Tawakal untuk mengatasi Akal

/ June 14, 2020 / 3:55 PM
Bagikan:

"TAWAKAL mengatasi AKAL"

SUARABERKARYA.COM, JAKARTA - Diabad modern seperti sekarang ini sering kita menyaksikan bahwa manusia sudah hampir meninggalkan keyakinannya tentang kekuasaan Allah SWT. Tekhnologi mutahir yang mampu mereka kembangkan telah membuat mereka merasa kuat dan hebat serta melalaikan pengabdiannya kepada Tuhan yang maha pemilik dan penguasa sekalian alam.

Pandangan-pandangan scientifik seperti diatas juga mulai menyentuh kalangan masa kini yang lebih mengedepankan akal pikiran semata tanpa bersamdar kepada maha pencipta.

Andai dalam berjuang menegakkan kebenaran itu AKAL menjadi landasan terkuat untuk mengambil keputusan maka Nabi Ibrahim AS akan keder menghadapi Namrud. Nabi Musa AS akan takluk menghadapi Firaun dan Nabi Muhammad SAW akan tiarap dan menyerah menghadapi bani Quraisy yang jumlahnya beribu-ribu.

Tiga tokoh di atas bukan malaikat bukan dewa. Mereka manusia yang kalau ditelisik akan ketahuan bahwa mereka berada dalam keadaan serba kekurangan. Kurang personil, kurang logistik, kurang persenjataan, dan kurang dana.

Perjuangan menegakkan kebenaran itu harus terus menerus dilakukan, alasannya hanya satu yaitu supaya kebatilan tumbang. Andalan kita apa? Cuma satu yaitu Allah bersama kita alias bersandar HANYA kepada Allah. Bukan kepada banyaknya pasukan, bukan kepada banyaknya senjata, bukan kepada banyaknya logistik.

Caranya? lakukan yang bisa dilakukan sekuat tenaga. Yang bisanya hanya berseru lewat medsos, lakukan. Yang mampu turun demo damai, lakukan. Dan seterusnya.

Percayalah, pada saat semua daya sudah kita kerahkan. Semua langkah sudah kita jalankan tapi keberhasilan rasanya tak kunjung kelihatan, maka pertolongan Allah akan datang.

Solusi dari Allah itu  sangat mencengangkan dan selalu tak masuk AKAL.

Ketika Namrud kehabisan kesabaran, maka nabi Ibrahim ditangkap, diikat lalu dibakar. Kodarullah api itu terasa dingin dan tak mencederai Nabi Ibrahim secuilpun. Tidak masuk akal. (Baca Al Anbiya: 69-70).

Ketika Nabi Musa sudah dalam keadaan terjepit diantara laut di hadapan dan pasukan Fira'un memburu dari arah belakang maka upayanya tinggal satu yaitu mengadu: ya Allah saya harus bagaimana ?

Dan kita semua sekarang tahu, solusinya ternyata ada di dalam genggaman tangan Nabi Musa AS. Tak pernah diinfokan kepada Nabi Musa AS sebelumnya bahwa "suatu saat nanti jika kamu dalam keadaan terdesak, gunakan tongkatmu, dengan seijin Tuhan ia mampu membelah laut". Tidak masuk akal. (AlBaqarah : 50).

Begitu pula yg dialami nabi Muhammad dan 300an pengikut setianya. Dengan pekikan Allahu Akbar (maknanya menghujam ke dalam dada para pejuang badar bahwa HANYA ALLAH yang maha besar. SEMUA YANG LAIN itu kecil termasuk seribuan pasukan Quraisy di hadapan mereka) mereka mampu menaklukkan lawan yg jumlahnya 3 kali lipat. Tidak masuk akal. (Baca kisahnya dalam  Muslim 3/1404 hadits mmr 779).

Perang badar itu perang penentuan. Andai waktu itu nabi Muhammad saw terlalu mengandalkan akal mungkin akan ambil keputusan menyerah lalu mereka dihabisi dalam keadaan tidak siap melawan. Islam saat itu bisa padam dan akibatnya hari ini kita tidak dapat merasakan manisnya iman.

Sejarah para nabi itu dimuat di dalam kitab suci. Tujuannya bukan hanya untuk bacaan pengisi waktu senggang. Tetapi untuk dipelajari diamalkan. Para nabi mendapat bimbingan malaikat Jibril dalam perjuangan mrk sehingga menang. Kita yang sudah beda jaman dengan para nabi, dapat warisan kitab suci untuk menjadi pedoman. Ingat, sejarah itu berulang.
(S Yusuf: 111)

Tidak setiap manusia diberi kesempatan hidup dalam era yang penuh pergumulan. Saat ini ummat Islam sedang dalam posisi seperti kue tart di atas meja hidangan. Banyak betul yang ingin memotong, membelah dan menikmatinya.

Mari lanjutkan perjuangan. Pegang tiga pesan IB ini:
1. Luruskan niat, lillahi taala.
2. Bersatulah
3. Bersandarlah HANYA kepada Allah (bukan kepada hasil kalkulasi akal dan sejenisnya).

Insya Allah, pada saatnya, ketika kita sudah pantas ditolong,  pertolongan Allah akan datang. Dan itu pasti akan sangat mencengangkan kita semua.

Seperti tercenganya kita membaca kisah hancurnya tentara bergajah yang akan menyerbu Kabah. Mereka hancur terkena lemparan kerikil yang dibawa burung-burung ababil. Seperti tercengannya kita dengan terbelahnya laut merah hanya karena satu pukulan tongkat kayu Nabi Musa AS.

Sekali lagi andalkan IMAN, bukan akal lalu pantaskan diri kita untuk mendapatkan pertolonganNya.

Karena seperti yang disampaikan nabi Isa AS, dengan iman yang kuat kita bukan hanya akan mampu menyembuhkan orang sakit tapi jika kita mau, perintahkan sebuah gunung untuk pindah maka gunung itupun akan pindah. Tentu saja jika iman itu kuat dan dipantaskan/dilengkapi dengan shalat dan puasa. (Matius 17:21)
Sumber : Artikel Abdul Basith, Kamis 13 Juni 2019

Jakarta, 14 Juni 2020

AB AKuat
Komentar Anda

Terkini: