Masyumi Terlahir Kembali, Jalih Pitoeng: Bisa Jadi Indikasi Runtuhnya Rezim Jokowi

/ April 25, 2021 / 7:44 AM
Bagikan:


SUARABERKARYA.COM, Jakarta - Partai Masyumi, atau yang sering disebut Masyumi 'reborn', menggelar Rapat Kerja Nasional (RAKERNAS). Banyak hal yang dibahas dalam acara tersebut. Mulai sorotan terhadap kasus Km 50 Tol Cikampek tentang dibunuhnya 6 Laskar FPI, larangan kader membuka rekening bank riba, hingga larangan tepuk tangan.

Orientasi dan Rapat Kerja Nasional DPP Partai Masyumi digelar di Hotel Balairung Jl. Matraman Raya, Jakarta Timur, Sabtu (24/04/2021).

Ketua Umum Partai Masyumi Ahmad Yani menyatakan kekecewaannya terhadap penanganan kasus Km 50 Tol Cikampek. Dia tidak puas dengan rekomendasi Komnas HAM yang menyatakan peristiwa itu bukan pelanggaran HAM berat.

"Kasus Km 50 ini jelas merampas, jelas menghina, memperkosa hak-hak sebagai warga negara yang berdaulat. Kita juga kecewa terhadap rekomendasi Komnas HAM. Mudah-mudahan pelaku HAM berat itu dapat kita seret ke pengadilan," kata Ahmad Yani.

Dalam RAKERNAS tersebut nampak Ketua Majelis Syuro Partai Masyumi Abdullah Hehamahua berdiri di mimbar dan berbicara soal sejarah perjuangan politikus Islamis di awal kemerdekaan Indonesia. Tokoh-tokoh islamis memperjuangkan Islam sebagai dasar negara. Abdullah mengklaim Kasimo sebagai pemimpin Partai Katolik setuju dengan Islam sebagai dasar negara.

"Saudara-saudara, Presiden Jokowi, Wakil Presiden KH Ma'ruf Amin, Menko Polhukam, dengar, bahwa Partai Katolik dipimpin oleh Kasimo menerima Islam sebagai dasar negara," kata Abdullah sambil mengacung-acungkan telunjuk ke atas.

Melihat dan mendengar para peserta banyak yang memberi sambutan hangat dengan pekik takbir seraya bertepuk tangan, sosok yang dikenal sangat jujur dan tegas sejak masih di PPATK inipun spontan menyampaikan larangannya pada kader-kader Masyumi untuk tidak bertepuk tangan karena itu adalah budaya Yahudi.

"Maaf, ciri Masyumi tidak ada tepuk tangan. Ciri Masyumi adalah takbir. Tepuk tangan adalah budaya Yahudi. Saya mohon betul, sesudah ini tidak ada lagi dalam acara-acara Masyumi tepuk tangan. Tapi ciri Masyumi adalah takbir," kata Abdullah seraya disambut takbir oleh para peserta.

Selain mengenang sejarah perjuangan para ulama dan politisi muslim, Abdullah juga menyoroti riba. Riba sama saja menzinai ibu sendiri. Riba adalah rahasia Indonesia tidak pernah berkah. Maka, dia memerintahkan kader Masyumi untuk tidak membuka rekening riba sekaligus merekomendasikan sejumlah bank syariah.

"Saya instruksikan warga Masyumi untuk tidak boleh punya rekening yang ribawi. Karena semua bank Indonesia masih tunduk pada BI, kita ambil yang paling minimal," pinta Abdullah Hehamahua.

Ketua TP3 ini juga berbicara soal kemungkinan-kemungkinan masa depan Indonesia. Bisa saja kepulauan Indonesia tenggelam oleh dinamika alamiah. Bisa pula daerah-daerah Indonesia lepas dan merdeka sendiri. Dia menyoroti Provinsi Papua dan Papua Barat sebagai daerah termiskin di Indonesia, kemiskinannya disebut mencapai 30,2 persen.

"Wajar kalau orang Papua yang waras otaknya menuntut merdeka. Karena itu, maka pemerintah dan Masyumi khususnya punya tanggung jawab untuk menyelamatkan NKRI. Maka kita persempit jarak (persentase kemiskinan Papua) dari 30 persen menjadi 25 persen, menjadi 15 persen, dan seterusnya," kata Abdullah Hehamahua penuh harap.

Ada yang menarik dari Deklarasi hingga RAKERNAS Masyumi Reborn ini dimata salah satu aktivis muslim kelahiran Betawi Bang Jalih Pitoeng.

Dihubungi terpisah, aktivis muslim yang dikenal kritis ini menyambut baik lahirnya kembali partai Masyumi.

"Alhamdulillah Masyumi terlahir kembali. Insya Allah akan menjadi icon kebangkitan umat islam kedepan" ungkap Bang Jalih Pitoeng.

"Walaupun sesungguhnya rakyat khususnya umat islam telah kecewa dan banyak dihianati oleh partai-partai namun kehadiran partai Masyumi merupakan alternatif dan simbol bangkitnya ruh pergerakan umat islam yang selama ini terzholimi" sambung Jalih Pitoeng

BJP sapaan akrab Bang Jalih Pitoeng juga berharap agar umat islam sadar untuk menggunakan hak-hak politiknya didalam berbangsa dan bernegara. Agar tidak dikibulin terus oleh oknum-oknum partai setelah jadi pasca Pemilu.

"Semoga kedepan umat islam benar-benar sadar akan kondisi bangsa saat ini serta mendukung penuh partai politik yang berbasis islam. Agar tidak dikibulin mulu kalau istilah orang betawi. Jujur saat ini dalam pandangan saya hanya PKS yang masih istiqomah berada diluar pemerintah dan konsisten dalam mengemban amanat konstituentnya" ajak Jalih Pitoeng

Aktivis betawi yang sempat menjadi penghuni Lapas Pemuda Kota Tangerang akibat aksi-aksi unjuk rasa menutut dugaan Pemilu Curang pada 2019 lalu inipun mendukung adanya wacana Poros Islam.

"Sebenarnya jika partai-partai islam mau bersatu, bahwa pada Pemilu pertama pasca Reformasi yaitu tahun 1999 umat islam bisa menguasai parlemen. Namun sangat disayangkan peluang emas itupun akhirnya kandas. Kenapa ? Karena   kalau saya tidak salah PKB saat itu tidak mau bergabung dengan partai-partai islam lainnya" sesal BJP terhadap suara umat islam saat itu.

Kemudian pemilu 2009 Habib Rizieq bersama FPI sudah teriak-teriak untuk mengajak agar umat islam memilih partai-partai yang para pengurus dan caleg-calegnya adalah muslim.

"Karena apa, karena setelah jadi, mereka para anggota DPR adalah orang-orang dan lembaga yang akan menyusun serta membuat Undang-Undang. Tentunya Undang-Undang yang harus berorientasi pada kepentingan rakyat bukan sekelompok orang tertentu saja" sambung Jalih Pitoeng mengingatkan.

"Seperti lahirnya Undang-Undang Omnibuslaw saat ini yang menurut saya seperti lahir Caesar dan banyak mendapat penolakan dari berbagai pihak terutama kaum buruh adalah salah satu indikasi telah terjadinya difungsi parlemen" sesal Jalih Pitoeng

Sosok yang pernah memimpin ribuan masaa didepan gedung DPR MPR dengan agenda Pulangkan Habib Rizieq dan Tuntaskan Tragedi 21-22 Mei serta Menolak Revisi UU KPK ini juga mengajak seluruh rakyat Indonesia untuk membaca semua pristiwa politik yang sedang terjadi.

"Saya menduga bahwa diterbitkan nya SP3 terhadap Syamsul Nursalim koruptor BLBI adalah salah satu dampak dai ijon (Red-Pesanan) para cukong terhadap Undang-Undang KPK yang bisa melukai perasaan rakyat" kata Jalih Pitoeng menyesalkan.

"Demikian juga persoalan hukum yang tebang pilih. Bahkan banyak pihak dan para pakar mengatakan adanya diskriminasi terhadap beberapa kasus. Sebut saja mulai dari kasus saya sendiri, Bang Eggi Sudjana yang kemudian disusul oleh Syahganda Naenggolan, Jumhur Hidayat dan Anton Permana hingga yang paling terkini kasus kerumunan dan kerahasiaan pasien Habib Rizieq Syihab dan beberapa petinggi FPI yang sungguh sangat mencerdaskan rakyat khususnya umat islam saat ini" Jalih Pitoeng menuturkan.

Namun ada satu hal yang paling menarik dari RAKERNAS Partai Masyumi tersebut adalah di cuatkannya kembali untuk menghindari Riba oleh Abdullah Hehamahua.

"Kalau saja seluruh umat islam sadar dan mau mengamalkan Al-Qur'an secara kafah, maka seluruh uang dan lembaran-lembaran obligasi serta saham-saham milik umat islam ditarik dari bank-bank konvensional milik para Taipan, maka sangat tidak tertutup kemungkinan rezim Jokowi ini akan runtuh" sambung Jalih Pitoeng mengingatkan.

"Bayangkan, jika kita meminjam analisa nya fakar ekonomi muslim Bang Ichsanudin Noorsy

bahwa uang umat islam itu jumlahnya kurang lebih 2. 567 triliun atau setengah APBN. Maka gedung-gedung milik bank yang ada di jalan Sudirman Thamrin saya perkirakan pasti akan runtuh secara finansial dan akan berdampak yang sangat dahsyat pada runtuhnya kepemerintahan Jokowi" pungkas Jalih Pitoeng. (SB)

Komentar Anda

Terkini: