Desakan Rakyat Bersatu Tak Terbendung, Jalih Pitoeng: Jokowi Bingung Karena Terkepung

/ April 10, 2022 / 12:39 PM
Bagikan:
Aktivis Betawi Jalih Pitoeng (Ilustrasi)

JAKARTA, Suaraberkarya - Gejolak sosial yang dicerminkan oleh turunnya kembali mahasiswa melakukan unjuk rasa diberbagai daerah merupakan sesuatu yang tidak bisa diabaikan oleh pihak istana.

Akumulasi kekecewaan rakyat ini seakan bak gunung merapi yang meletus dan memuntahkan lahar panasnya. Mahasiswa hampir disetiap kota besar sudah melakukan unjuk rasa meneriakan revolusi seperti telah mengepung kemanapun Jokowi pergi seperti di Jambi.

"Mahasiswa dan rakyat bersatu yang sudah tidak terbendung ini membuat Jokowi bingung karena sudah terkepung" ungkap Jalih Pitoeng, Minggu (10/04/2022).

Jalih Pitoeng juga menyampaikan analisa dan pendapatnya tentang kebingungan Jokowi.

"Jokowi pasti bingung" celetuk Jalih Pitoeng.

"Dia tidak akan mampu memenuhi tuntutan rakyat yang selama ini terpendam" sambung Jalih Pitoeng.

Ketua Aliansi Selamatkan Indonesia (ASELI) ini juga menyampaikan bahwa dirinya telah mencatat ada 7 penyebab runtuhnya rezim Jokowi saat ini.

"Ada 7 hal penting yang menyebabkan runtuhnya rezim kekuasaan Jokowi saat ini" kata Jalih Pitoeng melanjutkan.

"Mulai dari Residu Pemilu yang hingga kini belum terselesaikan. Terutama pristiwa berdarah tragedi kemanusiaan 21-22 Mei di Bawaslu yang banyak menelan korban para tunas bangsa, Kemudian kebohongan Jokowi tentang Esemka dan 66 janji-janjinya hingga statment-statmenya yang harus dipertanggung jawabkan sebagai ucapan seorang presiden,  lalu penegakan hukum dan HAM yang cenderung berpihak pada penguasa, keterpurukan ekonomi dan moneter serta hutang yang terus semakin meroket, harga kebutuhan pokok yang meningkat serta terakhir kenaikan pajak dan BBM yang merupakan sumber dari segala sumber kenaikan harga-harga barang kebutuhan sehari hari hingga keanehan tentang kelangkaan solar dan minyak goreng" Jalih Pitoeng memaparkan.

"Kemudian, terjadinya disfungsi parlemen dan disfungsi institusi. Dimana lembaga legislatif yang semestinya selaku wakil rakyat menjadi lembaga pengontrol jalannya pemerintahan, justru sebaliknya menjadi lembaga pengkatrol kebijakan pemerintah yang tidak pro rakyat" lanjutnya menyesalkan.

"Demikian pula halnya tentang adanya dugaan pelanggaran terhadap undang-undang. Dimana peraturan, kebijakan dan perundang-undangan yang bertabrakan dengan Undang-Undang Dasar 1945 sebagai payung hukum tertinggi dalam berbangsa dan bernegara" Jalih Pitoeng dengan tegas mengingatkan.

"Sehingga, ini yang ketujuh, kemarahan rakyat yang terpendam selama inipun telah mencapai puncaknya. Maka gelombang aksi besar-besaran mahasiswa bersatu bersama rakyat sebagai bentuk dan wujud kecintaan terhadap bangsa ini adalah sebuah konsekwensi yang pahit dan harus diterima" pungkas Jalih Pitoeng.

Komentar Anda

Terkini: