Eggi Sudjana, Kajian Islam Senin : Sujud, Ingkar dan Penghianatan

/ May 4, 2020 / 5:10 AM
Bagikan:
Dr. H. Eggi Sudjana, SH., M.Si

JININ : Kajian Islam Senin (4 Mei 2020)
Oleh : Dr. H. Eggi Sudjana, SH., M.Si

"SUJUD, INGKAR DAN PENGHIANATAN

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَٰنِ الرَّحِيمِ

Bahwa, sebagaimana biasanya tinjauan hal Sujud, Ingkar, dan Pengkhianatan ini juga dikaji berdasarkan BES Theory OST JUBEDIL dengan logika Al Quran.
Sujud adalah kegiatan gerak tubuh manusia yang meletakkan kepalanya di lantai dengan posisi wajah, kening, dan hidungnya menyentuh lantai atau di tempatnya secara menggambarkan keadaan tunduk, patuh, berserah diri kepada ALLAH SUBHANAHU WATA’ALA yang disembahnya. Contoh konkret dari kegiatan sujud tersebut, bagi umat Islam tentu sudah terbiasa yaitu pada saat melaksanakan perintah Allah untuk sholat lima waktu dan sholat-sholat sunnah lainnya.

Ketika sujud semestinya harus disadari, di samping mensujudkan kepala dan wajahnya tersebut, dimana dalam kepala terdapat yang namanya otak dan kita semua tahu fungsi dari otak adalah berpikir. Jadi, berfikir adalah kemampuan otaknya untuk menyamakan yang sama dan membedakan yang beda, sehingga orang-orang yang berpikir biasanya disebut kaum intelektual dan ilmiah yang pada umumnya orang-orang akademik di perguruan tinggi atau pesantren dengan level terakhirnya S-3 atau dalam kalangan TNI-Polri jenjang kepangkatnnya Jenderal.

Tentu mereka semua sudah sangat mampu berpikir. Namun pertanyaan seriusnya adalah bagaimana pikirannya mendengar dan melihat serta merasakan kehidupan sehari-harinya di Indonesia yang kurang lebih 74 tahun 8 bulan Indonesia dinyatakan kemerdekaannya, akan tetapi hukum pidana dan tata negaranya tidak sujud kepada apa yang Allah kehendaki.  Padahal Allah itu sendiri oleh bangsa Indonesia telah ditempatkan pada posisi yang mulia pada Mukadimah UUD 1945 Alinea Ketiga,

“Atas berkat rahmat Allah Yang Maha Kuasa dan dengan didorongkan oleh keinginan luhur, supaya berkehidupan kebangsaan yang bebas, maka rakyat Indonesia menyatakan dengan ini kemerdekaannya.”

Sangat jelas pada alinea ketiga tersebut, bahwa kemerdekaan yang dicapai oleh Bangsa Indonesia adalah berkat rahmat Allah yang Maha Kuasa dan juga secara teknis hukum ALLAH SUBHANAHU WATA’ALA yang merupakan Tuhan Yang Maha Esa, karena tidak ada konsep Tuhan Yang Mahas Esa kecuali dalam Islam.

Dengan kata lain, dalam ajaran selain Islam tidak dikenal ajaran Tuhan Yang Mahas Esa. Konsep monoteisme ini, dalam kontes hukum tata negara dapat dinamakan Indonesia Negara Tauhid atau Teokrasi, yang konsekuensi hukum berikutnya, Ketuhanan Yang Mahs Esa tersebut diletakkan dengan sempurna menjadi sila Pertama dari Pancasila. Kemudian teknis yuridis berikutnya Tuhan Yang Maha Esa itu dijadikan dasar negara NKRI yang pada akhirnya, konsekuensi yuridisnya, karena Allah itu punya hukum namanya hukum Islam maka sepatutnya, sebenarnya, dan sesungguhnya harusnya Hukum Islam diberlakukan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Adapun yang memberlakukannya adalah Presiden dan DPR sebagaimana tercantum Pasal 5 ayat 1 JO Pasal 20 dan 21 UUD 1945.

Oleh karena itu, peristiwa tata negara yang penting tersebut, sejak kita merdeka 74 tahun 8 bulan sampai dengan terjadinya amandemen-amandemen UUD 1945 tersebut, sepengetahuan BES tidak pernah dibicarakan pendekatan ilmiah yang berdasarkan logika dari Mukadimah, Sila Pertama Pancasila, dan Pasal 29 ayat 1 juga Pasal 5 ayat 1 JO Pasal 20 dan 21 UUD 1945.

Begitu pula  dikaitkan secara nilai-nilai filosofis ,dimana dulu bangsa Indonesia yang animisme-politeisme menjadi monoteisme. Selanjutnya, secara historis sejak  zaman penjajahan Belanda, Inggris, dan Jepang, bahwa untuk merebut kemerdekaannya itu, tidak ada semangat yang menggelora kecuali atas dasar semangat Takbir membesarkan ALLAH SUBHANAHU WATA’ALA dengan slogannya Hidup Mulia atau Mati Syahid.

Terakhir kali  secara fenomenal dan legendaris dikumandangkan oleh Bung Tomo pada Tnggal 10 November 1945 di Surabaya dengan  sebelumnya meminta restu kepada kiayi dan ulama saat itu. Ada dari Ponpes Buntet Cirebon dan Ponpes di Jatim yang dipimpin KH Hasyim Ashari sebagai tokoh dan pendiri Nahdlatul Ulama (NU), serta sebelumnya di berbagai sidang Konstituante terutama tanggal 22 Juni 1945, hingga lahirnya Piagam Jakarta, "Ketuhanan dengan kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluk-pemeluknya".

Pada akhirnya melalui perjuangan gigih Ki Bagus Hadikusumo selaku Ketua Umum Muhammadiyah saat itu, untuk mejadi kesepakatan bangsa, lahirlah kalimat sebagaimana kita jadikan pedoman dan dasar dalam berbangsa dan bernegara yaitu sila Pertama Pancasila Ketuhanan Yang Maha Esa.

Menyambung pertanyaan tadi, bagaimana dengan kini tahun 2020 generasi Indonesia Bertakwa. Adakah konsolidasi para tokoh dan umat untuk memikirkan peristiwa filosofis, historis, sosiologis, dan yuridis tersebut untuk akhirnya menggugat peran kita masing-masing dalam rangka mewujudkan sujudnya secara intelektual dan ilmiah tersebut kepada ALLAH SUBHANAHU WATA’ALA sebagai bukti bakti, sembah sujud kepada-NYA untuk secara istiqomah atau konsisten berpegang teguh memperjuangkan tegaknya Syariat Islam di NKRI yang kita cintai. Bagaimana dan kapan harus dimulai ?

Sementara itu, bila sujud dalam arti sempit hanya dipraktikan dalam bentuk sholat sebagaimana dilakukan setiap hari, tapi tidak dimaknai sujud secara lebih luas sebagaimana telah disampaikan sebelumnya, maka dengan tidak menjustifikasi apalagi menghakimi, orang-orang yang sujud dalam arti sempit tersebut dapat dikatakan sholatnya lalai. Ukuran kelalaiannya adalah sholat 5 waktunya tidak berdampak serius atau secara istilah haji sholatnya tidak mabrur. Maknanya tidak berdampak tehadap penegakkan hukum yang seharusnya hukum Islam yang berlaku di NKRI ini. Bukanlah hukum lain sebagai produk dari Penjajah Belanda yang telah  menjajah Indoensia sekitar 350 tahun (1601-1945)?

Oleh karena itu, mari kita sholat secara serius, yang maknanya sholat kita mestilah berdampak atau mabrur terhadap kehidupan sosial kemasyarakatan  bangsa dan negara. ALLAH SUBHANAHU WATA’ALA telah mengingatkan dan sekaligus  sebagai komitmen kita dalam QS Al An’am : 162

Al-An'ām : 162

قُلْ إِنَّ صَلَاتِي وَنُسُكِي وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِي لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ

Katakanlah (Muhammad), \"Sesungguhnya salatku, ibadahku, hidupku, dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan seluruh alam,

Sisi lain, perlu kita sadari bila sholat kita lalai dalam arti sujudnya  disfungsional, maka Allah menempatkan orang-orang yang sholat tersebut di Neraka Wail. Bayangkan ! Apalagi yang tidak sholat. Yang sholat saja kalau lalai atau tidak berdampak kepada aktivitas kehidupan yang semuanya tidak sujud kepada Allah maka dipastikan mengisi neraka wail. Untuk itulah, Neraka pun menawarkan dirinya apakah ada yang berminat masuk ke dalamnya karena neraka masih kosong. (QS Qaf : 30).

Qāf : 30

يَوْمَ نَقُولُ لِجَهَنَّمَ هَلِ امْتَلَأْتِ وَتَقُولُ هَلْ مِنْ مَزِيدٍ

(lngatlah) pada hari (ketika) Kami bertanya kepada Jahanam " Apakah kamu sudah penuh?" la menjawab, "Masih adakah tambahan? "

 Begitu pula QS 32 : 14, 15.

Selanjutnya,  Ingkar adalah perilaku sikap yang menunjukkan keadaan penentangannya bahkan perlawanannya terhadap yang seharusnya orang tersebut kepada ALLAH SUBHANAHU WATA’ALA. Dengan kata lain, mereka yang melakukan pengabaian terhadap ayat-ayat Al Quran sebagai wahyu dari ALLAH SUBHANAHU WATA’ALA.

Bahwa pengkhianatan adalah pelaksanaan dari situasi pengingkarannya terhadap ajaran Islam yang seharusnya ditaati dan berusaha mengikuti contoh teladan Nabi Muhammad SAW dalam kehidupannya  di dunia ini. Oleh karena itu, secara objektif dan sistematis terjadinya pengkhianatan dari seseorang atau sejumlah orang atau kaum suatu bangsa adalah dimulainya dari tidak maunya atau enggan untuk sujud kepada Allah. Hal ini sebagaimana Allah umpamakan secara konkret yaitu kelakuan setan yang tidak mau sujud terhadap Adam, padahal  melakukan sujud itu merupakan perintah langsung dari Allah. Akan tetapi iblis atau setan tidak taat kepada perintah Allah dan berani menentangnya. Oleh karena itu, perlakuan sikap mereka yang melakukan pengkhianatan adalah mencontoh kelakuan dari iblis atau setan tersebut, yaitu intinya karena menyombongkan diri dan mendustakan ayat-ayat Allah (QS 7 : 12-33, 60-70).

Kemudian orang tersebut mengingkari ajaran Islam, dimana seharusnya ajaran Islam itu menjadi pedoman dan pandangan hidup. Adapun kesombongan dan pendustaan terhadap ayat-ayat Allah tersebut digambarkan dalam rangkaian ayat QS 7 : 34-40 yang menggambarkan betapa iblis atau setan  sangat menyombongkan dirinya. Artinya, iblis atau setan telah menolak kebenaran yang berasal dari ALLAH SUBHANAHU WATA’ALA dan merendahkan orang lain dengan merasa bahwa dia, jati diri, dan keturunannya jauh dari orang yang mesti sujud padanya.  Iblis merasa jauh lebih baik, dia  berasal dari api sedangkan Adam berasal dari tanah.

Hal tersebut dalam konteks sosiologis menempatkan manusia dalam klaster-klaster dan juga kasta-kasta sehingga manusia yang pada hakikatnya adalah kesetaraan atau dengan kata lain berkesamaan kedudukannya dalam pemerintah dan hukum, sebagaimana Pasal 27 ayat 1 UUD 1945.
"Segala warga negara bersamaan kedudukannya di dalam hukum dan pemerintahan dan wajib menjunjung hukum dan pemerintahan itu dengan tidak ada kecualinya".

Oleh karena itu, *BILA ADA ORANG* di Indonesia yang kelasnya menjadi pejabat tinggi  negara, namun perilaku sikapnya tidak sesuai dengan Pancasila dan UUD 1945 atau sama dengan mengikuti cara berpikir dan tindak tanduk iblis atau setan tersebut, maka pejabat tinggi itulah yang sejatinya setan yang berwujud menjadi manusia.

Jadi, persepsi kita tentang setan, janganlah hanya  tentang genderowo, kuntilanak, dan cerita-cerita hantu lainnya. Namun, setan sesungguhnya adalah pejabat negara yang punya kewenangan atau otoritas tetapi tidak berintegritas, tidak berkapasitas maka dalam kepemimpinannya , pejabat setan ini telah melukai dan membuat rakyatnya sengsara dan menderita akibat kebijakan-kebijakannya. Pejabat setan ini melakukan pengkhianatannya terhadap konstitusi karena sangat dipengaruhi oleh keinginan-keinginan atau tunduk patuh kepada hawa nafsunya sehingga hawa nafsunya yang mendominasi cara berpikir dan bersikapnya, yaitu dengan kebodohan dan kesombongannya, sehingga mengingkari ajaran Islam bahkan menentangnya serta melakukan perlawanan-perlawanan terhadap kaum muslimin yang benar-benar berupaya melaksanakan iman dan takwanya secara ikhlas dan sabar untuk teguh pendirian atau istiqomah di dalam menegakkan ajaran agama Islam. (QS 25: 43, 44 JO QS 45: 23, 24 JO QS 22 : 52)

Kemudian perwujudan dari pengkhianat-pengkhianat tersebut adalah menjadikan  agamanya dengan senda gurau karena sesungguhnya mereka telah tertipu oleh kepalsuan dunia. Orang-orang seperti itu adalah  orang  kafir, zalim, fasik, musyrik, munafik, dan murtad sebagaimana QS 5 : 44,45 47 JO  QS 7 : 45, 50, 51.
Mereka adalah produk dari orang-orang yang digoda oleh setan, baik dari depan, belakang, kiri, maupun kanan, dan mereka orang-orang yang tidak bersyukur QS 7 : 17, 18

Dalam gambaran ayat tersebut, setan digambarkan oleh Allah dari surganya secara terusir dan terhina. Logika Qurannya, bagaimana mungkin  orang-orang yang mengikuti pola tindakan dan sikap seperti setan tersebut masuk ke dalam surga-NYA.

Juga perlu didalami bagaimana cara setan menggoda manusia. Berdasarkan penjelasan QS 7 : 20, bahwa setan menumpangi keinginan-keinginan manusia sebagaimana dijelaskan QS 22 : 52 kemudian setan membisikkan pikiran jahatnya kepada manusia, serta membujuk manusia dengan segala tipu dayanya. Jadi, dapat dimengerti bagaimana pikiran jahat itu dan tipu daya yang dilakukannya apabila setan itu mampu menembus godaannya kepada pejabat tinggi negara tersebut. Maka, dapat dipastikan kebijakan yang diambilnya berdasarkan bisikan setan yang wujudnya adalah bisikan jahat dan segala tidpu daya sehingga rakyat menderita, sengsara, dan terus dalam kemiskinan dan kebodohan karena dipimpin oleh pembesar-pembesar yang jahat. QS 7 : 21, 22 JO QS 6 : 123)

Selanjutnya tentang bersyukur, adalah hamba-hamba Allah yang menyadari dengan konsep tahu dirinya untuk berterima kasih kepada Allah karena mendapatkan anugerah, mukjizat, karomah, hikmah, dan hal-hal lain yang mendatangkan kesadarannya, untuk sangat berterima kasih kepada ALLAH SUBHANAHU WATA’ALA. Oleh karena itu, bagi orang-orang pengkhianat tadi hendaklah melakukan pertaubatan kepada Allah sebagaimana QS An Nisa : 17, 18 agar tidak tertipu kepada kepalsuan dunia dan taubat. Substansinya adalah kesadaran diri untuk bersyukur kepada Allah karena persepsi, kesadaran, dan pentaataannya memang seharusnya disembah sujudkan berbakti kepada ALLAH SUBHANAHU WATA’ALA dan mengikuti contoh teladan  Nabi Muhammad SAW.

Bahwa apabila para pengkhianat itu tidak juga bertobat, padahal waktu masih terus berjalan untuk bisa bertaubat maka hingga akhir hayatnya bagi kita yang beriman kepada Allah dan mengikuti contoh Rasulullah SAW tidak akan pernah melakukan  berdoa di pinggir kuburnya atau di tempat lain, seperti mengadakan tahlilan, bahkan diharamkan untuk para pengkhianat itu mensholatinya sebagaimana Allah perintahkan dalam QS At Taubah : 80, dan 84.

Akhirnya, persepsi dan kesadaran kita semua harus sampai kepada kondisi objektif untuk tidak melakukan sujud, tidak ingkar, dan tidak khianat. Pengkhianat dalam perspektif ajaran ketaatannya kepada ajaran Islam. Bahkan seluruh potensi hidupnya diupayakan optimal untuk menggapai ridho Allah, sebagaimana Allah ajarkan dalam QS Al Baqarah : 207.

Al-Baqarah : 207

وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَشْرِي نَفْسَهُ ابْتِغَاءَ مَرْضَاتِ اللَّهِ ۗ وَاللَّهُ رَءُوفٌ بِالْعِبَادِ

Dan di antara manusia ada orang yang mengorbankan dirinya untuk mencari keridaan Allah. Dan Allah Maha Penyantun kepada hamba-hamba-Nya.

Bahwa, adapun aplikasi yang dimaksud dengan bersyukur di dalam menjalani kehidupan kita sehari-hari di dunia ini, yaitu diwujudkan dalam hal 3 perilaku yang merupakan refleksi dari nilai sujudnya kepada Allah, yaitu :

1. Bersikap dalam menjalani kehidupannya dengan istiqomah/konsisten/teguh pendirian memegang teguh ajaran Islam dalamn praktik kehidupannya (QS 46 : 13 dan 14)

2. Bersikap setia pada Allah dan Rasul-NYA semata kemudian berupaya mewujudkan tegaknya syariat Islam dimanapun dia berada. Tidak hanya tergantung di Indonesia, karena Islam bersifat universal. (QS 3 : 31 JO QS 5: 3 JO QS 2: 177 JO QS 33: 35, 36).

3. Sikap bersyukur kepada Allah adalah dengan menjalankan dua hal penting sebagaimana poin 1 dan 2. Oleh karenanya, orang-orang yang bersyukur tersebut Allah janjikan akan ditambah nikmat kehidupannya dengan satu kondisi yang senikmat-nikmatnya baik di dunia maupun di akhirat. Yang terkenal dengan doanya
"Rabbana atina fiddunya hasanah, wa fil akhirati hasanah wa qina ‘adzabannar.
(wahai Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami kebajikan di dunia dan kebajikan di akhirat dan peliharalah kami dari siksa api neraka)".
(QS 14 : 7)

Bahwa dengan persepsi kita dan kesadaran kita seperti yang telah diuraikan dari awal mengenai konsep sujud, konsep ingkar, dan konsep pengkhianatan, maka output yang diharapkan bagi setiap manusia siapapun dan apapun agamanya karena Allah itu rajanya manusia dan Tuhannya seluruh manusia (QS An-Nas: 1-6 ). Dengan demikian, jangan pandang ajaran Islam ini bersifat lokal, lebih sempit lagi untuk orang-orang Arab saja. Akan tetapi ajaran Islam yang universal ini, secara intelektual dan ilmiah sudah BES buktikan menurut BES Theory OST JUBEDIL, sampailah kita taat pada ALLAH dan RASUL NYA .

Dengan kata lain, pentaatan kita seluruh manusia tidak dibenarkan menuhankan selain Allah, karena Allahlah yang pantas jadi Tuhan. Tidak boleh menuhankan selain ALLAH , karena tidak ada yang pantas jadi TUHAN  bahkan jadi RAJA  seluruh manusia kecuali ALLAH SUBHANNAHU WA TA ALA , dengan contoh teladan hidupnya adalah Nabi MUHAMMAD  SAW. (QS 14 : 7 JO QS 7 : 96)

Salam Ta’ziem,

BES = Bang Eggi Sudjana
Komentar Anda

Terkini: