Jalih Pitoeng Berharap : Ramadhan Datang Corona Hilang

/ April 21, 2020 / 2:00 PM
Bagikan:
Bang Jalih Pitoeng (BJP) Bersama Ribuan Mahasiswa dan Buruh saat Aksi Damai di DPR MPR, 2 Oktober 2019

SUARABERKARYA.COM, TANGERANG - Hampir genap tujuh bulan ditahan akibat diduga melakukan makar dan penggagalan pelantikan presiden, aktivis yang dikenal berani dan lantang dalam menyuarakan kebenaran, keadilan dan HAM selama ini berharap dengan datangnya bulan suci Ramadhan, makhluk pembunuh massal covid-19 yang menimpa bangsa ini semoga segera menghilang, Selasa (21/04/2020)

Dirinya memiliki keyakinan yang teguh bahwa seluruh jagad raya ini ada penguasanya. Yaitu Allah SWT sebagai satu-satunya penguasa alam baik di bumi maupun dilangit. Untuk itu aktivis yang ditangkap sejak 10 Oktober oleh pihak Polda Metro Jaya ini berharap semoga Allah SWT menunjukan kebesarannya dibulan yang penuh ampunan dan berkah ini. Sosok aktivis yang tidak pernah menyerah dan tetap tegar walau dalam keadaan ditahan saat ini berharap dan berdoa agar wabah yang mendunia corona virus agar segera lenyap dari bumi pertiwi di bulan yang penuh magfiroh ini.

Saat menghubungi tim redaksi suaraberkarya.com siang tadi, dirinya mengungkapkan harapan dan do'anya agar umat manusia khususnya rakyat Indonesia diselamatkan dari wabah corona yang sudah menelan korban puluhan ribu manusia diseluruh dunia.

"Sebelumnya saya ucapkan Marhaban Ya Ramadhan. Saya berharap dan kita semua berdo'a semoga wabah corona virus covid-19 ini menghilang seiring masuknya bulan suci Ramadhan" ungkap Jalih Pitoeng, Selasa (21/04/2020)

"Corona ini kan hanya makhluq dari sekian juta makhluq ciptaan Allah yang ada dibumi. Jadi jangan karena makhluq yang tidak terlihat mata ini kita jadi terlalu takut sehingga tidak melaksanakan ibadah sebagai umat islam sebagaimana mestinya. Jadi lebih takutlah kita kepada penciptanya yaitu Allah SWT tuhan yang maha esa" sambung Jalih Pitoeng penuh harap

Masih menurut aktivis yang saat ini ditahan di Lapas Pemuda kelas 2 A kota Tangerang, bahwa menjaga kesehatan dan keselamatan diri adalah kewajiban umat manusia dengan berbagai macam cara. Tetutama menjaga kebersihan tubuh dan lingkungan. Dia yakin umat islam dapat menjaga itu semua. Terutama umat islam yang mukmin dan bertaqwa serta menjaga wudhu nya setiap hari.

Ditanya bagaimana pendapatnya tentang anjuran MUI dan Pemerintah saat ini, aktivis kelahiran betawi yang ditangkap karena dugaan akan melakukan makar dan penggagalan pelantikan presiden Oktober 2019 lalu menjawab bahwa semua kembali kepada masyarakat khususnya umat islam.

"Namun semua kita kembalikan kepada masyarakat. Karena ini soal keyakinan yang bersifat individualistis dan vertikalistis antara kita kepada Allah SWT. Khususnya umat islam yang akan menjalankan ibadah puasa dan shalat taraweh berjamaah" sambung Jalih Pitoeng

"Jadi jangan karena alasan corona lalu orang ibadah dilarang di negeri ini. Kemudian jika benar yang diberitakan bahwa virus ini adalah buatan manusia-manusia yang berniat jahat dan ingin menguasai dunia bagaimana?. Berarti kita telah terjebak dalam permainan orang-orang yang ingkar terhadap Allah SWT. Karena prinsip yang paling mendasar adalah dilakukan upaya pencegahan dan penyelamatan terhadap rakyat selaku warga negara" Jalih Pitoeng menambahkan

"Jadi upaya pencegahannya yang diutamakan. Bukan ibadahnya yang dilarang...!!!" pinta Jalih Pitoeng tegas

"Kita ambil contoh dibeberapa negara diluar sana. Sebut saja German dan Italia serta beberapa negara lainnya. Justru mereka menggaungkan suara azan. Jadi sangat ironis jika Indonesia yang sejarah menggores bahwa negara ini dimerdekakan oleh teriakan takbir dan tumpahan darah para ulama, kiayi dan santri termasuk para pahlawan yang beragama lain tentunya justru melarang umat islam melaksanakan ibadah bagi pemeluknya" kenang Jalih Pitoeng

Terkait penanganan dampak dari wabah virus corona, Jalih Pitoeng juga menyampaikan keperihatinannya yang mendalam.

"Ini adalah tanggung jawab negara melindungi dan menyelamatkan warganya. Dalam hal ini adalah pemerintah dibawah pimpinan presiden Jokowi. Tentunya presiden harus bertanggung jawab sebagai kepala negara sekaligus kepala pemerintahan terhadap rakyatnya" pinta Jalih Pitoeng

"Melalui para pembantunya dalam hal ini menteri keuangan dan kesehatan untuk menggunakan anggaran negara demi keselamatan rakyat. Namun pertanyaan yang mendasar adalah, apakah negara sudah menyiapkan dana penyelamatan tersebut?" Jalih Pitoeng balik bertanya.

"Kita tahu selama ini bahwa Indonesia dibawah kepemimpinan presiden Jokowi justru malah gemar berhutang. Bahkan Jokowi juga sebagaimana dilansir oleh banyak media bahwa pemerintah banyak menggunakan dana-dana dari pos yang tidak semestinya digunakan. Sebut saja misalnya dana Jamsostek yang semestinya dialokasikan sebagai cadangan pembiayaan kesehatan bagi clientnya dan atau masyarakat justru dialokasikan untuk menginjeksi beberapa proyek pembangunan jalan tol dan infrastruktur yang pada akhirnya saat ini tidak bisa dijadikan obat untuk menangani dampak dari wabah corona" ungkap Jalih Pitoeng penuh penyesalan

"Dan itu salah satu saja contoh tentang kegagalan Jokowi dalam mengelola negara" Imbuh aktivis yang kritis Jalih Pitoeng

Didesak pertanyaan tentang Karantina Wilayah atau PSBB yang kini populer dikenal "Lockdown" aktivis yang kritis ini juga meminta pemerintah harus bertanggung jawab.

"Lho, ini kan tanggung jawab pemerintah. Ketika Lockdown diterapkan, lalu aktivitas dihentikan serta rakyat dirumahkan, maka pemerintah atas nama undang-undang harus menjamin keberlangsungan hidup rakyatnya. Bukankah sebelum dilantik seorang presiden mengucapkan sumpah jabatan yang salah satunya bahkan yang paling utama adalah menjalankan perintah undang-undang" tegas Jalih Pitoeng mengingatkan kita

"Artinya pemerintah harus bertanggung jawab terhadap penderitaan rakyatnya dengan alasan apapun. Jika tidak, maka rakyat akan mencari jalannya sendiri demi kebutuhan perut dan keselamatan keluarganya. Ini yang sangat kita khawatirkan" pungkas Jalih Pitoeng. (SB)
Komentar Anda

Terkini: