Edy Mulyadi : Moralitas Adalah Modal Utama Pemimpin Indonesia Saat Ini

/ August 12, 2020 / 10:43 PM
Bagikan:
Sekjen GNPF Ulama Edy Mulyadi

SUARABERKARYA.COM, JAKARTA - Menyikapi maraknya lahir dan bermunculan organ-organ taktis perjuangan rakyat khususnya yang berseberangan dengan pihak penguasa saat ini yang lebih dikenal dengan istilah oposisi, salah satu penggagas sekaligus ketua umum Forum Anti Komunis Indonesia (FAKI) Ustadz Edy Mulyadi menyampaikan dukungannya atas terbentuknya gerbong oposisi KAMI (Koalisi Aksi Menyelamatkan Indonesia) secara bijaksana.

Senada dengan ketua umum GNPF Ustadz Yusuf Martaq, Edy juga mendukung hadirnya KAMI ditengah pandemi Covid-19 serta krisis multi dimensi bangsa ini.

Edy menuturkan bahwa yang terpenting saat ini adalah menjaga dan memelihara sekaligus menjunjung tinggi moralitas seorang pemimpin dalam sebuah perjuangan.

"Moralitas Politik itu sangat penting sebagai modal perjuangan" kata Sekjen GNPF Ulama saat dihubungi, Rabu (12/08/2020)

Menurutnya, perjuangan dalam menumbangkan kezholiman tanpa memiliki moral politik yang tinggi hanya akan menjadi pengganti pelakunya belaka.

"Tanpa moral politik plus niat hanya mengabdi kepadaNya, jangan harap akan mendapatkan ridho dari Allah. Walau seheroik apapun perjuangan tersebut" lanjut Edy.

Lebih jauh lagi Edy Mulyadi menarik mundur pada masa perjuangan para nabi terdahulu sebagai pembelajaran bagi kita.

"Allah mengirimkan para nabi dan pengikutnya yang memiliki moral tinggi dalam menegakan amar ma'ruf nahi munkar. Kita bisa dan belajar dari sejarah agung tersebut" pungkas Edy Mulyadi mengingatkan.

Secara terpisah Jalih Pitoeng juga menyampaikan hal yang hampir sama dalam menyikapi banyaknya lahir organ-organ perjuangan rakyat termasuk KAMI yang pada bulan lalu juga ada ANAK NKRI (Aliansi Nasional Anti Komunis) yang telah melakukan aksi unjuk rasa Tolak RUU HIP yang diduga akan merongrong Pancasila.

"Saat ini kita kaya calon pemimpin. Namun miskin pemimpin yang memiliki itegritas dan menjunjung tinggi moralitas. Rakyat butuh ketauladanan seorang pemimpin yang jujur dan amanah serta pro rakyat" kata Jalih Pitoeng, Rabu (12/08/2020)

"Saat ini yang paling berbahaya adalah jika kita memilih pemimpin berdasarkan isi tas dan brankas. Ini ciri-ciri pemimpin yang culas" sambung Jalih Pitoeng

"Untuk itu rakyat dan umat harus ektra cerdas. Apalagi saat ini akan memasuki Pilkada serentak. Rakyat harus benar-benar cermat dan teliti agar tidak menyesal dikemudian hari. Jika tidak, suara mereka bisa dibeli atas nama demokrasi yang tak bermoral. Akhirnya kita bisa bayangkan. Mereka bisa melakukan apa saja. Mulai dari rekayasa kecurangan demi kemenangan hingga melahirkan koruptor-koruptor dan diktator baru yang berlindung atas nama undang-undang" sambung Jalih Pitoeng mengingatkan.

Didesak pertanyaan apakah Habib Rizieq layak jadi pemimpin masa depan bangsa ini, aktivis penggagas DPR RI (Dewan Persaudaraan Relawan dan Rakyat Indonesia) ini menjawab lugas.

"Sangat mungkin dan mumpuni. Namun saya balik bertanya. Apakah beliau bersedia. Karena ulama sesungguhnya setingkat diatas umaro. Seyogyanya umaro (pemerintah) harus banyak mendengar nasehat-nasehat ulama bukan sebaliknya menjauhi atau bahkan memusuhi ulama" sambung Jalih Pitoeng

"Namun jika sudah sangat terpaksa, saya rasa dengan berat hati beliau pasti bersedia. Istilah orang betawi jika imamnya mohon maaf (kentut) dan batal maka harus segera ada penggantinya"

"Beliau sangat faham tentang Pancasila yang dijadikan dasar dan pijakan bangsa Indonesia dalam berbangsa dan bernegara selama sudah 75 tahun sejak Indonesia merdeka. Adapun saat ini dirasakan telah terjadi disorientasi proklamasi, itu bukan salah Pancasila nya. Akan tetapi orang-orang tidak mampu memaknai arti Pancasila dan arah serta tujuan bernegara sesuai dengan semangat kemerdekaan dari belenggu penjajahan" pungkas Jalih Pitoeng. (SB)
Komentar Anda

Terkini: