Protes PDIP Menuai Aksi Penolakan Anti Komunis Semakin Menguat

/ June 26, 2020 / 9:11 AM
Bagikan:
Unjuk Rasa Kader PDIP datangi Polres Jakarta Timur, Kamis 25 Juni 2020

"PROTES PDIP, MENUAI PENOLAKAN ANTI KOMUNIS SEMAKIN MENGUAT"

By : IB

Aksi demonstrasi penolakan Rancangan Undang-undang Haluan Ideologi Pancasila (RUU HIP), Rabu 24 Juni 2020 kemarin di depan gedung DPR, diwarnai dengan pembakaran bendera PDI.

Pembakaran Bendera PDIP tersebut melahirkan reaksi keras Pimpinan PDIP, disusul himbauan Tjahyo Kumolo kepada anak ranting, DPC dan DPD PDIP untuk pengepungan Kantor Polres Jakarta Timur, guna menangkap pihak-pihak yang membakar. Alasan Tjahyo, karena bendera adalah lambang partai yang harus dijaga kehormatannya

Namun, dibalik himbauan yang bernuansa isyarat "perang" ini akan mendorong antitesa holistik yang berpotensi mendorong konflik horizontal muncul kepermukaan.

Walaupun, Tjahyo berargumentasi bahwa bendera adalah lambang partai yang harus dijaga kehormatannya oleh anggota dan kader partai. Namun, Tjahyo juga perlu memahami bahwa RUU HIP (UU Haluan Ideologi Pancasila) tidak dapat diingkari menjadi sebuah stereotype masyarakat luas tentang akses kebangkitan komunisme, yang memiliki sejarah kudeta  berdarah-darah di negeri ini. Oleh karenanya, sulit membangun kembali  kepercayaan yang telah ternodai oleh sejumlah pengkhianatan itu.

Sehingga penolakan RUU HIP seantero negeri yang dilakukan tanpa komando itu. Akibat tersentak dan terbangun rasa kebangsaan rakyat bangsa  ini, dan seakan kembali kedalam memori sejarah tahun pengkhianatan G-30 S. PKI, 1965. Sehingga semua elemen bangsa  merasakan ancaman itu, dan bukan lagi sebuah ilusi yang selama ini sering di narasikan sebagai berita hoaks. Namun, UU HIP adalah sebuah fakta otentik sebagai ancaman terhadap Pancasila.

PDIP yang selama ini didukung media mainstream bisa saja mencoba membangun alibi dan argumentasi, yang memutar balikkan esensi makna sejarah. Namun, menurut Slamet
Maarif, dalam sebuah dialog pada tanggal 25 Juni 2020 di TV One bahwa "Sudah Tertangkap Basah" dan seluruh elemen bangsa telah memiliki kecemasan yang sama dan sekaligus terbangun persepsi yang sama untuk bersama melakukan perlawanan kolektif.

Bangsa ini, sepertinya tidak bisa lagi membiarkan "Duri dalam daging" terus bersemayam, dan menjadi ancaman laten Pancasila. Sehingga, "Rumah" yang melindungi embrio komunisme itu pun harus di musnahkan secara permanen.

Pada abad digital ini, rekam jejak sejarah telah terpatri dalam virtual digital yang dapat di akses oleh semua orang didunia, sehingga sulit jika ada pihak-pihak yang ingin  memutar balikkan fakta dalam lintasan sejarah bangsa ini.

Walaupum negeri ini belum bisa memenuhi goals esensi makna kemerdekaan yang sesungguhnya, sebab Pancasila masih sebatas narasi yang belum ditempatkan sebagai Jiwa, falsafah, dasar, cita-cita, arah, pedoman, didalam penyenggaraan pemerintahan Indonesia.

Jadi menganti rumusan Pancasila yang ada di RUU HIP yang dengan sengaja ingin memeras-meras menjadi Trisila, Eka Sila dan Gotong Royong adalah sebuah tindakan "Pemufakatan Jahat" yang sudah masuk delik pidana.

Dengan demikian maka RUU HIP yang materinya dapat disimpulkan berupaya mereduksi dan mengubah sila Pancasila, secara tak langsung dapat dianggap sebagai bentuk ingin mengganti Pancasila.

Oleh sebab itu RUU HIP tidak cukup  hanya di batalkan, harus segera di bentuk tim pencari fakta RUU HIP untuk mengkaji, menyelidiki, siapa saja yang merancang, inisiator dan yang mendukung RUU HIP, agar segera ditangkap karena telah memenuhi delik Pidana dan apa bila ada Organisasi Politik yang terlibat maka patut di bubarkan.

Sulit untuk membendung gerakan kolektif Umat Islam, sebab sejarah pengkhianatan PKI, ummat Islam yang selalu menjadi target utama. Sebagaimana fenomena yang dialami oleh para tokoh ummat Islam yang selalu mengalami tindakan represif dan kriminalisasi selama rezim ini berkuasa, sementara para penghina Islam seakan sepi dari jeratan hukum. Untuk itu penjajahan terselumbung oleh rezim komunis harus di hentikan sekarang juga. (SB)
Komentar Anda

Terkini: