Sidang Bom Rakitan Hadirkan Saksi Ahli Pidana dan Ahli Bahan Peledak

/ May 28, 2020 / 12:07 PM
Bagikan:
Para Terdakwa saat mengikuti sidang online di Lapas Pemuda Kelas 2 A Kota Tangerang

SUARABERKARYA.COM, TANGERANG - Sidang perkara bom rakitan dan dugaan pemufakatan jahat yang sempat dihebohkan pada saat menjelang pelantikan presiden Oktober 2019 lalu, kini digelar kembali di pengadilan negeri kota Tangerang awal Syawal, Rabu (27/05/2020)

Sidang dengan agenda mendengarkan pendapat ahli kimia atau bahan peledak dan saksi ahli hukum pidana ini diawali dengan ucapan selamat hari raya idul fitri oleh ketua majlis hakim H. Soecipto, SH., MH dihadapan para jaksa penuntut umum dan para pengacara terdakwa ditengah persidangan online.

Sementara terdakwa, selama diberlakukan nya PSBB dan sidang online dibawah pandemi Covid-19 berada di ruang sidang online yang disediakan pihak Lapas Pemuda kelas 2 A kota Tangerang.

Tim Penasehat Hukum Terdakwa

Sidang kali ini menggelar 3 perkara yaitu perkara 352, 253 dan 254. Namun proses persidangan pada gabungan 3 perkara tersebut banyak menuai pertanyaan dari para penasehat hukum terdakwa. Terutama terkait syarat formil maupun materil.

Alkatiri yang merupakan salah satu dari tim penasehat hukum dari perkara bernomor 252 atas terdakwa tunggal Drs. Soni Santoso menghujani berbagai pertanyaan kepada saksi ahli bahan kimia dan ahli bahan peledak Heri Hariadi yang juga berasal dari pihak kepolisian.

"Saudara ahli, Apakah koreka api, mie instan dan rinso termasuk bahan peledak, lalu mengapa korek api itu dijual bebas di warung-warung" tanya Alkatiri, Rabu (27/05/2020)

"Bukan" jawab saksi ahli

Alkatiri juga banyak mencecar pertanyaan tentang uji laboratorium yang sudah diketahui saat saksi ahli diperiksa pada tanggal 29 September 2019 sedangkan hasil laboratorium forensik Mabes Polri baru diketahui pada tanggal 11 November 2019.

"Bagaimana mungkin saudara saksi ahli bisa mengetahui hasil laboratorium forensik pada saat saudara diperiksa oleh penyidik pada tanggal 29 September, sedangkan hasil laboratorium baru diketahui pada tanggal 11 November 2019 berdasarkan keterangan saudara ahli tadi. Apa saudara dukun" celoteh Alkatiri diiringi ketawa pengunjung sidang

Demikian juga halnya Pitra Romadoni Nasution yang merupakan penasehat hukum terdakwa Ir. Mulyono Santoso, Jalih Pitoeng dan Januar Akbar.

Namun kali ini Pitra lebih menekankan pertanyaan terhadap kepentingan kliennya. Yang menurut Pitra bahwa kliennya tidak terkait sama sekali dengan persidangan kali ini.

"Saudara ahli, saudara disumpah atas nama tuhan saudara sebagai muslim. Untuk itu saya mohon saudara memberi keterangan yang sebenar-benarnya menurut keahlian saudara" pinta Pitra mengawali pertanyaan kepada saksi ahli.

"Saudara ahli, terkait dengan keterangan saudara ahli dalam menjawab pertanyaan rekan kami Alkatiri tadi, dan berdasarkan BAP saudara ahli, bahwa saudara ahli ditugaskan untuk perkara siapa" lanjut Pitra

"Perkara Abdul Basith" jawab saksi ahli

"Jadi untuk Abdul Basith doang" kejar Pitra

"Ya" jawab saksi ahli

"Jadi bukan untuk Yudi Ferdian dan kawan-kawan" tanya Pitra memburu

"Tidak" jawab saksi spontan

"Jadi untuk Abdul Basith doang ya. Terimaksih yang mulia. Mohon dicatat yang mulia. Pinta Pitra menegaskan

Yudi dkk yang dimaksud Pitra adalah ; Yudi Ferdian, Okto Siswantoro, Mulyono Santoso, M. Damar, Januar Akbar, Jalih Pitoeng, M. Nur Suryo, Iriawan, Yudi Sesan dan Insanial Burhazah.

Disesi kedua usai sholat zhuhur, sidang pun dilanjutkan dengan menghadirkan saksi ahli pidana yaitu Dr. H. Dian Ardiawan,. SH,. MH., M. Hum salah satu pengajar hukum pidana di universitas Trisakti Jakarta.

Sebagaimana pada sesi pertama, disesi kedua inipun saksi ahli pidana banyak dihujani pertanyaan oleh para penasehat hukum terdakwa.

Terhadap saksi ahli pidana ini, Alkatiri dan Pitra banyak mengejar pertanyaan-pertanyaan terkait syarat-syarat formil maupun materil yang membuat saksi ahli agak kewalahan.

Terutama tentang prosedur penangkapan, penggeladahan, alat bukti dan barang bukti serta penyitaan dan pemusnahan barang bukti sesuai dengan Protap dan Perkap yang berlaku.

Sehingga hal tersebut membuat saksi ahli terkesan berat menjawab pertanyaan para pengacara karena dia hadir sebagai saksi ahli yang tidak boleh memihak kecuali kepada kebenaran sesuai keahliannya.

Sidang akan dilanjutkan pada Jum'at tanggal 29 Mei 2020 dengan agenda mendengarkan keterangan saksi ahli dari pihak terdakwa yang diajukan oleh penasehat hukum terdakwa. (SB)
Komentar Anda

Terkini: