Eggi Sudjana : Ujian, Cobaan dan Musibah

/ May 2, 2020 / 3:00 PM
Bagikan:
Eggi Sudjana dkk

JITU : Kajian Islam Sabtu (Sabtu Mei 2020)

UJIAN, COBAAN DAN
MUSIBAH

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَٰنِ الرَّحِيمِ

Dalam Tinjauan BES Theory, OST JUBEDIL dengan Logika Quran

Bahwa seluruh manusia di dunia ini dalam menjalani kehidupannya pastilah mengalami hal-hal yang berkait dengan ujian, cobaan, dan musibah. Oleh karena itu, kiranya patut BES kaji secara berfikir ilmiah OST JUBEDIL agar menghasilkan pemahamannya yang akurat, dipercaya, mencerahkan, dan dapat dilaksanakan dalam menghadapi ujian, cobaan, dan musibah tersebut.

Ujian adalah suatu keadaan orang yang mengalami hal-hal yang tidak dikehendakinya namun terjadi pada dirinya oleh kekuatan ALLAH SUBHANU WATA’ALA dalam rangka meningkatkan kualitas keimanannya terhadap perintah dan larangan-NYA.

Cobaan adalah suatu keadaan orang atau masyarakat yang dalam posisi sedang diuji oleh ALLAH SUBHANU WATA’ALA dalam rangka mendatangkan nilai kualitas kesabarannya  dalam menghadapi ujiannya tersebut.

Musibah adalah suatu peristiwa atau berbagai peristiwa yang sekaligus terjadi bagi seseorang, keluarganya, masyarakatnya, bangsa dan negaranya, bahkan tingkat peristiwa yang melanda seluruh dunia yang terjadi malapetaka yang deritanya sangat pedih yang tertimpa peristiwa ujian dan cobaan sekaligus sebagai takdir buruk baginya atau sebagai introspeksi diri agar mengakui kesalahan dan dosanya pada ALLAH SUBHANU WATA’ALA.

Bahwa dengan kita mampu memberikan batasan atau definisi terhadap ujian, cobaan, dan musibah tersebut maka melalui cara berfikir BES Theory OST JUBEDIL sangatlah menentukan sikap apa yang diambil atau diputuskan atau berupa kebijakan apa dan bagaimana untuk masing-masingnya menghadapi ujian, cobaan, dan musibah tersebut. Oleh karena itu, sangat penting untuk memakai istilah-istilah tersebut daslam memandang satu peristiwanya sehingga menjadi jelas persepsi terhadap ketiga hal tersebut untuk pada akhirnya tingkat aplikasi sikap saat mengalami ketiga hal yang dimaksud yang akhirnya dapat mengatasi atau menerima segala macam bentuk takdir yang dialaminya tersebut.

Bahwa dalam konteks perumpamaan mengenai ujian dapatlah diumpamakan dengan satu peristiwa apa yang diperintahkan oleh Allah dalam wahyunya QS 17 : 23

Al-Isrā : 23

وَقَضَىٰ رَبُّكَ أَلَّا تَعْبُدُوا إِلَّا إِيَّاهُ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا ۚ إِمَّا يَبْلُغَنَّ عِنْدَكَ الْكِبَرَ أَحَدُهُمَا أَوْ كِلَاهُمَا فَلَا تَقُلْ لَهُمَا أُفٍّ وَلَا تَنْهَرْهُمَا وَقُلْ لَهُمَا قَوْلًا كَرِيمًا

Dan Tuhanmu telah memerintahkan agar kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah berbuat baik kepada ibu bapak. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berusia lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah engkau mengatakan kepada keduanya perkataan \"ah\" dan janganlah engkau membentak keduanya, dan ucapkanlah kepada keduanya perkataan yang baik.

Bahwa berdasarkan dari satu ayat Al Quran tersebut, ajaran Islam telah mengajarkan PERADABAN YANG MULIA dan berlaku UNIVERSAL  untuk seluruh lintas bangsa agama apapun dan juga suku manapun pastilah secara universal peradabannya harus takzim atau menghormati dan menuruti kemauan orang tuanya sendiri masing-masing.

Dalam QS 17 : 23 tersebut, andaikata siapapun manusianya dan apapun agamanya pasti mengalami pergaulan yang objektif seperti tersebut. Apakah itu orang yang beragama Kristen, Hindu, Budha, Konghucu, dan ataupun Islam, mereka semua tidaklah mungkin diperbolehkan atau berani kurang ajar dan bahkan melawan orang tuanya. Dengan kata lain, dapatlah dibayangkan secara intelektual apabila tidak ada QS 17 : 23 tersebut yang Allah ajarkan kepada Muhammad melalui Malaikat Jibril, maka dapat dipastikan tidak ada peradaban di dunia ini. Sekalipun keadaan masa situasi sebelum adanya ajaran Islam yang dibawa oleh Nabi MUHAMMAD SAW. karena Allah telah mengajarkan peradaban itu sejak manusia pertama Nabi Adam dan Siti Hawa serta kedua anak mereka Habil dan Qobil, dimana dalam peristiwa itu, baik Nabi Adam juga pernah melanggar perintah ALLAH. Begitupun anaknya Qobil, bahkan membunuh saudaranya sendiri. Perihal peristiwa ini pernah disampaikan pada kajian sebelumnya. Adapun pesan moral penting dari peristiwa itu dapat kita pilah mana terkategori ujian, cobaan, dan musibah.

Oleh karena itu, cara berpikir BES Theory OST JUBEDIL dalam melihat dan atau mengkaji QS 17 : 23 tersebut ada empat unsur penting untuk kita uraikan untuk mendapatkan pesan moral apa sebenarnya yang Allah kehendaki dalam hubungannya dengan  kekeluargaan dan kekerabatan atau  lebih spesifik hubungan anak dan orang tua. Sebagai satu ciri khas terdapat perintah ALLAH di dalam Al Quran yang memerintahkan kepada orang tua untuk menyayangi anak-anaknya. Tetapi banyak ayat yang memerintahkan anaknya untuk menyayangi, memelihara, mengurus, berbakti kepada kedua orang tuanya, antara lain QS 17 : 23 ini, yaitu;

1. Janganlah menyembah / beribadah kepada selain ALLAH SUBHANU WATA’ALA.
2. Berbuat baiklah kepada kedua orang tuanya.
3. Harus melakukan pemeliharaan/mengurus/berbakti kepada kedua orang tuanya terutama ketika mereka sudah tua dan diperintahkan oleh Allah tidak boleh mengatkan “Ah” apalagi membantah dan melawannya.
4. Ucapkanlah perkataan yang baik atau sopan santunlah kepada kedua orang tua kita.

Dari keempat uraian tersebut, maka pemahaman situasionalnya menjadikan atau merupakan ujian bagi kita semua sebagai anak dari orang tua kita masing-masing. Ujian kekeluargaan dan kekerabatan ini adalah ujian yang terberat dalam setiap persoalan yang dihadapi. Hal itu terjadi disebabkan beberapa hal, yaitu:

1. Adanya turunan yang menjadi darah daging. Logikanya tidak mungkin mereka yang  sedarah daging ini bisa bertikai atau saling membunuh seperti yang dicontohkan oleh Qobil membunuh Habil. Bahkan dalam perkembangan kehidupan, hingga zaman modern saat ini, ada anak yang tega membunuh ibu atau bapaknya atau kedua orang tuanya. Semua dapat kita saksikan dalam berbagai berita di berbagai media. Betapa kurang ajarnya, tidak tahu dirinya anak tersebut hingga dengan tega membunuh kedua orang tuanya. Diprediksi jauh ke depan, jika kehidupan masih ada, maka segala ujian yang berkaitan dengan keluarga dan kekerabatan ini akan terus terjadi.

2. Berdasarkan pengamatan secara ilmu hukum, peristiwa terjadinya ujian seperti itu ada yang disebut dengan motif atau mensrea atau suasana kebatinan orang tergerak melakukan sesuatu yang bahkan melakukan kejahatan (kriminal).

Motif inilah bisa juga disamakan dengan niat. Namun anehnya, niat dalam konteks korupsi tidak dapat dipidana, sebagaimana yang terjadi kepada Ahok. KPK tidak mampu memformulasikan hukum untuk menghukum Ahok, yang dianggap tidak ada mensrea. Padahal dalam konstruksi atau bangunan ajaran Islam, niat yang baik pasti mendapat pahala walaupun belum dikerjakan, tetapi niat yang buruk sudah dicatat sebagai kejahatan walaupun belum dikerjakan. Atas dasar niat buruk itulah ALLAH SUBHANU WATA’ALA menghukum orang-orang yang mempunyai NIAT TIDAK  BAIK (QS 2 : 225).

Al-Baqarah : 225

لَا يُؤَاخِذُكُمُ اللَّهُ بِاللَّغْوِ فِي أَيْمَانِكُمْ وَلَٰكِنْ يُؤَاخِذُكُمْ بِمَا كَسَبَتْ قُلُوبُكُمْ ۗ وَاللَّهُ غَفُورٌ حَلِيمٌ

ALLAH tidak menghukum kamu karena sumpahmu yang tidak kamu sengaja, tetapi Dia menghukum kamu karena NIAT yang terkandung dalam HATIMU. ALLAH Maha Pengampun, Maha Penyantun.

3. Adapun turunan dari niat buruk itu merupakan refleksi dari jiwa yang kotor. Istilah lainnya ada penyakit dalam hati orang-orang yang jiwanya kotor tersebut, antara lain adanya iri dan dengki dan sifat pendusta, maka dikenal menjadi orang-orang yang munafik.  QS 9 : 95 JO QS 5: 51, 52, 54.
4. Adanya godaan syetan yang terkutuk sehingga perbuatan dosanya itu justru diputar oleh kekuatan godaan syetan menjadi terasa indah bagi yang melakukannya, padahal itu perbuatan dosa. (QS 8 : 48, 49)
5. Pengaruh pergaulan dan budaya setempat atau global (QS 8 : 52).

Dari kelima paparan tersebut, maka kita dapat pula mengkaji lebih dalam mengenai apa itu cobaan dan musibah. Jadi, sebagaimana definisi cobaan merupakan peningkatan dari peristiwa ujian yang outputnya adalah mencoba kualitas prima dari kesabarannya. Oleh karena itu, jika orang-orang yang telah mengalami ujian dan cobaan yang berat itu maka outputnya dalah menjadi orang-orang yang sabar, sebagaimana pernah disampaikan (kurang lebih ada 10 kesabaran). Inti dari kesabaran itu adalah kemampuan jiwa, hati, dan pikirannya untuk menggungguli dengan cara tidak lemah, tidak lesu, dan tidak menyerah kepada keadaan apapun dan siapapun yang yang dihadapinya (QS Ali Imran : 46).

Selanjutnya untuk bisa memahami mengenai musibah sebagaimana telah didefinisikan sebelumnya, jauh lebih mudah setelah memahami definisi ujian dan cobaan sebagaimana telah dijelaskan. Tinggal kita memahami secara historisnya berbagai macam musibah yang menimpa diri, masyarakat, bahkan seluruh dunia. Sebagai satu perumpamaan zaman Nabi Nuh as. seluruh dunia tenggelam, kecuali kapal yang dibuat atas perintah Allah yang menyelamatkan manusia dan juga binatang yang ikut serta dalam kapalnya.

Kemudian musibah Nabi Ibrahim as, dimana bapaknya sendiri dan ummatnya, kala itu dipimpin oleh Raja Namrudz, yang menimbulkan musibah kemusyrikan yang merajalela, berupa munculnya berhala-berhala.

Berikutnya musibah zaman Nabi Yusuf, dimana satu negeri yang dilanda kekeringan, kelaparan, dan penderitaan lainnya, serta juga menghadapi penguasa yang zalim saat itu, bahkan menghadapi kakak-kakaknya yang menzalimi dirinya sampai dibuang ke sumur, tapi kemudian akhirnya diangkat menjadi raja atau penguasa pada zamannya. Semuanya itu terjadi melalui ujian, cobaan, dam akhirnya disebut musibah. Kemudian musibah zaman Musa as, dimana kita  memahaminya melawan 4 hal, yaitu:
1. Konglomerasi melalui Qorun
2. Haman sebagai  representatif kaum intelektual saat itu.
3. Bal’an yang merepresentasikan pendeta saat itu, dan
4. Firaun yang melambangkan kekuasaan otoriter.

Keempat elemen itu dilalui oleh Nabi Musa as Dengan ujian, cobaan, dan musibah secara ikhlas dan sabar dalam menghadapinya, sehingga akhirnya Nabi Musa muncul menjadi pemenang bukan pecundang.

Kemudian musibah yang menimpa Nabi Isa as. melalui pengkhianatan dari para pengikutnya i dan juga kekuasaan imperium saat itu yang menginginkan kematian Nabi Isa as. Bahkan, dampak musibah besar dari Nabi Isa itu adalah penyimpangan ilmu tauhid menjadi ilmu yang penuh dengan kemusyrikan dan atau sinkretisme, bahkan membuat ajaran atau agama tandingan kepada Nabi Isa as. saat itu yang justru mengajarkan ilmu tauhid dan di kemudian hari diajarkan oleh Nabi Muhammad SAW yaitu ajaran Islam (QS 5: 72,73, 116, 117).

Hingga kini jumlah orang-orang yang tidak mengikuti apa yang Nabi Isa as. ajarkan jauh lebih banyak ketimbang yang mengikuti Nabi Isa yang kemudian mengikuti Nabi Muhammad SAW. Kurang lebih 3 milyar mereka yang berafiliasi memahami keyakinannya kepada agama Yahudi dan Nasrani. Sedangkan yang mengiktui Nabi Isa dan diikuti Nabi Muhammad SAW sekitar 2 milyar sampai saat ini, dengan asumsi penduduk dunia saat ini 7 milyar. Selebihnya penduduk dunia berafiliasi kepada paham liberalis kapitalis, sosialis komunis, dan isme-isme lainnya yang pada intinya menentang kepada ALLAH dan Rasulnya MUHAMMAD SAW. atau kafir. (QS 5 : 41-50, 109, 110, dan 111)

Terakhir, dalam konteks sejarah adalah segala ujian, cobaan dan usibah yang dialami oleh Nabi Muhammad SAW yang merupakan perumpamaan sejarah manusia yang lengkap utuh sehingga bisa dijadikan contoh teladan bagi kehidupan seluruh manusia. Nabi Muhammad adalah resmi utusan dari ALLAH SUBHANU WATA’ALA. Keimanan yang sempurna kepada Allah adalah mengikuti, mencintai serta tunduk patuh kepada Nabi Muhammad SAW. (QS 3 : 31 JO QS 48: 27-29 JO QS 5 : 3 JO QS 2 : 214, 216, 218, 255, 256, 284-286.

Bahwa bagi kita sebagai pengikut dari Muhammad SAW sudi kiranya untuk menjawab tantangan zaman sekarang ini dengan mengikuti program-program yang telah diterangkan sebelumnya, yaitu mulai memahami QS 35: 29 kemudian mengikuti petunjuk ALLAH SUBHANNAHU WA TA ALA QS8 : 60 JO QS 61 : 2-10 JO QS 9 : 23, 24, 105 dan 111 JO QS 3 : 26, 27, dan 28.

Adapun untuk keperluan itu, tawaran gagasan BES sudi kiranya para tokoh umat Islam dan para cerdik cendikia, serta mereka yang mendapatkan posisi strategis di eksekutif, legislatif, dan yudikatif, kiranya berkenan untuk melakukan konsolidasi umat Islam secara terukur dan terpadu untuk menghasilkan satu gerakan yang ramah sampai dengan pensikapan yang berani, tegas, dan penuh kekuatan untuk mengadakan perubahan sebagaimana yang dikehendaki oleh ALLAH  untuk menuju Indonesia Bertakwa. Untuk keperluan ini sudi kiranya ego sektoral dan selfis kepentingan diri, keluarga, dan kelompok untuk  dinihilkan. Kita semua menyatakan diri sebagai orang-orang yang mengorbankan diri kita masing-masing untuk mencapai keridoan ALLAH  (QS 2 : 107) .

Bahwa dengan penjelasan secara BES Theory OST JUBEDIL tersebut kiranya kaum Muslimin dan  Muslimat dapat menyatukan VISI dan MISI nya menjadi satu persepsi yang jujur, benar,  dan adil serta mendatangkan kesadaran kolektif untuk bergerak menuju pentaatan pada ALLAH dan Rasul-NYA MUHAMMAD SAW melalui pemimpin atau imam besar yang kita percayai di Indonesia , perlu di bicarakan oleh kita SEMUA ELEMEN PERGERAKKAN  secara serius siapa IMAM BERSAMA nya, bila belum semua sependapat kepada HRS ????, ingat sudah 74 tahun lebih 8 bulan Kita nyatakan KEMERDEKAAN NKRI TAPI HINGGA DETIK KINI BELUM JUGA TEGAK SYARIAT ISLAM SPERTI YANG DI KEHENDAKI PIAGAM JAKARTA, " KETUHANAN DENGAN KEWAJIBAN MENJALANKAN SYARIAT ISLAM BAGI PEMELUK- PEMELUK nya. Kiranya perlu kita sadari bersama bahwa kembalinya kita ke UUD 45 yang ASLI di karenakan DEKRIT PRESIDEN RI TGL 5 JULI 1959, yang isi nya antara lain DENGAN DI JIWAI SEMANGAT PIAGAM DJAKARTA DIBERLAKUKAN KEMBALI UUD 45, yang mana PERNAH 10 tahun PANCASILA dan UUD 45 TIDAK BERLAKU DI NKRI, kembali berlaku karena Dekrit Presiden RI tsb dan yg melatar belakangi juga ada nya MOSI INTEGRAL dari PM. MUHAMMAD NATSIR KETUA UMUM MASYUMI saat itu untuk hadir nya NKRI .

Salam Ta’ziem,

BES = Bang Eggi Sudjana
Komentar Anda

Terkini: