Jalih Pitoeng Kecam Tindakan Presiden Jokowi Atas Larangan Sholat Iedul Fitri

/ May 22, 2020 / 3:55 PM
Bagikan:
H. Dedi Wahyudi. S.Ag usai tunaikan khotbah Jum'at

SUARABERKARYA.COM, TANGERANG - Dipenghujung bulan suci ramadhan, diantara ratusan narapidana Lembaga Pemasyarakatan Pemuda Kelas 2 A Kota Tangerang, terdengar alunan Al-Qur'a surat Ar-rohman menggema diakhir sholat jum'at, Jum'at (22/05/2020)

H. Dedi Wahyudi selaku khotib sekaligus imam, menyampaikan dalam khutbahnya bahwa Ramadhan adalah bulan pendidikan. Sehingga dirinya mengajak kepada semua jamaah khususnya para narapidana agar menjadikan ramadhan sebagai bulan pelatihan.

Semua yang baik-baik yang dilakukan pada bulan ramadhan harus dilanjutkan terus hingga usai ramadhan.

Jamaah Sholat Jum'at masjid At-Thaubah (Lapas Pemuda Kelas 2 A Kota Tangerang)

"Bulan ramadhan adalah bulan yang penuh kemuliaan. Selain bulan yang penuh rahmah dan magfiroh, ramadhan adalah bulan yang penuh kemuliaan dan bulan pendidikan" kata H. Dedi Wahyudi

"Karena ramadhan juga merupakan bulan dimana diturunkannya Al-Qur'an" lanjut khotob H. Dedi Wahyudi

"Semua makhluq yang mendekat pada al-qur'an akan mendapatkan kemuliaan. Sehingga malaikat Jibril mendapat predikat penghulu para malaikat karena menjadi pengantar wahyu kepada baginda Rasulallah Muhammad SAW" lanjutnya menjelaskan

Khotib yang juga sebagai pengajar Qiro'at pada tiap hari sabtu di masjid At-Thaubah Lapas Pemuda ini juga mengajak para jamaah yang sebagian besar narapidan kasus narkoba ini untuk memperbanyak membaca al-qur,an.

"Bahkan ada orang yang seumur hidupnya hanya membaca surat Al-Mulk, surat Yasin atau hanya surat Al-Ikhlas sepanjang hidupnya, maka dia akan dimuliakan oleh Allah SWT" jelas H. Dedi

"Sekarang di penghujung ramadhan ini marilah kita perbanyak beramal sholeh. Selain berpuasa, taraweh dan sholat sunat, perbanyaklah membaca Al-Qur'an" ajak H. Dedi Wahyudi

"Jadi apa yang kita kerjakan dibulan suci ramadhan ini harus kita terapkan juga setelah usai ramadhan" pintanya dari atas mimbar

Suara merdu dari seorang khotib yang mengimami sholat Jum'at ini rupanya sangat menyentuh hati Jalih Pitoeng salah seorang jamaah sekaligus terdakwa yang ditahan di Lapas Pemuda kelas 2 A kota Tangerang.

Aktivis yang dikenal sangat kritis dan lantang yang ditangkap dan ditahan akibat tuduhan akan menggagalkan pelantikan presiden Jokowi pada 20 Oktober 2019 ini merasa sangat terharu, bersyukur sekaligus bahagia bisa menunaikan sholat Jum'at ditengah Lockdown akibat virus corona.

"Alhamdulillah di Lapas ini saya bisa menunaikan ibadah puasa, taraweh sekaligus sholat Jum'at seperti hari ini" kata Jalih Pitoeng

"Dan Alhamdulillah disini kita sholat Jum'at aman-aman saja. Dan sesuai janji Allah bahwa Dia akan menjaga dan memelihara hambanya yang bertaqwa dan senantiasa meramaikan sekaligus memakmurkan masjid. Itu kata Qur'an lho!" terang Jalih Pitoeng

"Jadi jangan kita takut pada makhluq Allah, sementara kepada Allah sang kholiq justru kita tidak takut dan mengabaikan perintahNya" tutur Jalih Pitoeng mengingatkan

Ditanya tentang anjuran pemerintah dan MUI, aktivis betawi yang dikenal kritis inipun mengulangi statmennya beberapa minggu lalu saat dibukanya sholat Jum'at kembali di masjid At-Thaubah Lapas Pemuda kota Tangerang

"Begini ya, sholat ini adalah salah satu ibadah sesuai syariat agama islam yang wajib dikerjakan bagi yang mengimaninya. Menjalankan syariat agama bagi warga negara itu adalah hak yang dilindungi oleh undang-undang bahkan undang-undang dasar 1945 sebagai payung hukum tertinggi dinegeri ini. Jadi tidak boleh ada yang melarang orang melaksanakan sholat" kata Jalih Pitoeng dengan tegas

"Dan terkait himbauan pemerintah dan fatwa MUI tentang adanya lockdown, karantina wilayah, PSBB entah apa lagi istilahnya itu hanya upaya pencegahan terhadap virus corona. Tentunya harus dijaga kebersihan bagi masyarakat. Orang berkumpul dipasar dan mall justru dibolehkan. Ini kan menjadi sebuah kebijakan yang aneh dan irasional" sambung Jalih Pitoeng

Suasana menjelang sholat Jum'at

Ditanya mengenai adanya larangan melaksanakan sholat iedul fitri oleh presiden Jokowi, sosok yang selalu kritis ini tidak mau berkomentar banyak.

"Sebenarnya saya tidak mau mengomentari masalah itu. Tapi karena MUI juga tidak memiliki ketegasan, bahkan membingungkan umat akibat ada perbedaan antara MUI dibeberapa provinsi dengan MUI pusat, maka sebagai umat muslim saya mengecam tindakan pelarangan sholat iedul fitri oleh presiden Jokowi" ungkap Jalih Pitoeng tegas

"Yang dilarang itu berkerumun yang tidak menjaga kebersihan dan memenuhi standar kesehatan. Bukan sholat nya yang dilarang. Dan urusan ibadah, itu urusan umat bukan urusan presiden. Kecuali islam ini agama terlarang dinegeri ini. Itupun harus ada undang-undang atau ketetapannya" lanjut Jalih Pitoeng

Sejalan dengan kecaman Jalih Pitoeng salah satu jamaah sekaligus terdakwa yang ditahan bersama Jalih Pitoeng, Dr. Insanial Burhamzah juga mengecam tindakan yang dilakukan oleh Jokowi.

"Saya mengecam keras atas tindakan presiden Jokowi yang melarang pelaksanaan sholat ieful fitri" ungkap Insanial

Dirinya juga mencontohkan beberapa negara yang justru mendukung umat islam dalam melaksanakan ibadah. Baik sholat Jum'at apalagi sholat Ieudul Fitri.

"Di Berlin, German para pemuka agama yang non muslim, justru membuka gereja-gereja mereka untuk dijadikan sarana sholat Jum'at bagi pemeluk agama islam. Tapi mengapa di Indonesia yang masyarakatnya mayoritas islam, bahkan terbesar didunia seakan dipasung untuk tidak melaksanakan ibadah menurut syariat yang sebagaimana lazimnya" sambung Insanial

"Jadi, memang kita semua prihatin dan cemas terhadap covid-19, akan tetapi tidak harus menghentikan umat islam melaksanakan ibadah di masjid atau sarana ibadah lainnya sebagaimana mestinya. Justru hal tersebut dilakukan di Berlin-German ketika umat difasilitasi untuk melakukan sholat Jum'at ditengah pandemi covid-19" pungkas Insanial dengan penuh ketegasan.

Didesak pertanyaan tentang sholat berjama'ah, sholat iedul fitri dan konser, Jalih Pitoeng menyerahkan kepada rakyat dan umat untuk menilainya.

"Saya tidak mau mengimentari tentang konser tersebut. Karena rakyat dan umat kita sudah pintar, faham dan cerdas. Biarlah rakyat dan umat yang akan menilainya" pungkas Jalih Pitoeng. (SB)
Komentar Anda

Terkini: