Jalih Pitoeng Dukung MUI, Ulama, Emak-emak dan Mahasiswa Seluruh Indonesia Tolak RUU HIP

/ June 22, 2020 / 2:18 AM
Bagikan:
Bang Jalih Pitoeng (BJP)

SUARABERKARYA.COM, JAKARTA - Ramainya media massa termasuk media sosial tentang penolakan Rancangan Undang-Undang Haluan Ideologi Pancasila (RUU HIP) ternyata juga tak luput dari perhatian salah satu tahanan politik terdakwa atas tuduhan melakukan perencanaan penggagalan agenda nasional pelantikan presiden Joko Widodo pada Oktober 2019 lalu.

Penolakan yang terus berkembang dan membesar serta merebak ke berbagai daerah seperti Solo, Tasik dan beberapa daerah yang telah melakukan deklarasi serta unjuk rasa penolakan tentang adanya usulan dari Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan tersebut.

Kesadaran politik masyarakat saat ini makin menguat. Bahkan beredar kabar adanya Tanda Pagar atau tagar #TangkapMegaBubarkanPDIP oleh para netizen kini menjadi trending topik dimedia sosial sebagai bentuk kepedulian sekaligus upaya penolakan pembahasan RUU HIP tersebut oleh DPR.

Fenomena tersebut juga menjadi perhatian khusus bagi salah satu terdakwa yang dituntut hukuman 2 tahun penjara oleh jaksa penuntut umum pada sidang ke 23 dalam perkara 253 Jum'at 19 Juni 2020 di Pengadilan Negeri Kota Tangerang.

Ribuan Umat Islam Solo Raya Unjuk Rasa Tolak RUU HIP

Bang Jalih Pitoeng yang biasa disapa BJP, salah satu terdakwa yang dituntut 2 tahun penjara oleh jaksa penuntut umum pada masa persidangan yang ke 23 di Pengadilan Negeri Kota Tangerang pada Jum'at 19 Juni 2020 lalu, mengutarakan rasa syukur sekaligus apresiasi nya kepada para ulama, rakyat, umat dan organisasi masyarakat yang menolak pembahasan RUU HIP tersebut.

"Alhamdulillah, kita sangat bersyukur masih ada anak bangsa yang masih peduli sekaligus mencintai bangsa ini" kata Jalih Pitoeng, Senin (22/06/2020)

Tahanan penghuni Lapas Pemuda Kelas 2 A kota Tangerang inipun mengapresiasi adanya upaya penolakan RUU HIP tersebut.

"Kita sangat mengapresiasi perjuangan para ulama, ormas, khususnya ormas-ormas islam dan ormas kepemudaan serta rakyat dan umat yang melakukan unjuk rasa penolakan RUU HIP seperti di Solo Raya dan beberapa daerah lainnya" sambung Jalih Pitoeng

"Karena siapapun tidak boleh ada yang mengutak-atik pancasila. Karena pancasila adalah sebuah konsensus para alim ulama, cendikiawan yang kita kenal dengan sebut pendiri bangsa dalam mengelola dan menjalankan sistem ketatanegaraan bangsa indonesia menjelang hari kemerdekaan indonesia pada tahun 1945" tegas Jalih Pitoeng

Aktivis kelahiran betawi yang dikenal sangat lantang menyuarakan kebenaran dalam menuntut penegakan hukum dan pelanggaran HAM yang ditangkap dan ditahan bersama 16 terdakwa lainnya juga menyampaikan penyesalan atas penangkapan dan penahanan dirinya, Januar Akbar dan Damar yang kerap selalu mendampinginya dalam beberapa aksi unjuk rasa damai dan konstitusional di depan gedung DPR MPR.

"Kenapa kita ditangkap...?! padahal apa yang saya sampaikan dalam berbagai orasi disetiap unjuk rasa tidak ada yang melanggar UUD 1945 sebagai batang tubuh dari penjabaran pancasila" sesal Jalih Pitoeng

"Sehingga saya sangat marah dan menolak ketika dituduh ingin melakukan dan atau ikut melakukan perencanaan kerusuhan pada aksi unjuk rasa damai yang bertajuk 'Aksi Mujahid 212 Selamatkan NKRI' yang sebelumnya diketahui dengan sebutan 'Parade Tauhid' pada tanggal 28 September 2019 lalu di Patung Kuda" kenang Jalih Pitoeng

Ketua Umum FPI KH. Shobri Lubis saat hadiri Parade Tauhid, Sabtu 28 September 2019

"Bagaimana mungkin saya yang sangat mencintai para habaib, ulama serta kiayi berniat merencanakan kerusuhan di acara yang mulia tersebut" sesal Jalih Pitoeng

"Bahkan dalam acara gelaran PA 212 kala itu saya justru menyampaikan orasi untuk mengajak ribuan jamaah yang hadir serta seluruh anak bangsa untuk mempertahankan eksistensi pancasila secara implementatif" jelas Jalih Pitoeng

Diketahui bahwa dalam orasinya Jalih Pitoeng mengatakan bahwa Pancasila adalah anak kandung umat islam. Sehingga sangat tidak mungkin umat islam itu anti pancasila.

"Kalimat tauhid adalah salah satu manipestasi dari syariat islam. Dan negara menjamin. Saya ulangi, negara menjamin warganya dalam menjalankan syariat agamanya. Itu dituangkan dalam pasal 29 UUD 1945. Jadi yang melarang pengibaran bendera tauhid justru mereka adalah orang-orang yang anti pancasila" ungkap Jalih Pitoeng mengulang kalimat dalam orasinya pada acara parade tauhid kala itu

Terkait gencarnya penolakan RUU HIP, Jalih Pitoeng juga sangat mendukung siapapun para pihak yang mempertahankan eksistensi pancasila.

"Secara pribadi saya sangat bersyukur, bangga dan mendukung semua pihak yang tetap terus berjuang melanjutkan apa yang telah kami perjuangkan hingga kini kami ditangkap, ditahan dan dipenjara" ungkap Jalih Pitoeng

"Karena apa yang kami perjuangkan selama ini adalah bagian dari penerapan dan pengamalan pancasila secara hakiki. Yaitu tentang penegakan hukum atas pelanggaran HAM agar terciptanya rasa keadilan yang merupakan bagian dari nilai-nilai luhur pancasila yang sering digaung-gaungkan dan diagung-agungkan selama ini" sambung Jalih Pitoeng

Emak-emak Militan Gigih Perjuangkan Kebenaran saat mengikuti Unjuk Rasa Damai di gedung DPR MPR RI, Jum'at 20 September 2019

Selain ulama, umat dan rakyat serta mahasiswa, dirinya juga mengapresiasi keberanian para emak-emak militan yang juga ikut melibatkan diri dalam gerakan aksi damai dalam berbagai kesempatan.

"Saya salut dan bangga terhadap perjuangan emak-emak diseluruh tanah air yang gigih dan berani dalam memperjuangkan kebenaran bersama-sama dengan kami" ungkap Jalih Pitoeng

"Semoga fenomena yang langka ini menjadi cambuk bagi adik-adik kita mahasiswa untuk menunaikan kewajiban moral mereka sebagai generasi penerus bangsa yang bisa diharapkan" harap Jalih Pitoeng

"Karena hanya di era kepemimpinan Jokowi ini baru ada gerakan emak-emak yang secara sporadis diseluruh tanah air terbangun kesadaran politiknya seakan menggantikan peran adik-adik kita para mahasiswa turun kejalan berperan aktif mengikuti aksi-aksi unjuk rasa" pungkas Jalih Pitoeng
Komentar Anda

Terkini: