Jalih Pitoeng Minta Penasehat hukumnya laporkan saksi atas keterangan yang keliru

/ May 14, 2020 / 7:38 PM
Bagikan:
Tim Penasehat Hukum (Pitra Romadoni, Abdullah Alkatiri, Dedi Suhardadi, Sofyan Karim dkk)

SUARABERKARYA.COM, TANGERANG - Aktivis betawi Jalih Pitoeng, yang saat ini diseret-seret dalam pusaran perkara dugaan perencanaan kerusuhan menjelang pelantikan presiden, ungkapkan kekecewaannya dan meminta kepada penasehat hukumnya untuk melaporkan balik para saksi diakhir persidangan, Rabu (13/05/2020)

Jalih Pitoeng salah satu aktivis yang dikenal sangat kritis, lantang dan berani ini meminta kepada penasehat hukumnya Pitra Romadoni Nasution, SH., MH diakhir persidangan online tersebut untuk melaporkan balik para saksi yang diduga memberikan keterangan saksi yang keliru dan membingungkan atau biasa disebut keterangan palsu.

Para Terdakwa saat sidang online di LAPAS Pemuda Kota Tangerang

Sebelumnya Pitra Romadoni juga mencecar berbagai pertanyaan kepada tiga orang saksi yang dihadirkan oleh pihak kepolisian. Tiga saksi tersebut diantaranya adalah Fikri yang kemudian diketahui sebagai ketua DPC DKI PERISAI (Pertahanan Ideologi Syarekat Islam),  Bintang Wahyu Saputra selaku ketua umum Pengurus Besar SEMMI (Serikat Mahasiswa Muslim Indonesia) dan Harjono alias Jojo yang diketahui sebagai Sekjen PB PERISAI.

"Saudara saksi, saudara disini disumpah atas Tuhan saudara menurut agama islam. Kesaksian saudara disini akan menjadi penentu nasib para terdakwa. Untuk itu saya minta saudara saksi mengatakan yang sebenar-benarnya" pinta Pitra mengawali pertanyaan pada saksi, Rabu, (13/05/2020)

"Dan apabila saudara saksi berbohong atau memberikan keterangan palsu, maka ada sanksi pidanya" lanjut Pitra menegaskan

"Saudara saksi, didalam BAP saudara disini mengatakan bahwa saudara tahu dan mengerti bahwa saudara diperiksa dalam perkara yang menjerat para terdakwa diduga akan melakukan makar yang dijerat Undang-Undang Darurat No. 12 tahun 1951 tentang bahan peledak dan senjata api dengan pasal-pasal serta ayat nya secara rinci. Pertanyaannya, apakah jawaban dan penjelasan saudara saksi itu keluar dari mulut saudara dan saudara mengerti tentang pasal-pasal tersebut" tanya Pitra melanjutkan

"Tidak. Saya tidak tahu dan tidak mengerti" jawab saksi

"Lalu ini jawaban siapa" kejar Pitra

Salah satu saksi usai melakukan sumpah sebagai saksi

Ketiga saksi pun terdiam tidak menjawab. Namun Pitra segera melanjutkan pertanyaan seraya memecah ketegangan atas kebisuan persidangan

"Jadi apakah jawaban saudara saksi dalam BAP ini adalah murni jawaban saudara saksi, atau sudah disiapkan oleh penyidik" Pitra mengejar dengan pertanyaan

"Oleh penyidik" jawab saksi spontan

"OK. Kita lanjut" kata Pitra seraya melerai ketegangan

"Saudara saksi, didalam pertemuan dirumah Jenderal Soenarko pada tanggal 22 September 2019 pukul 20.00 WIB, apakah saudara saksi mengenal dan melihat klien kami saudara Ir. Mulyono, Jalih Pitoeng dan Januar Akbar" tanya Pitra lagi seraya meminta Jalih Pitoeng, Ir. Mulyono dan Januar Akbar berdiri

"Saya tidak kenal" jawab saksi

"Apakah saudara saksi melihat klien kami dalam pertemuan tersebut" Pitra lanjut bertanya

"Saya lupa" jawab saksi lagi

"Saudara saksi, didalam BAP saudara saksi, disini saudara saksi mengatakan bahwa akan ada kerusuhan dan bakar-bakaran. Pertanyaannya, apakah dalam pertemuan tersebut ada pembicaraan tentang kerusuhan dan bakar-bakaran" tanya Pitra lagi pada saksi

"Tidak ada pembicaraan itu" jawab Jojo jujur

"Lalu mengapa saudara saksi mengatakan akan ada kerusuhan dan bakar-bakaran" kejar Pitra

Harjono alias Jojo

Saksipun terdiam tidak bisa menjawab. Ketegangan tersebutpun memancing ketua majlis hakim bertanya.

"Ya kenapa saudara saksi mengatakan itu" tanya ketua majlis hakim menyela tiba-tiba.

"Itu menurut pendapat saya" jawab saksi

"Saudara saksi, apakah saudara saksi akan mempertahankan keterangan saudara saksi didalam BAP atau mencabut kesaksian yang saudara terangkan dalam BAP saudara" cecar Pitra lagi

"Ya. Saya cabut" jawab saksi Jojo diakhir pertanyaan Pitra

"Baik. Jadi dicabut ya..." kata Pitra pada saksi

"Terimakasih yang mulia dan mohon dicatat bahwa saksi mencabut keterangan dalam BAP nya" ujar Pitra mengakhiri pertanyaannya

Suasana sidang online perkara 252, 253 dan 254, Rabu, 13 Mei 2020

Sebelum dua saksi yaitu saudara Fikri dan saudara Bintang Wahyu Saputra juga sudah mencabut keterangan dan kesaksiannya sebagaimana diterangkan dalam BAP (Berita Acara Pemeriksaan).

Selain Pitra Romadoni, Alkatiri, Dedi Suhardadi dan Sofyan Karim juga mencecar berbagai pertanyaan pada tiga saksi tersebut. Terutama tentang silaturahmi di kediaman jenderal purnawirawan Soenarko yang pada fakta persidangan kali ini saksi menyatakan tidak ada pembicaraan terkait perencanaan kerusuhan dan bakar-bakaran serta menyinggung tentang bom, senjata api maupun bahan peledak sebagaimana dihebohkan oleh media mainstream 18 Oktober yang di release Polda Metro Jaya menjelang pelantikan presiden 20 Oktober 2019 lalu.

Multi Layer sidang online (Pengadilan Negeri kota Tangerang, Lapas Wanita kota Tangerang dan Lapas Pemuda kelas 2A kota Tangerang

Sebagaimana biasa diakhir persidangan hakim selalu bertanya pada seluruh terdakwa tentang pendapatnya mengenai keterangan saksi yang disampaikan ditengah persidangan.

Seluruh terdakwa yang terkait perkara bernomor 253 menolak dan keberatan atas keterangan saksi tak terkecuali Jalih Pitoeng

"Bagaimana pak Jalih Pitoeng" tanya ketua majlis hakim

"Terimakasih yang mulia. Disamping keberatan dan menolak seluruh keterangan saksi, saya juga memohon kepada penasehat hukum saya Pitra Romadoni dan para penasehat hukum yang lain untuk melaporkan para saksi atas keterangannya. Jika mereka tidak mencabut kesaksiannya yang keliru" pinta Jalih Pitoeng dengan nada tegas

Jalih Pitoeng juga menuturkan bahwa kehadiran dirinya, Januar Akbar dan Damar memiliki kesamaan dengan tiga orang saksi tersebut. Baik waktu, durasi dan kapasitas serta intensitas yang sama sebagai sesama sktivis dan relawan yang hadir dalam silaturahmi secara umum di kediaman Jenderal TNI (Purn) Soenarko.

Pertanyaan besarpun timbul dalam benaknya. Mengapa dirinya dan Akbar serta Damar ditangkap sedangkan para saksi tersebut tidak ditangkap. Apakah karena mereka berbeda pandangan tentang rezim ini. Karena pada aksi-aksi unjuk rasa dilapangan kelompok mereka mendukung RUU KUHP dan Revisi UU KPK sedangkan kelompok Jalih Pitoeng bersama emak-emak, rakyat dan umat justru sebaliknya.

Senada dengan Jalih Pitoeng Muhamad Nur Suryo alias Iwar juga menyampaikan keberatannya.

"Saya Keberatan yang Mulia" jawab Iwar saat ditanya hakim

"Tapi benar ya saudara Iwar yang membawa para saksi tersebut kerumah pak Soenarko ya" tanya hakim kembali

"Ya benar yang mulia. Saya yang mengajak dan membawa mereka. Tapi saya sangat keberatan dan menolak yang mulia" pungkas Iwar

Sidang akan dilanjutkan Rabu, 20 Mei 2020 dengan agenda masih mendengarkan keterangan saksi dalam tiga perkara. Baik perkara nomor 252 dengan terdakwa tunggal Laksaman Pertama TNI (Purn) Drs. Soni Santoso, SH., MH dan perkera bernomor 254 yang menjerat Dosen ITB non Aktif Dr. Ir. Abdul Basith. M.Sc. dan Laode. CS. (SB)
Komentar Anda

Terkini: