Memasung Kebenaran Demi Dusta dan Tyrani

/ June 7, 2020 / 8:40 AM
Bagikan:
MEMASUNG KEBENARAN, DEMI DUSTA DAN TYRANI

By IBhamzah

Tulisan ini terinspirasi dari kisah 17 orang tapol di Lapas Pemuda Tangerang  yang mencari Keadilan, atas sejumlah pelanggaran HAM di negeri ini, justru di penjara dan menjadi korban HAM.

Ketika kebenaran dan keadilan menjadi momok yang menakutkan bagi penguasa negeri, maka negeri itu sedang dalam cengkraman kezaliman
by IBhamzah

Ketika proses kematian George Floyd, yang tewas terbunuh akibat dicekik lehernya tanpa bisa bernafas, dengan menggunakan lutut Derek Chauvin, seorang Polisi Wilayah Minnieapolis, AS. Maka, semua orang yang  beragam agama dan etnis (kulit hitam dan kulit putih) di Amerika se-akan sama-sama merasakan sesak nafas George Floyd akibat cekikan maut Polisi tersebut. Yang akhirnya menjadi pemicu gelomang protes terbesar sepanjang sejarah Amerika Serikat. Sebab, puluhan juta orang turun ke jalan di hampir setiap kota di AS. Dan bahkan gelombang protes telah meluas keseluruh Eropa.

Fenomena apa gerangan dibalik kematian George Floyd tersebut ? Padahal George Floyd bukanlah orang yang terkenal, atau orang yang memiliki reputasi hebat, bahkan di hanya seorang kriminal biasa, tapi mengapa kematiannya dapat menjadi pemicu gelombang protes yang sangat fenomenal itu.

Patut diduga, bahwa persamaan kemanusiaan masyarakat di AS dan eropa telah tumbuh dan berkembang didalam sebuah peradaban global baru, yang menggiring perasaan kemanusiaan  yang sama pula terhadap hak-hak kemanusiaannya.

Bila seorang George Floyd yang diduga adalah pelaku kriminal biasa saja, bisa membangkitkan amarah yang massive bangsa Amerika.

Namun, kenapa sejumlah pelanggaran hak dan nilai kemanusiaan di negara lainnya seperti Miyanmar, Palestine, India dan  Indonesia. Seakan sepi dari gelombang protes ? Mungkinkah persamaan hak nilai kemanusiaan di negeri tersebut mengalami pemasungan akibat praktek abuse of power dinegara tersebut belum dapat di hentikan ?, Sehingga, kezaliman masih mendominasi sistem sosialnya ?

Sebagaimana sejumlah kasus Abuse of power, oleh kepolisian  yang mengakibatkan kematian dan  cacat pisik ratusan demostran di Indonesia, pasca Pilpres 2019 lalu. Namun, anehnya para pencari kebenaran dan  keadilan di Indonesia yang didakwa sebagai terpidana, sementara para pelaku Abuse of Power memiliki kekebalan hukum.

Padahal, para Demonstran itu bukan pelaku kriminal. Bahkan, semua berita penganiayaan tentang para demonstran dibungkam dan di petiEskan, disertai ancaman pidana kepada siapa saja yang akan mengungkap kejahatan aparat tersebut. Sehingga negeri ini terkesan sepi, dari suara kebenaran. Namun, sepinya gelombang protes bukan berarti, sekedar diam, tetapi patut diduga  bagaikan bara api dalam sekam.

Sepinya sejumlah aksi atas abuse of power yang telah melanggar hak azasi manusia itu, barangkali bentuk putus asa atas "diam"nya orang-orang baik di negeri ini yang merasa lebih nyaman sembunyi di zona aman.

Akhirnya rakyat ikut  bersembunyi
dan hanya berbisik-bisik di Whatsapp, Facebook, Twitter dan Telegram. Meskipun rakyat negeri ini membicarakan masalahnya sendiri. Sebab, penguasa tidak boleh dibantah, sehingga kebenaran telah  ditenggelamkan.

Sejumlah usul ditolak tanpa ditimbang.
Suara dibungkam kritik dilarang tanpa alasan. Para pencari kebenaran dituduh makar dan dianggap mengganggu keamanan. Maka, hak itu  hanya hanya akan memicu  kata: lawan!

Sesungguhnya suara merdeka rakyat bangsa ini  tak bisa diredam. Sebab, mulut bisa dibungkam namun siapa yang mampu menghentikan kemarahan yang bagaikan api dalam sekam ?

Suara-suara kebenaran itu tak bisa dipenjarakan di sana bersemayam kemerdekaan. Pembungkaman suara kebenaran hanya akan memicu lahirnya pilihan  pemberontakan!

Sebab, suara kebenaran  itu bukan korupsi dan bukan bentuk kejahatan apapun, tapi justru sebagai bentuk kemuliaan hati rakyat yang peduli terhadap kebaikan dan martabat bangsa dan negerinya.

Namun, mengapa rezim ini memutar balikkan fakta, dan menjawab dengan senjata dan penjara ?
Kenapa mereka gemetar ketika suara-suara pencari kebenaran itu semakin menggema ?

Penguasa memaksakan Lockdown rakyat negeri ini, sementara TKA China  bebas berdatangan di tengah Pandemi Covid-19.

Negeri ini telah di jual dan di gadaikan oleh para pengkhianat bangsa ini. Sehingga, rakyat negeri ini bagaikan tak di kehendaki tumbuh, karena mereka harus membela rakyat tuannya dari China yang telah menjajah negeri ini, oleh mereka yang telah memberi pinjaman lunak, namun dengan bunga tinggi dan akhirnya merampas kedaulatan bangsa.

Hari ini mereka berhasil membungkan rakyat kami. Namun biji-biji kebenaran telah kami sebar dan kami yakin akan kembali bersemai. Sebab, tyrani di negeri ini harus di musnahkan selamanya.

Jika dalam tahanan kami tak ada mesin ketik, tak ada komputer dan takbada handphone, maka aku akan menulis dengan tangan
jika tak ada tinta hitam
aku akan menulis dengan arang
jika tak ada kertas
aku akan menulis pada dinding jika aku menulis dilarang
aku akan menulis tentang kebenaran itu dengan tetes darah!

Ingat, Kemerdekaan pada 17 Agustus 1945 telah menjadi inspirasi yang
mengajarkan rakyat ini berbahasa
membangun kata-kata
dan mengucapkan kebenaran.

kemerdekaan
mengajar kita menuntut
dan menulis surat selebaran kemerdekaanlah
yang membongkar kuburan ketakutan
dan menunjukkan jalan

kemerdekaan
adalah gerakan yang tak terpatahkan kemerdekaan selalu di garis depan.

Meski mereka melempar kami dalam penjara yang gelap, hingga kami menjadi gelap ?
Mereka menyiksa kami sangat keras sehingga sebagian dari kami terpaksa menanggung cacat pisik. Mereka paksa kami terus menunduk dengan dakwaan pepesan kosong. Namun, kami justru pantang menyerah dan tetap tegak mengadapi tyrani penguasa.

Darah sudah mereka  teteskan dari bibir kami
Luka sudah mereka bilurkan ke sekujur tubuh kami, cahaya sudah mereka rampas dari biji mata kami, dan derita sudah naik seleher, mereka penguasa yang
menindas di luar batas kemanusiaan yang beradab.

Meskipun kami rasakan kesendirian kami dalam penjara, karena kami tahu bahwa sebagian besar kawan dan kerabat kami telah kehilangan keberanian untuk  menengok kami dalam menegakkan keberan, namun, kami ikhlas  menghadapi sendiri.
Meskipun kami diburu, dianiaya, difitnah
dan diadili di pengadilan yang tidak adil ini.
Sebab, kami tahu bahwa suara kebenaran yang kami perjuangkan untuk tegaknya keadilan dan nilai kemanusiaan bagi seluruh rakyat bangsa ini harus mengalahkan tyrani negeri ini.

Kami masih bisa tersenyum dalam kesendirian kami, karena kami masih memiliki cinta Allah yang kami yakini  selalu hadir bersama kami.

Ingat...!!!

Jika kita tak sanggup lagi bertanya esensi makna kebenaran, maka  Pancasila akan ditenggelamkan oleh keputusan-keputusan sesat oleh penguasa negeri ini.

Jika kita tahan kata-kata kita, mulut kita tak bisa mengucapkan apa mau kita, maka, kita akan diperlakukan seperti batu
dibuang dipungut atau dicabut seperti rumput.

Jika kita tak berani lagi bertanya, maka kita akan jadi korban keputusan-keputusan sesat di negeri ini jangan kita penjarakan ucapan kita.

Jika kita menghamba kepada ketakutan kita, maka kita hanya memperpanjang barisan perbudakan.

Kami bukan artis pembuat berita
Tapi kami memang selalu menjadi kabar buruk buat penguasa yang zalim.

Narasi kami bukan kata-kata gelap, yang berkeringat dan berdesakan mencari jalan popularitas sempit. Namun, meski kami ditusuk-tusuk sepi, namun kekuatan moral kami lebih kuat, mendorong kami agar kebenaran di negeri ini tidak di tenggalamkan. (SB)
Komentar Anda

Terkini: