Eggi Sudjana : Penjelasan Tentang Musyrik, Munafiq dan Murtad

/ April 13, 2020 / 7:48 AM
Bagikan:
Dr. Eggi Sudjana, SH.,M.Si (Foto : Suara.com)

BES – JININ
(Kajian Islam Senin – 13 April 2020)

Oleh : DR. Eggi Sudjana, SH., M.Si

"Identifikasi Orang-Orang Musyrik, Munafiq, dan Murtad"

Bahwa, dalam JININ kali ini ada penambahan istilah yang belum dibahas pada kajian Islam Ahad kemarin, yakni Musyrik. Adapun penjelasan mengenai Musyrik harus sangat hati-hati dikarenakan ada musyrik yang sifatnya terang-terangan maupun yang tersembunyi. Musyrik secara terang-terangan adalah mempersekutukan ALLAH SWT dengan terang benderang, dalam arti dapat diidentifikasikan kemusyrikannya secara kasat mata antara lain sebagaimana yang diterangkan oleh ALLAH Swt dalam QS 45 : 23-24 yang artinya :

"23) Maka pernahkah kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya dan Allah membiarkannya berdasarkan ilmu-Nya dan Allah telah mengunci mati pendengaran dan hatinya dan meletakkan tutupan atas penglihatannya? Maka siapakah yang akan memberinya petunjuk sesudah Allah (membiarkannya sesat). Maka mengapa kamu tidak mengambil pelajaran? 24) Dan mereka berkata: "Kehidupan ini tidak lain hanyalah kehidupan di dunia saja, kita mati dan kita hidup dan tidak ada yang akan membinasakan kita selain masa, dan mereka sekali-kali tidak mempunyai pengetahuan tentang itu, mereka tidak lain hanyalah menduga-duga saja.”

Berdasarkan kedua ayat diatas dapat diidentifikasikan kemusyrikan secarang terang benderang dalam bentuk kajiannya secara ideologis. Mengenai QS 45:23 tersebut, dapat dikenali atau disebut dengan liberalis-kapitalisme.

Penjelasannya, diawali dari asal filosofis yang bersifat individualisme, kemudian individualisme dalam praktek politik menjadi liberal sementara dalam praktik ekonomi dalam kapitalisme. Namun, akar atau basis filosofisnya sama yaitu aliran individualisme. Dalam pengertian individualisme itu mendasarinya kepada kepentingan-kepentingan individualnya tersebut yang lebih kepada egosentris yang kemudian berkecenderungan berprilaku selfish atau egois.

Sifat egois ini dapat dikenali berdasarkan QS 45:23 yaitu dari pemahaman menjadikan hawa nafsu sebagai tuhan. Dapat dimaknai hawa nafsu yang dijadikan tuhan ialah menempatkan sifat egoistis nya atau kepentingan pribadinya menjadi hal yang lebih diutamakan tanpa memikirkan atau sedikit memikirkan dataran sosialisme. Sehingga hawa nafsu yang berkecenderungan kepada perbuatan negative dan tercela lainnya akan sangat mendominasi dalam menjadi pola pikir, pola tindak-tanduk, dan kebijakan-kebijakan yang diambil manakala seseorang menjadi menjabat suatu jabatan strategis dalam posisi strategis apapun.

Penjelasan lebih jauh, inti dari kemusyrikan ini bersifat sangat jelas yaitu menandingi atau mencintai dan menempatkan rasa takut atau tunduk patuhnya kepada selain ALLAH SWT. Hal ini dijelaskan dalam QS Al Baqarah(2) : 165 yang berarti :

"Dan di antara manusia ada orang-orang yang menyembah tandingan-tandingan selain Allah; mereka mencintainya sebagaimana mereka mencintai Allah. Adapun orangorang yang beriman amat sangat besar cintanya kepada Allah”

Untuk lebih memahami, perhatikan beberapa contoh sebagai berikut:
1. Secara jelas dapat dilihat Ketika waktu sholat subuh. Dalam faktanya lebih banyak orang yang memilih tidur, atau memilih kepentingan nafsunya untuk tetap di rumah dan tidak sholat. Bahkan ada pepatah perjalanan terjauh adalah ke masjid, bahkan lebih jauh dari ke luar negeri.

2. Dalam hal 2 sejoli jatuh cinta. Fakta seringkali membuktikan bahwa pasangan satu sama lainnya jauh lebih dicintai lebih dari cintanya kepada ALLAH SWT. Bahkan pada banyak kasus banyak yang memutuskan untuk bunuh diri hanya karena pasangannya.

3. Dalam hal kebijakan para pemegang jabatan strategis, baik pimpinan perusahaan maupun negara yang diukur dari kebijakan yang diambil melalui membandingkan, mencintai, menakuti, dan ketundukpatuhannya kepada selain ALLAH SWT. Seperti misalnya kebijakan PHK bagi pekerja atau karyawan atau buruhnya yang amat sangat dzalim karena tidak memperhatikan rasa kemanusiaan sebagaimana yang diatur dalam Pancasila sila ke-2. Hal ini juga bahkan diatur dalam Al Quran Surat An Nahl(16) : 79

"Dan Allah membuat (pula) perumpamaan: dua orang lelaki yang seorang bisu, tidak dapat berbuat sesuatupun dan dia menjadi beban atas penanggungnya, ke mana saja dia disuruh oleh penanggungnya itu, dia tidak dapat mendatangkan suatu kebajikanpun. Samakah orang itu dengan orang yang menyuruh berbuat keadilan, dan dia berada pula di atas jalan yang lurus?”

Selain itu, secara konkret dapat dilihat kebijakan politik atau pemerintahan yang amat jelas menipu rakyat dengan berbagai tipuannya. Ada begitu banyak contoh apabila disebutkan satu persatu. Jelasnya, begitulah gambaran pemimpin yang hanya mengutamakan egonya (selfish) sehingga mengorbankan nasib rakyat yang ditipunya. Hal ini dijelaskan oleh ALLAH SWT dalam QS 6:123

”Dan demikianlah Kami adakan pada tiap-tiap negeri penjahat-penjahat yang terbesar agar mereka melakukan tipu daya dalam negeri itu. Dan mereka tidak memperdayakan melainkan dirinya sendiri, sedang mereka tidak menyadarinya.”

Sementara itu, QS 45:24 menerangkan pemahamannya dalam konteks ideologi ialah mengenai paham komunisme.

Sebagaimana yang kita ketahui, akar filosofis dari komunisme berbasis materialisme kemudian menjadi ideologi sosialisme karena berbasis commun atau kebersamaan orang banyak yang kemdian menjadi komunisme. Basis materialisme mempercayai adanya proses waktu, tidak percaya adanya tuhan melainkan lebih mempercayai masa atau waktu seperti yang dijelaskan dalam QS 45:24. Untuk lebih memahami maksud dari memppercayai proses waktu ketimbang adanya tuhan (ALLAH), dapat diberikan contoh antara lain proses suatu makanan yang menjadi busuk atau basi akan dianggap oleh seorang yang materialis atau komunis hanyalah karena proses waktu. Pun demikian mati nya manusia hanya karena proses waktu, bukan diatur oleh Tuhan.

Padahal, konsep tentang waktu adalah eksistensi dari ALLAH itu sendiri, sebagai bukti bahwa ALLAH bersumpah demi masa(QS 103 : 1-3). ALLAH adalah tuhan yang menentukan segala perkara, sebagaimana yang dijelaskan dalam QS Ali Imran(3) : 26-27 sebagai berikut:

26) Katakanlah: "Wahai Tuhan Yang mempunyai kerajaan, Engkau berikan kerajaan kepada orang yang Engkau kehendaki dan Engkau cabut kerajaan dari orang yang Engkau kehendaki. Engkau muliakan orang yang Engkau kehendaki dan Engkau hinakan orang yang Engkau kehendaki. Di tangan Engkaulah segala kebajikan. Sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu. 27) Engkau masukkan malam ke dalam siang dan Engkau masukkan siang ke dalam malam. Engkau keluarkan yang hidup dari yang mati, dan Engkau keluarkan yang mati dari yang hidup. Dan Engkau beri rezeki siapa yang Engkau kehendaki tanpa hisab (batas)".

Bahwa, pemahaman mengenai penjelasan kemusyrikan yang tersembunyiyaitu dapat dijelaskan sebagai berikut:
1. Riya’. Hal ini dijelaskan dalam QS Al Maun : 4-6 yang artinya :
“Maka kecelakaanlah bagi orang-orang yang shalat, yaitu orang-orang yang lalai dari shalatnya, yang berbuat karena riya”
2. Sum’ah. Hal ini dijelaskan dalam QS Al Baqarah (2) : 264 yang artinya:
"Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu menghilangkan (pahala) sedekahmu dengan menyebut-nyebutnya dan menyakiti (perasaan si penerima), seperti orang yang menafkahkan hartanya karena riya’ kepada manusia.” (Q. S. Al-Baqarah : 264)

3. 'Ujub. Ujub dalam islam diartikan sebagai perilaku atau sifat mengagumi diri sendiri dan senantiasa membanggakan dirinya sendiri. Sifat ini bertentangan dengan ajaran Islam sebagaimana yang dijelaskan dalam QS Ali Imran (3) : 109
"Kepunyaan Allah-lah segala yang ada di langit dan di bumi; dan kepada Allahlah dikembalikan segala urusan.”

4. Takabbur. Takabbur atau sombong merupakan sifat dari Syaitan dan kekafiran sebagaimana yang Allah terangkan dalam QS Shaad(38) : 73-74 yang artinya :
"Lalu seluruh malaikat-malaikat itu bersujud semuanya, kecuali Iblis; dia menyombongkan diri dan adalah dia termasuk orang-orang yang kafir”

Penjelasan mengenai Munafik

Isitilah Munafik sudah sangat populer di kalangan Muslimin. Dalam Al Quran orang-orang munafik disebutkan secara khusus dalam bentuk surat yakni surat ke 63 Al Munafiqun yang terdiri atas 11 ayat.

Berdasarkan surat ke 63 ayat 1 nya, mengatakan orang-orang munafiq itu adalah pendusta/pembohong. Di ayat ke-2 nya orang-orang munafiq itu menggampangkan sumpah dan menjadikannya sebagai perisai, perisai yang dimaksud disini adalah orang-orang munafiq itu bersumpah agar dilindungi baik dirinya maupun harta bendanya untuk tidak diambil menjadi ghanimah (harta rampasan perang). Sedangkan di ayat 4 nya, penampilan (performance) dari orang-orang munafik itu pada umumnya sangat mengagumkan. Jika berkata-kata, mereka seperti kayu yang tersandar yaitu untuk menjelaskan sifat mereka yang jelek meskipun tubuh mereka memiliki performance yang bagus dan cara bicara yang menarik bahkan mendatangkan rasa senang bagi yang mendengarkannya.

Tetapi sebenarnya otak mereka kosong alias "oon” daam arti tidak dapat memahami kebenaran dan keadilan juga pasti mereka adalah orang-orang yang tidak jujur. Di ayat 5 nya, orang-orang munafik memiliki sifat sombong, sama dengan orang-orang musyrik tersembunyi yang telah BES jelaskan sebelumnya.

Hal yang sama juga diterangkan di ayat 6 nya. Kemudian orang Munafiq juga tidak suka bersedekah (baca : pelit) seperti yang dijelaskan dalam ayat 7 nya. Kemudian, orang munafik juga selalu mendukung kekuasaan yang kuat dan berkuasa mesikpun dzalim (lihat ayat 8 nya JO QS 5:51-52). Bahkan, di akhirat pun orang munafik itu meski menyatakan menyesak dan meminta kpd ALLAH untu dikembalikan ke dunia agar bisa bersedekah (lihat ayat 10 nya). Selanjutnya performance orang munafik diformulasikan dalam hadits yang populer yang mengatakan, ada 3 ciri orang munafik; jika berbicara ia berbohong, jika berjanji ia inkar, jika bersumpah ia khianat.

Dalam keterangan lainnya, orang munafik itu, memiliki kesukaan untuk berdebat dan tidak mau mengalah dalam perdebatannya tersebut walaupun argumentasinya tidak dapat dipertanggung jawabkan secara intelektual ilmiah alias intoleran.

Penjelasan Mengenai Orang-Orang yang Murtad

Menyebut kata murtad di kalangan umum dan masyarakat biasanya dipahami sebagai orang-orang yang keluar dari agama Islam atau sudah berpindah agama.

Sehingga setelah murtad mereka akan masuk kategori kafir dengan segala turunannya sebagaimana yang telah dijelaskan sebelumnya. Bahwa, berdasarkan QS 5:54 yang menyatakan sebagai berikut :
"Hai orang-orang yang beriman, barangsiapa di antara kamu yang murtad dari agamanya, maka kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum yang Allah mencintai mereka dan merekapun mencintai-Nya, yang bersikap lemah lembut terhadap orang yang mukmin, yang bersikap keras terhadap orang-orang kafir, yang berjihad dijalan Allah, dan yang tidak takut kepada celaan orang yang suka mencela. Itulah karunia Allah, diberikan-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya, dan Allah Maha Luas (pemberian-Nya), lagi Maha Mengetahui".

Berdasarkan pemahaman dari ayat AL Quran tersebut dan dilihat secara BES Theory OST-Jubedil, maka, orang-orang murtad itu tidak harus dinyatakan telah keluar dari agama Islam atau tidak harus dinyakan telah pindah agamanya kepada selain Islam. Akan tetapi kemurtadan orang tersebut dapat dijelaskan dengan kajiannya secara terbalik yaitu:
1. Orang-orang yang tidak mencintai ALLAH sehingga ALLAH pun tidak mencintainya

2. Orang-orang yang tidak berlaku lemah lembut terhada sesama muslim atau orang beriman bahkan seringkali faktanya kita melihat baik di media sosial maupun pers ada seseorang muslim yang bahkan menggunakan sorban tapi memaki sesama Muslim demi membela tuannya yang dzalim, sebagaimana yang diterangkan tentang dzalim

3. Orang-orang Murtad itu justru berkasih sayang dengan orang-orang kafir,dzalim, fasiq musyrik, dan munafiq. Dengan kata lain, tidak mampu / tidak mau bersikap keras, tegas terhadap orang-orang kafir dst tersebut.

4. Tidak mau berjihad di Jalan Allah, bahkan justru orang-orang yang murtad berjihad di jalan Thaghut, artinya membantu bahkan Bersatu padu menjadi suatu koalisi untuk tolong menolong diantara mereka dan sesungguhnya mereka itu sama dengan orang-orang kafir tersebut, sebagaimana yang diterangkan dalam QS Al Maidah (5) : 51-52 karena di hatinya ada penyakit, yaitu penyakit orang-orang munafiq. Lebih spesifik lagi Allah Swt menerangkan dalam QS 7 :176 bahwa orang-orang murtad disamakan dengan anjing yang mampu menggigit atau setidaknya menggonggong (mengganggu) kaum muslimin dengan berbagai cara mereka untuk memerangi orang-orang beriman, kaum muslimin dan Muslimat.

5. Orang murtad tersebut amatr sangat takut dicela, atau istilah hari ini “dibully” melalui berbagai media baik online seperti WhatsApp, Instagram, facebook, twitter dsb, maupun secara langsung. Kemudian yang dipentingkan bagi orang murtad adalah pencitraan, nama baik, dan pujian-pujian yang diharapkannya.

Berbeda jauh dengan secara terbalik kaum muslimin atau yang beriman kepada Allah yaitu tidak takut dicela dan atau tidak takut “dibully” dengan stigma sesat lainnya seperti radikal, ekstremis, intoleran, bahkan spesifik di Indonesia sering disebutkan dengan stigma “anti-Pancasila”.

Bahwa, kita semua menjadi saksi dengan melihat, mendengar dan mengetahui siapa-siapa yang masuk kategori murtad tersebut. Juga intrsopeksi untuk diri kita masing-masing, apakah kita sesungguhnya telah murtad walaupun secara administrasi masih ber KTP Islam dan secara status sosial masih dikenal sebagai orang Islam, namun jangan-jangan kita termasuk murtad seperti yang dijelaskan diatas.

Bahwa, percayalah untuk saudara-saudaraku yang terkategori telah murtad secara substansi nya maka BES menyarankan untuk segera _taubatan nasuha_ yang proses taubat nya tersebut menurut QS Al An’am(6) : 54 JO An Nisa(4) : 17-19 harus dilakukan melalui 5 tahap :

1. Sadari dulu bahwa kejahatan yang dilakukannya.
2. Kejahatan yang dilakukan tersebut, karena dilakukan dengan adanya unsur ketidaktahuan/kebodohannya atau dengan kata lain tidak mengerti kejahatan yang dilakukannya
3. Menyatakan menyesal dengan taubatnya
4. Memperbaiki diri, mengganti kejahatan yang telah dilakukannya denga berbagai amal saleh atau kebaikan-keaikan lainnya
5. In shaa Allah taubatnya tersebut akan diterima oleh Allah, karena Allah maha pengampun lagi Maha Penyayang

Oleh karena itu, masih ada waktu atau kesempatan untuk bertaubat bagi kita semua yang telah merasakan bahwa sesungguhnya diri kita telah murtad. Tetapi taubatnya tersebut mestilah memenuhi ke-5 syarat diatas.

Selanjutnya, perlu diketahui bagi yang belum mengetahui – bagi yang sudah tau alhamdulillah – bahwa ada jenis taubat yang tidak diterima oleh Allah, yakni ada dua ciri :

1. kejahatan yang dilakukannya telah dimengertinya tetapi sengaja melakukan kejahatan tersebut
2. melalaikan waktu berlalu begitu saja hingga menjelang ajalnya baru menyatakan taubatnya. Hal ini jelas sangat tidak diterima oleh Allah SWT.

Bahwa, penjelasan tentang kedua ciri tersebut diterangkan dalam QS At Taubah(9) : 83-93 JO QS An Nisa(4) 16-18 JO QS At Taubah(9) : 95, 96, 98. Sungguh sudikiranya perhatikanlah tiap-tiap ayat Al Quran yang BES sampaikan ini amat menentukan nasib kita hari ini dan kedepannya bahkan di akhirat nanti agar Allah menerima taubat kita. Aamin ya rabbal ‘alamiin.

Bagi saudara saudariku yang memiliki request atau permintaan untuk membahas suatu topik tertentu, dapat disampaikan, Kajian selanjutnya pada hari selasa (JISEL) in shaa Allah akan disampaikan.

Salam Takziem,

BES = Bang Eggi Sudjana.
Komentar Anda

Terkini: