Eggi Sudjana : Mukjizat dan Bersyukur

/ April 19, 2020 / 1:46 PM
Bagikan:
Dr. H. Eggi Sudjana, SH., M.Si

JIHAD = KAJIAN AHAD (19 April 2020)

Oleh : Dr. H. Eggi Sudjana, SH., M.Si


"MUKJIZAT dan BERSYUKUR"

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَٰنِ الرَّحِيمِ

Sehubungan dengan adanya sambutan, masukan dan pertanyaan yang masuk pada Kajian sebelumnya, maka kajian kali ini BES akan menjawab sekaligus mengkajinya, Minggu (19/04/2020)

Maidi Linggau; "Terimakasih Bang Eggi sudah meringkas kan ilmu-ilmu yang berserakan dan telah menjadi berurutan"

Jawaban BES pada Adinda Maidi yang kini menjadi salah satu Camat di daerah Lubuk Linggau, karena dia merespon postingan KAJIAN ISLAM SABTU kemarin yang membicarakan mengenai Sabar. Kini dalam JIHAD = KAJIAN ISLAM AHAD, BES berupaya menjelaskan mengenai Mukzizat dan Rasa Syukur kepada ALLAH SUBHANNAHU WA TA ALA  dan kepada Nabi MUHAMMAD SAW yang telah berperan menjadi "THE WALKING QURAN" Quran yang berjalan, hingga masuk Akal Sehat bila kita selalu ucapkan Salawat pada Beliau"
ALLOOHUMMA SHOLLI ‘ALAA MUHAMMAD, WA’ALAA AALI MUHAMMAD, KAMAA SHOLLAITA ‘ALAA IBROOHIIMA WA’ALAA AALI IBROOHIIMA WABAARIK ‘ALAA MUHAMMAD WA’ALAA AALI MUHAMMAD KAMAA BAAROKTA ‘ALAA IBROOHIIMA WA’ALAA AALI IBROOHIIMA FIL’AALAMIINA INNAKA HAMIIDUN MAJIID

Jawaban BES kepada adinda Maidi di Lubuk Linggau Sum Sel :

Itulah pekerjaan atau tugas pokok orang-orang  intelektual yang berfikir  ilmiah, yaitu mampu menyederhanakan yang RUMIT untuk MUDAH dipahami dan dilaksanakan dengan TAAT/TAQWA.

Jika itu yang dibahas berupa fisik maka dengan Ilmu eksakta dan teknologi semua yang Rumit tadi bisa jadi mudah, karena fungsionalisasi dari Orang-orang INTELEKTUAL tersebut, sayangnya Negeri kita RI TIDAK DIPIMPIN dengan cara berfikir intelektual Ilmiah untuk menuju  KEJALAN  TAQWA pada ALLAH SUBHANNAHU WA TA’ALA, yang ukuranya TIDAK BERLAKU SYARIAT ISLAM,  sehingga PRESIDEN, WAPRES, PARA MENTERI nya, MPR-RI, DPR-RI , DPD RI, MUI dan lembaga-lembaga perguruan tingginya CENDERUNG orientasinya Duniawi semata, seluruh UNIVERSITAS yang ada TIDAK MENGHASILKAN FATWA dan Kajian pengembangan ilmu dan teknologi yang kondusif untuk kita umat/rakyat indonesia menjadi TAQWA pada ALLAH SWT hingga dapat RIDHA NYA.

ADAKAH ???
Coba Dinda hayati dengan kecerdasannya Logika Al-Qur’an melalui cara OST-JUBEDIL (Obyektif, Sistematis, Toleran-Jujur, Benar, Adil), Surat Al Anfal ( 8 ) ayat 20 s.d. 25 ) JO QS. At Taubah ( 9 ) Ayat 73 s.d. 95 JO QS  Al Isra ( 17 ) Ayat 87,88,89, 94 s.d. 103 JO QS. Asy Syura ( 42 ) Ayat 16 s.d. 30, JO QS. 43 : 30 sd 56 ).

Bahwa dengan membaca dan menghayati serta memahami rangkuman ayat-ayat Quran tersebut maka dapat disimpulkan Al Quran itu  petunjuk yang merupakan mukzijat dari ALLAH, bagi orang-orang yang diberi HIDAYAH oleh NYA melalui cara berfikir OST-JUBEDIL yang BES Gagas menjadi suatu Teori menjadikan PERSEPSI, KESADARAN dan PENTAATAN.

Orang-Orang beriman sungguh-sungguh mencintai ALLAH SWT dan RASUL MUHAMMAD SAW menegakkan Syariat Islam dan mendakwahkannya serta berjihad untuk itu, maka Orang-orang itu sesungguhnya mendapatkan MUKZIJAT langsung dari ALLAH SUBHANNAHU WA TA’ALA. Itulah KARUNIA BESAR yang diberikan NYA kepada orang-orang yang beriman hingga detik ini.
Secara SUBTANSIAL persis seperti yang ALLAH SWT berikan pada Rasul NYA  MUHAMMAD SAW, bedanya di TEKNIS nya.

Jika pada Nabi MUHAMMAD mulai dari jauh sebelum Rasulullah lahir sudah ALLAH PERSIAPKAN yang dimulai sejarahnya bahwa Nabi MUHAMMAD keturunan langsung dari Cucu -Cicit-cicit nya Nabi Ibrahim AS yang keturnannya dari Anaknya Nabi Ibrahim yaitu Nabi Ismail, sedangkan Nabi ISA keturunannya dari Nabi Ishak Anaknya Nabi Ibrahim juga, dimana Nabi Ismail dan Nabi Ishak kakak - beradik tapi lain Ibunya. Kakaknya di sini, Nabi Ismail kurang lebih jarak umurnya dengan Nabi Ishak 13 tahun. Jadi, Nabi MUHAMMAD KAKAK SEPUPUAN dari Nabi ISA walaupun lahirnya kurang lebih 600 tahun setelah lahirnya Nabi ISA.

Bahwa Nabi MUHAMMAD SAW, sejak kecil sudah di kondisikannya oleh ALLAH SWT, seperti di CUCI BERSIH HATInya beliau oleh Malaikat Jibril, selain itu tidak ada pengaruh daya didik dari orang tuanya, Pamannya dan keluarganya karena ayah beliau Sudah Wafat sebelum Nabi MUHAMMAD LAHIR juga sistem pendidikan kala itu yang jahiliyah dan peradaban yang tidak beradab atau tidak ada Akhlaqul karimahnya karena belum ada yang di jadikan contoh teladannya saat itu.

Setelah tugas kenabiannya dijalankan hingga  selesai, maka DIAM, BICARA, dan TINDAK TANDUK nya Nabi MUHAMMAD SAW yang terkodifikasi dalam kurang  lebih 300 Ribu Hadist Sahih yang dijadikan referensi / teladannya hingga detik ini, tentu posisi hukumnya dibawah Al Quran, kiranya pantaslah atau logislah Nabi MUHAMMAD SAW yang KITA JUNJUNG TINGGI dan KITA MULIAKAN menjadi contoh teladan hidup orang-orang yang beriman dan mencintainya pasti tunduk patuh, takut sekaligus bangga jadi FOLOWERnya ( QS. 3 ayat 31, QS. 33 : 21 dan 56 ).

Bahwa pada Akhirnya bagi orang-orang yang sungguh beriman pada ALLAH dan RASUL NYA dalam kondisi objektif, sistematis dan tolerannya itu dapatlah dikatakan Mereka  Orang-orang yang dapat HIDAYAH berupa karunia besar yaitu PAHAM BENAR terhadap ESSENSI AJARAN ISLAM. Itulah Mukzijat dari ALLAH SWT yang dapat dirasakan, dialami, dan diikuti oleh kita semua. Itu pulalah yang BES pahami ketika RASULULLAH kagum dan haru pada kita yang benar-benar beriman dan jadi Followernya sambil menyebut "IKHWANI-IKHWANI" sehingga ditanya oleh para sahabat siapa yg dimaksud Ikhwani itu ya Rasullah ??? apakah itu kami sahabat mu ???

Rasulullah menjawab Ikhwani itu bukanlah Kalian karena Kalian  adalah Sahabat-saudaraku, Ikhwani yang kumaksudkan adalah Orang-orang kemudian yang JAUH JARAKNYA SEPENINGGALAN ku tapi mereka beriman, mencintai dan mengikuti Sunnah ku.

Oleh karena itu, tanpa bermaksud harus “GR” atau mengklaim kitalah sesungguhnya yang dimaksud Rasulullah MUHAMMAD SAW, tapi ingat kitanya itu BUKANLAH orang yang Kafir, Zhalim, Fasik, Musyrik,Munafik dan Murtad, namun yang dimaksud  "KITA” di sini adalah Orang-orang yang Beriman, Ikhlas, Istiqomah, Mujahid,Taqwa, Sabar dalam setidaknya sepuluh macam yang sudah di jelaskan oleh BES sebelumnya.

Oleh karena itu, sebagai akhlaq kita kepada ALLAH SUBHANNAHU WA TA ALA,  kita panjatkan PUJI-SYUKUR karena diberikannya kita petunjuk berupa karunia besar yaitu PEMAHAMAN nya Kita itu JUJUR,BENAR dan ADIL berdasar Al Quran ( QS. 9 ayatnya 7 s.d. 10 , JO QS. 42 ayatnya 16 s.d. 22 , JO . QS. 8 ayatnya 9 s.d. 16 ) pada Agama-NYA bukan hasil ikut-ikutan saja tapi memahami Agama Islam sebagai Ajaran dari  ALLAH SUBHANNAHU WA TA ALA dengan SERIUS MENGKAJI nya sebagaimana perintah NYA  dalam surat ke 17 ayat 36,
juga melalui proses mengikuti Sunnah Rasullah Nabi MUHAMMAD SAW serta berjihad memperjuangkan Agama Islam yang sempurna itu ( QS.Surat ke 3 : 31,110,142,146; QS. 9 : 23,24,105,111; QS. 5 : 3, 8 , 51,52,53,54, 72,73,116,117; QS. ke 4 : 135 ).

Mereka itulah yang akan mendapatkan mukzijat ALLAH SWT sebagaimana yang telah dijelaskan sebelumnya. Oleh karena itu, bagi "Kita" yang masuk katagori tersebut sudikiranya kita sujud syukur untuk mensyukurinya.

Jadi, syukur itu adalah suatu tindakkan RASA TERIMA KASIH yang di dasari PERSEPSI, KESADARAN, dan PENTAATANnya pada ALLAH SWT dan MENGIKUTI SUNNAH NABI MUHAMMAD SAW dalam mengakui dan menerima Karunia besar berupa pemahaman yang benar sehingga iman dan taqwanya diterima oleh ALLAH SUBHANNA WA TA ALA, hingga pantas dan logislah kita masuk Surga NYA ( Q.S. Surat At-Taubah ( 9) Ayatnya 20 sd 22 ), karena RAHMAT NYA berupa karunia besar tersebut.

Bahwa selanjutnya Siapa yang BERSYUKUR PADA ALLAH, MAKA AKAN DITAMBAH KENIKMATANNYA DALAM HIDUP INI TAPI JIKA KITA MENGINGKARI NIKMAT NYA ITU MAKA PASTI AZAB KU SANGAT BERAT ( Q.S. 14 : 7 ).

Salam Ta'ziem ,

BES = Bang Eggi Sudjana
Komentar Anda

Terkini: