Akibat Penyiksaan, Abdul Basith dan Laode CS mencabut BAP dalam persidangan

/ June 3, 2020 / 11:00 PM
Bagikan:
Para terdakwa yang memberikan keterangan sebagai saksi mahkota atas perkara nomor 252 dengan terdakwa Laksamana Pertama TNI (Purn) Drs. Soni Santoso, SH., MH (Soni Santoso, Abdul Basith, Laode Samiun, Jalih Pitoeng, Laode Sugiono dan Mulyono Santoso)

SUARABERKARYA.COM, TANGERANG - Sidang dengan agenda mendengarkan saksi mahkota nan keterangan terdakwa dalam perkara 252, 253, 254 tentang tugaan pembuatan bom ikan di gelar di Pengadilan Negeri Kota  Tangerang, Rabu (03/06/2020)

Sidang ke 18 yang dilakukan secara omline ini merupakan sidang terlama dalam 3 perkara tersebut di mulai dengan mendengarkan keterangan saksi mahkota untuk perkara 252 atas terdakwa tunggal Drs. Soni Santoso, SH.MH yang memakan waktu cukup panjang dan sangat alot.

La Ode Nadi salah satu terdakwa dalam perkara nomor 254 atas terdakwa Abdul Basith dan La Ode Cs memberi keterangan kesaksian terhadap perkara nomor 252 dengar terdakwa tunggal Drs. Soni Santoso SH.MH mengawali persidangan tentang keterangan saksi mahkota

Jaksa Penuntut Umum mengawali berbagai pertanyaan seputar profesi, alamat serta kota terdakwa berasal serta tentang  kedatangan La Ode Nadi ke kediaman Abdul Basith. Selain itu jaksa penuntut umum juga melontarkan beberapa pertanyaan tajam tentang dugaan pembuatan bom ikan.

"Saudara saksi, apakah saudara pernah membuat bom ikan" tanya jaksa, Rabu (03/06/2020)

"Tidak pernah yang mulia" jawab La Ode Nadi spontan

"Saudara saksi berapa lama saudara menginap di rumah Abdul Basith" tanya jaksa lagi

"Saya tidak ingat yang mulia. Mungkin tiga hari" jawab La Ode Nadi

"Saudara saksi, apakah saudara saksi pernah membuat atau melihat ada yang membuat bom" tanya jaksa

"Tidak yang mulia" jawab La Ode Nadi lagi

"Saudara saksi, berdasarkan keterangan saudara di dalam BAP saudara, di sini saudara menjelaskan bahwa saudara membantu mengumpulkan korek api untuk membuat bom ikan. Apakah ini keterangan saudara saksi" tanya jaksa lagi

"Bukan yang mulia" jawab La Ode Nadi

"Saya di arahkan yang mulia. Saya di suruh menandatangani BAP tersebut. Karna saya takut di pukul lagi seperti waktu penangkapan di rumah Pak Abdul Basith" jawab La Ode Nadi menerangkan

La Ode Nadi juga menuturkan bahwa dirinya di pukuli oleh polisi saat penangkapan di rumah Abdul Basith. Sambil menangis La Ode Nadi menceritakan bahwa kakaknya La Ode Samiun di pukuli hingga berceceran darah dengan menggunakan kursi kayu hingga patah-patah.

"Saudara saksi, saya lihat saudara menangis. Mohon saudara tenang dan jelaskan saja yang sesungguhnya" ungkap Alkatiri menyela di tengah kesedihan La Ode Nadih tersebut

"Saudara saksi, jadi saudara mau menggunakan keterangan yang di BAP atau di persidangan ini" tanya Alkatiri

"Saya pakai yang di persidangan yang mulia" jawab La Ode Nadi

"Jadi saudara saksi mencabut BAP saudara" kejar Alkatiri

"Iya saya cabut yang mulia" Jawab La Ode Nadi dengan tegas

"Baik terima kasih yang mulia" tutup Alkatiri

Sidang keterangan saksi pun di lanjutkan dengan mendengarkan saksi La Ode Aluani.

Tidak jauh berbeda dengan La Ode Nadi, La Ode Aluani juga menuturkan tentang penyiksaan dirinya yang di pukuli oleh polisi saat penangkapan dirinya di rumah Abdul Basith.

"Saudara saksi, apakah saudara juga mengalami penyiksaan" tanya Alkatiri

"Iya betul yang mulia" jawab La Ode Aluani

"Kepala saya di pukul dengan tongkat besi yang mulia. Termaksud punggung dan tangan saya" Jawab La Ode Aluani

Dalam fakta persidangan tersebut La Ode Aluani juga mengungkapkan tentang kesaksianya yang melihat saudara sepupunya yaitu La Ode Samiun yang berceceran darah akibat di pukuli dengan menggunakan kursi kayu hingga patah patah sehingga tidak mampu lagi untuk berdiri. Selain La Ode Samiun dia juga menyaksikan La Ode Nadi yang terseok seok karna di pukuli dan La Ode Jaflan Raali yang sudah pingsan dan tidak sadarkan diri.

Usai keterangan saksi La Ode Nadi dan La Ode Aluani sidang dengan agenda mendengarkan saksi mahkota tersebut di lanjutkan dengan menjajarkan beberapa saksi pada kursi bagian depan yaitu Abdul Basith, La Ode Sugiono, La Ode Samiun dan La Ode Jaflan Raali.

La Ode Sugiono yang merupakah salah satu orang yang membawa atau mengajak saudara-saudaranya La Ode CS (La Ode Nadih, La Ode Samiun, La Ode Aluani dan La Ode Jaflan Raali) juga menerangkan tentang penyiksaan dirinya yang ditangkap lebih awal bersama Abdul Basith.

La Ode Sugiono mengungkapkan bahwa dirinya mengalami penyiksaan berat. Bahkan Sugiono juga menceritakan bagaimana dirinya disuruh tiarap dan diinjak oleh petugas saat dia ditangkap di Cipondoh Tangerang bersama Abdul Basith.

Ia juga menceritakan bagaimana HP nya diambil paksa saat pertama kali ia ditangkap pada tanggal 28 September 2019 dinihari yang kemudian diboyong ke Polda Metro Jaya.

[CUT]

Karna para saksi tersebut sama-sama mengalami penyiksaan yang berat, maka semua mencabut keterangannya di dalam BAP (Berita Acara Pemeriksaan).

"Saudara saksi, apakah di dalam pemeriksaan yang di lakukan oleh penyidik saudara di dampingi oleh penasehat hukum saudara" tanya jaksa penuntut umum kepada Abdul Basith

"Iya betul yang mulia" jawab Abdul Basith

"Saudara saksi, apakah saudara membaca keterangan saudara di dalam BAP sebelum saudara menandatanganinya" tanya jaksa lagi

"Saya tidak baca lagi" Jawab Abdul Basith

"Karna saya hanya boleh menjawab iya. Kalau saya jawab tidak saya pasti di pukul dan di strum lagi seperti saat saya disiksa di Jatanras" kata Abdul Basith melanjutkan jawabannya

"Seperti apa penyiksaan yang saudara saksi alami" tanya Alkatiri

"Kepala saya di tutup dengan kantong kresek, leher saya di ikat dengan ikat pinggang, sehingga saya tidak bisa lagi mengatakan tidak selain iya. Karena jika saya jawab tidak maka saya semakin dipukuli. Maka demi keselamatan jiwa saya akhirnya saya tandatangani saja tanpa saya baca lagi" terang Abdul Basith menyesalkan kejadian tersebut

"Di mana di lakukan penyiksaan itu" tanya Alkatiri lagi

"Sejak saya di tangkap dan di bawa ke Polda hingga subuh, lalu saya di masukan ke dalam sel ukuran 2x3 meter yang di dalamnya lebih dari 30 orang" Abdul Basith menerangkan

"Kemudian saya di bawa ke unit Jatanras dan di situlah di lakukan penyiksaan terhadap diri saya. Mereka tidak mengenal umur, bahkan mereka menyiksa saya dengan sadis dengan tidak manusiawi" Abdul Basith melanjutkan keterangannya.

Akhirnya sidang di tutup pukul 21.20 WIB oleh ketua majelis hakim. Keterangan saksi mahkota para terdakwa 253 untuk perkara 252 atas terdakwa tunggal Drs. Soni Santoso, SH., MH akan di lanjutkan, kamis, 4 Juni 2020.

"Baik. Saudara-saudara semua. Saudara jaksa, penasehat hukum dan para terdakwa, sidang kita lanjutkan besok hari kamis tanggal 4 Juni jam 9 ya" Kata ketua majelis hakim yang di sambut setuju para terdakwa. (SB)
Komentar Anda

Terkini: