Sri Mulyani Minta Bantuan Ahli Ekonomi Islam, Jalih Pitoeng Justru Khawatir Umat Islam Akan Menarik Dananya

/ June 10, 2021 / 11:48 PM
Bagikan:
Menteri Keuangan Sri Mulyani

SUARABERKARYA.COM, JAKARTA - Negara-negara di dunia tengah menghadapi tantangan besar dalam pemulihan ekonomi di masa pandemi Covid-19. Karena itu, bantuan dari berbagai pihak dibutuhkan, salah satunya dari Ikatan Ahli Ekonomi Islam Indonesia (IAEI). 

Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani mengatakan, tantangan perekonomian global saat ini adalah pemerataan pemulihan dan keterbatasan akses vaksin. Hal lain yang perlu diwaspadai adalah kenaikan harga komoditas, terutama komoditas pangan dan tambang.

Menghadapi kondisi tersebut, dia berharap para ahli ekonomi Islam di Indonesia ikut menyumbangkan pikiran untuk membantu pemulihan ekonomi Indonesia. 

"Saya berharap seluruh jajaran para ahli ekonomi Islam Indonesia mempelajari dan memahami konteks ekonomi global dan nasional, sehingga kita terus bisa menyumbangkan pemikiran yang betul-betul bisa menjawab persoalan ekonomi Indonesia, meskipun juga dilihat dan ditekankan dari aspek nilai-nilai keislaman," kata Menkeu di Jakarta, Kamis (10/06/2021).

Menanggapi harapan Sri Mulyani sebagaimana di lansir oleh iNews.id tersebut, Jalih Pitoeng justru khawatir masyarakat akan mengambil langkah sebaliknya. Khususnya umat islam yang merasa telah banyak dirugikan.

"Bukankan sudah sejak lama para ekonom muslim telah mengingatkan. Mulai dari Bang Ichsanudin Noorsy, Marwan Batubara, Didi J Rachbini bahkan hingga manta Menkoekuin Rizal Ramli" ungkap aktivis yang dikenal kritis Jalih Pitoeng, Kamis (10/06/2021).

Ketua Umum DPR RI (Dewan Persaudaraan Relawan dan Rakyat Indonesia) yang sedang menggugat Presiden dan DPR RI bersama Eggi Sudjana di pengadilan negeri Jakarta Pusat ini justru khawatir umat islam akan menarik seluruh dananya secara serentak dan sporadis sebagai bentuk ketidak percayaan rakyat terhadap pemerintahan Joko Widodo.

"Justru saya khawatir jika dalam waktu dekat ini rakyat khususnya umat islam akan menarik seluruh dana nya di bank. Terlebih pada bank-bank swasta milik para taipan" sambung Jalih Pitoeng.

"Dilematis memang bagi bu Sri Mulyani selaku menteri keuangan. Disatu sisi tak bisa dipungkiri dia butuh sokongan dari para ekonom muslim serta umat islam, namun disisi lain pemerintah dalam hal ini rezim Jokowi khususnya penegak hukum justru memperlakukan umat islam khususnya para ulama banyak yang ditangkap. Mereka sangat cerdas dalam mengikuti kasus akhir-akhir ini" Jalih Pitoeng menambahkan.

"Apalagi terhadap persidangan tokoh ulama sentral seperti Habib Rizieq Syihab dan kasus pembunuhan 6 Laskar FPI oleh aparat pada Desember lalu" Jalih Pitoeng mengingatkan.

"Belum lagi kekisruhan tentang dana haji saat ini. Jika rakyat sudah sampai pada batas top distrust atau ketidak percayaan masyarakat sudah memuncak, maka sangat mungkin akan terjadi rush money sebagaiman pernah terjadi pada awal kejatuhan Soeharto pada 1998 silam" ungkap Jalih Pitoeng.

Aktivis kelahiran tanah betawi yang pernah mengecap pendidikan ekonomi inipun menyampaikan rasa prihatin dan kekhawatirannya terhadap posisi hutang di era kepemimpinan Jokowi.

"Kita sangat perihatin terhadap hutang yang terus menggunung. Sedangkan proyek-proyek infrastruktur yang dipaksakan pembiayaannya juga banyak yang mangkrak. Sehingga hal tersebut dapat memperlemah likuiditas dan solvabilitas saat ini. Karena, jangan kan untuk membaya keseluruhan hutang, untuk membayar hutang jangka pendek bahkan membayar bunga hutang saja kita harus berhutang lagi" pungkas Jalih Pitoeng menyesalkan. (SB)

Komentar Anda

Terkini: