Jalih Pitoeng : Memaknai Idul Fitri dari balik Jeruji Besi

/ May 24, 2020 / 11:40 AM
Bagikan:
Suasana Idul Fitri di Penjara Tua Buatan Colonial Belanda

SUARABERKARYA.COM, TANGERANG - Dibawah pandemi Covid-19 yang melanda negeri ini ternyata tidak menyurutkan semangat para pejuang kebenaran aktivis dan tahanan politik untuk merayakan hari kemenangan setelah melewati ujian berat dalam menunaikan ibadah puasa sebulan penuh di bulan ramadhan dalam penjara tua buatan colonial Belanda yang konon ceritanya pernah juga dihuni oleh pejuang kebenaran dalam membela rakyat kecil dari tanah batavia si Pitoeng dibawah kekuasaan kepolisian Belanda Schot Hyne sebagai pemimpin di tanah Batavia kala itu.

Sehingga idul fitri 1 Syawal 1441 H kali ini menjadi catatan penting bersejarah bagi para 16 Tahanan Politik yang saat ini ditahan bersama-sama dengan Jalih Pitoeng di Lapas Pemuda kelas 2A Kota Tangerang, Minggu, (24/05/2020)

Mungkin ada kemiripan kisah perjuang si Pitoeng yang kala itu ditangkap oleh kepolisian Belanda dengan tuduhan sebagai perampok dan pemberontak versi kepolisian Belanda, Jalih Pitoeng dkk juga saat ini ditangkap dan ditahan dengan tuduhan akan melakukan makar dan perencana kerusuhan yang penggagalkan pelantikan presiden Jokowi 20 Oktober 2018 sebagaimana yang dihebohkan oleh berbagai media yang berpihak pada penguasa saat ini dibawah kepemimpinan Jokowi.

16 Tahanan Politik Ucapkan Selamat Idul Fitri 1 Syawal 1441 H

ALLAHU AKBAR...!!!
ALLAHU AKBAR...!!!
ALLAHU AKBAR...!!!

LAILAHAILALLAHUALLAHU AKBAR...!!!
ALLAHU AKBAR WALILLAHILHAMD...!!!

Itulah yang biasa kudengar dari tahun ketahun dikampung dan didesa hingga sekarang menjadi kota.

Gema takbir berkumandang disertai pukulan bedug bertalu talu pertanda hari kemenangan bagi umat islam atas perjuangannya melawan hawa nafsu selama sebulan penuh berpuasa.

Masyarakat tumpah ruah merayakan idul fitri. Saling berkunjung dan berma'af ma'afan sesama keluarga, tetangga dan handai tolan tak terkecuali yang beragama lain sebagai wujud toleransi ikut meramaikannya.

Suasana Pelaksanaan Sholat Ied di Lapas Pemuda Kelas 2 A Kota Tangerang

Pagi hari umat islam berbondong-bondong menuju masjid dan lapangan terbuka untuk melaksanakan sholat idul fitri. Anak-anak pecah dimana-mana berseliweran bahagia merayakan hari kemenangan bagi umat islam diseluruh belahan dunia.

Namun kali ini tak nampak lagi kulihat senyum manis mereka disini. Dipenjara tua buatan colonial Belanda. Dimana saat ini aku sedang berada di penjara bersejarah ini. Di lembaga pemasyarakatan Pemuda Kelas 2 A Kota Tangerang.

Bersama 15 tahanan yang masih berstatus terdakwa dalam proses persidangan atas tuduhan melakukan makar dan atau melakukan perencanaan penggagalan pelantikan presiden pada 20 Oktober 2019 lalu, aku tak lagi bisa menikmati sayur ketupat khas lebaran bersama keluarga tercinta dirumah sebagaimana kujalani selama bertahun-tahun lazimnya.

Ribuan Narapidana Laksanakan Sholat Ied di Lapas Pemuda Kelas 2 A Kota Tangerang

Kami 16 orang terpaksa harus berlebaran dipenjara bersama dengan kurang lebih 2.000 narapidana lainnya yang berada di dalam lapas ini dalam merayakan idul fitri 1441 H yang bertepatan dengan hari Minggu 24 Mei 2020.

Walau tidak sempat atau bahkan tidak bisa bertemu keluarga karena Lockdown akibat virus corona covid-19, namun idul fitri kali ini tetap memiliki makna tersendiri.

Ada 5 hal yang dapat dimaknai sebagai sebuah hikmah yang membawa nilai positif selama berada dalam penjara yaitu;

1. Meningkatkan keimanan; Penjara adalah tempat yang boleh dibilang sangat terasing. Terasing disini adalah jauh dari hingar bingar kehidupan yang normal. Karena hampir seluruh kegiatan sosial, bisnis hingga politik terhenti. Sehingga moment ini dapat digunakan untuk meningkatkan kekhusuan sekaligus disiplin dan tepat waktu dalam melakukan ibadah terutama sholat. Awalnya mungkin bisa saja ada yang merasa terpaksa. Namun kelama-lamaan menjadi terbiasa dan berdampak positif dalam hal disiplin menunaikan sholat berjamaah.

Peningkatan keimanan kita didalam penjara dapat dilihat dalam 3 pendekatan yaitu;

a. Syukur;
Karena penjara bukan rumah kita, kantor apalagi istana, maka seluruh fasilitas dan kebijakan dan aturan yang ada merupakan standar baku yang harus diikuti. Kita tidak bisa mengikuti ego dan keinginan pribadi sesuai dengan kebiasaan yang kita jalani sebelumnya diluar sana.

Kekakuan menurut pandangan pribadi ini bisa meningkatkan tensi peredaran darah jika kita tidak mampu bersyukur. Maka untuk dapat mensyukurinya adalah ikhlas.

b. Ikhlas;
Segala sesuatu yang kita lakukan dan atau kita alami tanpa sebuah keikhlasan yang tulus hanyalah melahirkan sebuah penyiksaan dalam diri.

Karena teori dasar manusia adalah memiliki keinginan yang tak terbatas sementara kemampuan manusia sangatlah terbatas.

Ingin rasanya makan makanan yang enak, lezat bahkan yang berselera tinggi serta menikmati menu seperti restoran kelas dunia. Atau berlibur, berenang dan jalan-jalan bersama keluarga, sahabat atau rekan kerja.

Tapi itu hanya sebatas keinginan dan kemauan yang tak bertepi. Karena penjara adalah bui. Yang kesemuanya sangat dibatasi.


c. Sabar;
Sabar adalah hal yang sangat penting dalam menyikapi semua pristiwa dan berbagai persoalan serta problematika dalam kehidupan. Bahkan didalam Al-Qur'an sabar memiliki derajat yang tinggi dimana dikatakan bahwa "Allah bersama orang-orang yang sabar"

Selain bersyukur, ikhlas dalam menerima takdir Allah, penjara juga dapat meningkatkan kesabaran kita dalam menghadapi segala sesuatu.

Baik mengenai keterbatasan fasilitas dan pelayanan yang sangat terbatas, maupun dampak yang timbul secara sosial yang kerap terjadi didalam penjara.

Termasuk harus memiliki tingkat kesabaran yang ekstra super ketika menerima kiriman menu makanan dari petugas  yang meluluh lantahkan selera makan kita. Inilah penjara. Bukan resort atau villa.

Akan tetapi negara dalam hal ini Dirjen Lapas harus meningkatkan menu makan para napi dengan memperhatikan standar hidup sehat dan kebutuhan nutrisi.

Sehingga grafik rasa syukur kita meningkat sangat tajam saat mendapat kiriman makanan dari keluarga. Karena menu makanan penjara yang populer disebut "Cadong" sejujurnya memang jauh dari mengundang selera. Namun sekali lagi harus saya katakan bahwa "Inilah Penjara"

Jika hal makan saja kita mengeluh bak anak mami, maka janganlah mengaku-ngaku sebagai pejuang atas nama rakyat. Apalagi atas nama agama. Atau mungkin hanya terjebak dalam perjuangan. Dan sesungguhnya tidak atau belum siap menghadapi resiko perjuangan. Sehingga menyesal dan mengeluh atau bahkan cengeng dalam menghadapi hal yang remeh temeh.

Karena sesungguhnya masih banyak rintangan dan tantangan yang jauh lebih berat dari sekedar urusan makanan atau fasilitas serta keterbatasannya pelayanan.

Akan tetapi bagi orang-orang yang belum siap secara mentalitas, nampak sekali gangguan phsikologinya. Melakukan sesuatu yang bisa dianggap aneh karena tidak kuat menerima kenyataan atau "Goyang" dalam istilah penjara.

Jika ada yang menganggap pandangan saya adalah sebuah kebodohan karena tidak mau menggunakan fasilitas atau kemampuan untuk membangun singgasana dan kemewahan dalam penjara, maka argumentasinya adalah bahwa ini adalah penjara. Sehingga sering saya mengatakan "Jangan buatkan saya istana dalam penjara...!!!"

Karena penjara bukanlah tempat yang ideal sebagai tempat makhluk sosial secara normal. Semewah apapun penjara adalah tetap penjara. Penjara adalah tempat napi untuk muhasabah. Merenungkan semua perbuatan yang telah dilakukan secara evaluatif.

Dan esensi penjara adalah "Jera" atau kapok dalam istilah orang betawi. Maka populer sumpah serapah kakek nenek kita dahulu "Jangan sampai tujuh keturunan gue ada yang masuk penjara"

Padahal tidak semua orang yang berada dalam penjara itu adalah penjahat. Contohnya aku. Aku adalah salah satu orang yang berusaha menyuarakan kebenaran. Jika penguasa saat ini menuduhku melakukan suatu kejahatan sebagaimana dihebohkan oleh media, biarlah karena mereka yang menguasai media.

Itupun baru dugaan yang saat ini ditingkatkan menjadi dakwaan dan masih berproses serta perlu dibuktikan dalam persidangan.

Yang dimaksud dengan hina nya orang masuk penjara menurut kakek nenek kita terdahulu adalah akibat perbuatan kriminal yang memalukan dan menjijikan.

Mungkin saat ini seperti para pelaku KORUPSI bagi oknum pejabat yang memakan uang rakyat tanpa merasa berdosa padahl mereka adalah "Dracula" penghisap darah rakyat hingga sengsara.

Atau para pengedar dan bandar NARKOBA perusak bangsa.  Sebagaimana korban anak bangsa yang hampir 78% narapidana di Lapas Pemuda kelas 2 A kota Tangerang ini adalah pengguna NARKOBA.

Mungkin secara sempit ada perbedaan antara kami-kami para aktivis yang ditahan dengan para napi pelaku kriminal dan undang-undang darurat tentang narkoba.

Namun secara umum tetap sama. Penjara ya tetap penjara. Semua serba terbatas dan dibatasi.

2. Menghargai kebersamaan;
Kebersamaan adalah sesuatu yang sangat berharga didalam kehidupan penjara.

Nilai-nilai soliditas dan solidaritas antar kawan seperkara maupun antar para narapidana. Karena saudara dan tetangga didalam penjara adalah kawan sepenjara. Sebatang rokok, secangkir kopi atau sepotong rendang, mungki tak terlalu berharga diluar sana. Namun beda dengan dipenjara. Semua itu memiliki nilai yang sangat tinggi.

Demikan pula nilai-nilai kebersamaan kita terhadap keluarga yang hilang. Betapa kita jadi sangat menghargai nilai-nilai kebersamaan bersama keluarga saat bertemu pada agenda kunjungan (besuk) maupun perjumpaan sekilas saat menghadiri persidangan.

3. Menghargai kesehatan;
Kesehatan yang mungkin sering kita abaikan karena ada orang tua, istri, adik, anak atau bahkan dokter pribadi, disini kita dituntut mandiri. Mulai dari pola makan, mandi serta merawat diri semua harus dilakukan sendiri demi memelihara kesehatan diri.

Penjara menuntut kita menjadi orang yang wajib memelihara dan menjaga kesehatan secara mandiri. Karena penjara tidak menyediakan rumah sakit apalagi salon kecantikan. Kalaupun ada hanya klinik yang konon katanya "sakit apa aja obatnya itu-itu juga" tapi mungkin itu hanya sebagai guyonan sesama napi saja.

Yang pasti penjara membuat kita benar-benar menjadi orang yang yang mampu menghargai arti penting dan mahal serta tingginya nilai kesehatan.

4. Memperluas pengetahuan dan pengalaman;
Diluar sana kita hanya mendengar, cerita dan rumor atau isyu-isyu serta gosip tentang penjara. Namun disini kita melihat, mendengar, menyaksikan dan merasakan segala pristiwa didalam penjara.

Banyak kegiatan yang positif ada juga yang mohon maaf negatif. Namun tidak bisa kita ungkapkan secara vulgar. Ada kegiatan sosial, olah raga dan kegiatan keagamaan yang juga disediakannya fasilitas masjid, gereja dan wihara.

Bahkan di Lapas Pemuda kota Tangerang ini ada istilah blok pesantren. Dimana ada sarana dan tenaga pengajar agama. Mulai dari sholat bagi yang belum pernah melaksanakannya hingga belajar membaca Al-Qur'an.

Namun yang paling menarik dalam pandangan saya disini adalah bahwa negara telah gagal membina rakyat nya. Banyaknya para narapidana masuk ke Lapas bukanlah sesuatu yang sukses dilakukan oleh Dirjen Lembaga Pemasyarakatan dibawah Departemen Hukum dan HAM.

Terlebih disini hampir 78% napi nya adalah kasus NARKOBA. Ini menggambarkan bahwa negara telah gagal membina generasi muda penerus bangsa.

Negarapun gagal menegakan hukum guna mencegah peredaran NARKOBA yang telah begitu JAHAT membunuh anak bangsa secara priodik.

Bagi yang memiliki kelemahan pisik dan mental akibat NARKOBA, jangan jauh-jauh untuk ikut berjuang demi agama, bangsa dan negara. Untuk dirinya saja mereka tidak mampu mengendalikannya.

Pendapat dan pandangan ini bukalah tanpa dasar. Dipenjara ini nyaris tak ada yang bisa ditutupi. Baik sifat, prilaku serta kebiasaan dapat dilihat dengan nyata dan kasat mata.

Disamping hasil observasi dan dan reportasi dengan beberapa napi, saya juga berinteraksi sosial sesama para napi dalam keseharian. Dari sinilah kita bisa memahami sifat dan kebiasaan serta keinginan mereka.

Sebagian besar dari mereka mengatakan akan berhenti menjadi pengguna NARKOBA. Namun ada pula yang justru akan mengulangi kembali karena tergiur dengan putaran uang dan keuntungannya.

Sekali lagi mohon maaf saya harus mengatakan bahwa negara telah gagal dalam rangka membina generasi muda dan menyelamatkan bangsa ini.

Hukum dan perundang-undangan hanya menjadi "Macan Kertas" yang diperbincangkan di pengadilan dalam sebuah persidangan tentang perbuatan yang dikategorikan "Extra Ordinary Crime" yang undang-undang nya pun disebut undang-undang darurat tentang NARKOBA.

Percuma saja disebut kejahatan luar biasa jika yang kita lihat ditelevisi dan media lainnya sering kali diberitakan tentang penggerebegan, penangkapan hingga persidangan dan tuntutan, jika hasil akhir nya justru mendominasi isi lembaga pemasyarakatan.

Harus ada formulasi baru agar dapat menekan lajunya peredaran NARKOBA dan menutup jalur masuknya NARKOBA agar bangsa ini selamat dikemudian hari.

Karena jika kita abai atau bahkan sengaja mengambil keuntungan pribadi dan kelompok dengan cara tebang pilih atau menggadaikan hukum, maka tanpa disadari negara telah memberi ruang segar bagi para "Westerling-Westerling" baru sebagai mesin pembunuh bagi generasi muda sekaligus mendukung punahnya indonesia karena rusaknya moral bangsa.

5. Memahami arti dan nilai perjuangan yang hakiki;
Perjuangan ternyata tidak sesederhana untaian kata juang, berjuang dan perjuangan. Perjuangan harus didasari sebuah kesadaran yang tinggi bahwa perjuangan membutuhkan sebuah pengorbanan.

Pahitnya dipenjara masih terlalu murah dan tidak seberapa dibanding para pendahulu kita yang  berjuang mengorbankan nyawa untuk mewujudkan indonesia merdeka.

Sehingga penjara bagi aktivis sejati mampu memberi edukasi untuk lebih menghargai nilai-nilai perjuangai perjuangan para pahlawan. Kecuali bagi para pecundang, pihak-pihak yang terjebak dalam perjuangan yang sesungguhnya tidak siap menghadapi resiko perjuangan, pelacur dan penjual perjuangan hingga penghianat perjuangan.


Maka pengalaman dipenjara yang bisa disebut hampir lengkap penderitaanya ini semoga menjadi sebuah pelajaran yang berharga. Sudah dipenjara, lockdown karena corona, bertemu pula dengan bulan puasa.

Namun ramadhan kali ini sangat membekas dengan segala edukasinya. Bahkan justru menjadi sangat istimewa. Semoga apa yang terjadi dan dialami selama dipenjara tidak pernah akan dialami kembali.

Kecuali hikmah yang memberi peningkatan keimanan tentang disiplin dalam melaksanakan ibadah selama dipenjara, itu harus lebih ditingkatkan!. (SB)

Lapas Pemuda Kota Tangerang
Minggu, 24 Mei 2020/1 Syawal 1441 H

"Selamat hari raya idul fitri, 1 Syawal 1441
Minal Aidin Wal Faidzin, Mohon Maaf Lahir dan Bathin"

#BJP_Bang Jalih Pitoeng
Komentar Anda

Terkini: