Terkait Dugaan Pemufakatan Jahat, Saksi Istri Abdul Basith Beberkan Adanya Bercak Darah dirumahnya

/ May 20, 2020 / 9:30 PM
Bagikan:
Para terdakwa saat mengikuti sidang online di Lapas Pemuda kelas 2 A Kota Tangerang

SUARABERKARYA.COM, TANGERANG - Sidang online perkara nomor 252, 253 dan 254 terkait dugaan pemukatan jahat digelar kembali di akhir Ramadan dengan menghadirkan 2 orang saksi fakta dan 2 orang saksi ahli yang dihadirkan oleh jaksa penuntut umum, Rabu (20/05/2020)

Sidang yang diawali dengan penuh perdebatan antara hakim, jaksa dan para pengacara itu akhirnya tetap dilanjutkan diawali dengan mendengarkan keterangan saksi dari salah satu istri terdakwa Dr. Ir. Abdul Basith, M.Sc yaitu Dr. Ir. Hj. Illah Sailah, M.Sc

Dalam keterangannya saksi tersebut lebih banyak menceritakan tentang keheranannya melihat bercak-bercak darah yang tercecer di lantai dan ditembok.

Abdulah Alkatiri salah tim penasehat hukum terdakwa berkeberatan dengan dihadirkannya saksi dari istri terdakwa Abdul Basith. Dengan alasan dikhawatirkan tidak objektif.

"Ijin yang mulia, kami keberatan dengan saksi Ny. Illah. Karena kami khawatir tidak objektif dalam memberikan keterangan" Pinta Alkatiri memulai persidangan

Kemudian timbul perdebatan sengit antara jaksa, hakim dan para pengacara terkait saksi tersebut yang dihadirkan oleh pihak kepolisian.

"Begini saja, jadi kita dengarkan saja dulu keterangannya. Nanti kita bisa dengar apakah objektif atau tidak" pinta ketua majlis hakim menengahi perdebatan

Akhirnya para penasehat hukum Abdulah Alkatiri, Pitra Romadoni Nasution, Deddy Suhardadi, Sofyan Karim dan Gufron serta Jatinom menyepakati untuk tetap dilanjutkan.

"Jadi kita sepakati ya bahwa saksi kita lanjutkan" kata ketua majlis hakim H. Soecipto SH., MH yang memimpin persidangan

"Saudari saksi, apakah saudari saksi mengenal para terdakwa yang ada di monitor tersebut" tanya jaksa penuntut umum

"Tidak" jawab saksi singkat

"Saudari saksi, apakah saudari saksi, tahu ada tamu dirumah saudari" tanya jaksa melanjutkan.

 "Saya tidak tahu. Karena saya dirumah sebelah. Sedangkan pembantu saya memberi tahu bahwa ada tamu berada dilantai dua rumah kami yang satu lagi. Namun masih berdempetan" jawab saksi dengan lugas

"Apakah saudari saksi mengetahui saat penggeladahan dirumah saudari pada tanggal 28 September 2019 tersebut" tanya jaksa lagi

"Saya tidak tahu. Karena rumah kami sudah dipasang Police Line" jawab saksi cepat

"Setahu saya kan hanya 2 X 24 jam. Tapi setelah seminggu baru Police Line dibuka dan saya masuk, akhirnya saya mengetahui secara rinci bahwa ternyata rumah tersebut sudah berantakan dan saya melihat ada bercak-bercak darah" saksi menjelaskan

Dalam waktu yang bersamaan, penasehat Abdul Basith pun, Gufron, SH., MH beranjak kedepan mendekati ketua majlis hakim sambil menunjukan photo-photo.

Sontak hakim pun kaget dan bertanya pada saksi tentang photo-photo tersebut

"Itu photo bercak darah siapa" tanya ketua majlis hakim

"Saya tidak tahu yang mulia. Karena pak Basith juga tidak boleh turun dari mobil saat penggeledahan. Dan saya yakin bahwa pak Basith juga tidak tahu apa yang terjadi dirumah kami" kata saksi lagi

Spontan Alkatiri melontarkan pertanyaan kepada saksi ditengah persidangan

"Apakah pak Basith juga disiksa" tanya Alkatiri

"Tidak" jawab saksi

Namun dalam fakta persidangan tersebut saksi mengungkapkan penderitaan suaminya yang mengalami penyiksaan.

"Tapi waktu di Polda suami saya bercerita bahwa dia disiksa. Distrum telinganya dan ditutup kepalanya dengan kantong kresek" tutur saksi menceritakan

"Lalu itu bercak darah siapa" desak Alkatiri

"Saya tidak tahu. Karena saya tidak sedang ditempat. Jadi saya tidak tahu apa yang terjadi dirumah tersebut" jawab saksi lagi menegaskan

"Apakah saudari saksi melihat benda yang di photo itu" tanya ketua majlis hakim

"Saya tidak tahu" jawab saksi lagi

"Botolnya ya. Bukan photo nya" tegas majlis hakim

"Ya. Saya tidak melihat. Saat penggeledahan saya memang diminta naik kelantai dua oleh polisi. Tapi saya shok. Jadi lutut saya sudah tidak kuat lagi berdiri" jawab saksi mengenang pristiwa tersebut

"Baik. Jadi saudara hanya tahu photonya saja ya. Itupun saat diperiksa di Polda ya" tutup ketua majlis hakim

Akhirnya diketahui bahwa bercak darah tersebut adalah darah terdakwa Laode Samiun. Sementara Laode Jaflan Ra'ali dan Laode Aluani serta Laode Nadih mengalami luka memar akibat pukulan benda tumpul yang dipukuli oleh oknum polisi dengan kursi kayu hingga patah-patah.

Sidang yang digelar bertepatan dengan 27 Ramadan 1441 H inipun akhirnya dilanjutkan dengan mendengarkan keterangan saksi ahli bahasa yang dihadirkan oleh jaksa penuntut umum dalam perkara 253 tentang dugaan perbuatan pemufakatan jahat sebagaimana dalam dakwaan. (SB)
Komentar Anda

Terkini: