Hijrah Dalam Pandangan Eggi Sudjana Diabad Modern

/ April 20, 2020 / 6:41 PM
Bagikan:
Eggi Sudjana

JIHAD = Kajian Islam Ahad (20 April 2020)

Oleh : Dr. H. Eggi Sudjana, SH., M.S.i

"Hijrah Dalam Pandangan Eggi Sudjana"

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَٰنِ الرَّحِيمِ

Bahwa setelah Kajian Islam Ahad (Jihad) kemarin yang membahas mengenai MUKZIJAT dan BERSYUKUR kepada Allah SWT, maka kali ini lanjutannya berdasarkan logika Al Quran berikutnya adalah membahas mengenai HIJRAH.

Hijrah sebagaimana disampaikan dalam Al Quran Surah Al Baqarah 218
إِنَّ الَّذِينَ آمَنُوا وَالَّذِينَ هَاجَرُوا وَجَاهَدُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ أُولَٰئِكَ يَرْجُونَ رَحْمَتَ اللَّهِ ۚ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ

Sesungguhnya orang-orang yang beriman, dan orang-orang yang berhijrah, dan berjihad di jalan ALLAH, mereka itulah yang mengharapkan rahmat ALLAH . ALLAH Maha Pengampun, Maha Penyayang.

Bahwa dalam pemahamnnya, inti dari apa yang disampaikan ( Q.S . Al Baqarah 218, yaitu setelah kita beriman kepada ALLAH SUBHANNAHU , maka perlu melakukan tindakan yang konkret yaitu berupa HIJRAH . Setelah hijrah ALLAH menghendakinya kita berjihad fii sabilillah (berjuang di jalan Allah). Kiranya dalam kesempatan ini, yang perlu dibahas adalah mengenai Hijrah . Jadi, dalam kajian sekarang fokus kepada masalah Hijrah.


Hijrah adalah berpindahnya tempat dari satu tempat kepada tempat yang lain. Sebagaiman zaman Rasulullah berpindah tempat dari Mekah ke Madinah yang kurang lebih berjarak 600 km yang bila ditempuh dengan menaiki Unta bisa 1 bulan perjalanan. Namun kini, bagi mereka yang pernah umrah atau haji bisa ditempuh 4 jam sampai dengan 5 jam perjalanan.

Bahwa untuk kajian Hijrah saat ini, BES maksudkan adalah membahas Hijrah dalam pengertian Perpindahan Nilai, seperti perpindahan nilai dari suasana gelap kepada terang benderang; atau dari kekafiran kepada keimanan; atau dari Ketidakjujuran kepada Kejujuran; atau Ketidakbenaran menjadi Benar; atau dari Ketidakadilan menjadi adil. Perpindahan nilai ini mestilah didasari oleh pendekatan logika Al Quran. TANPA logika Al Quran tidak bisa diterangkan bagaimana perpindahan nilainya atau HIJRAH NILAI nya ???

Oleh karena itu, logika Quran yang BES maksud adalah mencermati satu surat dan ayatnya yang ada dihubungkan (Juncto / Jo) kepada Surat dan ayat Quran yang lain secara apa yang terkandung di dalamnya, tentu cara berfikirnya  objektif , sistematis, serta toleran dapat saling meneguhkan konsistensi penjelesannya, sehingga menurut BES ini BUKANLAH PENAFSIRAN  AL QUR'AN tetapi merupakan petunjuk, penjelasan, dan informasi yang menerangkan sesuatu tersebut, dengan demikian, tidak ada keinginan dan pemikiran BES yang mencoba menafsirkannya, dari satu surat dan ayat tetentu kepada satu surat dan ayat tertentu lainnya. Posisi BES hanya MEMFORMULASIKAN antara surat dan ayat yang satu dengan surat dan ayat yang lain dari Al Quran tersebut.

Selanjutnya sebagai orang-orang yang beriman, dengan kata lain orang-orang yang mempercayai bahkan mengagumi Al Quran sebagai wahyu dari ALLAH SUBHANNAHU WA TA ALA , yang tentunya sudah tidak ada keraguan dalam dirinya untuk benar-benar menjadikan Al Quran sebagai pedoman dan referensi yang utama dalam menjalankan kehidupannya ini, sebagaimana QS Al Baqarah ayat 4.
وَالَّذِينَ يُؤْمِنُونَ بِمَا أُنْزِلَ إِلَيْكَ وَمَا أُنْزِلَ مِنْ قَبْلِكَ وَبِالْآخِرَةِ هُمْ يُوقِنُونَ

dan mereka yang beriman kepada (Al-Qur'an) yang diturunkan kepadamu (Muhammad) dan (kitab-kitab) yang telah diturunkan sebelum engkau, dan mereka yakin akan adanya akhirat.

Bahwa, bagi orang-orang yang beriman sudah tidak ada keraguannya lagi terhadap nilai-nilai Al Quran. Logika terbaliknya, jika ada orang beriman tapi masih ragu terhadap ayat-ayat Al Quran sudah dapat dipastikan orang itu sesungguhnya bukanlah orang-oang yang beriman. Karena sesungguhnya mereka itu adalah PENIPU, maksudnya ALLAH SUBHANNAHU WA TA ALA yang ABSOLUTE, DISTHINC, & UNIQUE (tidak bisa berubah wujud, berbeda sendiri, dan tidak ada yang menyamai bentuknya)  DITIPUNYA.

Padahal orang itu tidak menyadari , bahwa tidak mungkin ALLAH itu dapat ditipu. Mereka ini oleh ALLAH disebut sebagai orang-orang yang berdusta dan tentu akan mendapat azab yang berat dari ALLAH SUBHANNAHU WA TA ALA . (QS Al Baqarah [2] : 6,7,8, 9, dan 10) .

Bahwa logika Al Quran yang kiranya patut disampaikan dalam kesempatan ini yaitu antara Q.S. An Nahl (16) dengan Q.S. As Sajadah (32). JO QS Al Hajj JO Al Isra [17] JO QS Al A’raf [7] JO QS Al Maidah [5] JO Q.S . Al Baqarah [2] JO QS Az Zatsiyah [45] JO An Nisa [4] JO QS Al An’am [6] JO QS Al Anfal [8] JO QS. Surat ke 66 At Tahrim.

Berdasarkan kajian secara OST-JUBEDIL dapatlah diformulasikan dari kaitan surat dan ayat tersebut dengan surat dan ayat lainnya menjadi satu konklusi pemahaman yang utuh dan tidak meragukan karena sumbernya Al Quran itu sendiri, dimana kita menyadari dan tahu persis bahwa Al Quran adalah wahyu dari ALLAH yang diturunkan kepada Nabi MUHAMMAD SAW. melalui malaikat Jibril. (QS 2 :  97,98, dan 99 JO QS 66 : 4).

QS. Al-Baqarah: 97

قُلْ مَنْ كَانَ عَدُوًّا لِجِبْرِيلَ فَإِنَّهُ نَزَّلَهُ عَلَىٰ قَلْبِكَ بِإِذْنِ اللَّهِ مُصَدِّقًا لِمَا بَيْنَ يَدَيْهِ وَهُدًى وَبُشْرَىٰ لِلْمُؤْمِنِينَ

Katakanlah (Muhammad), "Barang siapa menjadi musuh Jibril maka (ketahuilah) bahwa dialah yang telah menurunkan (Al-Qur'an) ke dalam hatimu dengan izin ALLAH , membenarkan apa (kitab-kitab) yang terdahulu, dan menjadi petunjuk serta berita gembira bagi orang-orang beriman.

Bahwa ketidak percayaan mereka pada umumnya kepada Al Quran dikarenakan kebodohan dan kesombongannya. Kebodohan yang dimaksud, tidak mengerti FUNGSI Al Quran yaitu sebagai petunjuk, pernyataan yang ALLAH  inginkan, dan sebagai nilai kebenaran yang wajib diikutinya juga sebagai penjelasan yang mencerahkan bahkan sebagai PEMBEDA / FURQON, maka konsekuensi logis dari orang tersebut benar-benar telah berfikir, bahwa  TIDAK ADA yang BERHAK dan PANTAS disebut Tuhan selain ALLAH, sebagaimana yang telah diterangkan tentang konsep Tuhan yang bersifat Absolut, distinct, dan Unik.  (QS 32 : 2,3,4,5,6,7,8,9 JO QS 57: 3 dan 4 , JO QS 6 : 59)

Pertanyaanya, mengapa orang-orang tersebut masih saja mengingkari kebenaran eksistensi ALLAH yang absolut, distinct & unik tersebut, kiranya dapat dijawab di hati mereka ada penyakit, bisa berupa iri hati dan kedengkian bahkan sifat-sifat munafik, sebagaimana QS 2 : 7 dan 10, JO QS 5 : 51 dan 52.

Adapun mengenai KESOMBONGAN nya merupakan satu bentuk konkret dari jati dirinya sebagai orang-orang yang kafir sebagaimana ALLAH terangkan dalam QS 2 : 13 dan kemudian orang-orang kafir tersebut logika turuan berikutnya secara tinjauan Al Quran menjadi orang-orang yang zalim, fasik, musyrik, munafik, dan murtad. (QS 2 : 13,14, dan 16 JO QS 5 : 44, 45, dan 47 JO QS 45 : 23, 24 JO QS 5 : 54).
Bahwa ada hal yang menarik untuk dicermati dalam kajian Hijrah ini, yaitu statement dari ALLAH SUBHANNAHU WA TA ALA  QS 2 : 16 , bahwa orang-orang kafir dengan segala turunannya tersebut itulah orang-orang yang membeli kesesatan dengan petunjuk. Maka, perdagangan mereka tidak beruntung dan mereka tidak mendapat petunjuk.

Menariknya dalam tinjauan BES adalah di dataran fakta, bahwa orang-orang kafir dengan segala turunannya tersebut justru perdaganganMereka nya banyak yang untung, Pertanyaan seriusnya, apakah statement ALLAH menjadi  KELIRU di dalam pemahaman kita,maka untuk itulah kiranya sangat diperlukan pembahasan secara Ost-Jubedil dengan pendekatan logika Al Quran.

Bahwa kesuksesan mereka adalah justru cara ALLAH untuk memperolok-olok mereka dan membiarkan mereka terombang-ambing dalam kesesatan bahkan ketika mereka MELUPAKAN PERINGATAN  dari ALLAH dan HATI MEREKA JADI KERAS , disitulah Setan masuk menggoda dengan pandangan yang indah walaupun sebenarnya tidak benar dan sesat  (QS . 6 : 43,44 JO 2 : 15 JO QS 5 : 41, 49, 50,75, 77 JO QS 22 : 52 JO QS 7 : 175-176)

Selanjutnya Allah SWT menerangkan bahwa hal-hal yang berkaitan dengan kekafiran mereka tapi mereka merasa terlihat secara fakta banyak menguntungkan dari segi materialistiknya, namun sesungguhnya mereka itu tidak memiliki pegangan hidup atau dengan kata lain nilai-nilai yang berkaitan dengan ideologis dan nilai-nilai yang dapat dijadikan referensi dalam menjalankan kehidiupan ini, sebagaimana Allah terangkan ( QS 2 : 102, 105, 107,109, 111, 112,  113, 114, 115, 116, 117, 118, dan 119 ).

Selanjutnya ALLAH menerangkan pula bahwa mereka itu yang didapatnya atau keuntungan secara materialistisnya di dunia ini adalah diperumpamakan oleh Allah seperti api, maksudnya orang-orang yang menyalakan API setelah menerangi sekelilingnya ALLAH melenyapkan CAHAYA yang menyinari mereka dan membiarkan mereka dalam kegelapan tidak dapat melihat.

Juga mereka dikategorikan oleh ALLAH sesungguhnya orang-orang yang tuli, bisu, dan buta sehingga mereka tidak dapat kembali atau mengerti hakikat dalam menjalani kehidupan  ini, yaitu bertakwa kepada Allah jika mau beruntung bukanlah keuntungan yang semu. Bahkan lebih jauh Allah memberi perumpamaan, orang-orang itu seperti itu orang yang ditimpa hujan lebat dari langit, yang disertai kegelapan, petir dan kilat.

Maka, dalam kondisional objektif tersebut sekiranya ALLAH kehendaki, DIA hilangkan pendengaran (tuli), penglihatan (buta), dan tidak bicara yang sebenarnya (bisu). Hal itu semuanya mudah bagi ALLAH dan seketika bisa terjadi sebagaimana yang kita alami saat ini adanya virus Corona. (QS 2 : 17, 18, 19, 20, 21, 22, dan 165) Selanjutnya ALLAH SUBHANNAHU WA TA ALA  secara intelektual menantang mereka itu untuk membuat satu contoh surat seperti yang ada dalam Al Quran. Bahkan Allah membolehkan orang-orang tersebut mengajak penolong-penolongnya, koalisinya, dan siapapun yang mengajak mereka itu untuk membuat satu surat yang semisal dalam Al Quran. Misalnya yang pendek saja Surah Al Ikhlas [112]: 1-4. Allah menggaransi mereka itu tidak akan dapat atau dengan kata lain pasti tidak mampu untuk membuat contoh satu  surat tersebut. Bahkan, lebih yang bersifat fisik ALLAH menantang untuk membuat seekor nyamuk sebagai contoh perumpamaannya, atau yang lebih kecil daripada itu seperti virus Corona. (QS 2 : 23, 24, 25, 26, 27, 28, 29, 30 ).


Bahwa secara intelektual dengan pendekatan ilmiah berdasarkan BES teori Ost-Jubedil pembahasan perpindahan nilai / hijrah nilai adalah untuk keperluan yang sangat diperlukan untuk manusia yang berpikir dan beradab karena banyak orang yang bergelar profesor doktor, sesungguhnya mereka tidak berpikir kecuali hanya secara administrasi pernah terdaftar di salah satu kuliah tertentu atau dengan membeli ijazahnya. Karena mereka sungguh tidak memahami nilai-nilai kehidupan yang jujur benar dan adil yang harus diyakini dan dijalankannya.

Mereka memang mempunya telinga tapi tidak untuk mendengarkan, mereka mempunyai mata tapi tidak untuk melihat, mereka mempunya hati tapi tidak untuk merasakan dan menilai tentang kejujuran, kebenaran, dan keadilan yang harus dijalankannya. Sebagaimana firman Allah SWT QS Al A’raf [7]: 179


وَلَقَدْ ذَرَأْنَا لِجَهَنَّمَ كَثِيرًا مِنَ الْجِنِّ وَالْإِنْسِ ۖ لَهُمْ قُلُوبٌ لَا يَفْقَهُونَ بِهَا وَلَهُمْ أَعْيُنٌ لَا يُبْصِرُونَ بِهَا وَلَهُمْ آذَانٌ لَا يَسْمَعُونَ بِهَا ۚ أُولَٰئِكَ كَالْأَنْعَامِ بَلْ هُمْ أَضَلُّ ۚ أُولَٰئِكَ هُمُ الْغَافِلُونَ

Dan sungguh, akan Kami isi Neraka Jahanam banyak dari kalangan jin dan manusia. Mereka memiliki hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka memiliki mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengarkan (ayat-ayat Allah). Mereka seperti hewan ternak, bahkan lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lengah.

Bahwa Perlu diketahui dan disadari bersama, orang-orang kafir dan turunannya, mereka itu diibaratkan oleh Allah seperti anjing karena mereka mendustakan ayat-ayat Allah. Memang sangat buruk perumpamaan itu, tapi itulah yang pantas untuk orang-orang yang menzalimi dirinya sendiri. Oleh karena itu, siapa yang diberi petunjuk oleh Allah makalah dialah yang mendapat petunjuk atau keberuntungan, dan sebaliknya siapa yang disesatkan oleh Allah maka merekalah orang-orang yang rugi atau tidak beruntung (QS 7 : 175-178)

Bahwa selanjutnya dalam pengertian perpindahan nilai / hijrah secara nilai yaitu perpindahan dari nilai-nilai kekafiran dan sekularisme kepada nilai ajaran Islam yang komprehensif dan sempurna. Untuk keperluan itu ALLAH SUBHANNAHU WA TA ALA  mengingatkan bagi seluruh manusia untuk tidak membuat tandingan-tandingan secara nilai itu sendiri yaitu hukum-hukum ALLAH ditandingi dengan hukum-hukum yang dibuat sendiri oleh manusia, karena sesungguhnya manusia itu lemah dan tak mampu membuat satun konsep dasar hidup dalam kehdiupan totalitas alam semesta. Kalaupun ada manusia membuat tata nilai kehidupan seperti yang disebut sebagai ideologi, apakah itu liberalis-kapitalis dan ataupun sosialis-komunis juga fasis dan isme-isme lainnya yang sudah pasti menyesatkan dan tidak membawa orang-orang yang dipimpinnya ke jalan takwa. Sebaliknya, kalau tidak hijrah nilai sebagaimana BES maksudkan, maka dapat dipastikan orang tersebut masuk dalam kategori kafir dengan segala turunannya.

Adapun tandingan-tandingan nilai yang dimaksud oleh Allah SWT ada disebutkan dalam QS Aj Jatsiyah [45] : 23 dan 24 yang pada intinya dari 23-nya mengenai paham ideologi liberalis-kapitalis yang berakar dari paham indvidualisme yaitu mereka menjadikan hawa nafsunya seperti Tuhannya. Dengan kata lain, keinginan-keinginan atau syahwatnya itulah yang paling dipentingkan, digandrungi, diikuti, tunduk patuh kepada syahwat / keingingannya tersebut ( Q.S. 22 : 52 ). Hal ini dapat dimengerti adalh dalam konteks politik menganut Paham liberalisme, dalam konteks ekonomi menganut paham kapitalisme.

Adapun ayat 24-nya menggambarkan satu kondisi objektif mengenai ideologi sosialis-komunis dilihat dari sudut pandang , basis dari sosialis komunis itu adalah materailisme, yaitu paham kebendaan atau berupa materi ada dengan sendirinya tanpa perlu campur tangan tuhan atau mereka menolak eksistensi Tuhan , seperti kematian manusia itu hanya proeses melalui waktu. Semua manusia akan mati melalui proses waktu, bukan karena adanya Tuhan atau ALLAH yang kita yakini. Sehingga doktrin komunis dalam hal ini anti kepada agama atau nilai-nilai yang diajarkan kepada ALLAH . Secara politik, mereka menganut menjadi paham komunisme yang jika dipisahkan secara ekonominya menjadi menganut sosialisme yang menekankan kepada tidak adanya hak milik, tidak ada kepemilikan individual, semuanya dimiliki oleh negara, yang ada adalah sama rata sama rasa.

Bahwa secara Ost-Jubedil seharusnya seluruh Manusia khusus nya Orang Indonesia menyadari akan keadaan nyatanya yaitu kehidupan ini berlangsung sampai akhir kiamat nanti, karena adanya karunia yang besar dan rahmat dari ALLAH SUBHANNAHU WA TA ALA , sebagaimana Mukadimah aline ke-3 UUD 1945.

“Atas berkat rahmat ALLAH Yang Maha Kuasa dan dengan didorongkan oleh keinginan luhur, supaya berkehidupan kebangsaan yang bebas, maka rakyat Indonesia menyatakan dengan ini kemerdekaanya.”

Berdasarkan penjelasan secara filosofis, historis, dan sosiologis dapat dijelaskan bahwa tertulisnya nama ALLAH dalam alinea ke-3 Pembukaan UUD 1945 tersebut, merupakan perjuangan yang serius dan panjang, dari secara historisnya bangsa Indonesia yaitu sebelum adanya kemerdekaan bangsa Indonesia, nilai-nilai kehidupan yang berlaku/ berkembang terutama kaitannya dengan keyakinannya kepada yang dianggap Tuhan yaitu melalui pendekatan animisme, politeisme,q dan berakhir dengan monoteisme sebagaimana sudah dicantumkan dalam Pembukaan UUD 1945 alinea ke-3 tersebut. Adapun penjabaran secara filosofis ada HIJRAH atau perpindahan nilai dari animisme ke politeisme ke monoteisme atau nilai-nilai tauhid. Dikarenakan nilai-niali Tauhid atau yang disebut ALLAH SUBHANNAHU WA TA ALA menjadi dasar bagi NKRI dimana ditegaskan dalam sila Pertama Pancasila Ketuhanan Yang Maha Esa dan dikokohkan dalam Batang UUD 1945 Pasal 29 ayat 1 dan 2,
(1) Negara berdasar atas Ketuhanan Yang Maha Esa.
(2) Negara menjamin kemerdekaan tiap-tiap penduduk untuk memeluk agamanya masing-masing dan untuk beribadat menurut agamanya dan kepercayaannya itu.

Oleh karena itu, melalui konstruksi intelekrtual ilmiahnya hijrah nilai tersebut telah terjadi di Indonesia, yang menjadikan RI sesungguhnya adalah NEGARA TAUHID  . Dengan kata lain, RI secara sadar dan sengaja menempatkan ALLAH menjadi dasar negara RI. Konsekuensi yuridis (atau hukumnya) mestilah menempatkan atau menjadikan syariat Islam menjadi tatanan nilai yang mengatur seluruh kehidupan bangsa dan negara RI. Hal ini tidak dapat dibantah oleh siapapun dan bergelar intelektual apapun karena nilai-nilai ini sudah dinyatakan secara sah menjadi dasar hukum di RI , setidaknya mulai 18 Agustus 1945 karena itulah rumusan Pancasila sebenarnya, bukan susunan Pancasila 1 Juni 1945 yang disampaikan Soekarno. Tapi yang menjadi rujukan Pancasila sekarang ini hasil kompromi sidang konstituante tanggal 22 juni 1945 yang dikenal menjadi Piagam Jakarta, yaitu Ketuhanan dengan kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluk-pemeluknya.


Dengan jelas dari Piagam Jakarta tersebut tentulah membuat berang/sewot/ belingsatan dari orang-orang yang kafir, zalim, fasik, musyrik, munafik, dan murtad.  Mereka berupaya untuk menggaggalkannya nilai yang ada dalam Piagam Jakarta itu untuk diberlakukan. Ditentang keras nilai-nilai yang ada dalam Piagam Jakarta tersebut. Namun alhamdulillah upaya penentangan mereka itu untuk mengganti tujuh kata yang tersebut pada Piagam Jakarta itu dapat perlawanan yang serius dan cerdas oleh kemampuan berpikir secara intelektual dari tokoh-tokoh Islam yang tergabung dalam Parpol Masyumi saat itu, antara lain Ki Bagus Hadikusumo Ketua Umum Muhammadiyah dan Ketua Umum PB NU Kiayi Haji Wahid Hasyim. Adapun rumusan yang ditawarkan ini, khususnya Ki Bagus Hadikusumo, menjadikan penggantia tujuh kata Piagam Jakarta itu cukup sederhana yaitu menjadi Ketuhanan Yang Maha Esa. Dalil untuk ini yang dipakai oleh Ki Bagus adalah mereferensikan pada Q.S 112: 1-4.

 قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ

Katakanlah (Muhammad), Dialah Allah, Yang Maha Esa.

اللَّهُ الصَّمَدُ

Allah tempat meminta segala sesuatu

لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُولَدْ

(Allah) tidak beranak dan tidak pula diperanakkan.


وَلَمْ يَكُنْ لَهُ كُفُوًا أَحَدٌ

Dan tidak ada sesuatu yang setara dengan Dia.



Bahwa  secara filosofis, historis, dan sosiologis dari masyarakat yang beragama Islam seyogyanya secara intelektual hukum berlakulah hukum Islam karena Allah mempunyai hukum namanya hukum Islam atau lebih dikenal Syariat Islam. Kiranya, siapa yang berwenang memberlakukan hukum Islam. Jawabnya ada dalan Pasal 5 ayat 1 yang berbunyi sebelum diamandemen Presiden memegang kekuasaan tertinggi dalam membentuk UU dengan persetujuan DPR.

Setelah diamandemen Pasal 5 ini hanya menegaskan kewenangan Presiden dalam membuat UU atau mengajukan rancangan UU. Adapun peran DPR dipindah ke Pasal 20 dan 21 UUD 1945 yang pada prinsipnya sama dengan Pasal 5 ayat 1 sebelum amandemen.

Sebagai penegasan secara yuridis yang berwenang dan berhak mengajukan rancangan UU dan kemudian memproses membuatnya menjadi UU atau hukum yang berlaku di Indoensia adalah pada Presiden dan DPR RI. Sehingga secara Ost-Jubediln tidak dapat mengelak, siapapun Presiden itu mulai dari Sukarno sampai Jokowi hari ini , dan ribuan anggiota DPR yang silih berganti sejak Pemilu 1955 merekalah yang mestinya diminta tanggung jawab terhadap amanat yang dipikulnya untuk merancang dan membuat hukum di NKRI ini, amanat itu ada pada mereka. Seyogyanya sejak tahun 1945 hingga hari ini 2020, kurang lebih 74 tahun Indoensia merdeka, Indonesia berdaulat dalam berbangsa bernegara seharusnya konsekuensi logis yuridisnya memberlakukan syariat Islam.

Pertanyaan seriusnya, sudah 7 kali presiden dan ribuan Orang ganti anggota DPR RI dan Ketua, wakil ketuanya , kita semua menjadi saksi sampa hari ini tidak berlaku syariat Islam. Padahal peluang sejarah sudah diciptakan oleh Presiden Sukarno yaitu pernah 10 tahun Pancasila dan UUD 1945 TIDAK  berlaku, yang berlaku adalah UUD Sementara tahun 1950. Kemudian melalui kesadaran penuh dari Presiden Sukarno memberlakukan Dekrit Presiden Tanggal 5 Juli 1959 yang inti pokoknya adalah  kembali kepada UUD 1945 dengan dijiwai semangat Piagam Jakarta.


Bahwa sesungguhnya arti penting dari peluang sejarah yang dibuat oleh Presiden Soekarno adalah peluang emas untuk sesungguhnya bisa memberlakukan syariat Islam, asal dengan catatan, Presiden RI dan DPR RI nya memiliki kualitas keimanan yang prima hanya takut tunduk patuh kepada ALLAH SUBHANNAHU WA TA ALA  dan mau dengan ikhlas pula mengikuti sunah Rasul MUHAMMAD SAW tentulah lewat tangan mereka , Presiden dan DPR itu DAPAT BERLAKUKAN SYARIAT ISLAM . Namun sayangnya hingga hari ini sudah berjalan 74 tahun lebih 8 bulan ternyata belum berlaku juga syariat Islam. Mengapa , mengapa terjadi PENGHIANATAN KONTISTUSI pada hal, bukan kah  semua yang pernah jadi  Presiden RI itu agamanya Islam semua dan mayoritas Ketua , Wakil ketua MPR RI dan DPR RI nya kan Mayoritas Muslim semua ?

Demikianlah kajian Islam, Senin 20 April 2020 sebagai satu kajian yang IN SHAA ALLAH  dapat menggerakan pemikiran dan kesadaran kita taat kepada ALLAH SUBHANNAHU WA TA ALA dan mengikuti Nabi MUHAMMAD SAW.
Untuk keperluan menjawab pertanyaan  : "mengapa" tersebut perlu dikaji secara khusus lanjutan besok dari hijrah ini yaitu berjihad fii sabilillah.

Salam Ta’ziem

BES = Bang Eggi Sudjana
Komentar Anda

Terkini: