Kebenaran Tidak Cukup Diyakini Tetapi Wajib Disuarakan

/ April 29, 2021 / 11:30 PM
Bagikan:


 "KEBENARAN TIDAK CUKUP DIYAKINI, TETAPI WAJIB DISUARAKAN"

Catatan Balada Advokat Pejuang, Hidup Diantara Ombak Dan Badai Kehidupan

Oleh : Ahmad Khozinudin, SH

Advokat, Aktivis Pejuang Khilafah

SUARABERKARYA.COM, JAKARTA - Munarman, S.H, seorang Advokat, Aktivis, lama malang melintang di dunia advokasi. Karier Munarman dimulai saat ia bergabung dengan Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia (YLBHI) di Palembang sebagai sukarelawan pada tahun 1995, kemudian dipromosikan sebagai Kepala Operasional organisasi yang sama pada tahun 1997.

Munarman, sempat menjadi Koordinator Kontras Aceh pada tahun 1999-2000. Meningkatkat menjadi Koordinator Badan Pekerja Kontras dimana ia kemudia berelokasi ke Jakarta dari Aceh.

Pada bulan September 2002, Munarman terpilih sebagai Ketua Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia (YLBHI) setelah YLBHI mengalami kekosongan kepemimpinan selama sembilan bulan. Saat terpilih Munarman unggul dengan perbandingan suara 17 dari 23 orang, mengalahkan Daniel Panjaitan yang saat itu menjabat Wakil Direktur YLBHI Jakarta.

Munarman dikenal pemberani, smart, no compromise dan sering mendobrak sejumlah pakem-pakem yang melanggengkan kejumudan. Karakter tersebut, menjadikan Munarman salah satu tokoh Advokat yang dijadikan rujukan.

Akhirnya, Munarman ditangkap Densus 88 karena tuduhan kasus terorisme. Meski bukan yang pertama kali Munarman berurusan dengan hukum, namun penangkapannya sedikit menimbulkan kontraksi di kalangan aktivis, juga di komunitas Advokat.

Menjadi seorang Advokat, tidak lagi merasa memiliki  privilege. Dahulu, biasanya advokat membanggakan status sebagai penegak hukum, officium nobile dan selalu mengulang-ulang jampi-jampi imunitas advokat dengan mengatakan "Seorang Advokat, tidak dapat dituntut secara hukum baik perdata maupun pidana, sehubungan dengan menjalankan profesinya membela klien".

Represifme rezim, membuat advokat tak beda dengan masyarakat umum yang bisa diperlakukan sekehendak hati. Penangkapan Munarman, adalah bukti nyata betapa represifme rezim sudah pada tingkat kengawuran yang paling memuakkan.

Semua ini tidak bisa didiamkan, kasihan rakyat. Advokat tidak boleh diam, hanya dengan meyakini kebenaran namun memilih sikap bungkam. Kebenaran, tidak cukup diyakini tetapi harus di suarakan.

Lisan advokat harus menjadi penyambung lidah rakyat, setelah wakil rakyat di DPR memilih mendengkur dalam rapat, pura-pura tidak mendengar keluhan rakyat, atau bahkan sibuk ikut bicara reshuffle ketika kezaliman semakin menggila dialami rakyatnya. Advokat wajib bersuara, karena Allah SWT telah karuniakan ketajaman lisan dan fikiran advokat, untuk membela dan melindungi hak-hak rakyat.

Kalau mau egois, mungkin saja lebih asyik menekuni profesi yang berorientasi pada kompensasi yang profesional. Membincangkan Fee, komitmen Sukses Fee, serta berbagai ekpektasi karir dengan ukuran materi. Kantor megah, rumah mentereng, mobil mewah, dll.

Hanya saja, legacy akan abadi. Membangun visi pribadi, hanya akan membekas bagi sejarah keluarga. Membela rakyat, akan abadi menjadi sejarah dan kehormatan yang tak bisa diukur dengan materi. 

Menjadi advokat pejuang, saat ini bukan pilihan tetapi kewajiban. Apalagi, jika dilekatkan pada status sebagai seorang muslim. Advokat muslim, wajib berjuang untuk Islam, wajib menyuarakan kebenaran, dan pantang dibungkam, baik dengan ancaman apalagi dengan iming-iming dunia.

Sejatinya, yang wajib ketakutan adalah mereka yang berbuat zalim bukan kita yang menyuarakan kebenaran. Mereka, suatu saat akan mati dicekik rakyat, karena selama ini telah mengkhianati amanat rakyat. 

Tak boleh ada yang menakut-nakuti kita, padahal kebenaran ada di pihak kita. Sebaliknya, kebatilan yang harus insyaf, bertaubat dan segera menyudahi segala bentuk kezaliman. Jika tidak, ketahuilah : Kekuasaan juga ada ajalnya, dan ajal kekuasaan akan semakin cepat datang seiring makin masifnya kezaliman yang diberlakukan.

Komentar Anda

Terkini: