Jalih Pitoeng Salah Satu Terdakwa Terduga Perencana Penggagalan Pelantikan Presiden, Sujud Syukur Bisa Melaksanakan Sholat Jum'at Kembali

/ April 10, 2020 / 4:20 PM
Bagikan:
Suasana Religi Para Napi

SUARABERKARYA.COM, TANGERANG - Hak-hak tahanan dan narapidana didalam Lembaga Pemasyarakatan yang diperjuangkan oleh salah satu tahanan yang saat ini didakwa dengan tuduhan makar menjelang pelantikan presiden, membuahkan hasil sebagaimana yang diharapkan para napi di Lapas Pemuda Kelas 2 A Kota Tangerang.

Jalih Pitoeng aktivis yang dikenal sangat kritis dan diisyukan akan melengserkan Jokowi menjelang pelantikan, ternyata bukan hanya lantang diluar. Tapi juga vokal didalam. Didalam penjarapun dirinya masih tetap berjuang membela hak-hak para napi.

"Alhamdulillah, saya bersyukur bisa menunaikan sholat Jum'at kembali disini setelah 3 Jum'at tidak melaksanakan Jum'atan"  kata Jalih Pitoeng saat menghubungi redaksi usai sholat Jum'at siang tadi, Jum'at (10/04/2020)

Persiapan Menjelang Sholat Jum'at

Masih menurut aktivis yang kritis juga religis ini bahwa menjalankan sholat adalah hak konstitusional warga negara yang dilindungi oleh undang-undang tanpa terkecuali narapidana.

Ditanya tentang himbauan pemerintah dan MUI, sosok yang ramah dan menghormati perbedaan pendapat orang lain ini menjawab dengan beberapa pendekatan.

"Pertama, secara struktural Lapas ini dibawah pengawasan Dirjen Kemenkumham. Tentunya harus mematuhi anjuran pemerintah secara umum. Dan kita hormati itu. Akan tetapi itu kan bersifat umum. Nah Lapas ini kan komunitasnya bersifat khusus" sambung Jalih Pitoeng

"Kita disini lingkungan yang homogen. Kita bertemu orang yang itu-itu saja. Artinya terkait kebijakan pemerintah guna pencegahan dari terjangkitnya wabah corona, disini kecil sekali kemungkinannya" jelas nya menambahkan

"Kedua, tentang Fatwa MUI. Secara keumatan himbauan MUI juga mengacu pada kebijakan pemerintah. Artinya semua kebijakan, peraturan dan perundang-undangan tentunya harus berorientasi pada kepentingan rakyat dalam mengambil haknya sebagai manusia yaitu hak dasar dalam menjalankan ibadah" tambah Jalih Menegaskan

Masih menurut Jalih Pitoeng, salah satu terdakwa yang juga bersama dirinya dalam satu perkara, H. Iriawan menyampaikan rasa syukurnya.

"Alhamdulillah, saya bersyukur kepada Allah dan berterimakasih sekaligus bangga kepada Bang Jalih Pitoeng yang sudah memperjuangkan agar kita bisa menunaikan sholat Jum'at kembali di masjid At-Taubah ini" kata H. Iriawan dengan penuh rasa syukur

Lapas Pemuda Yang Asri dan Ramah Lingkungan 

Sebelumnya Jalih Pitoeng juga menyampaikan ajakan kepada para napi didepan mimbar usai sholat Ashar untuk melaksanakan sholat Jum'at kembali setelah 3 minggu ditiadakan akibat kecemasan terhadap corona virus covid-19.

"Saudara-saudara jama'ah sahabat para napi yang sangat saya cintai, Insya Allah besok kita melaksanakan kembali sholat Jum'at disini di masjid At-Taubah ini" ajak Jalih Pitoeng dihadapan ratusan napi dari berbagai blok, Kamis (09/04/2020)

"Terkait himbauan pemerintah dan MUI, kita tetap menghormati fatwa   MUI tersebut. Namun itu dimaksudkan untuk mencegah terjangkitnya virus yang mewabah ke lima benua termasuk Indonesia yaitu virus corona" sambung Jalih Pitoeng menerangkan

"Kita ini Insya Allah lebih steril dibanding yang diluar sana. Dan penjara ini mungkin menjadi sebuah karantina terbaik. Dimana kita adalah komunitas yang bersifat homogen dan hanya bertemu orang yang itu-itu saja" imbuh Jalih Pitoeng

"Dan Alhamdulilllah Lapas Pemuda ini cukup bersih dan ramah lingkungan. Dan menurut pengamatan saya, disini paling jelek juga penyakitnya korengan dan itupun hanya berapa orang" kata Jalih Pitoeng disambut tertawa

"Artinya secara klinis kita ini Alhamdulillah sehat semua dan kecil kemungkinan dapat tertular wabah yang saat ini mendunia" Jalih Pitoeng menegaskan

"Sehingga tidak ada alasan yang kuat untuk meninggalkan kewajiban kita menunaikan ibadah sholat Jum'at" pungkas Jalih Pitoeng disambut gemuruh suara amin para napi sebagai tanda dukungan ajakan tersebut. (SB)
Komentar Anda

Terkini: