Jalih Pitoeng Bersikukuh Nyatakan Bahwa Dirinya Tidak Layak Disidangkan

/ June 5, 2020 / 11:00 PM
Bagikan:
Sidang online, Jum'at, 5 Juni 2020

SUARABERKARYA.COM, TANGERANG - Aktivis betawi Jalih Pitoeng yang saat ini masih menjalani persidangan dan ditahan di Lapas Pemuda kelas 2 A kota Tangerang bersikukuh nyatakan bahwa dirinya tak layak untuk disidangkan. Ungkapan yang jarang terjadi tersebut disampaikan dihadapan majlis hakim pada sidang ke 20 dengan agenda mendengarkan keterangan saksi mahkota dan keterangan terdakwa, Jum'at (05/06/2020)

Dalam sidang lanjutan yang dilaksanakan 3 hari berturut-turut ini, Bang Jalih Pitoeng panggilan akrabnya sempat berdebat dengan jaksa penuntut umum karena sangat kecewa dirinya diseret-seret dalam perkara 253 dengan dakwaan perbuatan pemufakatan jahat terkait perencanaan kerusuhan pada agenda besar ulama dan umat islam Parade Tauhid tanggal 28 September 2019 menjelang pelantikan presiden di Patung Kuda.

Jaksa penuntut umum menanyakan dirinya tentang pertemuan dikediaman Jenderal TNI (Purn) Soenarko terkait dugaan perencanaan kerusuhan pada agenda ulama dan umat islam tersebut.

"Saudara saksi, siapa yang saudara kenal diantara para terdakwa yang berada dekat saudara" tanya jaksa penuntut umum, Jum'at (05/06/2020)

"Ijin yang mulia, saya hanya kenal dengan saudara Januar Akbar dan Damar" jawab Jalih Pitoeng

"Dimana saudara mengenal saudara Januar Akbar dan Damar" tanya jaksa lagi

"Saya kenal mereka karena kami adalah sama-sama relawan Prabowo Sandi pada pilpres kemaren" jawab Jalih Pitoeng Lugas

"Saudara saksi, sebagaimana keterangan saudara Damar dan Januar Akbar tadi, apakah benar saudara adalah ketua umum DPR RI. Apakah itu organisasi dan berapa jumlah anggotanya" tanya jaksa melanjutkan

"Betul yang mulia. Namun secara administratif Dewan Persaudaraan Relawan dan Rakyat Indonesia atau DPR RI yang saya inisiasi belum memiliki anggota yang terigestrasi. Dan DPR RI masih berbentuk forum perjuangan rakyat yang memperjuangkan kebenaran dan penegakan hukum dan HAM yang dibentuk pasca kerusuhan 21-22 Mei 2019 yang lalu. Terutama tentang korban pelanggaran HAM terhadap Harun Al Rasyid" jawab Jalih Pitoeng menjelaskan

"Kemudian bagaimana cara saudara saksi merekrut atau mengundang mereka dalam aksi unjuk rasa" tanya jaksa lagi

"Biasa nya kami sampaikan melalui group-group WA (WhatsApp). Karena mereka merasa satu visi dan misi serta memiliki pandangan yang sama maka mereka ikut dan bergabung sekaligus mendukung" sambung Jalih Pitoeng menguraikan

"Saudara saksi, terkait pertemuan, apakah saudara hadir dirumah pak Soenarko pada tanggal 20 September 2019" tanya jaksa penuntut umum

"Ijin yang mulia, sebelum saya menjawab perkenankanlah saya menyampaikan sesuatu" ungkap Jalih Pitoeng

"Silahkan" kata ketua majlis hakim

"Saya ini orang bodoh. Bukan pakar hukum. Namun sepemahaman saya bahwa proses penegakan hukum harus dilakukan sesuai dengan ketentuan hukum. Maka dari itu sering saya sampaikan bahwa saya ini tidak layak untuk disidang kan yang mulia" ungkap Jalih Pitoeng

"Saudara terdakwa ada disini karena BAP" kata jaksa menyambut jawaban Jalih Pitoeng

"Mohon maaf pak jaksa yang saya hormati. Saya catat anda sudah dua kali kemarin dan sekarang mengatakan bahwa kami para terdakwa ada disini karena BAP. Tapi apakah ada yang tahu bagaimana proses penyidikan hingga menjadi BAP" ungkap Jalih Pitoeng menyesalkan

"Masih beruntung Alhamdulillah saya mendapatkan penyidik yang masih punya hati nurani dan menjunjung tinggi semangat PROMOTER Polri. Jika tidak tentunya saya pasti akan mengalami penyiksaan sebagaimana terdakwa yang lainnya yang mengalami penyiksaan hingga berdarah bahkan cacad permanen" ungkap Jalih Pitoeng menyesalkan

"Ada 3 halaman yang sudah dua kali saya coret untuk dikoreksi dan direvisi karena tidak sesuai. Pertanyaannya saja sudah salah apalagi jawabannya. Tapi masih dipaksakan juga untuk dimuat dalam BAP yang bukan pendapat atau jawaban saya" sambung Jalih Pitoeng menegaskan

Aktivis yang saat ini menjadi tahanan politik di Lapas Pemuda Kota Tangerang ini menduga bahwa pertanyaan dan jawaban orang lain yang sudah diarahkan oleh penyidik setelah dilakukan penyiksaan sebagaimana yang terungkap pada fakta persidangan itulah yang kemudian di copy paste ke BAP Jalih Pitoeng

"Ya sudah, sudah pak Pitoeng. Kan BAP nya juga sudah dicabut kemarin" kata ketua majlis melerai perdebatan

"Jawab saja hadir atau tidak" sambung ketua majlis hakim

"Baik. Terimakasih yang mulia. Saya tidak hadir yang mulia. Saya hanya hadir sekali tanggal 22. Demikian yang mulia" jawab Jalih Pitoeng menegaskan

"Saudara saksi, didalam pertemuan tanggal 22 tersebut, apakah ada pembicaraan tentang bom dan kerusuhan pada acara Parade Tauhid" tanya jaksa kembali

"Tidak ada" jawab Jalih Pitoeng singkat

"Apakah saudara mendengar sebelumnya bahwa ada acara rapat-rapat tentang kerusuhan pada acara Parade Tauhid atau pembicaraan tentang bom" tanya jaksa lagi

"Tidak ada. Apalagi tentang bom" jawab Jalih Pitoeng

Jalih Pitoeng juga menuturkan bahwa bagaimana mungkin dirinya mau merusak agenda ulama dan umat islam pada acara parade tauhid sedangkan dirinya merupakan pencinta ulama dan pendukung acara yang diselenggarakan oleh para ulama tersebut.

Jalih Pitoeng juga menjelaskan bahwa dirinya hadir dan menyampaikan orasi di acara Parade Tauhid.

"Bagaimana caranya saudara bisa hadir dalam acara tersebut. Apakah saudara diundang atau saudara yang mengundang" tanya jaksa melanjutkan pertanyaan

"Saya bukan panitia. Jadi saya tidak mengundang. Saya hadir karena mengetahui dari group-group WA. Dan biasanya memang seperti itu undangannya bersifat umum" jawab Jalih Pitoeng menjelaskan

"Dan saya hadir pada saat itu. Bahkan saya menyampaikan orasi tentang Pancasila dan kalimat tauhid" pungkas Jalih Pitoeng

Pada persidangan kali ini semua para tahanan politik sejumlah 16 orang dan 1 orang tahanan wanita yang berada di Lapas Wanita kota Tangerang sepakat mencabut keterangan yang ada dalam BAP (Berita Acara Pemeriksaan) mereka oleh penyidik Polda Metro Jaya karena dianggap tidak sesuai dan memilih keterangan dalam fakta persidangan.

Sidang ditutup pukul 20. 00 WIB setelah semua para penasehat hukum mengkonfirmasi barang-barang milik terdakwa yang disita oleh pihak kepolisian pada saat para terdakwa ditangkap dan ditahan di Polda Metro Jaya.

Sidang selanjutnya akan digelar pada Jum'at 12 Juni 2020 dengan agenda pembacaan tuntutan jaksa penuntut umum. (SB)
Komentar Anda

Terkini: