Terkait tuntutan JPU terhadap kasus Novel Baswedan, Djoko Edhi kirim Surat Terbuka ke Kejagung

/ June 14, 2020 / 5:30 PM
Bagikan:

Djoko Edhi Abdurahman

SUARABERKARYA.COM, JAKARTA - Persidangan terkait perkara penyiraman air keras terhadap Novel Baswedan yang sempat terkatung-katung sebelumnya, akhirnya pengadilan Jakarta Utara menggelar persidangan tersebut dengan agenda pembacaan tuntutan Jaksa Penuntur Umum dengan 1 tahun.

Persidangan yang digelar pada Kamis 11 Juni lalu tersebut mendapat perhatian khusus bagi seorang praktisi hukum sekaligus politisi yang pernah duduk di kursi parlemen, Djoko Edhi Abdurahman terdorong menulis surat terbuka yang ditujukan kepada Kejaksaan Agung, Minggu (14/06/2020)

Berikut Surat Terbuka Djoko Edhi Abdurahman yang saat ini beredar di berbagai media sosial;

Jakara, 14 Juni 2020

Hal: Surat Terbuka Mata Novel

Kepada Yth: Bapak Jaksa Agung
Di Jakarta.

Berkenaan tuntutan 1 tahun penjara utk terdakwa penyiram air keras ke Novel Baswedan yang bikin onar nasional, saya yakin itu melanggar Peraturan Jaksa Agung. Korup dan amoral. Ini bahan pembanding, yurisprudensi vonis air keras. Jelas korup. Wakil Jaksa Agung juga korupsi, sbb:

Heriyanto, siram air keras ke istrinya, vonis: 20 tahun (Juli 2019).

Rika, siram air keras ke suaminya, vonis: 12 tahun (Oitober 2018).

Ruslan, siram air keras ke mertuanya, vonis; 10 tahun (Juni 2018).

Lamaji, siram air keras ke pemandu lagu, vonis: 12 tahun (Maret 2017).

Kok Jaksa "Jampurut" itu tuntut penyiram air keras Novel Baswedan cuma 1 tahun?

Tuntutan 1 tahun, dengan bahasa awam adalah "hukuman percobaan". Alias bebas. Tolong Bapak perhatikan dan perbaiki, agar sesuai hukum yang tidak koruptif.

Wassalam,

Advokat, Djoko Edhi Abdurrahman Wasek LPBH PBNU, Wasekjen DPP KAI, Mantan Komisi Hukum DPR
Komentar Anda

Terkini: