Wanaartha terseret Kasus Jiwasraya, Pemegang Polis bagaimana nasibnya ?

/ June 3, 2021 / 11:54 PM
Bagikan:

 

SUARABERKARYA - Dikhabarkan dari Pengadilan Negeri Jakarta Pusat Jalan Bungur Besar Raya No. 24 26, 28 Kemayoran – Jakarta Pusat.  Sidang Keberatan Nasabah PT Asuransi Jiwa Adisarana Wanaartha (“Wanaartha”) yang aset-asetnya turut terseret di dalam Kasus Jiwasraya telah memasuki pembuktian dan menghadirkan Saksi Ahli dalam persidangan hari ini 3 Juni 2021. Kisruh Nasabah Wanaartha ini bermula semenjak Wanaartha menyatakan tidak bisa membayar kewajibannya kepada para Nasabah pemegang polis dengan alasan asset-asetnya disita oleh Kejaksaan Agung RI dalam kasus Jiwasraya semenjak Februari 2020. Dalam persidangan kali ini Nasabah Swanaartha sebagai pihak yang berkeberatan menghadirkan 2 saksi ahli, diantaranya  DR. Kornelius Simanjuntak, SH., MH. Ahli hukum dan Praktek Asuransi, dan  Jo Deni, CRP., CSA., CTA. Ahli Praktek Pasar Modal. Persidangan berjalan dengan hidmat serta mengikuti protap covid-19.

DR. Kornelius Simanjuntak, SH., MH. menjelaskan dalam keterangannya terkait dampak dari proses hukum keberatan Nasabah Wanaartha dimana Korporasi Wanaartha dan juga Direksi Wanaartha tidak sebagai tersangka, terdakwa apalagi terpidana tetapi dalam hal ini Nasabah Wanaartha di rugikan  karena tidak mendapatkan manfaat dan juga pembayaran premi jatuh tempo.

“Hubungan antara Wanaartha dengan nasabah adalah perjanjian berdasarkan kesepakatan yang diatur dalam hukum perjanjian Indonesia kalau tidak dipenuhi itu bukan tindak pidana tapi Wanprestasi. Misal ada nasabah pemegang polis tiap bulan harusnya bayar premi tapi tidak bayar, apakah pidana? Bukan tapi wanprestasi karena ingkar terhadap janjinya. Tidak ada urusan polisi atau jaksa karena bukan urusannya. Jaksa/polisi baru ikut campur kalau itu tindak penipuan, misal pihak asuransi melakukan penipuan. Nah dalam kasus ini kan asuransi tidak menipu. Sesungguhnya tindakan kejaksaan terhadap wanaartha dan nasabah adalah pelanggaran hukum”, tegasnya. Dr. Kornelius Simanjuntak, SH., MH., menambahkan “Tindakan kejaksaan adalah hal yang keliru, maka dari itu seharusnya majelis hakim membatalkan penyitaan tersebut dan mengembalikan dana nasabah”.

Sementara Jo Deni ahli pasar modal  menunjukkan mekanisme transaksi dalam Pasar Modal, apakah benar informasi bahwa antara penjual dan pembeli saham dalam Pasar Modal bisa saling mengatur harga.

“Yang Mulia, saya perlihatkan dalam transaksi nyata dalam Pasar Modal pada TV Monitor bahwa transaksi terjadi dalam hitungan detik, dan bagaimana bisa mengatur pembelian dan juga harga saham dalam Pasar Modal bila peruabahan begitu cepat. Dapat kita lihat, saya baru memasukkan uang saya di transaksi Pasar Modal, dalam beberapa menit perubahan harga terjadi di  Pasar Modal berubah dengan begitu cepat setiap saat.  Bahkan transaksi 2 jam yang lalu saja bisa berubah naik ataupun turun”, pungkasnya.

Ketua Umum Swanaartha (Sarana Nasabah Wanaartha, wakil Nasabah Wanaartha Parulian Sipahutar menambahkan “Masuk di bulan Juni 2021 sebenarnya sudah 16 bulan sejak kami para pemegang polis tidak bisa mencairkan pokok dan juga manfaat dari polis kami, management Wanaartha juga terkesan pasif tanpa perlawanan yang nyata, hanya dengan memberitahukan kepada nasabah melalui email pernyataan mengenai aset Wanaartha sedang diblokir, kemudian disita bahkan amar putusan Benny Tjokrosaputro malahan dirampas oleh negara dan kami para nasabah semakin tidak berdaya terhadap perampasan ini, sedangkan kami para pemegang polis menderita, banyak yang sudah lansia, pensiunan yang bergantung dari polis-polis asuransi ini. Bahkan ada yang sampai sakit dan meninggal dan belum bisa dibayarkan. Sangat mengenaskan dan tidak berprikeadilan. Saya dan seluruh pemegang polis lainnya mengharapkan dalam Sidang Keberatan ini akhirnya Majelis Hakim dapat melihat ketulusan pemegang polis bahwa kami bukanlah nominee dari terpidana Jiwasraya, dan dana kami agar dikembalikan segera, Wanaartha adalah perusahaan asuransi yang diawasi oleh OJK". Parulian Sipahutar menambahkan "namun sejak Februari 2020 para pemegang polis tidak bisa mendapatkan manfaat dan juga pencairan pokok polis karena management mengatakan dananya disita oleh Kejagung RI. Kami melihat dan mendengar kesaksian dari Saksi Ahli hari ini, saksi Ahli Hukum Asuransi dan Praktek Asuransi serta saksi Ahli Praktisi Pasar Modal  dan kami optimis bahwa keadilan akan ditegakkan.”, tambahnya lagi.

Para pemegang polis atau nasabah melihat ada kejanggalan dalam penyitaan yang dilakukan Oleh Kejaksaan Agung Republik Indonesia dalam kasus Jiwasraya, namun apalah daya dan upaya yang bisa dilakukan dalam perjuangan mendapatkan hak Kembali selain menunjukan kebenaran dan memohon . kepada Yangmulia Hakim dengan penuh harapan. - Red


Komentar Anda

Terkini: