Jeng Sri : Pajak itu Haram, Apalagi pajak Sembako Itu Menyengsarakan Rakyat

/ June 11, 2021 / 8:06 AM
Bagikan:
Suasana Pasar Sembako (Photo : Okezon)


Oleh : Ahmad Khozinudin

Sastrawan Politik

Jeng, sebagai ahli ekonomi Islam, apalagi ketua ikatan ahli ekonomi Islam, dalam berekonomi itu wajib terikat dengan dalil yakni al Qur'an dan as Sunnah. Yang membedakan ekonomi Islam dengan ekonomi kapitalisme liberal, itu cuma keterikatan dengan dalil. Ekonomi Islam terikat dengan dalil, ekonomi liberal bebas semaunya mengikuti hawa nafsu.

Nah, soal pajak itu dalam ekonomi Islam jelas haram loh Jeng. Haditsnya jelas, dibawah ini saya kutipkan kembali Ngendikane kanjeng Nabi Muhammad Saw :

لَا يَدْخُلُ الْجَنَّةَ صَاحِبُ مَكْسٍ

"Tidak akan masuk surga orang yang mengambil pajak."

Apalagi, Jeng Sri mau mengambil pajak dari sembako. Menurut Profesor, itu sangat menyengsangrayakan rakyat.

Kalau peduli pada ekonomi rakyat, memikirkan kondisi rakyat, tidak mungkin kepikiran rencana jahat seperti ini. Lha wong mereka sedang sudah, ditimpa musibah pandemi, makan saja sulit. Kok mau dibebani pajak sembako ?

Pada saat yang sama, sejumlah pajak barang mewah direlaksasi. Akan muncul Tax Amnesti jilid 2. Pajak mobil dibikin 0 %. Ini kok sembako yang berkaitan dengan hajat rakyat banyak mau dipajaki ?

Jeng, mbok sekali-kali mendengar keluhan emak-emak, mereka bingung mengatur APBRT. Apalagi, suami mereka terkena PHK akibat pandemi. Kok Jeng Sri tega seh menerapkan pajak atas sembako ?

Jeng, hidup di dunia itu sementara. Kehidupan sesungguh kelak di akhirat. Pimpinan yang Jeng layani, di akhirat nanti tak akan ikut tanggung jawab. Di dunia saja, saat kesangkut kasus semua pada lari, seolah tak pernah kenal dan dekat sebelumnya.

Jeng, dengarkan nasehat saya. Batalkan saja rencana jahat itu. Dalam Islam, niat jahat itu belum dihitung dosa. Kalau dibatalkan, justru menimbulkan pahala.

Jeng Jeng, wong hidup cuma sekalinya. Jangan sampai hidup yang sekali,  dikenang rakyat sebagai penjahat, drakula peminum darah. 

Buatlah legacy dikenang rakyat sebagai pelayan dan pengayom mereka. Yang mendengar dan meringankan beban mereka, yang mendapatkan doa kebaikan dari mereka.

Sudah dulu Jeng, anak-anak saya mulai rewel. Pingin di emong, saya tak ngemong anak dulu.(SB)

Komentar Anda

Terkini: