Warga Nahdliyin Dibikin Geger, Benarkah NU Sudah Dijual Murah?

/ April 17, 2020 / 5:05 AM
Bagikan:
Santri Berkopiah NU saat membacakan puisi (Foto: Screenshoot)

SUARABERKARYA.COM, SURABAYA – Dua hari, sejak Sabtu dan Minggu (12/4/2020) viral di media sosial nahdliyin, sejumlah santri berbaju putih – yang laki-laki menggunakan kopyah NU – sedang asyik membacakan puisi bertajuk ‘Jumat Agung’, karya Ulil Abshar Abdalla.

Semua tahu, Jumat Agung , adalah hari Jumat, tiga hari menjelang Paskah, hari peringatan Penyaliban Yesus Kristus yang wafat di Bukit Golgota, dikenal sebagai bukit Calvary, tempat Yesus disalibkan. “Ya, Yesusmu adalah juga Yesusku. Ia telah menebusku dari iman, yang jumawa dan tinggi hati. Ia membuatku cinta pada yang dinista!,” demikian penggalan akhir puisi sebanyak 1296 karakter ini.

Sejumlah kiai dan akademisi NU pun, melempar komentar. Salah seorang dosen di Universitas Indonesia (UI) Jakarta, mempertanyakan urgensi santri dengan kopyah NU membaca puisi itu. “Ini puisi lama, sebenarnya biasa-biasa saja. Tetapi, hari ini sengaja dipoles untuk ‘menjual’ NU. Yang ditampilkan santri dengan kopyah NU. Ini pertanda liberalisasi di tubuh NU begitu jahat,” demikian disampaikan kepada duta.co, Minggu (12/4/2020).

Prof Dr H Rochmat Wahab, mantan Ketua PWNU DIY (Daerah Istimewa Yogyakarta), mengaku prihatin dengan kelompok liberal yang begitu massif merusak generasi nahdliyin. “Kasih anak-anak kita. Puisi itu sangat terkait dengan Hari Wafat Yesus Kristus. Isinya sangat kental dengan urusan aqidah. Siapa pun boleh membuat puisi. Silakan. Sah-sah saja, baik orang yang beragama Kristen, Katolik, Islam atau lainnya. Tetapi, setiap penulis mesti bertanggungjawab dengan apa yang tulisannya,” tegas Guru Besar Ilmu Pendidikan Anak Berbakat Universitas Negeri Yogyakarta ini kepada duta.co, Minggu (12/4/2020).

Menurut Prof Rochmat, yang menjadi masalah dari puisi ‘Jumat Agung’ itu, adalah diviralkan dengan menggunakan sejumlah remaja laki-laki dan perempuan dengan kopyah berlogo NU. Penampilan ini secara langsung atau tidak langsung, melibatkan NU, seakan-akan secara institusional, NU ikut memback-up. “Dan secara aqidah, jelas sekali materi dalam puisi yang dibaca itu, tidak sejalan dengan nilai-nilai yang dijunjung tinggi oleh NU dan para masyayikh,” tegas Prof Rochmat.

Prof Rochmat berharap agar generasi santri tidak dirusak dengan pikiran-pikiran liberal. NU jangan dipermainkan seperti itu. Para muassis NU bisa menangis ketika menyaksikan semua ini, betapa kita membiarkan liberalisasi memporak-porandakan NU.

“Silakan (kalau) di luar, jangan pakai institusi NU. Mengapa harus memakai baju muslim dan perkopyah berlogo NU? Ini sama saja menginjak-injak Islam dan NU. Mestinya tidak harus terjadi. Silakan bepuisi, lebih (gila) liberal lagi tidak masalah. Tetapi, jangan dan TIDAK BOLEH menggunakan simbol NU,” pungkas Prof Rochmat dengan nada serius.

Ya! Pusi ‘Jumat Agung’ ini, memang bukan barang baru. Konon sudah sejak tahun 2015, dibaca setiap tahu. Dan tidak pernah diributkan. Tetapi, kali ini, tampilannya dibuat serem, dan ‘menggugah’ perasaan kiai-kiai NU.

Isinya seperti yang diunggah akun youtube @Willy Prince. Sabtu, 11 Apr 2020 Willy memasang video itu di laman youtubenya. Sampai Minggu (12/4) masih dilihat beberapa orang, 29 x ditonton. Tetapi, potongan video itu sudah menyebar luas di media sosial warga NU. Komentar pun berdatangan. Baik yang mendukung mau pun yang prihatin betapa NU sudah ‘dijual’ murah. (SB)

Sumber : duta.co
Komentar Anda

Terkini: