Jenderal Purnawirawan Nyatakan Kekhawatiran Terhadap Nasib Bangsa

/ May 19, 2021 / 12:12 PM
Bagikan:

Mayjen TNI (Purn) Deddy S Budiman

"Pernyataan Kekhawatiran terhadap Nasib Bangsa"

Oleh : Mayjen TNI (Purn) Deddy S Budiman Mayjen TNI 

Dewan Pakar Pertahanan FKP2B


SUARABERKARYA.COM, BANDUNG - Rezim Jokowi membangun NKRI dengan menggunakan duit hutang, dekade ini hutang terbesar dari enam presiden sebelumnya, hanya berkuasa selama 7 tahun besarannya hutang sudah tidak lagi terkira, pada kenyataan Rezim tak mampu bayar hutang, hutang dibayar dengan hutang lagi, tutup lobang gali lobang, namun lobangnya terlalu besar untuk ditutup faktanya untuk bayar bunga hutang saja perlu berhutang, akan menjadi beban sekarang dan anak cucu dimasa depan.

Menurut para ekonom kritis, rezim sekarang bingung untuk melanjutkan pembangunan, karena tak ada lagi yang memberi pinjaman hutang, walau persentase bunga diperbesar. Program Tax Amnesty untuk menarik dana yang disimpan di luar negeri dengan harapan disimpan di dalam negeri, ternyata tidak menarik. 

Kebijakan Rezim menerbitkan SUN (Surat Utang Negara), dimaksudkan dana akan terkumpul ternyata seret hanya BI dan perbankan yang “dipaksa” membeli, sehingga dana masyarakat tersedot, memperlemah daya beli, karena dua kebijakan Rezim yang keliru, berakibat GAGAL TOTAL.

Siapakah pemilik dana besar baik di luar negeri dan di dalam negeri?, jawabannya adalah para pengusaha besar alias konglomerat yang selama ini selalu “dimanjakan” oleh rezim berkuasa dengan berbagai kemudahan fasilitas dan talangan dana selama keadaan darurat kesehatan covid-19 seakan mereka adalah investor yang membela dan memberi pekerjaan kepada rakyat. 

Pertanyaan lanjut apa mereka para penguasa besar yang dimanjakan tersebut cinta terhadap NKRI?, atau cuma memikirkan pundi-pundi mereka sendiri. Pengusaha Besar tetaplah Pengusaha yang tidak pernah puas menumpuk Kapital. Faktanya selama Pandemi mereka semakin kaya. 

Jika otak tidak sungsang, semestinya kebijakan rezim adalah menindak dan memaksa mereka yang punya dana untuk menyimpan dananya di dalam negeri dan menetapkan pajak besar kepada mereka – mereka tersebut yang hanya berpura-pura cinta NKRI, dan berhenti memanjakan mereka, lalu berpihak kepada rakyat kecil UMKM, tanpa memajaki dengan pajak printilan yang kini  mereka sangat menderita.

Adalah konyolnya jika REZIM berkuasa malah loyal kepada kehendak yang punya modal dengan memiskinkan rakyat dengan PHK dan menutup lowongan pekerjaan bagi rakyat sendiri dengan mendatangkan TKA Asing terutama dari China. 

Rezim tidak mempersatukan rakyat, tapi melakukan politik Belah Bambu, Isu radikalisme dan isu terorisme pada kelompok tertentu, serta melakukan pembiaran terhadap ideologi yang dilarang ( neo Komunis) yang berusaha menghilangkan agama dan pendidikan Pancasila, melakukan tindakan kekerasan terhadap rakyat, dan bahkan melakukan  pembunuhan terhadap rakyat tidak berdosa yang kebetulan anggota FPI di KM 50, kriminalisasi dan penahanan terhadap ulama dan aktivis yang kritis. 

Sehingga UU Cipta Kerja/Omnibuslaw versi mereka bisa lolos dan sang pemilik modal bisa kipas-kipas kegirangan. Sehingga Revisi UU KPK yang justru melemahkan KPK pun bisa lolos sehingga sang Koruptor dan calon koruptor bersorak riang.

Akan lebih konyol jika aparat hukum, aparat keamanan dan aparat Pertahanan negara, sudah tidak lagi mampu menempatkan diri sebagai abdi Negara bukan abdi yang berkuasa apalagi abdi para pemilik modal, mereka dilenakan dengan tekanan karir dan duit, kepekaan menjadi buta sehingga yang salah dibenarkan dan yang benar disalahkan, dan mencari dalil yang mengada-ada untuk menghukum yang berlawanan dengan yang berkuasa bukan lagi menegakan keadilan apalagi mempertahankan negara dari dari ancaman kehancuran. 

Dari kenyataan ini saya selaku Dewan Pakar Pertahanan pada FORUM KOMUNIKASI PATRIOT PEDULI BANGSA, menyampaikan sangat miris dan sangat khawatir tentang masa depan bangsa, sebagai hamba Allah mari kita berdoa, semoga Allah SWT membuka pintu hati rezim yang berkuasa dan para aparatur negara untuk sadar dan kembali berpihak kepada kepentingan dan keselamatan NKRI yang berdasarkan Pancasila dan UUD NRI yang ditetapkan tgl 18 Agustus tahun 1945. 

Semoga Allah memerintahkan  kepada bangsa dan rakyat Indonesia untuk menggunakan Rahmat dan karunia yang telah dianugerahkan kepada manusia berupa hati, otak, mata, dan telinga untuk membaca permasalahan bangsa yang sedang dalam bahaya, dan bersatu untuk menyelamatkan Indonesia.

Aamiin aamiin aamiin ya rabbal aalamiin.

Bandung, 19 Mei 2021

Komentar Anda

Terkini: