Jalih Pitoeng dkk Bantah Keterangan Saksi Penyidik di Penghujung Masa Persidangan

/ June 10, 2020 / 11:00 PM
Bagikan:
Suasana Persidangan di Pengadilan Negeri Kota Tangerang, Rabu 10 Juni 2020

SUARABERKARYA.COM, TANGERANG - Memasuki masa persidangan ke 21 dengan agenda mendengarkan keterangan saksi verbalisan atau yang dikenal saksi penyidik, aktivis yang dikenal kritis Jalih Pitoeng membantah keterangannya yang tertuang didalam BAP (Berita Acara Pemeriksaan) yang dilakukan oleh penyidik Polda Metro Jaya, Rabu (10/06/2020)

Sidang yang memakan durasi 12 jam ini nampak sangat seru karena banyaknya perdebatan akibat ketidak sesusian antara BAP dan fakta persidangan.

Berbeda dengan persidangan pada sesi pertama, sesi kedua ini banyak sekali sanggahan dari para terdakwa atas keterangan saksi penyidik.

Salah satu terdakwa yang didakwa melakukan tindak pidana pemukatan jahat dalam perkara bernomor 253 Jalih Pitoeng, menyampaikan 4 point penting pada ditengah persidangan.

Sebagaimana biasanya usai mendengarkan keterangan saksi, baik saksi fakta, saksi mahkota maupun saksi ahli, ketua majlis hakim juga bertanya pada para terdakwa mengenai tanggapan terdakwa terhadap saksi penyidik yang telah memberikan keterangannya.

Pengamanan Ekstra Ketat Sidang Verbalisan

"Bagaimana pak Jalih Pitoeng. Bagaimana pendapat saudara atas keterangan saksi" tanya ketua majlis hakim, Rabu (10/06/2020)

"Ijin yang mulia. Sebelum saya menjawab, ijinkanlah saya menyampaikan beberapa hal yang mulia" jawab Jalih Pitoeng

"Ya sudah jawab saja. Apakah ada sanggahan atau tidak" pinta ketua majlis hakim

"Sekali lagi saya mohon ijin ya mulia. Karena ini adalah kesempatan terakhir saya melakukan pembelaan diri sebagai terdakwa. Karena bagaimana mungkin saya bisa menjawab jika pertanyaan saja sudah salah apalagi jawabannya" sambut Jalih Pitoeng

"Ya sudah jawab saja. Kalau ada hubungannya silahkan saudara sampaikan" ungkap ketua majlis mempersilahkan

"Baik. Terimakasih yang mulia. Yang pertama tentang Tempos atau waktu. Mengapa ini saya sampaikan, karena waktu itu adalah sangat penting dan memiliki konsekuensi hukum secara yuridis. Karena jika telah ditandatangani bisa diangggap sah secara hukum" ungkap Jalih Pitoeng

"Jadi saya mohon dibedakan antara tanggal 20 dan 22. Saya 3 kali mencoret BAP dan 2 kali minta dirobek. Karena didalam BAP tertulis saya hadir di pertemuan tersebut (Red-Rumah Soenarko). Sedangkan saya tidak hadir pada tanggal 20 tersebut. Saya hanya hadir sekali yaitu tanggal 22 September bersama saudara Januar Akbar dan Damar. Maka dari itulah beberapa kali saya minta dikoreksi dan direvisi" kenang Jalih Pitoeng menjelaskan

"Kemudian tentang status. Sepanjang persidangan yang sudah mencapai 21 kali persidangan, saya cermati ada yang keliru dalam penyematan status saya. Mestinya maksimal saya hanya sebagai saksi bukan tersangka. Apalagi terdakwa" sambung Jalih Pitoeng mengungkapkan penyesalannya

"Kemudian tentang penasehat hukum. Saat itu saya sempat bertanya kepada pak Halim selaku penasehat hukum. Mengapa surat kuasa ini dibuat tertanggal 10 Oktober yang tertera dibawahnya. Sedangkan saat itu sudah bulan Januari 2020 menjelang pelimpahan. Saat itu saya, Januar Akbar, Pak Mulyono Santoso, M Nur Suryo dan tersangka Iriawan diminta untuk menandatangani surat kuasa menjelang pelimpahan. Dan saya menduga ini karena sebelumnya ditayangkan oleh Mata Najwa tentang Lutfi yang mengalami penyiksaan dalam proses penyidikan" ungkap Jalih Pitoeng

"Saya memang tidak mengalami penyiksaan seperti yang dialami oleh teman-teman terdakwa yang lainnya. Saya beruntung mendapat penyidik yang masih memiliki nurani dan menjunjung tinggi nilai-nilai profesionalitas PROMOTER Polri" lanjut Jalih Pitoeng

"Dan yang terakhir, ini perlu kita perhatikan dan kita catat bagi kita semua. Bahwa sepanjang persidangan ini saya menemukan istilah yaitu Pra Pemeriksaan dan Pemeriksaan. Karena ternyata fakta persidangan terungkap bahwa teman-teman kami disiksa pada Pra Pemeriksaan yang kita dengar dari apa yang mereka ungkap difakta persidangan" pungkas Jalih Pitoeng

"Baik. Bagaimana saudara penyidik Jhon Sinaga tentang apa yang disampaikan oleh saudara terdakwa Jalih Pitoeng" tanya ketua majlis hakim pada saksi penyidik

"Ijin yang mulia, kami memeriksa pak Jalih Pitoeng dengan baik dan profesional. Bahkan kami persilahkan meroko dan kopi. Karena beliau sangat faham tentang proses penyidikan dan sangat kooperatif" jawab saksi penyidik

Emak-Emak Militan Hadir Dalam Memberikan Dukungan Moral Kepada Jalih Pitoeng dkk

Sebelumnya sanggahan yang sama juga disampaikan oleh terdakwa Januar Akbar dan terdakwa Damar. Bahwa mereka bertiga mengatakan tidak hadir pada pertemuan dirumah Soenarko pada tanggal 20 September 2019.

"Saya tidak hadir dalam pertemuan tanggal 20. Saya hadir ditanggal 22 bersama Bang Jalih Pitoeng dan Akbar. Dan pada pertemua tersebut tidak ada yang saya kenal kecuali yang saya kenal hanya Bang Jalih Pitoeng dan Akbar" ungkap Damar membantah keterangan dalam BAP nya

Demikian halnya Damar, Januar Akbar juga menyampaikan bantahan yang sama sebagaimana terdakwa Damar ungkapkan.

"Ijin yang mulia, saya tidak hadir pada tanggal 20 dirumah pak Narko. Saya hadir bersama Bang Jalih Pitoeng dan Damar. Terus juga tidak ada yang saya kenal kecuali Bang Jalih dan Damar" ungkap Januar Akbar dalam bantahannya

"Lagi pula saya juga bingung apa salah saya koq saya ditangkap" terang Akbar melanjutkan

"Kemudian tentang BAP, saya baca beberapa kali saya menolak tandatangan dan minta direvisi oleh penyidik. Ada saksinya tuh Bang Jalih disebelah saya sedang diperiksa juga. Demikian yang mulia" pungkas Akbar

Selain Jalih Pitoeng, Januar Akbar dan Damar, para terdakwa perkara 253 seperti Yudi Ferdian, Okto Siswantoro,  Mulyono Santoso, M. Nur Suryo alias Iwar, Iriawan, Yudi Sesan dan Insanial Burhamzah juga menolak dan membantah keterangan saksi penyidik tentang BAP.

Tak jauh beda dengan perkara 252 dan 253, Abdul Basith dan Laode CS yang terdiri Sugiono alias Laode, Laode Aluani, Laode Samiun, Lsode Nadi dan Laode Jaflan Rasli dalam perkara 254 juga menolak dan membantah keterangan saksi penyidik.

Bahkan Abdul Basith dan 5 terdakwa Laode CS menuturkan bahwa mereka mengalami penyiksaan sebagaimana yang telah mereka ungkapkan pada sidang-sidang sebelumnya.

Terutama terdakwa Abdul Basith yang menuturkan secara rinci tentang penyiksaan dirinya.

"Di KAMNEG (Red-unit Keamanan Negara) saya memang tidak disiksa. Tapi sebelumnya, sejak saya ditangkap tanggal 28 September 2019, saya disiksa di unit JATANRAS (Red-Kejahatan Keras) kepala saya ditutup kantong kresek, leher diikat dengan ikat pinggang dan tangan diborgol" ungkap Abdul Basith mengenang penyiksaannya

"Kemuadian soal BAP, semua itu copy paste dari JATANRAS. Karena saya tahu persis bahwa soft copy dibawa ke KAMNEG" lanjut Abdul Basith

"Apakah saudara mrmbaca sebelum menandatangani BAP tersebut" tanya ketua majlis hakim

"Saya sudah pasrah demi keselamatan jiwa saya jadi saya tandatangani saja dan nanti akan saya jelaskan dipengadilan saja" kenang Abdul Basith

Akhirnya sidang yang dimulai pukul 10.00 pagi tadi ditutup pada pukul 21.50 WIB dan akan dilanjutkan pada Jum'at 12 Juni 2020 dengan agenda pembacaan tuntutan oleh Jaksa Penuntut Umum. (SB)
Komentar Anda

Terkini: