalahgunaan kewenangan/otoritasnya tersebut.

Sebaliknya, bila orang tersebut tindakannya atau kebijakannya sesuai dengan nilai-nilai kejujuran, kebenaran, dan keadilan maka orang tersebut dapat dipastikan adalah orang-orang yang menjalankan kewenangannya dengan sebaik-baiknya. Dengan demikian, orang tersebut dinyatakan orang yang bertanggung jawab.

Bahwa berdasarkan definisi yang telah disebutkan tadi, maka pemahaman/persepsi, kesadaran dan pentaatan kita kepada orang-orang yang dianggap memiliki kewenangan yang besar seperti Presiden, Raja, Perdana Menteri , khalifah dann jabtan-jabatan strategis lainnya yang memiliki kewenangan/otoritasnya sangat berbanding lurus dengan tanggung jawabnya.

Dengan kata lain, apabila kewenangannya besar, maka sudah otomatis dia harus memikul beban yang besar dan berat sebagai bentuk tanggung jawabnya. Akan tetapi, kita semua menjadi saksi banyak dari mereka yang memiliki kewenangan besar itu sesungguhnya di dalam praktiknya adalah orang-orang yang melalaikan atau lari dari tanggung jawabnya. Bahkan anehnya merasa tidak bersalah, sehingga merasa tidak bertanggung jawab.

Dengan dibuktikan melalui tindakannya yang tidak bertanggung jawabnya itu adalah menampilkan kebodohan dan kesombongannya untuk bahkan menentang kepada siapa yang menyalahkannya bahkan dengan tega berani menghabisi rakyatnya sendiri. Padahal mereka sebagai pemimpin telah menyalahgunakan wewenangnya atau menggunakan otoritasnya secara sewenang-wenang.

Kemudian tidak mau bertanggung jawab. Sesungguhnya jenis pemimpin seperti ini adalah pemimpin pendusta karena berjiwa kafir, zalim, fasik, musyrik, munafik, dan murtad dari aturan dan ketentuan agama Islam. Jika itu dia merupakan seorang muslim. Sebaliknya bila mereka bukan orang Islam yang menjadi pemimpin, seperti banyak contoh di berbagai negara termasuk AS dan Rusia, yang jelas berideologi liberalis-kapitalis dan komunis, sebagaimana juga China mereka itu sesungguhnya merupakan orang-orang yang tidak bertanggung jawab. Dengan kata lain, mereka pembesar-pembesar yang pendusta dan pengkhianat terhadap bangsa dan negaranya. Hal ini dapat kita simak dari QS Al An’am [6] : 1, 2, dan 3.

Al-An'ām : 1

 الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ وَجَعَلَ الظُّلُمَاتِ وَالنُّورَ ۖ ثُمَّ الَّذِينَ كَفَرُوا بِرَبِّهِمْ يَعْدِلُونَ

Segala puji bagi ALLAH yang telah menciptakan langit dan bumi, dan menjadikan gelap dan terang, namun demikian orang-orang kafir masih mempersekutukan Tuhan mereka dengan sesuatu.

Al-An'ām : 2

هُوَ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ طِينٍ ثُمَّ قَضَىٰ أَجَلًا ۖ وَأَجَلٌ مُسَمًّى عِنْدَهُ ۖ ثُمَّ أَنْتُمْ تَمْتَرُونَ

Dialah yang menciptakan kamu dari tanah, kemudian Dia menetapkan ajal (kematianmu), dan batas waktu tertentu yang hanya diketahui oleh-Nya. Namun demikian kamu masih meragukannya.

Al-An'ām : 3

وَهُوَ اللَّهُ فِي السَّمَاوَاتِ وَفِي الْأَرْضِ ۖ يَعْلَمُ سِرَّكُمْ وَجَهْرَكُمْ وَيَعْلَمُ مَا تَكْسِبُونَ

Dan Dialah Allah (yang disembah), di langit atau pun di bumi; Dia mengetahui apa yang kamu rahasiakan dan apa yang kamu nyatakan dan mengetahui (pula) apa yang kamu kerjakan.

Penyimakan BES dalam memahami ayat tersebut, disimak secara berfikir OST JUBEDIL kiranya dapat ditelusuri bahwa pembesar-pembesar yang jahat itu termasuk juga ulama-ulama jahat/pendeta-pendeta jahat, termasuk di dalamnya, mereka khianat dan tega bahkan tega membantai rakyatnya sendiri atau setidaknya mendustai / membohongi rakyatnya sendiri, adalh disebabakan karena pengarus dari godaan syetan yang terkutuk yang menumpangi berdasarkan keinginan-keinginannya yang sesat.  Hal tersebut dinyatakan oleh ALLAH SUBHANAHU WATA’ALA QS Al Hajj : 52

Al-Ḥajj : 52

وَمَا أَرْسَلْنَا مِنْ قَبْلِكَ مِنْ رَسُولٍ وَلَا نَبِيٍّ إِلَّا إِذَا تَمَنَّىٰ أَلْقَى الشَّيْطَانُ فِي أُمْنِيَّتِهِ فَيَنْسَخُ اللَّهُ مَا يُلْقِي الشَّيْطَانُ ثُمَّ يُحْكِمُ اللَّهُ آيَاتِهِ ۗ وَاللَّهُ عَلِيمٌ حَكِيمٌ

Dan Kami tidak mengutus seorang rasul dan tidak (pula) seorang nabi sebelum engkau (Muhammad), melainkan apabila dia mempunyai suatu keinginan, setan pun memasukkan godaan-godaan ke dalam keinginannya itu. Tetapi Allah menghilangkan apa yang dimasukkan setan itu. dan ALLAH akan menguatkan ayat-ayat-Nya. Dan Allah Maha Mengetahui, Mahabijaksana,

Selanjutnya dari pemahaman ayat tersebut dapat kita simak juga, bahwa mereka yang tergoda oleh godaan syetan yang terkutuk itu menjadikan keinginan-keinginannya diperlakukan seperti Tuhannya. Dengan kata lain, orang tersebut mengutamakan, mempalingpentingkan, mencintai,takut tunduk patuh, dan berserah diri secara total menuruti keinginan hawa nafsunya tersebut, sehingga pada saat yang sama orang tersebut telah berlaku menuhankan hawa nafsunya melalui keinginan-keinginannya tersebut walaupun harus mendustakan / membohongi dirinya sendiri maupun rakyatnya. Pada saat yang sama, orang tersebut telah membuat tandingan-tandingan kepada ALLAH SUBHANAHU WATA’ALA, sebagaimana disebut QS 2 : 165.

Al-Baqarah : 165

وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَتَّخِذُ مِنْ دُونِ اللَّهِ أَنْدَادًا يُحِبُّونَهُمْ كَحُبِّ اللَّهِ ۖ وَالَّذِينَ آمَنُوا أَشَدُّ حُبًّا لِلَّهِ ۗ وَلَوْ يَرَى الَّذِينَ ظَلَمُوا إِذْ يَرَوْنَ الْعَذَابَ أَنَّ الْقُوَّةَ لِلَّهِ جَمِيعًا وَأَنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعَذَابِ

Dan di antara manusia ada orang yang menyembah tuhan selain ALLAH sebagai TANDINGAN yang mereka cintai seperti mencintai Allah. Adapun orang-orang yang beriman sangat besar cintanya kepada Allah. Sekiranya orang-orang yang berbuat zalim itu melihat, ketika mereka melihat azab (pada hari Kiamat), bahwa kekuatan itu semuanya milik Allah dan bahwa Allah sangat berat azab-Nya (niscaya mereka menyesal).

Selanjutnya mesti disimak lebih jauh, karena orang-orang yang telah musyrik tersebut dapat dipastikan sebagai pendusta atau munafik dan berbahanya karena mereka itu sebagai pembesar/pejabat tinggi negara yang dengan kata lain memiliki kewenangan /otoritas yang besar, mampu membuat UU, bahkan ucapannya bisa menjadi hukum yang harus ditaati oleh rakyatnya. Dapat dibayangkan kebijakan-kebijakan yang diambil di dalam kepemimpinannya itu dapatlah dipastikan kebijakan yang kafir, zalim, fasik, tidak mau tunduk kepada apa yang Allah telah amanahkan kepada mereka, karena mereka diberi kewenangnanya oleh Allah, bahkan mereka sendiri (kalau di Indonesia) diatur dalam Pasal 9 UUD 1945 yaitu menyatakan sumpah janji setianya dengan mengatasnamakan “Demi Allah akan menjalankann pemerintahannya dan peraturan perundang-undangannya dengan sebaik-baiknya dan selurus-lurusnya demi  kesejahteraan nusa dan bangsa.

Akan tetapi, karena pada dasarnya orang tersebut adalah pendusta maka dengans angat mudah melalui kewenangnanya tersebut dia menyesatkan rakyatnya, bahkan dengan terang-terangan meminta kepada rakyatnya untuk memisahkan nilai-nilai beragama dengan nilai-nilai berpolitik. Yang sudah pasti hal itu disadarinya, dimengertinya, ditaatinya, doktrin yang sesungguhnya dari ajaran komunis, yang memang pada dasarnya ideologi komunis tersebut anti kepada agama. Semenetara yang lainnya, seperti negara AS dan negara-negara di Eropa pada umumnya menyesatkan rakyat dengan ideologi liberalis-kapitalis.

Untuk menggambarkan perilaku mereka, pembesar termasuk ulama dan pendetanya, digambarkan dengann jelas oleh ALLAH SUBHANAHU WATA’ALA dalam QS 14 : 30 JO QS 45: 23 dan 24 JO QS 5 : 62, 63. Menurut hemat BES, dalam kesempatan ini yang perlu ditampilkan QS Al Maidah : 62 dan 63, karena QS Ibrahim: 30 dan QS Az Zatsiyah : 23 dan 24 sudah pernah ditampilkan pada kajian sebelumnya (silakan untuk membaca dan mendalaminya sendiri). Adapun QS Al Maidah: 62 dan 63 menggambarkan sebagai berikut,

Al-Mā'idah : 62

وَتَرَىٰ كَثِيرًا مِنْهُمْ يُسَارِعُونَ فِي الْإِثْمِ وَالْعُدْوَانِ وَأَكْلِهِمُ السُّحْتَ ۚ لَبِئْسَ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ

Dan kamu akan melihat banyak di antara mereka (orang Yahudi) berlomba dalam berbuat dosa, permusuhan, dan memakan yang haram. Sungguh, sangat buruk apa yang mereka perbuat.


Al-Mā'idah : 63

لَوْلَا يَنْهَاهُمُ الرَّبَّانِيُّونَ وَالْأَحْبَارُ عَنْ قَوْلِهِمُ الْإِثْمَ وَأَكْلِهِمُ السُّحْتَ ۚ لَبِئْسَ مَا كَانُوا يَصْنَعُونَ

Mengapa para ulama dan para pendeta mereka tidak melarang mereka mengucapkan perkataan bohong dan memakan yang haram? Sungguh, sangat buruk apa yang mereka perbuat.

Bahwa sesungguhnya perilaku pembesar-pembesar yang jahat dan ulama atau pendeta yang jahat tersebut sesungguhnya telah bertuhan secara subjektif, yaitu berpihak kepada keinginan-keinginan hawa nafsunya semata. Hal tersebut, sangat terlarang dalam ilmu tauhdi pada ajaran Islam karena bagi kaum berimana harus menempatkan Tuhan itu secara objektif, yaitu Tuhan yang tidak berpihak kepada apa dan siapapun karena Dia adalah menyandang gelar Maha Kuasa, Maha Tahu, Maha Melihat, Maha Mendengar, dan bahkan Maha Mengetahui dan menentukan segala urusan, termasuk relung hati kita yang paling dalam, yaitu bernama Tuhan ALLAH SUBHANAHU WATA’ALA. Dengan kata lain, tidak ada Tuhan yang pantas disebut Tuhan secara objektif kecuali ALLAH SUBHANAHU WATA’ALA (QS 2 : 115, 142, 177 JO QS 4: 126 JO QS 57: 3 JO QS 6 : 59, 73 JO QS 9 : 94, 105 JO QS 13 : 9 JO QS 32 : 6 JO QS 34: 48 JO QS 35: 38 JO QS 39: 46 JO QS 49 : 18; QS 59 : 22 JO QS 62 : 8 JO QS 64 : 18 JO QS 72: 26 JO QS 74: 31 JO QS 87 : 7 JO QS 3 : 64, 151, 191 JO QS 4 : 171, 103  JO QS  10 : 12 JO QS 25 : 64 JO QS 11 : 7 JO QS 16:8 JO QS 4: 40 JO QS 17 : 71 JO QS 21 : 47 JO QS : 22 : 10 JO QS 26 : 209 JO QS 40 : 31 JO QS 41 : 46 JO QS 50: 29 JO QS 64 : 11 JO QS 3: 6 JO QS 20 : 14 JO 112: 1-4 JO QS 113 : 1-5 JO QS 114: 1-6.

Dalam kesempatan ini tidak bermaksud menggurui apalagi mendikte, sudi kiranya dikaji secara serius sebagainmana tadarusan di bulan Ramadan ini, ayat-ayat Quran tersebut, karena ayat-yata Quran tersebut menginformasikan kepda mereka yang berimana untuk lebih mengenal jati diri ALLAH SUBHANAHU WATA’ALA. Sehingga kelak di akhirat nanti, ketika ditanya Man Rabbuka, kita dapat menjawab secara intelektual ilmiah, siapa dan bagaimana ALLAH SUBHANAHU WATA’ALA tersebut.

Ketidakmauan atau malas dalam mengkaji ayat-ayat tersebut dapat dipastikan orang-orang yang mengaku beriman itu sesungguhnya bukanlah orang beriman. Mereka telah disesatkan oleh keinginan-keinginannya sendiri dan juga pengaruh dari pembesar-pembesar yang jahat dan ulama/pendeta yang jahat pula, sehingga rakyatnya jauh dari nilai-nilai agama, khsuusnya agama Islam yang harusnya menjadi beban Presiden dan Wakil Presiden sesuai janjinya demi Allah untuk menjalankan peraturan perundang-undangan dengan sebaik-baiknya dan selurus-lurusnya, maka kewajibannya adalah mencerdaskan kehdiupan bangsa, mensejahterakan seluruh rakyat Indonesia, dan menjaga tumpah darah seluruh rakyatnya yang berada di manapun.

Pengingkaran terhadap situasional ini dapat dipastikan, inilah sesungguhnya pemimpin/pembesar/pejabat tinggi negara yang pendusta sekaligus dapat dipastikan mereka kaum munafikun (orang-orang yang munafik).

Bahwa selanjutnya konsekuensi logis dari penyimpoangan kewenangan tersebut dalam ajaran Islam sangat berkosekuensi serius karena akhir dari kehidupan para pembesar/pemimpin/ulama/pendeta dan tokoh-tokoh yang berpengaruh setidaknya di lingkungannya sendiri, tetapi berperilaku sesat menjauhkan diri, keluarga, dan rakyatnya jauh pula tidak menyembah Allah dan tidak pula mengikuti sunah Rasulullah Muhammad SAW maka konsekuensi logisnya adalah mereka menempati satu tempat yang seburuk-buruknya yaitu neraka jahanam (QS 2 : 24, 215, 161, 166, 201 JO QS 3 : 10 dan 12 JO QS) Konsekuensi logis lainnya, karena mereka berstatus kaum munafikun dan kaum kafirun, maka mereka harus diperlakukan untuk diperangi, yaitu QS 66 : 9  JO QS 9 : 14, 73.

At-Tahrim : 9

يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ جَاهِدِ الْكُفَّارَ وَالْمُنَافِقِينَ وَاغْلُظْ عَلَيْهِمْ ۚ وَمَأْوَاهُمْ جَهَنَّمُ ۖ وَبِئْسَ الْمَصِيرُ

Wahai Nabi! Perangilah orang-orang kafir dan orang-orang munafik dan bersikap keras lah terhadap mereka. Tempat mereka adalah Neraka Jahanam dan itulah seburuk-buruk tempat kembali.

Ketiga ayat tersebut justru tidak berjalan atau tidak ditegakkan oleh para ulama dan tokoh-tokoh partai politik yang mengaku b erdasarkan Islam untuk benar-benar melakukan setidaknya bersikap keras terhadap mereka itu. Dengan kata lain, harusnya berani melawan menentang kebijakan-kebijakan yang bertentangan dengan syarita Islam, seperti yang baru-baru ini terjadi yaitu kebijakan PSBB (Pembatasan Sosial Berskala Besar) yang tidak proporsional menyasar kepada pembatasan untuk tidak ke masjid atau musola dimana bertentangan diametral dengan perintah Allah QS Al Baqarah : 114, 125, 126, 130 JO QS 9 : 18 JO QS 62 : 9 .

Dari ayat-ayat tersebut dapat dimengerti, bahwa masjid itu tempat berkumpul, tempat sholat, tempat iktikaf, tempat thawaf jika di masjidil Haram Mekah, dan garansi dari ALLAH SUBHANAHU WATA’ALA tempat yang aman, sekali lagi aman. Bahkan ketika hari Jumat, untuk meninggalkan segala macam jual beli, bisnis yang berskala trilyunan pun harus ditinggalkan untuk taat kepada perintah Allah untuk sholat Jumat ke masjid. Namun anehnya, ada sekaliber ulama berani untuk menghimbau, juga dari pemerintahnya untuk tidak ke masjid. Jika demikian, itu namanya penentangan syariat berskala besar, bukan PSBB yang dimaksud.

Jika takut dengan virus Corona, teknis menatasinya sudah diajarkan oleh Nabi Muhammad SAW melalui kebersihan diri dan lingkungannya, dan seringkali harus cuci tangan melalui wudlu, dan bahkan disunahkan mandi, berpakain bagus untuk ke masjid. Bahkan sekarang ditambah dengan masker, atau dengan penambahan desinfektan. Lalu mengapa harus dilarang ke masjid ? Bahkan di beberapa tempat, dilaporkan bahwa di daerahnya masjid dilarang, bahkan turun TNI-POLRI untuk mengusir orang yang sedang sholah (seperti di kalimantan Utara).

Hal ini tidak patut untuk didiamkan, apalagi kita mengerti patut diduga , Covid 19 ini suatu rekayasa bukan virus asli atau alami, tapi virus buatan, sebagaimana dikatakan Prof. Ohara penerima Nobel. Dia bersedia gelar Nobelnya itu dicabut sekalipun dia telah meninggal, jika keliru pengamatannya terhadap Covid 19 ini.

Sisi lain ketidakkonsistenannya, karena di tempat lain justru banyak berkumpul orang-orang yang tidak dalam keadaan berwudlu itu diperbolehkan, seperti terminal, stasion,  bandara, atau pasar yang masih orang lalu lalang. Namun,  mengapa masjid yang sudah Allah garansi aman untuk sholat malah diusir. Inilah kezaliman yang nyata.

Bahwa konsekuensi logis berikutnya, mereka pembesar, pejabat tinggi negara, ulama, pendeta yang melakukan PENENTANGAN  SYARIAT BERSKALA BESAR  ( PSBB ) ini jika mereka meninggal atau wafat, meskipun KTP nya beragama Islam maka ALLAH melarang keras bagi kita kaum beriman untuk mendoakannya. Bahkan ALLAH menekankan, walaupun Engkau Muhammad memohonkan amapunan mereka 70 kali lipat, ALLAH tidak akan memberikan ampunan kepada mereka, karena mereka inkar, kafir sesungguhnya kepada ALLAH dan Rasul-NYA. dan ALLAH  tidak memberikan petunjuk kepada orang-orang yang fasik (QS At taubah: 80).

Bahkan ALLAH melarang keras pula kepada Muhammad SAW untuk mensholatkan mereka itu yang mati di antara mereka itu, orang kafir dan munafik. Lebih jauh lagi ALLAH menekankan jangan sampai kita berdiri atau mendoakan di atas kuburnya. Sesungguhnya mereka itu telah melakukan penentangan syariat berskala besar dan mereka mati dalam keadaan fasik (QS At Taubah [9] : 84).

Bahwa selanjutnya bagi orang-orang yang beriman dan melakukan banyak kebaikannya, ALLAH menempatkan mereka di surganya. (QS 2 : 25 JO QS 3 : 15, 136, 181, 195, 198 QS JO 55 :56, 72, 73, 74 JO QS 56: 22.

Selanjutnya, konsekuensi logis dari orang-orang yang beriman tersebut mendapatkan surganya adalah kehendak ALLAH karena dalam perjalanan hidup di dunianya, mereka di samping berbuat baik dengan segala amal salehnya mereka juga adalah orang-orang yang memiliki kewenangan atau otoritasnya dengan secara bertanggung jawab. (QS 22 : 41, yaitu “Orang-orang yang jika kami berikan kedudukan di bumi, mereka melaksanakan salat, menunaikan zakat, dan menyuruh berbuat yang makruf dan mencegah dari yang munkar dan kepada ALLAH lah kembali segala urusan”

Dengan kata lain, jika orang-orang beriman itu mendapatkan posisi strategsi sebagai Presiden, Wakil Presiden, para menteri, MPR RI, DPR RI, DPD RI, gubernur, bupati, walikota sampai camat, lurah, RW, RT sesuai kewenangan amanat yang dipikulnya, tetapi mereka benar-benar bertanggung jawab, maka dapat dipastikan mereka layak di surganya sebagaimana ayat-ayat di atas yang telah disebutkan, karena  mereka sesungguhnya melakukan “PSBB juga yaitu Pelaksana Syariat Berskala Besar” melalui kebijakan-kebijakannya yang berdimensi amar makruf nahyi munkar. Artinya, memerintahkan kepada kebaikan dan menentang kepada kemungkaran, sehingga terciptalah Indonesia Bertaqwa.  

Bahwa untuk dimengerti, dihayati, dan diamalkan ayat-ayat Al Quran yang telah disebutkan, diperlukan cara berpikir OST JUBEDIL sebagaimana telah menjadi BES Theory yang selalu menjadi dasar dari setiap kajian keislaman yang BES lakukan.

Oleh karena itu, BES menghimbau sudi kiranya para pembesar yang jahat, ulama, pendeta yang terkategori jahat tersebut segera bertaubat kepada ALLAH yang juga inheren kepada dirinya, sebagai rasa tanggung jawabnya kepada pribadinya, bangsa dan negara, serta hari akhirat nanti,
maka sebelum itu terjadi, kiranya dapat melakuakan upgrading birokrat dari mulai Presiden sampai tingkat RT-RW untuk mendalami Al Quran, Sholat 3 dimensi, serta Infak yang berdampak besar utnuk kesejahteraan RI, sebagai QS Fatir : 29 yang telah dibahas pada kajian Kewajiban dan Hak. (SB)

Salam Ta’ziem,

BES = Bang Eggi Sudjana.
Komentar Anda

Terkini: