Eggi Sudjana : Mengindentifikasi Istilah Kafir, Dzalim, Fasiq, Munafiq dan Murtad

/ April 12, 2020 / 5:05 AM
Bagikan:
Dr. H. Eggi Sudjana, SH., M.Si

BES – JIHAD
Kajian Islam Ahad – 12 April 2020

"Mengindentifikasi Istilah Kafir, Dzalim, Fasiq, Munafiq dan Murtad"

Oleh : DR. H. Eggi Sudjana, SH., M.Si

Bahwa, tetap berdasarkan BES Theory: OST JUBEDIL dalam kajian Islam Ahad ini merupakan lanjutan dari Kajian Islam Sabtu (JITU) 11 April 2020 lalu. Lanjutan sekaligus jadi judul dalam kajian kali ini ialah "Mengidentifikasi istilah Kafir, dzalim, fasiq, munafiq, dan murtad”.

Bahwa dalam dunia ilmiah di samping penjelasan satu teorinya yang juga memiliki peranan penting atau yang menjadi masalah utama adalah istilah-istilah di dalam kajian ilmiah tersebut. Oleh karena itu, dalam mengidentifikasi sebagaimana yang disebutkan dalam judul ini mengenai orang-orang Kafir, Dzalim, Fasiq, Munafiq dan Murtad tentu tidaklah dierkenankan secara objektif memakai penjelasan yang bersifat subjektif.

Akan tetapi, untuk menjelaskan istilah tersebut apalagi untuk mengidentifikasikannya harus berdasar pada yang membuat istilah itu sendiri yakni Allah Subhanahuwata’ala, sehingga tidak ada intervensi pendapat dari madzhab atau ulama manapun yang mendefinisikan berdasarkan pendapatnya semata bukan melihat kepada ketentuan atau batasan yang telah dijelaskan secara terang benderang oleh Allah Subhanahuwata’ala dalam Al Quran yang Allah ajarkan melalui Jibril kepada Nabi Muhammad Saw sebagaimana yang diterangkan dalam QS 42 : 52 yang artinya :

"51)Dan tidak mungkin bagi seorang manusiapun bahwa Allah berkata-kata dengan dia kecuali dengan perantaraan wahyu atau dibelakang tabir atau dengan mengutus seorang utusan (malaikat) lalu diwahyukan kepadanya dengan seizin-Nya apa yang Dia kehendaki. Sesungguhnya Dia Maha Tinggi lagi Maha Bijaksana".

"52)Dan demikianlah Kami wahyukan kepadamu wahyu (Al Quran) dengan perintah Kami. Sebelumnya kamu tidaklah mengetahui apakah Al Kitab (Al Quran) dan tidak pula mengetahui apakah iman itu, tetapi Kami menjadikan Al Quran itu cahaya, yang Kami tunjuki dengan dia siapa yang kami kehendaki di antara hamba-hamba Kami. Dan sesungguhnya kamu benar-benar memberi petunjuk kepada jalan yang lurus".

Dan juga QS 13 : 38 yang artinya :

”Dan sesungguhnya Kami telah mengutus beberapa Rasul sebelum kamu dan Kami memberikan kepada mereka isteri-isteri dan keturunan. Dan tidak ada hak bagi seorang Rasul mendatangkan sesuatu ayat (mukjizat) melainkan dengan izin Allah. Bagi tiap-tiap masa ada Kitab (yang tertentu).”

Bahwa, Istilah kafir itu secara umum masyarakat sudah mengerti yaitu orang-orang yang beragama selain Islam atau sering disebut pula non-Musliim dan karena itu pula lah istilah non-muslim menjadi himbauan untuk menggantikan istilah kafir. Dalam kurun waktu seputar awal tahun 2019, BES diundang oleh PTIQ (Perguruan Tinggi Ilmu Quran) di Lebak Bulus Jakarta Selatan untuk membicarakan pergantian istilah tersebut.

Di samping BES, terdapat 3 orang lainnya sebagai narasumber, satu salah seorang dekan dari PTIQ itu sendiri, kedua, dari kalangan ahli yang mewakili para kyiai dan atau ulama, yang ketiga adalah seorang jubir dari salah satu lembaga negara yang memegang peranan penting di Republik Indonesia. Dalam paparan dari ke-3 orang tersebut sebagai narasumber, menurut penilaian BES, mereka satu pandangan yaitu menerima himbauan istilah kafir diganti dengan non-Muslim. Alasannya beragam, tetapi satu tujuan untuk mengganti istilah kafir itu dengan istilah non-Muslim, dalam pemaparannya itu kegiatan seminar tersebut dihadiri oleh banyak mahasiswa dan dilihat dari penanya dalam sesi tanya-jawab terlihat bahwa audience pun terlihat sepaham dengan ke-3 narasumber tersebut.

Adapun pendapat BES dalam istilah kafir tidak tepat bahkan tidak boleh diganti dengan istilah Non-Muslim. Alasannya sebagai berikut :

1. Otoritas siapa istilah kafir tersebut diganti menjadi non-Muslim? Bukankah istilah kafir itu berasal dari ALLAH Subhanahuwata’ala yang tertera dalam Al Quran?

2. Bagaimana logika / akal sehat mengganti istilah kafir yang sudah ada baku di ayat al Quran tersebut, diganti dengan istilah yang tidak memiliki dasarnya?

Oleh karena itu pertanyaan lebih jauhnya BES sampaikan dalam diskusi panel tersebut dengan suatu perumpamaan mengenai "ukuran peci" hitam atau putih untuk orang-orang Muslim atau kaum Muslimin, yaitu apabila ukuran pecinya tersebut kebesaran dan atau kekecilan, apakah kepala orang itu yang dikecilkan karena peci kebesaran atau pecinya yang dikecilkan(disesuaikan ukurannya)?

Pertanyaan ini untuk membantu logika Al Quran yang perlu dipahami yakni apakah zaman yang harus mengikuti ketentuan Al Quran atau AL Quran yang harus mengikuti perubahan zaman?

3. Apakah bila BES tidak setuju dengan pergantian istilah kafir menjadi non-Muslim tersebut membuat BES menjadi intoleran? atau tidak peduli secara intelektual?

Bahwa 3 pertanyaan tersebut secara OST-JUBEDIL tidak ada yang bisa menjaawab kala itu, karena bagaimanapun juga bila ada yang menjawab pasti bertentangan dengan iman dan akal sehat yang telah diatur jelas dalam Al Quran setidaknya dalam QS Al Kaafirun, bila memang istilah kafir dapat diganti dengan istilah non-Muslim, apakah ayat Quran surat Al Kafirun dapat diganti menjadi ‘Qul yaa ayyuhal non-Muslim?"

Bahwa, perlu disampaikan mengenai logika/akal sehat itu merupakan cara berpikir yang OST-JUBEDIL yang fokusnya adalah pada kata berpikir. Oleh karena itu perlu kita pahami apa yang dimaksud dengan berpikir, karena berpikir sering sekali didengar bahkan sudah ladzim dalam perbincangan sehari-hari. Dalam hal ini BES mencoba untuk berpikir, memikirkan definisi berpikir. Berpikir adalah kemampuan untuk menyamakan yang sama dan membedakan yang beda.

Itulah mengapa dalam Islam amal dan dosa seseorang mulai ditimbang Ketika aqil baligh karena orang yang sudah aqil baligh sudah dapat berpikir, atau sudah dapat menyamakan yang sama dan dapat membedakan yang beda. Jika ada kaum intelektual / terpelajar / orang-orang yang memiliki logika dan akal sehat maka terlihat, terdengar dan diketahui menurut pikirannya untuk menyamakan yang sama dan membedakan yang beda. Apabila kaum terpelajar tadi tidak mampu membedakan yang beda dan tidak mampu menyamakan yang sama, maka kaum terpelajar/intelektual tersebut adalah kaum yang tidak berpikir, atau istilah yang sering kita dengar adalah ”oon”.

Jadi, untuk lebih mendalami bukti kita pernah berpikir yaitu melalui 3 contoh sebagai berikut:
1. Agama, sering kita dengar pembicaraan mengenai agama untuk tidak dibeda-bedakan, dengan dalih semua agama sama, setidaknya sama-sama baiknya. Bagi kaum yang o'on, argumentasi tersebut pasti dibenarkannya, kenapa? karena mereka tidak berpikir.

Sebaliknya, jika orang-orang yang mengaku sebagai kaum intelektual karena mereka memiliki gelar baik itu sarjana, master, maupun doctoral, professor, dll, juga dari segi pangkat ada jenderal, dari segi jabatan ada presiden, Menteri, gubernur, walikota dsb didapat dalam pandangannya menyatakan semua agama itu sama maka dapat dipastikan orang-orang tersebut tidaklah berpikir.

Jika benar berpikir, maka tidak akan sama semua agama itu, jika semua agama itu sama maka untuk apa beragama? bukankah semuanya sama? dan kita pun bisa pindah seenaknya ke agama lain sehingga tidak jelas identitasnya. lebih jauh lagi jika semua agama sama, sama baiknya, berarti logika berikutnya tidak ada yang salah dari agama itu karena semua agama benar.

Dengan mengatakan semua agama benar, bagaimana ukuran untuk mengatakan agama yang salah? lebih dalam lagi, apabila semua agama sama, sama-sama benar, maka semua masuk surga, maka bagaimana dengan neraka?

2. Bahwa kita pernah mengalami atau setidaknya mendengar dan melihat adanya program KB (Keluarga Berencana) pada masa order baru dengan slogan iklannya -"Llaki dan wanita sama saja". Bagi kaum intelektual atau terpelajar, atau bagi yang berpikir tentu slogan tersebut tidaklah benar, karena substansi lelaki dan wanita pasti berbeda. Sebab, jika lelaki dan wanita sama saja, maka istilah wanita dan lelaki itu sendiri menjadi tidak ada karena sama saja, apa bedanya? turunan logika berikutnya lahirlah logika sesat dalam berbagai bentuk, misal dalam konteks orientasi seksual seperti lesbian dan gay.

3. Bahwa, kecantikan atau ketampanan jelas relatif. Maknanya, dapat disebut cantik atau tampan itu karena ada bandingannya, yaitu jelek atau tidak elok. Jika istilah cantik disamakan maka kecantikan itu sendiri menjadi tidak ada, pun demikian dengan tampan menjadi tidak ada pula. Oleh karen itu, kecantikan maupun ketampanan adalah relatif dan subjektif sehingga bertentangan dengan BES Theory : OST-JUBEDIL

Bahwa, dengan 3 contoh tersebut hendaklah berpikir, karena semua yang ALLAH Subhanahuwata’ala ciptakann di bumi ini tidak sia-sia dan memiliki nilai serat manfaatnya yang berbeda-beda(QS Ali Imran(3) : 189-191 ), satu hal lagi, ALLAH Subhanahuwata’ala memberikan contoh melalui perumpamaan nyamuk dalam QS Al Baqarah(2) : 26. Untuk lebih jelasnya, berikut adalah kutipan dari kedua ayat tersebut :

QS Ali Imran(3) : 189-191 :
"Kepunyaan Allah-lah kerajaan langit dan bumi, dan Allah Maha Perkasa atas segala sesuatu".

QS Al Baqarah(2) : 26 :
”Sesungguhnya Allah tiada segan membuat perumpamaan berupa nyamuk atau yang lebih rendah dari itu. Adapun orang-orang yang beriman, maka mereka yakin bahwa perumpamaan itu benar dari Tuhan mereka, tetapi mereka yang kafir mengatakan: "Apakah maksud Allah menjadikan ini untuk perumpamaan?". Dengan perumpamaan itu banyak orang yang disesatkan Allah, dan dengan perumpamaan itu (pula) banyak orang yang diberi-Nya petunjuk. Dan tidak ada yang disesatkan Allah kecuali orang-orang yang fasik".

Bahwa, dalam QS Ali Imran(3) :189-191 dan Al Baqarah(2) : 26 tersebut telah amat sangat sudah bukan lagi tafsir apalagi dugaan untuk menjelaskan berbagai perumpamaan agar supaya kita berpikir.
Bahwa, Fakta lah yang berbicara melalui wahyu ALLAH yaitu :

1. Bagaimana orang-orang yang beriman dan memiliki logika / akal sehat yang kemudian berpikir, maka akan menerima dan mengakui perumpamaan-perumpamaan dari ALLAH Subhanahuwata’ala, karena mereka mengetahui dengan berpikir hal itu merupakan kebenaran yang datangnya dari ALLAH Subhanahuwata’ala.

2. Bagi orang-orang kafir justru mempertanyakan apa maksud ALLAH dengan membuat perumpamaan ini? Hal ini menunjukkan orang-orang kafir itu tidak berpikir, melainkan berprasangka. Bahwa, definisi orang kafir menurut perspektif Al Quran dimaknai menjadi orang-orang yang MENENTANG  ALLAH Subhanahuwata’ala (against) (QS Al Maidah(5) : 44). Perlu penegasan dalam hal orang kafir atau orang-orang yang menentang ALLAH dan Rasulnya Muhammad Saw dapat dipastikan orang kafir itu adalah orang-orang yang tidak berpikir alias "Oon" Mereka dapat menjadi Kafir bisa dikarenakan kebodohannya atau karena kesombongannya.

Makna dari kesombongan menurut keterangan hadits ialah ; menolak kebenaran dan merendahkan orang lain. Kesombongan yang dibangun dengan 2 unsur dalam hadits tersebut menunjukkan bahwa orang-orang yang sombong memiliki akal sehat yang disfungsional. Oleh karena itu istilah kafir tidak tepat bila diganti dengan istilah non-Muslim.

3. Berdasarkan QS Al Baqarah(2) : ayat 26 tersebut, menjadikan orang-orang kafir itu turunannya menjadi orang-orang fasiq. Orang-orang fasiq ialah orang-orang yang sudah mengetahui keburukan suatu hal, tapi orang tersebut tetap ikut/melaksanakan hal yang buruk tersebut. Contoh konkret orang FASIQ ialah orang-orang yang merokok mereka sudah mengetahui dampak buruk dari merokok namun tetap saja mereka merokok.

Sedihnya, yang termasuk kategori orang munafiq itu juga banyak diisi oleh ulama, aktivis, kyai, pejabat, mahasiswa, dan lain-lain yang terus merokok walaupun sudah mengetahui betapa buruk dan berbahayanya MEROKOK itu.

Identifikasi orang-orang yang Dzalim
Dalam QS Al Maidah(5) : 45 disebutkan istilah dzalim dikarenakan tidak mau memutuskan suatu perkara menurut apa yang ALLAH Subhanahuwata’ala turunkan, dengan kata lain tidak meu menggunakan syariat Islam. Jadi, orang-orang yang dzalim itu adalah orang-orang yang tidak adil, karena tidak mau atau tidak mengerti bagaiaman cara menempatkan sesuatu pada tempatnya.

Orang-orang yang dzalim juga merupakan orang-orang yang tidak tau balas budi. Intinya, orang-orang yang DZALIM sesungguhnya merupakan istilah dari turunannya orang-orang yang kafir dan fasiq. Ada banyak sekali contoh konkret dalam masalah kehidupan Kita sehari hari , maka berpikirlah! dan jangan ”o'on”.
Selanjutnya untuk pembahasan orang-orang MUNAFIQ dan orang-orang yang MURTAD akan dibahas  besok dalam JININ 13 April 2020 esok, In shaa ALLAH.

Salam Ta'ziem,

BES, Eggi Sudjana
Komentar Anda

Terkini: